A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Kolom
 ► Buku
 ► Galeri
  P R O F E S I
 ► Guru-Dosen
 ► Peneliti-Ilmuwan
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 01112004  
   
  ► e-ti/marjuka  
  Nama:
Dr. Ir. Ratna Megawangi, M.Sc
Lahir:
Jakarta, 24 Agustus 1958
Jabatan:
Pendiri dan Direktur Eksekutif Indonesia Hheritage Foundation (Yayasan Warisan Luhur Indonesia)
Agama:
Islam
Suami:
Dr. Sofyan A. Djalil, SH, MA, MALD
Anak:
1. Muhammad Rumi, lahir 1985
2. Safitri Mutia, lahir 1990
3. Muhammad Lutfi, lahir 1998
Ayah:
Ayah Drs Harmonie Djaffar
Ibu:
Sri Mulyatie
Sudara kandung:
Anak kedua dari enam bersaudara

Pendidikan:
 Post Doctoral Fellow, Tufts University School of Nutrition, Medford, Massachussets, AS bidang Keluarga, Pengasuhan Anak, Orangtua, 1991-1993
 S-3, Tufts University School of Nutrition, Medford, Massachussets, AS, bidang Kebijakan Internasional Makanan dan Gizi, 1998-1991
 S-2, Tufts University, bidang Ilmu Sosial dan Gizi, 1986-1988
 S-1, Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor, Fakultas Pertanian, Jurusan Makanan, Gizi, dan Sumberdaya Keluarga, 1978-1982

Pelatihan:
 Inter-University Consortium for Political and Social Research Summer Training Program in Quantitative Methods of Social Research, University of Michigan, Musim Panas 1992
 Participatory Action Research, Education Development Center. Washington DC, 29 April- 3 May 1996

Penghargaan:
 Mahasiswa Lulusan Terbaik Fakultas Pertanian IPB Bogor, Mei 1982
 Ford Foundation Fellowship Award, 1986-1987
 Inter-University Center Fellowship Award, 1987-1988
 Tufts University Graduate Fellowship Award, 1988-1989
 Ford Foundation Fellowship Award, 1989-1991
 Penghargaan “80 Tokoh Wanita Muslim Indonesia Terbaik”, Januari 2002, dimana profilnya ditulis dalam “Profil Tokoh Wanita Muslim Indonesia”, 2002.

Pengalaman Akademis:
 Pengajar Pengantar Teori Keluarga, S-1, IPB Bogor, 1995-sekarang
 Pengajar Dinamika Keluarga, S-2, IPB Bogor, 1995-sekarang
 Pengajar Teori Keluarga Lanjutan, S-1, IPB Bogor, 2000-sekarang
 Pengajar Individu, Keluarga, dan Masyarakat, S-2, IPB Bogor, 2002-sekarang
 Dosen Tamu pada Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Jurusan Intervensi Sosial, dengan topik “Membangun Bangsa Berkarakter Melalui Intervensi Sosial”, S-2, UI Jakarta, 2002-sekarang
 Pengajar Pengantar Ilmu Filsafat, S-2, IPB Bogor, 1995-1997
 Pengajar Perencanaan Gizi, S-1, IPB Bogor, 1993-1994
 Pengajar Ekonomi Gizi, S-2, SEAMEO UI, Jakarta, 1993-1994
 Pengajar Ekonomi Gizi, S-1, IPB Bogor, 1982-1986


Pengalaman Kerja:
 Anggota Panitia Pengawas National Broad Based Education, Life Skill Education Committee, Departmen Pendidikan Nasional, 2002-sekarang
 Konsultan, pada proyek bersama “Model Development of Character-based Integrated Curriculum, Life Skill Broad-based Education Program”, GMSK-IPB –Depdiknas, 2002-2003
 Menghadiri undangan ke Seoul, Korea Selatan, Mei 2002 sebagai tamu pada:
1. Division of Moral Education, pada Korea Institute of Curriculum and Evaluation
2. Departement of National Ethics Education, Seoul National University
3. Institute of Asia Pacific Education Development, Seoul University
4. Demonstration Ewha Kindergarten, College of Education Ewha Women University
5. Seoul Naebalsan Elementary School
 Kunjungan ke 3 Taman Kanak-Kanak Community Development Program milik People Action Party (PAP) Singapura, dan ke TKK Soka, April 2001
 Pemegang Lisensi STAR (Stop, Think, Act, Review) dari Jeffersen Cenetr for Character Education, AS (setelah memperoleh instruksi jarak jauh dari Russel Williams MA, CEO Jeffersen Cenetr for Character Education), Agustus 2001-sekarang
 Pendiri dan Direktur Eksekutif Indonesia Heritage Foundation, 2001-sekarang
 Dosen pada Jurusan Gizi, Makanan, dan Sumberdaya Manusia (GMSM), Fakultas Pertanian, IPB Bogor, 1982-sekarang
 Ketua Kesetaraan Gender, Indonesian Planned Parenthood Association, 2000-sekarang
 Ketua Divis Studi Keluarga, Indonesia Sociologists Association, 1996-1999
 Anggota, Working Group for Policies in Human Resource Development, Kementerian Kependudukan/BKKBN, 1995-1996
 Anggota, In-Country Advisory Committee (IAC) For Woman Studies in Indonesia, Kementerian Kependudukan/BKKBN-USAID Jakarta, 1994-1996
 Anggota, Working Group for Policies on Women, Kementerian Kependudukan/BKKN, 1994-1995
 Adjunct Faculty Member, SEAMEO Graduate School, Universitas Indonesia (Koordinator Kursus Food Economics), 1993-1994
 Ketua Panitia Pelaksana Seminar Nasional Family and Human Resource Development 21-22 September 1993, IPB Bogor, September 1993
 Faculty Member (Research Associate) Tufts School of Nutrition, 1991-1993
 Konsultan Survey Gizi, Biro Pusat Statistik, Jakarta, 1989

Pengalaman Riset:
 Principal Investigator, Research on "Factors Affecting the Performance of National UPPKS Program (Family Income Generating Program), Funded by the Ministry of Population, 1996 -1997
 Principal Investigator, Collaborative research between CNFR-IPB and The Consultative Group on Early Childhood Care and Development, USA. Topic: "Gender Perspectives on Early Childhood Care and Development in Indonesia", funded by the USAID, 1995- 1997
 Principal Investigator, CNFR-IPB, research on: "Evaluative Study on PKK (National Prosperous Family Program) and Its Effects on Family Life and Welfare". Funded by the Competitive Grants, Ministry of Education and Cultural Affairs, 1994- 1996
 Principal Investigator, research on "Family Roles and Functions: The Roles of Husbands in Promoting Family Welfare", Funded by The office of Ministry ofPopulation, Sept 1993-1994
 Co-Principal Investigator, CNFR-IPB, research on: "Family in Transition", Funded by the Competitive Grants, Ministry of Education and Cultural Affairs, May 1993- 1995
 Co-Principal Investigator, Tufts University, research on: "Strengthening the Family and Child Care", Funded by USAID- AED, 1991- Jan 1993
 Data Analyst, Investigator, Tufts University, research on "Vitamin A Consumption of Women and Children in Rural Bangladesh" Funded by USAID, 1987- 1989
 Co-Investigator, CNFR-IPB, research on: Factors Associated with Good Nutritional Status of Children Under-fives in Seven Villages Around Bogor area". Funded by the Ministry of Education, 1985-1986
 Co-Investigator, CNFR-IPB, laboratory research on: "Nutritional Composition Analyses of Major Street Foods in Bogor". Funded By Ministry of Education, 1984-1985
 Co-Investigator, CNFR-IPB and Equity Policy Center, University of Hawaii, research on: "Evaluative Study on Food Fortification Intervention Program in Selected School-children in Bogor" Funded by the Ford Foundation, Jakarta, Indonesia, 1983- 1984
 Field Enumerator, Bogor Agricultural University- MIT Nutrition Policy (Prof Nevin Schrimshaw), research on: "Food Consumption Among Female Tea-pickers), 1982- 1983

Alamat Kantor:
= Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor
Gizi, Makanan, dan Sumberdaya Keluarga (GMSK)
Kampus Dermaga, Bogor 16880
Indonesia
Phone: 0251- 621258

= INDONESIA HERITAGE FOUNDATION
TK Karakter
Jln. Raya Bogor KM 31 no: 46
(Depan Papatua Pizza Restaurant)
Cimanggis, Depok 16954
Indonesia
Phone: 021-8712022

Alamat Rumah:
Jalan Anantakupa Raya Blok V/11-12
Kompleks Harapan Baru, Taman Bunga,
Harjamukti, Cimanggis, Bogor
Indonessia


 

 
     
 
BIOGRAFI

 

BIOGRAFI:     01   02   3   ==

Ratna Megawangi (02

Temukan ‘Makanan Jiwa’


Tamat sebagai lulusan terbaik IPB Bogor Mei 1982, Ratna tidak tahu kemana akan bekerja selanjutnya. Dia masih belum menemukan talenta atau kesenangan hati yang sesungguhnya. Tawaran atau kesempatan bekerja apa pun jika ada pasti akan diterima tanpa perlu proses seleksi dan pemikiran panjang.

Sama persis seperti ketika menjadi mahasiswa jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (GMSK), Fakultas Pertanian, IPB Bogor di tahun 1978, Ratna dengan mudah masuk menjadi tenaga pengajar di jurusan dan fakultas yang sama di almamaternya itu tahun 1982. Ratna memang amat sangat pragmatis. Tidak terlalu bercita-cita mau menjadi apa. Hidup dijalani begitu saja.

Hingga tiba waktunya, pada tahun 1986, Ratna berkesempatan melanjutkan pendidikan S-2 untuk belajar gizi di School of Nutrition, Tufts University, Medford, Massachussets, AS. Ia memperoleh beasiswa dari Ford Foundation untuk tahun pertama, dan dari World Bank untuk tahun kedua. Ratna berangkat tahun 1986. Selama setahun penuh ia tinggal sendirian di negeri Paman Sam sebelum suaminya bisa datang menyusul kemudian, juga untuk kuliah S-2. Sofyan Djalil akhinya berhasil memperoleh beasiswa kuliah S-2 di perguruan tinggi sama, Tufts University dari kantornya bekerja.

Di School of Nutrition, Ratna merasakan hidup masih biasa-biasa saja. Kuliah sepertinya sekedar menjalankan kewajiban tanpa tahu harus ke mana. Pokoknya dapat sekolah ya sekolah saja. Ratna lulus dan meraih gelar S-2 Master of Science (M.Sc) tahun 1988. Pada saat itu Sofyan Djalil baru setahun menjalani kuliah S-2. Ratna harus menunggu akhir kuliah suami sampai selesai setahun lagi.

Sambil menunggu, Ratna yang ketika lulus S-2 disarankan untuk meneruskan kuliah ke program doktor itu memperoleh dorongan dari mantan dekannya untuk mengajukan “beasiswa” dalam bentuk lain. Yakni, Ratna tidak perlu membayar uang kuliah namun dikasih pekerjaan sebagai tenaga research asisstant. Tahun 1988 Ratna mulai kuliah S-3 sambil bekerja sebagai tenaga riset. Tahun 1990 ia melahirkan anak kedua, Safitri Mutia dan tahun 1991 lulus sebagai doktor bergelar Ph.D dalam bidang International Food and Nutrition Policy.

Ketika Ratna lulus S-3, Sofyan Djalil justru baru setahun memasuki kuliah S-3. Sofyan mengambil S-3 sebab ketika lulus master of arts (MA) bidang studi Public Policy tahun 1989 Ratna masih sedang mengambil S-3. Saat menunggu Ratna menyelesaikan kuliah S-3, Sofyan mengajukan proposal baru ke kantor pusat tempatnya bekerja di Jakarta, agar bisa memperoleh beasiswa baru untuk S-3. Proposal itu disetujui. Sofyan mengambil bidang International Financial and Capital Market Law and Policy.

Dengan demikian, ketika Ratna sudah menyelesaikan Ph.D tahun 199,1 Sofyan Djalil baru setahun kuliah S-3. Ratna kemudian harus menunggu lagi sebab sudah dengan dua orang anak rasanya berat dan enggan berpisah dengan suami. Seorang profesor, dosen Ratna, kemudian menawarkan Ratna masuk post doctoral program.

 

Sebagai kesempatan baru tawaran itu segera saja diambil. Walau, belajar tentang anak, keluarga, proyek keluarga, dan child development adalah suatu hal baru bagi Ratna. Ratna mau ambil sebab hanya disiplin ini yang memiliki dana beasiswa di tingkat post doctoral program. Di post doctoral program, Ratna harus melupakan ilmu bidang Gizi Makanan dan Sumberdaya Keluarga (GMSK) keahlian dan kepakaran Ratna semenjak S-1 hingga S-3.

Uniknya, momentum post doctoral program justru menjadi titik picu awal, cikal bakal, kiprah kepeloporan Ratna Megawangi sebagai penggagas pendidikan holistik berbasis karakter. Ratna berhasil menemukan jati diri, kesenangan, talenta, visi kehidupan, dan hakekat idealismenya yang sesungguhnya pada fenomena anak dan keluarga.

Di post doctoral program antara 1991-1993, Ratna menjalankan tugas sebagai independent research. Ia mengadakan sejumlah riset tentang keluarga dan perkembangan anak di berbagai negara. Ratna mulai menyadari bakat dan kesenangannya ada di bidang humaniora yang multi disiplin ilmu yang menggabungkan beragam ilmu seperti ilmu sosial, sosiologi, psikologi, budaya, hingga filsafat. Atau secara spesifik ilmu tentang anak, keluarga, perkembangan anak, pengasuhan anak, pendidikan anak, kultur keluarga, atau segala hal terkait anak dan keluarga. Ratna segera mencintai bidang ini dengan penuh semangat baru yang luar biasa sekali.

“Nah, sewaktu saya melakukan post doctoral program, saya merasa inilah yang rasanya menyentuh bukan saja intelectual academic saya. Tetapi juga menyentuh hati saya, jiwa saya, begitu,” kata Ratna. Gizi, kata Ratna, adalah food for the phyisical body, sedangkan masalah-masalah pendidikan anak dan keluarga menurutnya merupakan food for the soul. “Keduanya sama saja, makanan juga. Bedanya yang satu makanan tubuh satu lagi makanan jiwa,” jelas Ratna berkata mantap.

Ratna mengamati fenomena atau persoalan anak dan keluarga telah dianggap sebagian besar masyarakat sebagai bagian kehidupan sehari-hari yang biasa-biasa saja. Bahkan sudah dianggap sebagai taken for granted yang tidak terlalu penting untuk dirasakan. Namun setelah Ratna mempelajari anak dan keluarga sebagai teori ternyata persoalannya luar biasa menarik sekali. Di dalamnya terdapat unsur spiritual, masalah komitmen, dan beragam masalah lain.

Ratna lalu memutuskan masalah anak dan keluarga menjadi bidang yang akan dikembangkan setibanya di Indonesia. Tahun 1993, Ratna menyelesaikan post doctoral program dan menjadikan manuskrip hasil penelitiannya bersama profesornya Prof. Marian Zeitlin, terbit sebagai buku berjudul “Strengthening The Family: Implications for International Development”, oleh United University Press, Tokyo, tahun 1995.

Menemukan kesenangan baru, Ratna bersedia segera pulang lebih awal ke Indonesia Januari 1993. Padahal Sofyan Djalil masih menulis disertasi untuk menyelesaikan S-3. Mereka berpisah enam bulan sebab baru pada Juni 1993, Sofyan bisa kembali.

Tiba di Indonesia dan kembali ke IPB Bogor, Ratna menemukan sudah banyak sekali kawan-kawannya yang ahli Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Setahun pertama kepulangannya, Ratna masih mengajar mata kuliah food economics and nutrition planning. Tapi hatinya sungguh-sungguh sudah tak lagi di situ. Ratna mengetahui bidang keluarga masih baru berkembang itu pun lambat dan kecil jumlahnya.

Ke fakultasya, Ratna mengajukan permohonan untuk membuka mata kuliah wajib baru Pengantar Teori Keluarga. Ratna berpendapat institusi keluarga harus diberikan secara teori kepada setiap mahasiswa jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Sebab di jurusan itu ada unsur paradigma politik dan filsafat. Ratna harus mengajarkan teori marxisme, komunisme, sejumlah teori-teori yang bersifat fungsional dan semua teori tentang pro dan kontra dalam keluarga supaya mahasiswa memiliki bekal dari segi paradigma.

“Jadi, bisa berpikir dalam konteks paradigma,” kata Ratna. Tak berhenti di situ. Ratna mengambil-alih mata kuliah Teori Keluarga Lanjut untuk setiap mahasiswa program S-2, kemudian membuka matakuliah baru Individu, Keluarga dan Masyarakat untuk mahasiswa S-3.

Membangung Bangsa Berkarakter
Selain menempuh pendidikan tinggi di negeri Paman Sam, Amerika Serikat, Ratna Megawangi bersama suami Sofyan Djalil mengalami kontemplasi hidup yang intens. Secara khusus mereka berdua pernah berkenalan dengan sejumlah aliran dalam sufisme. Sejumlah ilmu, teori dan filsafat kehidupan sudah cukup dimengerti dan melekat erat dalam diri mereka berdua.

Sejak tahun 2000, Ratna dan Sofyan sepakat berbuat sesuatu yang konkrit bagi bangsa yakni membangun bangsa berkarakter. Mereka memberanikan diri membangun Indonesia Heritage Foundation atau Yayasan Warisan Luhur Indonesia dengan modal nekat. Yayasan berhasil merekrut 12 orang mahasiswa terbaik IPB Bogor sebagai pengerja awal. Yayasan didirikan nekat sebab hanya dengan kapital kecil Rp 75 juta, hasil tabungan yang memang dipersiapkan untuk tujuan ini. Dengan seed money yang kecil tersebut, ternyata telah berhasil menarik beberapa donatur untuk mendukung program yayasan dalam mewujudkan visi yayasan “Membangung Bangsa Berkarakter”.

Terdapat sembilan pilar karakter nilai-nilai luhur universal yang ditanamkan kepada anak sejak dini usia prasekolah. Pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaaan-Nya; Kedua, kemandirian dan tanggungjawab; Ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; Keempat, hormat dan santun; Kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; Keenam, percaya diri dan pekerja keras; Ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; Kedelapan, baik dan rendah hati, dan; Kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Kesembilan pilar karakter diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang selalu bekerja membuat orang mau selalu berbuat sesuatu kebaikan. Orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan acting the good berubah menjadi kebiasaan.

Setiap anak untuk tiba pada perilaku berkarakater kuat membutuhkan proses luar biasa sulit. “Nah, walaupun kita nggak ada feeling, ya, tapi kalau orang sudah terbiasa berbuat baik, sekali dia berbuat tidak baik sudah tidak enak. Jadi, kebiasaan itu menimbulkan suatu nurani yang rasa tidak enak, dia rasa malu,” kata Ratna.

Tahun 2001 pendidikan holistik berbasis karakter mulai diujicoba. Pada tahun 2003 dilakukan evaluasi internal, monitoring, perbaikan dan segala macam. Termasuk meneliti sekitar 600 anak didik yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa IPB. Mereka meneliti dampak pendidikan holistik berbasis sembilan karakter terhadap perilaku keseharian anak. Hasilnya ternyata luar biasa.

“Nah, tahun 2003, alhamdulilah hasil penelitian yang kami lakukan itu teryata promising. Jadi, anak-anak yang ikut program kami namanya: Semai Benih Bangsa atau SBB, dengan yang tidak atau yang masuk TK biasa, itu secara statistik signifikan lebih bagus karakternya yang sembilan pilar itu, dibandingkan dengan yang TK yang biasa,” kata Ratna. Tahun 2004 alumni lembaga sekolah yang diberi nama Institut Pengembangan Pendidikan Karakter sudah duduk di bangku SD kelas empat.

Ratna mendedikasikan diri sepenuhnya pada Yayasan. Sedangkan Sofyan Djalil sehari-hari bergiat sebagai profesional murni untuk mencukupi kebutuhan keluarga, mendirikan sekaligus menjadi managing partner sebuah perusahaan konsultan Sofyan Djalil and Partner (SDP). Ratna praktis berpenghasilan nol. Gaji bulanannya sebagai dosen di IPB tak pernah diambil. Sebab mengajar hanya satu dua kali seminggu dirasanya tak pantas menerima gaji. Itu lebih baik dia sumbangkan saja.

Ratna Megawangi yang berintegritas tinggi dan independen dalam bersikap, dalam sisi-sisi tertentu merasakan ada ketergantungan yang amat sangat terhadap suaminya, seperti secara emosional dan finansial. Namun ke mana-mana Ratna tak pernah membawa-bawa nama Sofyan Djalil. Baik sebelum apalagi setelah menjadi Menteri Komunikasi dan Informasi Kabinet Indonesia Bersatu.

 

Termasuk, selama ini Ratna tak pernah mencantumkan nama Sofyan atau Djalil atau Sofyan Djalil dalam nama lengkapnya, kecuali “Dr. Ir. Ratna Megawangi, M.Sc” saja. Ratna mengungkapkan sebuah tabir, ia malah tak banyak dikenal orang sebagai istri Sofyan Djalil. Sofyan sendiri telah meminta Ratna agar sebagai istri menteri tak perlu terlalu involved dalam keseharian kegiatan Ibu Dharma Wanita.

“Bahkan, suami saya juga bilang bahwa kamu adalah kamu. Ya, artinya kamu adalah Ratna Megawangi yang nggak ada embel-embelnya dengan Menteri Komunikasi ini. Kamu sudah dibangun dari awal begitu,” kata Ratna, yang tak akan mengubah diri hanya karena bersuamikan seorang menteri.

Ratna pun menggariskan akan menerapkan cost of benefit analisys dalam setiap pilihan pengambilan keputusan antara memosisikan diri sebagai istri menteri atau sebagai seorang pribadi Ratna Megawangi yang Direktur Eksekutif Yayasan Warisan Luhur Indonesia. Mana yang paling menguntungkan saja.

 

Misalnya jika pada waktu bersamaan, Ratna harus memilih antara mendampingi suami mengikuti acara jamuan makan kenegaraan, atau memberikan ceramah dan pelatihan kepada para guru pendidikan holistik berbasis karakter. Berdasarkan cost of benefit analisys, Ratna pasti akan memilih yang terakhir.

 

Karena guru-guru adalah corong dan ujung tombak di kelas. Kalau guru-guru sadar semua anak-anak akan berkarakter bagus. “Banyak guru-guru yang menangis setelah kita berikan pelatihan bagaimana memberikan pendidikan karakter secara holistik kepada anak. ‘Oh ternyata begitu, apa yang kami ajarkan selama puluhan tahun ini selalu dipersalahkan,” kata Ratna, mengutip komentar para guru yang baru melek mata setelah melihat betapa pentingnya menanamkan karakter pada anak didik sejak dini.

Ratna yang sedari kecil dididik mandiri, pekerja keras, hemat, berdisiplin tinggi, ketika dewasa tetap menjadi seorang wanita yang juga mandiri, independen, kritis, pekerja keras, toleran, dan berintelektual tinggi.

 

Perempuan yang selalu mengenakan busana muslimah ini adalah salah satu penerima penghargaan “80 Tokoh Wanita Muslim Paling Terkemuka Indonesia”, yang profilnya pernah dibukukan dalam “Profil Tokoh Wanita Muslim Indonesia,” tahun 2002. Tampil selalu berbusana muslimah, namun visi toleransi Ratna Megawangi begitu tinggi.

Ratna Megawangi bukan hanya tiga setengah tahun sudah menjadi kontributor tetap mengisi kolom “Titik Pandang”, tiap hari kamis di harian sore “Suara Pembaruan”, atau sebelumnya aktif menulis di harian “Kompas”.

 

Ratna Megawangi dalam buku terbarunya “Pendidikan Karakter Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa”, terbit Juli 2004, tak merasa enggan mengutip beberapa ayat firman Tuhan dari Alkitab Perjanjian Baru, seperti kitab Lukas sebagai referensi. Sedangkan kitab suci tak dapat dibatalkan, firman Tuhan itu ya dan amin alpha dan omega. Ratna juga penulis tetap di tabloid MQ milik KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym. Semuanya menggagas tentang pendidikan anak dan moral.

Kekritisan Ratna Megawangi tak luntur sedikitpun walau suaminya masuk ke dalam birokrasi pemerintah. Persoalan pajak adalah sekelumit saja sikap kritis yang diungkapkannya. Ratna Megawangi yang pada Pemilu Legislatif mengaku tidak memilih alias golput, sedangkan pada Pemilu Presiden memilih pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Pilihan itu dipastikannya didasarkan bukan karena suaminya anggota Tim Sukses SBY-JK.

Ratna mengkritisi kecenderungan pemerintah menggenjot pendapatan pajak tinggi. Ratna lebih suka dengan pajak yang rendah. Sebab dengan pajak rendah investasi akan meningkat, saving meningkat, terbentuk akhlak yang bagus sebab orang rajin bekerja demi meraih pendapatan, dengan tingkat saving tinggi akan tinggi pula tingkat investasi sehingga terbuka banyak lapangan kerja, orang bekerja sangat industrious, perputaran ekonomi menjadi marak.

 

Sedangkan pajak tinggi pasti akan membuat orang malas bekerja sebab apa-apa pendapatan selalu dipajakin, pekerja merasa di-punished, tabungan menipis, lalu berdampak tidak ada investasi.

Demikian juga janji-janji pemerintah berikut tuntutan masyarakat yang menginginkan serba gratis. Biaya pendidikan gratis pelayanan kesehatan gratis, itu, kata Ratna membuat rakyat menjadi sangat tergantung kepada pemerintah, rakyat menjadi tidak mandiri. Pada sisi lain untuk memenuhi pelayanan gratis serta untuk memperbesar pendapatan pajak Pemerintahan harus dibuat besar. Pada Pemerintahan yang besar terbuka peluang untuk cari kekayaan dan cenderung korup. “Di mana-mana perilaku birokrasi pasti inheren, embeded dengan perilaku yang tidak efisien,” kata Ratna Megawangi. ►e-ti/ht-ms => Kembali


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)