| |
C © updated 01112004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/marjuka |
|
| |
Nama:
Dr. Ir. Ratna Megawangi, M.Sc
Lahir:
Jakarta, 24 Agustus 1958
Jabatan:
Pendiri dan Direktur Eksekutif Indonesia Hheritage Foundation (Yayasan
Warisan Luhur Indonesia)
Agama:
Islam
Suami:
Dr. Sofyan A. Djalil, SH, MA, MALD
Anak:
1. Muhammad Rumi, lahir 1985
2. Safitri Mutia, lahir 1990
3. Muhammad Lutfi, lahir 1998
Ayah:
Ayah Drs Harmonie Djaffar
Ibu:
Sri Mulyatie
Sudara kandung:
Anak kedua dari enam bersaudara
Pendidikan:
Post Doctoral Fellow, Tufts University School of Nutrition, Medford,
Massachussets, AS bidang Keluarga, Pengasuhan Anak, Orangtua, 1991-1993
S-3, Tufts University School of Nutrition, Medford, Massachussets, AS,
bidang Kebijakan Internasional Makanan dan Gizi, 1998-1991
S-2, Tufts University, bidang Ilmu Sosial dan Gizi, 1986-1988
S-1, Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor, Fakultas Pertanian, Jurusan
Makanan, Gizi, dan Sumberdaya Keluarga, 1978-1982
Pelatihan:
Inter-University Consortium for Political and Social Research Summer
Training Program in Quantitative Methods of Social Research, University of
Michigan, Musim Panas 1992
Participatory Action Research, Education Development Center. Washington
DC, 29 April- 3 May 1996
Penghargaan:
Mahasiswa Lulusan Terbaik Fakultas Pertanian IPB Bogor, Mei 1982
Ford Foundation Fellowship Award, 1986-1987
Inter-University Center Fellowship Award, 1987-1988
Tufts University Graduate Fellowship Award, 1988-1989
Ford Foundation Fellowship Award, 1989-1991
Penghargaan “80 Tokoh Wanita Muslim Indonesia Terbaik”, Januari 2002,
dimana profilnya ditulis dalam “Profil Tokoh Wanita Muslim Indonesia”,
2002.
Pengalaman Akademis:
Pengajar Pengantar Teori Keluarga, S-1, IPB Bogor, 1995-sekarang
Pengajar Dinamika Keluarga, S-2, IPB Bogor, 1995-sekarang
Pengajar Teori Keluarga Lanjutan, S-1, IPB Bogor, 2000-sekarang
Pengajar Individu, Keluarga, dan Masyarakat, S-2, IPB Bogor,
2002-sekarang
Dosen Tamu pada Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Jurusan
Intervensi Sosial, dengan topik “Membangun Bangsa Berkarakter Melalui
Intervensi Sosial”, S-2, UI Jakarta, 2002-sekarang
Pengajar Pengantar Ilmu Filsafat, S-2, IPB Bogor, 1995-1997
Pengajar Perencanaan Gizi, S-1, IPB Bogor, 1993-1994
Pengajar Ekonomi Gizi, S-2, SEAMEO UI, Jakarta, 1993-1994
Pengajar Ekonomi Gizi, S-1, IPB Bogor, 1982-1986
Pengalaman Kerja:
Anggota Panitia Pengawas National Broad Based Education, Life Skill
Education Committee, Departmen Pendidikan Nasional, 2002-sekarang
Konsultan, pada proyek bersama “Model Development of Character-based
Integrated Curriculum, Life Skill Broad-based Education Program”, GMSK-IPB
–Depdiknas, 2002-2003
Menghadiri undangan ke Seoul, Korea Selatan, Mei 2002 sebagai tamu pada:
1. Division of Moral Education, pada Korea Institute of Curriculum and
Evaluation
2. Departement of National Ethics Education, Seoul National University
3. Institute of Asia Pacific Education Development, Seoul University
4. Demonstration Ewha Kindergarten, College of Education Ewha Women
University
5. Seoul Naebalsan Elementary School
Kunjungan ke 3 Taman Kanak-Kanak Community Development Program milik
People Action Party (PAP) Singapura, dan ke TKK Soka, April 2001
Pemegang Lisensi STAR (Stop, Think, Act, Review) dari Jeffersen Cenetr
for Character Education, AS (setelah memperoleh instruksi jarak jauh dari
Russel Williams MA, CEO Jeffersen Cenetr for Character Education), Agustus
2001-sekarang
Pendiri dan Direktur Eksekutif Indonesia Heritage Foundation,
2001-sekarang
Dosen pada Jurusan Gizi, Makanan, dan Sumberdaya Manusia (GMSM),
Fakultas Pertanian, IPB Bogor, 1982-sekarang
Ketua Kesetaraan Gender, Indonesian Planned Parenthood Association,
2000-sekarang
Ketua Divis Studi Keluarga, Indonesia Sociologists Association,
1996-1999
Anggota, Working Group for Policies in Human Resource Development,
Kementerian Kependudukan/BKKBN, 1995-1996
Anggota, In-Country Advisory Committee (IAC) For Woman Studies in
Indonesia, Kementerian Kependudukan/BKKBN-USAID Jakarta, 1994-1996
Anggota, Working Group for Policies on Women, Kementerian Kependudukan/BKKN,
1994-1995
Adjunct Faculty Member, SEAMEO Graduate School, Universitas Indonesia (Koordinator
Kursus Food Economics), 1993-1994
Ketua Panitia Pelaksana Seminar Nasional Family and Human Resource
Development 21-22 September 1993, IPB Bogor, September 1993
Faculty Member (Research Associate) Tufts School of Nutrition, 1991-1993
Konsultan Survey Gizi, Biro Pusat Statistik, Jakarta, 1989
Pengalaman Riset:
Principal Investigator, Research on "Factors Affecting the Performance
of National UPPKS Program (Family Income Generating Program), Funded by
the Ministry of Population, 1996 -1997
Principal Investigator, Collaborative research between CNFR-IPB and The
Consultative Group on Early Childhood Care and Development, USA. Topic:
"Gender Perspectives on Early Childhood Care and Development in
Indonesia", funded by the USAID, 1995- 1997
Principal Investigator, CNFR-IPB, research on: "Evaluative Study on PKK
(National Prosperous Family Program) and Its Effects on Family Life and
Welfare". Funded by the Competitive Grants, Ministry of Education and
Cultural Affairs, 1994- 1996
Principal Investigator, research on "Family Roles and Functions: The
Roles of Husbands in Promoting Family Welfare", Funded by The office of
Ministry ofPopulation, Sept 1993-1994
Co-Principal Investigator, CNFR-IPB, research on: "Family in
Transition", Funded by the Competitive Grants, Ministry of Education and
Cultural Affairs, May 1993- 1995
Co-Principal Investigator, Tufts University, research on: "Strengthening
the Family and Child Care", Funded by USAID- AED, 1991- Jan 1993
Data Analyst, Investigator, Tufts University, research on "Vitamin A
Consumption of Women and Children in Rural Bangladesh" Funded by USAID,
1987- 1989
Co-Investigator, CNFR-IPB, research on: Factors Associated with Good
Nutritional Status of Children Under-fives in Seven Villages Around Bogor
area". Funded by the Ministry of Education, 1985-1986
Co-Investigator, CNFR-IPB, laboratory research on: "Nutritional
Composition Analyses of Major Street Foods in Bogor". Funded By Ministry
of Education, 1984-1985
Co-Investigator, CNFR-IPB and Equity Policy Center, University of
Hawaii, research on: "Evaluative Study on Food Fortification Intervention
Program in Selected School-children in Bogor" Funded by the Ford
Foundation, Jakarta, Indonesia, 1983- 1984
Field Enumerator, Bogor Agricultural University- MIT Nutrition Policy
(Prof Nevin Schrimshaw), research on: "Food Consumption Among Female
Tea-pickers), 1982- 1983
Alamat Kantor:
=
Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor
Gizi, Makanan, dan Sumberdaya Keluarga (GMSK)
Kampus Dermaga, Bogor 16880
Indonesia
Phone: 0251- 621258
=
INDONESIA HERITAGE FOUNDATION
TK Karakter
Jln. Raya Bogor KM 31 no: 46
(Depan Papatua Pizza Restaurant)
Cimanggis, Depok 16954
Indonesia
Phone: 021-8712022
Alamat Rumah:
Jalan Anantakupa Raya Blok V/11-12
Kompleks Harapan Baru, Taman Bunga,
Harjamukti, Cimanggis, Bogor
Indonessia
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02 3 ==
Ratna Megawangi, Ir. M.Sc, Ph.D
Pelopor Pendidikan Holistik Berbasis Karakter
Dia perempuan cerdas dan berkarakter kuat. Muslimah bergelar doktor dan
post doctoral, ini adalah pelopor pendidikan holistik berbasis karakter di
Indonesia.
Pendiri dan Direktur Eksekutif
Indonesia Heritage Foundation, yang mengelola hampir 100 sekolah karakter di
berbagai penjuru tanah air, ini juga seorang penulis terkemuka. Buku dan
artikel dosen dan lulusan terbaik IPB (1982) ini sering menjadi perdebatan
hangat dan best seller.
Lewat Yayasan Warisan Luhur Indonesia (Indonesia Heritage Foundation) yang dirikan tahun 2001, Ratna Megawangi
dan suaminya Dr. Sofyan A. Djalil, SH, MA, MALD (Menteri Negara Komunikasi
dan Informasi) bersama teman-temannya
menuangkan sebuah idealisme, mimpi dan harapan besar bahwa suatu saat
Bangsa Indonesia akan berjaya sebagai bangsa yang berkarakter kuat.
Akan tiba saatnya bangsa ini menuai buah dari
benih-benih bangsa, yang sejak 2001sudah mulai disemai
di mana-mana, melalui pendidikan holistik berbasis karakter yang
digerakkan Yayasan Warisan Luhur Indonesia. Yakni benih-benih bangsa yang berkarakter kuat, benih-benih
bangsa yang mempunyai akhlak mulia yang universal sesuai warisan
nilai-nilai luhur Indonesia.
Pendidikan holistik berbasis karakter ditanamkan sejak usia prasekolah
kepada anak-anak dari beragam latarbelakang. TK Karakter dan Semai Benih
Bangsa yang dikelola kini berjumlah hampir 100 sekolah dan tersebar di
berbagai penjuru tanah air, serta akan terus berkembang secara tak terbatas
di kemudian hari. TK Karakter dan Semai Benih Bangsa diplot mampu menembus
batas sekat perbedaan agama, suku, golongan, status sosial, kaya
atau miskin, semua anak berkesempatan memperoleh pendidikan karakter yang
didirikan dan dikelolanya.
Membiarkan Berbeda
Jauh sebelum suaminya, Sofyan A. Djalil, menjadi
Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Kabinet Indonesia Bersatu, nama
Ratna Megawangi, Ph.D, kelahiran Jakarta 24 Agustus 1958, sudah menjadi
wacana perdebatan dan polemik hangat di media massa nasional. Ratna,
penulis buku berjudul “Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang
Relasi Gender” tahun 1999, ini sudah produktif menulis buku dan artikel
di sejumlah media massa sejak tahun 1994.
Ia aktif membuka wacana tentang anak, keluarga, dan perempuan. Kehadiran
Ratna dianggap banyak pihak selalu bernada antagonistis terutama oleh
pengusung gerakan feminisme bahkan against the stream bagi mainstream yang sedang berkembang.
Buku “Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender” selain
bernada antitesa, juga against the stream bagi mainstream
gerakan feminisme yang sedang gencar memperjuangkan kesetaraan gender.
Ratna di situ menyadarkan para pihak bahwa sesungguhnya antara laki-laki
dengan perempuan tidaklah bisa dipersama-ratakan. Secara kodrati, genetika,
psikis, dan fisik keduanya berbeda. Karenanya perbedaan itu haruslah
dipelihara menjadi sebuah perbedaan yang harmoni. Perbedaan yang bisa
diperlihatkan dalam pembawaan peran masing-masing yang saling melengkapi.
Ratna dalam bukunya menawarkan sudut pandang baru tentang relasi gender.
Buku yang mulai ditulis tahun 1997 dan selesai persis seminggu setelah
Tragedi Nasional 14 Mei 1998, kemudian diterbitkan tahun 1999 oleh
Penerbit Mizan, Bandung, itu memuat berbagai postulat dasar, idiologi,
paradigma, dan contoh-contoh tentang kegagalan ide kesamarataan
lelaki-perempuan di berbagai negara terutama di negara komunis, berikut
beragam pemikiran lain yang memberikan Ratna kesimpulan akhir bahwa lelaki
dan perempuan adalah berbeda.
Berbeda sehingga tidak bisa disetarakan secara kuantitatif fifty-fifty.
Di Singapura, Korea, atau Jepang, demikian pula di negara-negara maju
keterwakilan perempuan di lembaga parlemen sekitar 10% saja. Di Indonesia
diperjuangkan jauh lebih liberal harus 30% perempuan di DPR, walau yang
bisa dicapai masih belasan persen. Ratna menawarkan sudut pandang baru
tentang relasi gender.
Pasca kejatuhan rejim Orde Baru, Ratna Megawangi merasa lega sebab ajaran
Karl Marx yang ada dalam bukunya, sesuatu yang bisa dicap sebagai tindakan
makar dan merongrong ideologi Pancasila pada masa sebelum itu, menjadi
lolos sensor alias terbit tanpa harus melalui sensor. Ratna sadar
berdasarkan pengalamannya sebagai dosen ilmu filsafat untuk mahasiswa S-2
di IPB Bogor, ide-ide Karl Marx yang ditulisnya bisa membuat seseorang
menjadi Marxis sejati, atau di sisi lain malah menjadi sangat konservatif.
Sudut pandang baru tentang relasi gender yang ditawarkan Ratna melawan
arus besar justru pada saat kesetaraan sedang digaungkan oleh para
penggagas gerakan feminisme. Seketika hadir buku itu segera menjadi bahan
polemik berkepanjangan di media massa. Bahkan tak kurang 14 kali Ratna
harus hadir langsung di acara bedah buku di beragam komunitas. Tak heran
jika buku itu menjadi buku laris atau best seller yang mengalami
cetak ulang hingga tiga kali, bahkan bersiap-siap untuk dicetak keempat
kalinya.
Selain best seller buku yang penulisannya diinspirasikan oleh buku
“The Tao of Islam” karangan Sachico Murata dari Jepang, di mana
Ratna menjadi editor edisi terjemahan bahasa Indonesia berjudul sama
“The Tao of Islam” diterbitkan oleh Mizan, Bandung tahun 1996, itu
menjadi bahan bahan tesis seorang mahasiswi asing asal Sydney, Australia
yang pernah bermukim dan magang di UGM Yogyakarta.
Mahasiswi asing yang pandai berbahasa Indonesia itu berhasil mendapatkan
buku karangan Ratna Megawangi, lalu membuat tesis khusus tentang buku
dengan judul “A Textual Analisys of Membiarkan Berbeda”. Mahasiswi
perguruan tinggi The Australian National University itu berpendapat, buku
“Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender” adalah
satu-satunya buku yang pernah ia baca yang memberikan solusi terhadap
relasi gender yang lebih harmonis.
“Karena memang, di buku itu bab terakhir saya tawarkan solusinya, tak
sekadar antagonisme. Tapi, solusinya bagaimana keharmonisan dalam keluarga
bisa dibentuk melalui keharmonisan relasi jender,” kata Ratna Megawangi,
di rumahnya yang asri kawasan Harjamukti, Cimanggis, Depok.
Sebelum menulis buku “Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang
Relasi Gender”, Ratna sudah sejak lama berani membuka wacana dan polemik
tentang masalah anak, keluarga, dan terutama perempuan atau masalah
feminisme di harian Kompas, semenjak tahun 1994 atau persis sepulang dari
studi S-3 di Amerika Serikat tahun 1993.
Dalam catatan pribadinya Ratna menyebutkan sudah pernah menulis lebih dari
30 artikel yang dipublikasi Kompas, berisi visinya tentang perempuan.
Ratna datang sebagai antagonisme baru yang berani berbeda terhadap
pandangan para kaum gerakan feminisme.
Kaum feminis tentu saja menjadi marah oleh kahadiran Ratna. Sebab baru
pada tahun 1992 muncul mainstream baru gerakan feminisme. Pada
gerakan itu para feminis bergerak luar biasa menuntut kebebasan perempuan,
emansipasi, dan segala macam memperjuangkan kesamaan hak-hak perempuan
dengan lelaki.
Istri Menteri
Tak ada perubahan yang berarti dalam diri Ratna Megawangi setelah suaminya
Dr. Sofyan A. Djalil, SH, MA, MALD “Mutiara Bangsa dari Aceh” dipercaya
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Menteri Negara Komunikasi dan
Informasi (Kominfo) Kabinet Indonesia Bersatu.
Embel-embel sebagai istri seorang menteri tak akan mengurangi mimpi dan
idealisme besar Ratna membangun bangsa lewat pendidikan holistik berbasis
karakter kepada anak-anak sejak usia dini prasekolah, buah terbesar yang
diperolehnya selama studi S-2, S-3, dan post doctoral di Tufts
University, Medford, AS.
Suami Ratna, Sofyan Djalil sehari-hari adalah profesional murni yang
bergerak di bidang konsultan spesialis implementasi good corporate
governance dan good corporate communication. Setelah diangkat
menjadi menteri, ke lingkungan elit nasional dan pemerintahan, Sofyan
diharapkan bisa menyelipkan pelan-pelan pesan moral perlunya semua pihak
membangun karakter anak secara holistik ke dunia pendidikan sejak dini
usia prasekolah.
Pendidikan holistik berbasis karakter saat ini diakui Ratna Megawangi,
pemakai kacamata minus yang saban hari mengenakan busana muslimah,
masihlah ide kecil. Namun ide kecil ini secara perlahan tapi pasti akan
tumbuh menjadi besar yang bahkan mampu mengubahkan paradigma bangsa
menjadi bangsa yang berkarakter kuat.
Ide kecil pendidikan holistik berbasis karakter dianggap Ratna sebuah
kepakan sayap kupu-kupu kecil dari sebuah rumah sederhana di Cimanggis
namun mampu menjadi angin tornado besar dan gerak turbulensi baru yang
menggentarkan kalbu di mana-mana.
Lulusan Terbaik IPB
Ratna Megawangi adalah ibu dari tiga orang anak yakni Muhammad Rumi lahir
tahun 1985, Safitri Mutia lahir di Amerika Serikat tahun 1990, dan
Muhammad Lutfi lahir tahun 1998. Ratna sesungguhnya adalah pakar dan dosen
ilmu Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (GMSK), di Institut Pertanian
Bogor (IPB), Bogor.
Di tahun 1978, otaknya yang cerdas telah menuntunnya untuk memilih kuliah
di IPB, ditambah dorongan dari ayahnya Drs Harmonie Jaffar, seorang
profesional yang bekerja di sebuah perusahaan farmasi swasta asing. Ketika
itu, dari ayahnya Ratna mengetahui Kampus IPB Bogor mempunyai program
bagus berupa kesempatan mengikuti tes ujian akhir menyelesaikan kuliah
dalam waktu singkat empat tahun.
Tiada motivasi lain kecuali menyelesaikan kuliah sesegera mungkin tanpa
mempedulikan jurusan apa yang dirasa terbaik dan di mana hendak berkiprah.
Sebab Ratna belumlah menemukan apa bakat dan kesenangannya yang permanen.
Berdasarkan test psikologi atau psikotes yang pernah dijalani diperoleh
hasil di semua bidang Ratna mencatat nilai rata-rata yang sama bagus.
Direkomendasikan pula, Ratna cocok dan berkesempatan memilih disiplin ilmu
serta bekerja di bidang apa saja. Nah, khusus perihal penelusuran
pendalaman bakat direkomendasikan kepada Ratna agar terus mengasah diri
hingga berhasil menemukan talenta yang sesungguhnya. Jika bakat itu sudah
ketemu, Ratna dipesankan pula untuk semakin memperdalamnya.
Otak cerdas Ratna Megawangi bukan hanya memberi kesempatan menyelesaikan
pendidikan S-1 dalam waktu singkat. Ia kuliah empat tahun saja sudah
berhasil meraih gelar insinyur, pada Mei 1982, dan tamat dengan meraih
penghargaan sebagai lulusan terbaik Fakultas Pertanian berdasarkan
perolehan tertinggi nilai akademis.
Tahun 1982, agaknya tahun yang berkelimpahan berkat buat Ratna. Selain
berhasil tamat sebagai lulusan terbaik di tahun yang sama, ia berhasil
dipersunting oleh Sofyan Djalil, seorang pemuda “Mutiara Bangsa dari Aceh”.
Mereka pertamakali bertemu di IPB Bogor. Ratna bertemu dengan Sofyan tahun
1980 ketika sudah menginjak bangku kuliah tingkat tiga, sedangkan Sofyan
masih tingkat dua Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH-UI), Jakarta.
Usia mereka terpaut lima tahun. Sofyan Djalil, kelahiran Perlak, Aceh 23
September 1953, lebih tua sebab sebelum memasuki kuliah anak petani dari
desa pegunungan ini sempat melanglang buana ke mana-mana. Termasuk selama
setahun penuh di tahun 1977 hidup sebagai “James” alias Penjaga Mesjid.
Sofyan makan, tidur dan hidup melulu di lingkungan mesjid Menteng Raya,
Jakarta Pusat, tanpa bekerja.
Sofyan baru berkesempatan bekerja sebagai pegawai negeri sipil golongan
II-A tahun 1978, di Kejaksaaan Agung, Jakarta, bertugas sebagai pesuruh
yang membantu mengurus mesjid Pusdiklat Kejaksaan Agung. Namun sebagai
anak petani tipikal pekerja keras sambil bekerja Sofyan Djalil berkutat
ilmu di sore hari dengan menempuh kuliah di FH-UI.
Ratna Megawangi selain cantik, berasal dari keluarga berada, sedang
menempuh pendidikan tinggi, sadar dirinya ditaksir oleh banyak pria bukan
hanya oleh Sofyan. Cantik namun belum pernah mau membuka hati kepada satu
pria manapun. Berbeda ketika berjumpa dengan Sofyan Djalil.
Ratna tanpa tahu sebab mau saja meladeni ngobrol akrab sekaligus membuka
hati kepada pria beridealisme tinggi yang, menurut Ratna, ketika itu
tampak miskin, jelek, kurus tak terawat, dan tidak pernah memiliki uang
lebih di kantong. Kalaupun keduanya makan bersama di restoran, Sofyan
Djalil hanya bisa membuka dompet lalu berterus terang mengaku tak punya
uang kecuali sekedar ongkos perjalanan.
Selain Ratna, ibunya termasuk orang yang ikut bingung kok mau-maunya Ratna
terhadap Sofyan. Namun di balik kebingungannya, Ratna akhirnya berhasil
menemukan jawaban kenapa ia bisa menerima, bersikap terbuka, dan mengobrol
bebas dengan Sofyan Djalil. Pada diri pria asal Aceh itu Ratna melihat ada
potensi tersembunyi. Dalam pandangan mata hati terdalam Ratna, pemuda
Sofyan Djalil adalah “Mutiara yang Masih Terpendam”.
“Karena saya, memang, saya sudah senang dengan orang-orang yang punya
jiwa-jiwa percaya diri, kepemimpinan. Saya, melihat kepemimpinannya itu,”
aku Ratna, yang sebelumnya tak pernah peduli apalagi membuka hati terhadap
pria lain. Padahal para pria lain itu bisa menunjukkan diri sebagai lebih
keren, lebih gagah, lebih kaya, dan beragam kelebihan lain bisa segera
dipertontonkan.
“Jadi, diri saya merasakan, ya, ini! Dan saya tidak melihat bagaimana dia.
Tapi saya merasa kagum dengan pandangannya, dan kalau saya hidup bersama
dia saya yakin saya bisa apa… namanya, bisa bergantung,” jelas Ratna.
Ratna tak mau peduli bagaimana Sofyan Djalil, yang hingga waktu kawin pun
tak memiliki uang termasuk untuk membeli cincin perkawinan.
Setelah menikah tambahan kebingungan baru masih dimunculkan orang. Kali
ini dari salah seorang adik Ratna, walau hanya berupa canda belaka.
Rumahtangga Sofyan Djalil dan Ratna di awal pernikahannya tinggal serumah
dengan orangtua Ratna. Hal itu memberi kesempatan kepada adik Ratna
mengamati persis apa saja kekayaan yang Sofyan Djalil bawa. Ternyata hanya
sebuah koper kecil berisi buku-buku berikut pakaian. “Udah, nggak
ada apa-apa lagi, nggak punya apa-apa sama sekali,” kata Ratna.
“Tapi, di situ, kami membangun dari bawah yaitu dengan hope, dengan
kerja keras, dengan idealisme. Kami dari dulu punya idealisme yang luar
biasa besar semenjak dari masih belum nikah. Jadi, di situlah kita
share. Terus, kemudian kepada anak-anak ditekankan hidup itu sederhana,
tidak terlalu ini, yah, kita share ke anak-anak semua idealisme
kami,” jelas Ratna, perihal kuatnya pondasi rumahtangga yang mereka bangun.
Ada sebuah idealisme besar di balik pendirian keluarga yang tetap
mempersatukan Ratna-Sofyan hingga menembus segala batas sekat perbedaan,
halangan dan rintangan. Rasa saling percaya sekaligus saling mengisi satu
sama lain ditanamkan. Tidak pernah hadir kamus the other the third
person. Masa up and down rumahtangga tak sampai menggoyahkan
keutuhan idealisme. Malah, perkawinan menurut Ratna adalah sebuah jihad
batin bahkan sudah merupakan separuh iman.
Kalaupun keduanya bertengkar kecil-kecilan di rumah itu lebih banyak
karena perbedaan persepsi dan paradigma dalam wacana politik. Sebab
masing-masing telah sepakat untuk memposisikan diri sebagai the devil’s
advocate satu terhadap yang lain untuk saling mengkritisi. Akibatnya
keduanya terkadang bersikap keras satu sama lain. Tambahan pula keduanya
memiliki tingkat intelektualitas sama tinggi.
Ratna mengaku di antara keduanya hingga kini proses penyesuaian masih
tetap berlangsung dan tidak akan ada hentinya. Jika “pertengkaran” tak
menemui titik temu, anak-anak dengan segera bisa menjadi penengah yang
mengkritisi baik ayah maupun ibunya. Jika ego Sofyan Djalil “mengeluh”,
misalnya menyebutkan susah mempunyai istri pintar Ratna dengan enteng bisa
bercanda, menyebutkan agar suaminya kawin saja dengan perempuan lulusan SD
agar selalu bisa nurut, iya mas, iya bang.
Dididik hidup sederhana
Ratna Megawangi terlahir sebagai anak kedua dari enam bersaduara. Ia lahir
di Jakarta, 24 Agustus 1958. Mereka enam bersaudara hidup dan dibesarkan
di lingkungan keluarga mapan dan cukup berada. Ayahnya, Drs Harmonie
Djaffar berasal dari Banjarmasin, adalah profesional yang bekerja di
sebuah perusahaan farmasi milik swasta asing. Sedangkan ibunya bernama
Srie Mulyati, seorang wanita berdarah campuran Jawa dan Sunda.
Walau orangtua hidup mapan berkecukupan, Ratna menerima bentuk pengasuhan
dan pendidikan berdisiplin keras. Didikan disiplin keras, hemat, dan hidup
sederhana semenjak masa kecil, telah menjadikan Ratna dan lima saudaranya
memiliki sifat kemandirian, pekerja keras, dan perasaan tidak mau dibantu
orang. Sifat-sifat baik itu tetap terlihat dan terasakan manfaatnya
setelah dewasa.
Orangtua Ratna, sejak dini sudah menanamkan kebiasaan untuk harus hidup
sederhana. Demikian pula tentang harta, jauh-jauh hari sudah diperingatkan
agar jangan berharap apa-apa, semisal menerima materi atau warisan dari
orangtua. Orangtua hanya memberikan bekal, atau kayuh sebagai bekal hidup
yakni pendidikan. “Sehingga, itulah yang memacu kami untuk terus
berprestasi dalam hal akademis,” kata Ratna.
Kendati orangtua Ratna memiliki kendaraan mobil, anak-anak dibiasakan
pergi ke sekolah menumpang kendaraan umum bis kota atau angkutan kota (Angkot).
Demikian pula perihal uang jajan sekolah diberikan sangat terbatas. Jika
Ratna dan saudara kakak-beradik hendak menginginkan sesuatu, tiada cara
lain yang diajarkan dan dipaksakan, harus terlebih dahulu menabung.
Perjuangan menabung dari sedikit uang jajan harus bisa dibuktikan dan
diperlihatkan.
“Jadi, kalau kami kecil, kok pelit bangat, ya, kenapa kok ada mobil tidak
diantar tiap hari ke sekolah, misalnya, begitu,” kata Ratna, mengenang
ajaran hidup sederhana dari orangtua.
Keinginan Ratna kecil ke sekolah diantar naik kendaraan mobil justru
terbalik dengan apa yang diinginkan anak perempuannya Safitri Mutia. Anak
kedua yang sedang duduk di bangku SMP ini protes keras kepada Ratna ketika
belum seminggu ayahnya menjadi menteri supir sudah disuruh menjemputnya ke
sekolah.
Setelah Sofyan Djalil menjadi menteri, pemerintah melalui Sekretariat
Negara, menugaskan dua orang supir baru berikut kendaraan berbuntut nomor
polisi BS untuk bekerja di sebuah rumah di Jalan Anantakupa Raya Blok
V/11-12, Kompleks Harapan Baru, Taman Bunga, Harjamukti, Cimanggis, Bogor,
tempat kediaman keluarga Sofyan Djalil. Satu supir untuk mendampingi
Sofyan Djalil satu lagi untuk Ratna Megawati.
Supir pribadi keluarga yang sebelumnya sudah lama akrab menyertai seluruh
anggota keluarga menjadi “menganggur”. Dia itulah yang diutus Ratna
menjemput Titi, nama panggilan Safitri Mutia. Lewat telepon genggam Titi
yang biasa ke sekolah naik angkutan umum spontan memprotes Ratna, menolak
dijemput sebab tetap lebih suka pergi dan pulang sekolah naik Angkot.
Terlebih, Titi sudah mengetahui rencana keluarganya “harus” pindah ke
kompleks perumahan menteri di kawasan Widya Chandra, Jakarta Selatan.
Dengan demikian tak ada banyak waktu lagi tersisa bagi Titi berpuas diri
bersama teman-teman sekolah menaiki angkutan umum bernama Angkot.
Ratna menyebutkan anak-anak sejak kecil telah dididik hidup sederhana dan
tidak steril dari masyarakat. Mereka harus tahu denyut nadi dan
keprihatinan hati masyarakat atau tetangga. Mereka tidak kapok sehari-hari
ke sekolah naik Angkot, kendati anak sulungnya Muhammad Rumi harus
menyerahkan uang karena ditodong oleh pisau atau Titi dua kali kehilangan
handphone di Angkot. ►e-ti/ht-ms =>Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|