| |
C © updated 05022006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Prof Rahayu Surtiati Hidayat
Lahir:
Gading Rejo, Lampung, 26 September 1946
Suami:
Hidayat Sutarnadi
Anak:
- Aria Perbacana (28)
- Rara Tanjung (24)
Pendidikan:
- S1 dari Fakultas Sastra UI (1971)
- S2 dari Universite de Besancon, Perancis (1972)
- S3 dari Program Pascasarjana UI (1989).
Pekerjaan:
- Guru Besar (Profesor) Tetap Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Indonesia (2006)
- Wakil Dekan Bidang Akademik FIB UI sejak tahun 2004
|
|
| |
|
|
|
|
| RAHAYU HOME |
|
|
 |
Rahayu Surtiati Hidayat
Kesepian 10 Tahun
Dua perempuan berturutan menyampaikan pidato pengukuhan guru besar tetap
mereka hari Sabtu (28/1) di kampus Universitas Indonesia di Depok. Yang
pertama Rahayu Surtiati Hidayat dan yang berikutnya Melani Budianta.
Keduanya, menurut catatan Rektor Universitas Indonesia (UI), adalah guru
besar ketiga dan keempat dan perempuan guru besar pertama dan kedua yang
dikukuhkan tahun ini. Keduanya akan menambah jumlah 11 guru besar tetap,
dua guru besar luar biasa, dan enam guru besar emeritus Fakultas Ilmu
Budaya (FIB) tempat keduanya mengabdi selama ini.
Pengukuhan ini jelas dibutuhkan FIB. Apalagi bidang linguistik terapan
yang menjadi keahlian Rahayu Surtiati Hidayat. Dia mengaku sempat
kesepian selama 10 tahun sebagai ilmuwan pengajar karena hanya sendirian
mendalami bidang itu.
Meskipun demikian, menurut Rahayu, yang akrab dipanggil Yayuk di antara
teman dan muridnya, guru besar bukan sesuatu yang dia kejar. ”Saya tidak
mengejar apa pun. Saya melakukan semua ini karena saya suka. Saya suka
menulis, suka menerjemahkan, suka mengajar,” kata Rahayu yang menyajikan
pidato pengukuhan Humaniora dalam Pengembangan Pendidikan Tinggi.
Linguistik Terapan Sebagai Bidang Pendidikan dan Penelitian.
Sendirian
Dalam bahasa yang disederhanakan, Rahayu mengatakan linguistik terapan
adalah pengajaran bahasa yang disistematisir. Bidang ini masuk di dalam
ilmu humaniora dan lintas batas ilmu karena mendapat banyak sumbangan
dari ilmu lain seperti sosiologi, psikologi, antropologi, dan teori
informasi.
”Antara tahun 1989, setelah menjadi doktor, sampai tahun 2000 saya
sendirian menekuni linguistik terapan. Teman-teman tidak ada yang
tertarik,” papar Rahayu.
Saat itu masih kuat anggapan di kalangan pengajar bahasa, bila seseorang
dapat berbahasa, dia dapat mengajar bahasa. Baru sesudah tahun 2000
Yayuk mendapat mitra setelah sejumlah pengajar FIB kembali dari luar
negeri dengan ijazah doktor atau magister dalam linguistik terapan.
”Belakangan FIB lebih profesional. Mengajar bahasa ada landasan teori
dan jelas metodenya,” papar Wakil Dekan Bidang Akademik FIB UI sejak
tahun 2004 yang selama berkarier di UI terus diminta mengembangkan
bidang linguistik terapan.
Di luar universitas, linguistik terapan perlu dikembangkan di tataran
nasional sebab pengajaran bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa
Inggris, serta bahasa asing lain di sekolah dasar dan menengah
ditentukan oleh politik bahasa yang diterapkan secara nasional dalam
pendidikan.
Tidak suka matematika
Awal ketertarikan Rahayu pada bahasa sudah muncul sejak duduk di kelas
III sekolah menengah pertama. ”Karena saya tidak tertarik pada
matematika,” papar ibu dari Aria Perbacana (28) dan Rara Tanjung (24)
serta istri dari Hidayat Sutarnadi itu.
Yayuk menyukai arkeologi, tetapi ibunya tidak setuju dia memilih bidang
itu. ”Ibu beranggapan bidang itu akan membawa saya ke mana-mana dan
dapat membahayakan saya,” tutur Rahayu yang menyelesaikan S1-nya dari
Fakultas Sastra UI (1971), S2-nya di Universite de Besancon, Perancis
(1972), dan S3-nya dari Program Pascasarjana UI (1989).
Meski begitu, Rahayu merasa ayahnya yang polisi dan ibunya yang aktif di
Bhayangkari tidak pernah membedakan pendidikan anak perempuan dari anak
lelakinya. Tidak heran jika dia menguasai permainan kelereng dan
katapel. Bahkan ibunya menyebut dia setengah laki-laki. ”Saya sendiri
tidak sadar, sampai ketika mengemukakan masalah dan ide-ide, ibu bilang
cara berpikir saya seperti anak laki-laki,” kata perempuan kelahiran
Gading Rejo, Lampung, 26 September 1946.
Di Fakultas Sastra ternyata Rahayu tetap mencintai kegiatan luar ruang
dan ikut mendirikan organisasi pencinta alam UI, Mapala. ”Waktu Hok Gie
meninggal, saya adalah Ketua Mapala UI,” kenang Yayuk yang menjadi Ketua
Mapala UI pada tahun 1964 dan 1968.
Mungkin itu juga yang membuat penampilannya easy going: membawa tas
ransel, kerap bercelana panjang, kadang pakai sepatu bot, tidak dandan.
Meskipun begitu, sebagai pengajar dan penerjemah dia terkenal amat ketat
dalam logika berbahasa yang adalah bidangnya.
Naskah akademisnya bertebaran di berbagai seminar dan buku, selain juga
menerjemahkan 40-an buku asing, antara lain Seks dan Kekuasaan karya
Michel Foucault (1997), Kalau Perempuan Angkat Bicara (Annie Leclerc,
1999), dan Aku, Kamu, Kita: Belajar Berbeda (Luce Irigaray, 2004).
Karena suka pada hal yang konkret, Yayuk akan terus ditantang
mengarahkan agar departemen linguistik di FIB meneliti untuk mendapat
perancangan dan terobosan baru dalam pengajaran bahasa.
Dengan demikian, seorang sarjana tidak hanya pandai membuat tulisan
akademik, tetapi juga dapat menyajikan pemikirannya dengan menarik dan
benar dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing, dalam hal ini bahasa
Inggris.
(Ninuk Mardiana P dan Maria Hartiningsih, Kompas, 5 Februari
2006)
►e-ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|