ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
 
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 
  P R O F E S I
 ► Advokat
 ► Akuntan
 ► Arsitek
 ► Bankir
 ► CEO-Manajer
 ► Dokter
 ► Guru-Dosen
 ► Konsultan
 ► Kurator
 ► Notaris
 ► Peneliti-Ilmuwan
 ► Pialang
 ► Psikolog
 ► Seniman
 ► Teknolog
 ► Wartawan
 ► Profesi Lainnya
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 

 


 
  C © updated 01112004  
   
  ►e-ti/marjuka  
  Nama:
Dr. Ir. Ratna Megawangi, M.Sc
Lahir:
Jakarta, 24 Agustus 1958

Buku-buku dan Artikel Publikasi:
 Megawangi, Ratna, Pendidikan Karakter Untuk Membangun Masyarakat Madani, 2004
 Megawangi, Ratna, Modul Pendidikan 9 Pilar Karakter, 2004
 Siregar, Megawangi, Hastuti, "Factors Associated with Family Values and Children Emotional Development at Some Primary Schools in Bogor", Media Gizi dan Keluarga, Thn XXIVV , July 2000
 Megawangi, Ratna, "Mengajarkan Toleransi Melalui Kerendahan Hati", Jurnal MQ: Manajemen Qolbu, Vol.II/No:3/Juli 2002
 Megawangi, Ratna, Foreword: "Anugerah Alam, Anugerah Untuk Wanita" (Natural Legacy, A Blessing for Women), dalam Buku, Wanita Salah Langkah, by Danielle Crittenden (Bandung: Qanita, 2002)
 Megawangi, Ratna. "Hikmah Puasa Dalam Perspektif Kualitas Gender". Syiar. (Al Huda, 1422H,2001)
 Megawangi, Ratna. Membiarkan Berbeda: Sudut Pandang Baru Tentang Relasi Gender (Let There Be Different? A New Perspective in Gender Relation) (Bandung: Mizan, 1999, 2nd reprinted)
 Megawangi, Ratna. Chapter 1 "Sebuah Refleksi Kejadian Bulan Mei 1998" (A Reflection of May 1998 tragedy"). In: Alfian Hamzah (ed). Kapok Jadi Nonpri: Warga Tionghoa Mencari Keadilan (Bandung: Zaman, 1998)
 Megawangi, Ratna. Chapter 1: "Harmoni Dalam Hubungan Industrial" (Harmony in Industrial Relations), Kesatuan dan Kerukunan Karyawan, (Balai Pustaka, 1999)
 Megawangi, Ratna. "Masa Depan Extended Family di Asia" (Asian Extended Family in the Future). Agribisnis Asia Pasifik VolI/1IApril/1998. ISSNI410- 721X
 Megawangi, Ratna. Gender Perspectives in Early Childhood Care and Development in Indonesia. The Consultative Group of Early Childhood Care and Development, Washington, DC.: World Bank. 1997. http://www.ecdgroup.com/
download/ca120fgs.pdf
 Megawangi, R. Chapter 3: "Buah Bibir Vs. Keluarga Indonesia" In: Dedy Mulyana, I.S. Ibrahim (eds). Bercinta Dengan Televisl." (In Passion with Television) (Bandung: Rosda, 1997). ISBN 979-514-671-8
 Megawangi, R. Chapter 4: Feminisme: Menindas Peran Ibu Rumah Tangga". In: Dadang Anshori, Kosasih, Sarimay (eds). Membincangkan Feminisme (Pustaka Hidayah, 1997) ISBN 979-9109-04-3
 Megawangi, Ratna, "Sekapur Sirih" (foreword) dalam buku The Tao of Islam (Indonesian edition), by Sachico Murata (Mizan, 1996)
 Megawangi, R., U. Sumarwan. "Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peran Suami Dalam Pekerjaan Rumah Tangga" (Factors Associated with Husbands' Roles in Household Tasks). Media Gizi dan Keluarga. Tahun XX/No:3/December 1996. ISSN 0216-9363
 Megawangi, Ratna. "Perkembangan Teori Feminisme Masa Kini dan Mendatang, Serta Kaitannya Dengan Pemikiran Keislaman" (Feminism and Islamic Thought) In: Fakith et. at. Membincang Feminisme: Diskursus Gender Perspektif Islam (Surabaya: Risalah Gusti, 1996) ISBN 979-556-106-5
 Megawangi, Ratna. "Apa dan Bagaimana Feminisme". Perspektif Vol X/1996. ISSN 02162474
 Megawangi, R., Hartoyo, S. Guhardja, U. Sumarwan. "Studi Transisi Keluarga dan Gotong Royong (Family and Mutual Aid System ). Media Gizi dan Keluarga. XX/No:1/Juli 1996. ISSN 0216-9363
 Latifah, M., R. Megawangi, S. Guhardja, Hartoyo. "Studi Transisi Keluarga, Konsumsi Pangan, dan Gizi. Media Gizi dan Keluarga. XX/No: 1/Juli 1996. ISSN 0216-9363
 Zeitlin, M., R. Megawangi. "Modernization, Urbanization, and Nutrition Care". Food and Nutrition Bulletin. United Nation University Press, Vol 16/No:4/December 1995. ISSN 0379-5721
 Megawangi, R., M. Zeitlin, and D. Garman. "Structural Models of Family Social Health Theory" In: Zeitlin, et.al. Strengthening the Family: Implication for International Development, Tokyo: United Nations University Press, 1995. ISBN 92-808-0890
 Megawangi, R., M. Zeitlin, and E.M. Kramer. "Psychological Approaches to the Family" In: Zeitlin, et.al. Strengthening the Family: Implication for International Development, Tokyo: United Nations University Press, 1995. ISBN 92-808-0890
 Megawangi, R., M. Zeitlin, and N. Colletta. "The Javanese Families" In: Zeitlin, et.al. Strengthening the Family : Implication for International Development, Tokyo: United Nations University Press, 1995. ISBN 92-808-0890
 Zeitlin, M., R. Megawangi. "Economic Perspectives on the Families" In: Zeitlin, et.al. Strengthening the Family: Implication for International Development, Tokyo: United Nations University Press, 1995. ISBN 92-808-0890
 Zeitlin, M., R., E.M. Kramer, R. Megawangi. "Social Change and the Family" In: Zeitlin, et.al. Strengthening the Family: Implication for International Development, Tokyo: United Nations University Press, 1995. ISBN 92-808-0890
 Colleta, N., M. Zeitlin, R. Megawangi. "Perspective from International Development Assistance and from Family Programs" In: Zeitlin, et.al. Strengthening the Family: Implication for International Development, Tokyo: United Nations University Press, 1995. ISBN 92-808-0890
 Megawangi, Ratna. "Feminisme: Menindas Peran Ibu Rumah Tangga?" Journal Ulumul Qur'an N05&6 Vol 5/1994
 Barnett, J.B., R. Megawangi. "Body Adiposity, Body Fat Distribution, Sex Hormones and Risk of Breast Cancer" Cermin Dunia Kedokteran, Universitas Indonesia, Vol.25/September 1994
 Megawangi, Ratna. "Anatomi Keluarga Patriarkhi dan Perapannya" (Anatomy of Patriarchal Family and Its Application) Bina Darma XII/N0:47, 1994. ISSN: 0215-5052
 Megawangi, Ratna. "Keluarga Sebagai Wahana Pembangunan Bangsa: Tinjauan Antara Harapan dan Kendala" (Family as a Center Place for Human Resource Development). Warta Demografi. Universitas Indonesia. Tahun XXIIl/5/0ctober 1993
 Megawangi, Ratna. "Pengentasan Kemiskinan Ditinjau dari Aspek Transisi Gizi" (Poverty Alleviation and Nutritional Transition ). Warta Demografi. Universitas Indonesia, XXIII/4/Juli-Augustus 1993
 Megawangi, R., J.B. Barnett,. "A Comparison of Determinants of Infant Mortality Rate (IMR) Between Countries with High and Lowe IMR". Majalah Demografi Inondeisa. Tahun XX/39/June 1993
 Zeitlin, M., R. Megawangi, E. Kramer, and H. Armstrong. "Mother's and Children's Intakes of Vitamin A in Rural Bangladesh". American Journal of Clinical Nutrition 1992:56:136-47
 Megawangi, R. "A Redirection in How We Approach Undernourishment". Indonesian Food Journal No:6/1992
 Husaini, M. Suhardjo, R, Megawangi, E. Nurhadi, D. Supardi, D. Karyadi. "Diet, Nutritional Status, and Potential Need for Home Gardens, in the Tea Plantation" In Landauer, K, and M. Brazil (eds). Tropical Home Gardens (Tokoyo: United Nation University Press, 1990)
 Megawangi, R. and K. Diah. " Simplikasi Metode 24-hour Recall Untuk Survey Konsumsi Pangan Mahasiswa". Buletin Pangan dan Gizi VII/2/1984
 Megawangi, R. "Obesitas Pada Usia Kanak-kanak". Majalah Balita: Jakarta, November 1983

Kolumnis Suratkabar:
 Sejak Juni 2001 Megawangi diminta oleh harian sore “Suara Pembaruan” sebagai penulis tetap kolom “Titik Pandang”. Hingga April 2003 sudah 40 artikel yang sudah dipublikasi
 Lebih dari 50 artikel lain sudah dipublikasi di media lain, seperti harian Kompas, Republika, dan lain-lain

Laporan Riset yang Belum Dipublikasi:
 Megawangi, Ratna. "Pendidikan Karakter Untuk Membangun Masyarakat Madani" Manuskrip buku yang siap untuk dicetak
 Megawangi, Ratna. "Preschool-aged Nutritional Status Parameters for Indonesia, and Their Application to Nutrition-Related Policies". Doctoral Thesis. Tufts University School of Nutrition, Medford, MA, April 1991
 Masih terdapat 14 laporan riset yang belum dipublikasi, riset dilakukan untuk memenuhi permintaan pemesan
 Terdapat lebih dari 30 makalah, kertas kerja, artikel, yang dipresentasikan di berbagai seminar maupun workshop baik di tingkat nasional dan internasional T

 
 
     

==   1   2   3   ==

Ratna Megawangi, Ir. M.Sc, Ph.D (2)

Pelopor Pendidikan Holistik Berbasis Karakter


Temukan ‘Makanan Jiwa’
Tamat sebagai lulusan terbaik IPB Bogor Mei 1982, Ratna tidak tahu kemana akan bekerja selanjutnya. Dia masih belum menemukan talenta atau kesenangan hati yang sesungguhnya. Tawaran atau kesempatan bekerja apa pun jika ada pasti akan diterima tanpa perlu proses seleksi dan pemikiran panjang.

Sama persis seperti ketika menjadi mahasiswa jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (GMSK), Fakultas Pertanian, IPB Bogor di tahun 1978, Ratna dengan mudah masuk menjadi tenaga pengajar di jurusan dan fakultas yang sama di almamaternya itu tahun 1982. Ratna memang amat sangat pragmatis. Tidak terlalu bercita-cita mau menjadi apa. Hidup dijalani begitu saja.

Hingga tiba waktunya, pada tahun 1986, Ratna berkesempatan melanjutkan pendidikan S-2 untuk belajar gizi di School of Nutrition, Tufts University, Medford, Massachussets, AS. Ia memperoleh beasiswa dari Ford Foundation untuk tahun pertama, dan dari World Bank untuk tahun kedua. Ratna berangkat tahun 1986. Selama setahun penuh ia tinggal sendirian di negeri Paman Sam sebelum suaminya bisa datang menyusul kemudian, juga untuk kuliah S-2. Sofyan Djalil akhinya berhasil memperoleh beasiswa kuliah S-2 di perguruan tinggi sama, Tufts University dari kantornya bekerja.

Di School of Nutrition, Ratna merasakan hidup masih biasa-biasa saja. Kuliah sepertinya sekedar menjalankan kewajiban tanpa tahu harus ke mana. Pokoknya dapat sekolah ya sekolah saja. Ratna lulus dan meraih gelar S-2 Master of Science (M.Sc) tahun 1988. Pada saat itu Sofyan Djalil baru setahun menjalani kuliah S-2. Ratna harus menunggu akhir kuliah suami sampai selesai setahun lagi.

Sambil menunggu, Ratna yang ketika lulus S-2 disarankan untuk meneruskan kuliah ke program doktor itu memperoleh dorongan dari mantan dekannya untuk mengajukan “beasiswa” dalam bentuk lain. Yakni, Ratna tidak perlu membayar uang kuliah namun dikasih pekerjaan sebagai tenaga research asisstant. Tahun 1988 Ratna mulai kuliah S-3 sambil bekerja sebagai tenaga riset. Tahun 1990 ia melahirkan anak kedua, Safitri Mutia dan tahun 1991 lulus sebagai doktor bergelar Ph.D dalam bidang International Food and Nutrition Policy.

Ketika Ratna lulus S-3, Sofyan Djalil justru baru setahun memasuki kuliah S-3. Sofyan mengambil S-3 sebab ketika lulus master of arts (MA) bidang studi Public Policy tahun 1989 Ratna masih sedang mengambil S-3. Saat menunggu Ratna menyelesaikan kuliah S-3, Sofyan mengajukan proposal baru ke kantor pusat tempatnya bekerja di Jakarta, agar bisa memperoleh beasiswa baru untuk S-3. Proposal itu disetujui. Sofyan mengambil bidang International Financial and Capital Market Law and Policy.

Dengan demikian, ketika Ratna sudah menyelesaikan Ph.D tahun 199,1 Sofyan Djalil baru setahun kuliah S-3. Ratna kemudian harus menunggu lagi sebab sudah dengan dua orang anak rasanya berat dan enggan berpisah dengan suami. Seorang profesor, dosen Ratna, kemudian menawarkan Ratna masuk post doctoral program.

 

Sebagai kesempatan baru tawaran itu segera saja diambil. Walau, belajar tentang anak, keluarga, proyek keluarga, dan child development adalah suatu hal baru bagi Ratna. Ratna mau ambil sebab hanya disiplin ini yang memiliki dana beasiswa di tingkat post doctoral program. Di post doctoral program, Ratna harus melupakan ilmu bidang Gizi Makanan dan Sumberdaya Keluarga (GMSK) keahlian dan kepakaran Ratna semenjak S-1 hingga S-3.

Uniknya, momentum post doctoral program justru menjadi titik picu awal, cikal bakal, kiprah kepeloporan Ratna Megawangi sebagai penggagas pendidikan holistik berbasis karakter. Ratna berhasil menemukan jati diri, kesenangan, talenta, visi kehidupan, dan hakekat idealismenya yang sesungguhnya pada fenomena anak dan keluarga.

Di post doctoral program antara 1991-1993, Ratna menjalankan tugas sebagai independent research. Ia mengadakan sejumlah riset tentang keluarga dan perkembangan anak di berbagai negara. Ratna mulai menyadari bakat dan kesenangannya ada di bidang humaniora yang multi disiplin ilmu yang menggabungkan beragam ilmu seperti ilmu sosial, sosiologi, psikologi, budaya, hingga filsafat. Atau secara spesifik ilmu tentang anak, keluarga, perkembangan anak, pengasuhan anak, pendidikan anak, kultur keluarga, atau segala hal terkait anak dan keluarga. Ratna segera mencintai bidang ini dengan penuh semangat baru yang luar biasa sekali.

“Nah, sewaktu saya melakukan post doctoral program, saya merasa inilah yang rasanya menyentuh bukan saja intelectual academic saya. Tetapi juga menyentuh hati saya, jiwa saya, begitu,” kata Ratna. Gizi, kata Ratna, adalah food for the phyisical body, sedangkan masalah-masalah pendidikan anak dan keluarga menurutnya merupakan food for the soul. “Keduanya sama saja, makanan juga. Bedanya yang satu makanan tubuh satu lagi makanan jiwa,” jelas Ratna berkata mantap.

Ratna mengamati fenomena atau persoalan anak dan keluarga telah dianggap sebagian besar masyarakat sebagai bagian kehidupan sehari-hari yang biasa-biasa saja. Bahkan sudah dianggap sebagai taken for granted yang tidak terlalu penting untuk dirasakan. Namun setelah Ratna mempelajari anak dan keluarga sebagai teori ternyata persoalannya luar biasa menarik sekali. Di dalamnya terdapat unsur spiritual, masalah komitmen, dan beragam masalah lain.

Ratna lalu memutuskan masalah anak dan keluarga menjadi bidang yang akan dikembangkan setibanya di Indonesia. Tahun 1993, Ratna menyelesaikan post doctoral program dan menjadikan manuskrip hasil penelitiannya bersama profesornya Prof. Marian Zeitlin, terbit sebagai buku berjudul “Strengthening The Family: Implications for International Development”, oleh United University Press, Tokyo, tahun 1995.

Menemukan kesenangan baru, Ratna bersedia segera pulang lebih awal ke Indonesia Januari 1993. Padahal Sofyan Djalil masih menulis disertasi untuk menyelesaikan S-3. Mereka berpisah enam bulan sebab baru pada Juni 1993, Sofyan bisa kembali.

Tiba di Indonesia dan kembali ke IPB Bogor, Ratna menemukan sudah banyak sekali kawan-kawannya yang ahli Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Setahun pertama kepulangannya, Ratna masih mengajar mata kuliah food economics and nutrition planning. Tapi hatinya sungguh-sungguh sudah tak lagi di situ. Ratna mengetahui bidang keluarga masih baru berkembang itu pun lambat dan kecil jumlahnya.

Ke fakultasya, Ratna mengajukan permohonan untuk membuka mata kuliah wajib baru Pengantar Teori Keluarga. Ratna berpendapat institusi keluarga harus diberikan secara teori kepada setiap mahasiswa jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Sebab di jurusan itu ada unsur paradigma politik dan filsafat. Ratna harus mengajarkan teori marxisme, komunisme, sejumlah teori-teori yang bersifat fungsional dan semua teori tentang pro dan kontra dalam keluarga supaya mahasiswa memiliki bekal dari segi paradigma.

“Jadi, bisa berpikir dalam konteks paradigma,” kata Ratna. Tak berhenti di situ. Ratna mengambil-alih mata kuliah Teori Keluarga Lanjut untuk setiap mahasiswa program S-2, kemudian membuka matakuliah baru Individu, Keluarga dan Masyarakat untuk mahasiswa S-3.

Membangung Bangsa Berkarakter
Selain menempuh pendidikan tinggi di negeri Paman Sam, Amerika Serikat, Ratna Megawangi bersama suami Sofyan Djalil mengalami kontemplasi hidup yang intens. Secara khusus mereka berdua pernah berkenalan dengan sejumlah aliran dalam sufisme. Sejumlah ilmu, teori dan filsafat kehidupan sudah cukup dimengerti dan melekat erat dalam diri mereka berdua.

Sejak tahun 2000, Ratna dan Sofyan sepakat berbuat sesuatu yang konkrit bagi bangsa yakni membangun bangsa berkarakter. Mereka memberanikan diri membangun Indonesia Heritage Foundation atau Yayasan Warisan Luhur Indonesia dengan modal nekat. Yayasan berhasil merekrut 12 orang mahasiswa terbaik IPB Bogor sebagai pengerja awal. Yayasan didirikan nekat sebab hanya dengan kapital kecil Rp 75 juta, hasil tabungan yang memang dipersiapkan untuk tujuan ini. Dengan seed money yang kecil tersebut, ternyata telah berhasil menarik beberapa donatur untuk mendukung program yayasan dalam mewujudkan visi yayasan “Membangung Bangsa Berkarakter”.

Terdapat sembilan pilar karakter nilai-nilai luhur universal yang ditanamkan kepada anak sejak dini usia prasekolah. Pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaaan-Nya; Kedua, kemandirian dan tanggungjawab; Ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; Keempat, hormat dan santun; Kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; Keenam, percaya diri dan pekerja keras; Ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; Kedelapan, baik dan rendah hati, dan; Kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Kesembilan pilar karakter diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang selalu bekerja membuat orang mau selalu berbuat sesuatu kebaikan. Orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan acting the good berubah menjadi kebiasaan.

Setiap anak untuk tiba pada perilaku berkarakater kuat membutuhkan proses luar biasa sulit. “Nah, walaupun kita nggak ada feeling, ya, tapi kalau orang sudah terbiasa berbuat baik, sekali dia berbuat tidak baik sudah tidak enak. Jadi, kebiasaan itu menimbulkan suatu nurani yang rasa tidak enak, dia rasa malu,” kata Ratna.

Tahun 2001 pendidikan holistik berbasis karakter mulai diujicoba. Pada tahun 2003 dilakukan evaluasi internal, monitoring, perbaikan dan segala macam. Termasuk meneliti sekitar 600 anak didik yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa IPB. Mereka meneliti dampak pendidikan holistik berbasis sembilan karakter terhadap perilaku keseharian anak. Hasilnya ternyata luar biasa.

“Nah, tahun 2003, alhamdulilah hasil penelitian yang kami lakukan itu teryata promising. Jadi, anak-anak yang ikut program kami namanya: Semai Benih Bangsa atau SBB, dengan yang tidak atau yang masuk TK biasa, itu secara statistik signifikan lebih bagus karakternya yang sembilan pilar itu, dibandingkan dengan yang TK yang biasa,” kata Ratna. Tahun 2004 alumni lembaga sekolah yang diberi nama Institut Pengembangan Pendidikan Karakter sudah duduk di bangku SD kelas empat.

Ratna mendedikasikan diri sepenuhnya pada Yayasan. Sedangkan Sofyan Djalil sehari-hari bergiat sebagai profesional murni untuk mencukupi kebutuhan keluarga, mendirikan sekaligus menjadi managing partner sebuah perusahaan konsultan Sofyan Djalil and Partner (SDP). Ratna praktis berpenghasilan nol. Gaji bulanannya sebagai dosen di IPB tak pernah diambil. Sebab mengajar hanya satu dua kali seminggu dirasanya tak pantas menerima gaji. Itu lebih baik dia sumbangkan saja.

Ratna Megawangi yang berintegritas tinggi dan independen dalam bersikap, dalam sisi-sisi tertentu merasakan ada ketergantungan yang amat sangat terhadap suaminya, seperti secara emosional dan finansial. Namun ke mana-mana Ratna tak pernah membawa-bawa nama Sofyan Djalil. Baik sebelum apalagi setelah menjadi Menteri Komunikasi dan Informasi Kabinet Indonesia Bersatu.

 

Termasuk, selama ini Ratna tak pernah mencantumkan nama Sofyan atau Djalil atau Sofyan Djalil dalam nama lengkapnya, kecuali “Dr. Ir. Ratna Megawangi, M.Sc” saja. Ratna mengungkapkan sebuah tabir, ia malah tak banyak dikenal orang sebagai istri Sofyan Djalil. Sofyan sendiri telah meminta Ratna agar sebagai istri menteri tak perlu terlalu involved dalam keseharian kegiatan Ibu Dharma Wanita.

“Bahkan, suami saya juga bilang bahwa kamu adalah kamu. Ya, artinya kamu adalah Ratna Megawangi yang nggak ada embel-embelnya dengan Menteri Komunikasi ini. Kamu sudah dibangun dari awal begitu,” kata Ratna, yang tak akan mengubah diri hanya karena bersuamikan seorang menteri.

Ratna pun menggariskan akan menerapkan cost of benefit analisys dalam setiap pilihan pengambilan keputusan antara memosisikan diri sebagai istri menteri atau sebagai seorang pribadi Ratna Megawangi yang Direktur Eksekutif Yayasan Warisan Luhur Indonesia. Mana yang paling menguntungkan saja.

 

Misalnya jika pada waktu bersamaan, Ratna harus memilih antara mendampingi suami mengikuti acara jamuan makan kenegaraan, atau memberikan ceramah dan pelatihan kepada para guru pendidikan holistik berbasis karakter. Berdasarkan cost of benefit analisys, Ratna pasti akan memilih yang terakhir.

 

Karena guru-guru adalah corong dan ujung tombak di kelas. Kalau guru-guru sadar semua anak-anak akan berkarakter bagus. “Banyak guru-guru yang menangis setelah kita berikan pelatihan bagaimana memberikan pendidikan karakter secara holistik kepada anak. ‘Oh ternyata begitu, apa yang kami ajarkan selama puluhan tahun ini selalu dipersalahkan,” kata Ratna, mengutip komentar para guru yang baru melek mata setelah melihat betapa pentingnya menanamkan karakter pada anak didik sejak dini.

Ratna yang sedari kecil dididik mandiri, pekerja keras, hemat, berdisiplin tinggi, ketika dewasa tetap menjadi seorang wanita yang juga mandiri, independen, kritis, pekerja keras, toleran, dan berintelektual tinggi.

 

Perempuan yang selalu mengenakan busana muslimah ini adalah salah satu penerima penghargaan “80 Tokoh Wanita Muslim Paling Terkemuka Indonesia”, yang profilnya pernah dibukukan dalam “Profil Tokoh Wanita Muslim Indonesia,” tahun 2002. Tampil selalu berbusana muslimah, namun visi toleransi Ratna Megawangi begitu tinggi.

Ratna Megawangi bukan hanya tiga setengah tahun sudah menjadi kontributor tetap mengisi kolom “Titik Pandang”, tiap hari kamis di harian sore “Suara Pembaruan”, atau sebelumnya aktif menulis di harian “Kompas”.

 

Ratna Megawangi dalam buku terbarunya “Pendidikan Karakter Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa”, terbit Juli 2004, tak merasa enggan mengutip beberapa ayat firman Tuhan dari Alkitab Perjanjian Baru, seperti kitab Lukas sebagai referensi. Sedangkan kitab suci tak dapat dibatalkan, firman Tuhan itu ya dan amin alpha dan omega. Ratna juga penulis tetap di tabloid MQ milik KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym. Semuanya menggagas tentang pendidikan anak dan moral.

Kekritisan Ratna Megawangi tak luntur sedikitpun walau suaminya masuk ke dalam birokrasi pemerintah. Persoalan pajak adalah sekelumit saja sikap kritis yang diungkapkannya. Ratna Megawangi yang pada Pemilu Legislatif mengaku tidak memilih alias golput, sedangkan pada Pemilu Presiden memilih pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Pilihan itu dipastikannya didasarkan bukan karena suaminya anggota Tim Sukses SBY-JK.

Ratna mengkritisi kecenderungan pemerintah menggenjot pendapatan pajak tinggi. Ratna lebih suka dengan pajak yang rendah. Sebab dengan pajak rendah investasi akan meningkat, saving meningkat, terbentuk akhlak yang bagus sebab orang rajin bekerja demi meraih pendapatan, dengan tingkat saving tinggi akan tinggi pula tingkat investasi sehingga terbuka banyak lapangan kerja, orang bekerja sangat industrious, perputaran ekonomi menjadi marak.

 

Sedangkan pajak tinggi pasti akan membuat orang malas bekerja sebab apa-apa pendapatan selalu dipajakin, pekerja merasa di-punished, tabungan menipis, lalu berdampak tidak ada investasi.

Demikian juga janji-janji pemerintah berikut tuntutan masyarakat yang menginginkan serba gratis. Biaya pendidikan gratis pelayanan kesehatan gratis, itu, kata Ratna membuat rakyat menjadi sangat tergantung kepada pemerintah, rakyat menjadi tidak mandiri. Pada sisi lain untuk memenuhi pelayanan gratis serta untuk memperbesar pendapatan pajak Pemerintahan harus dibuat besar. Pada Pemerintahan yang besar terbuka peluang untuk cari kekayaan dan cenderung korup. “Di mana-mana perilaku birokrasi pasti inheren, embeded dengan perilaku yang tidak efisien,” kata Ratna Megawangi. ►e-ti/ht-ms => Kembali


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 
Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero