| |
C © updated 27052005-20012004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/drm |
|
| |
Nama:
Prof. Radius Prawiro
Lahir:
Yogyakarta, 19 Juni 1928
Meninggal:
Jerman, 26 Mei 2005 (dikebumikan di TMP Kalibata, jakarta)
Agama:
Kristen
Jabatan terakhir:
Menko Bidan Ekuin dan Pengawasan Pembangunan
Kabinet Pembangunan V (23 Maret 1988 - 18 Maret 1993)
Isteri:
Leonie Supit
Pendidikan:
SD, Yogyakarta (1941)
SMP, Yogyakarta (1945)
SMA, Yogyakarta (1950)
SMT, Nederlandsche Economicsche Hogeschool, Rotterdam
Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia
Pengalaman kerja:
Sekretaris BKR, Yogyakarta (1945)
Perwira Markas Tertinggi Perhubungan TRI, Yogyakarta (1947-1948)
Staff Gubernur Militer Daerah Istimewa Yogyakarta (1949-1951)
Pegawai Teknis Sekretariat Akuntan Negara (1960-1965)
Deputi Menteri Pemeriksa Keuangan Negara (1965)
Deputi Menteri Urusan Bank Centrsl (1965)
Gubernur Bank Negara Indonesia (1966)
Gubernur Bank Indonesia (1966-1973)
Gubernur Dana Moneter Internasional (IMF) merangkap Wakil Gubernur Bank
Pembangunan Asia (ADB) untuk Indonesia (1967-1971)
Anggota Tim Ahli Ekonomi Presiden (1968 - )
Ketua Dewan Gubernur Bank Dunia (IBRD, 1971-1973)
Menteri Perdagangan, Kabinet Pembangunan II & III, (1973-1978, 1978-1983)
Menteri Keuangan, Kabinet Pembangunan IV (1983-1988)
Menko Bidang Ekuin dan Pengawasan Pembangunan,
Kabinet Pembangunan V (1988-1993)
Alamat rumah:
Jl. Taman Darmawangsa No.11
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
Radius Prawiro
Meninggal Dunia di Jerman
Mantan Menteri Koordinator Bidang Ekuin dan Pengawasan Pembangunan Dr
Radius Prawiro meninggal di Rumah Sakit Deutsches Herzzentrum, Muenchen,
Jerman, Kamis 26 Mei 2005 pukul 11.35 waktu setempat atau pukul 16.35
WIB dalam usia 76 tahun. Mantan Ketua Majelis Pertimbangan PGI kelahiran
Yogyakarta, 29 Juni 1928 itu meninggalkan seorang istri, Leonie Supit,
empat anak dan 13 cucu.
Menurut Loka Manya Prawiro, putera almarhum, Radius meninggal dalam
proses pemasangan alat picu jantung di rumah sakit tersebut. Jenazah
tiba di Tanah Air Selasa 31 Mei 2005 untuk kemudian disemayamkan di
rumah duka Jalan Taman Dharmawangsa Nomor 11, Kebayoran Baru, Jakarta
Selatan. Selanjutnya mantan anggota TNI yang memperoleh Bintang Gerilya
dan Bintang Mahaputra, itu dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
***
Mantan Menko Ekuin Kabinet Pembangunan V (1988-1993) ini lahir di
Yogyakarta 29 Juni 1928. Ia menempuh pendidikan dasar sampai menengah
atas di kota kelahirannya, masing-masing SD (tahun 1941), SMP (1945),dan
SMA (1950). Kemudian melanjutkan ke negeri Belanda tepatnya di SMT,
Nederlandsche Economicscshe Hogeschool, Roterdam. Selanjutnya di
Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Jakarta.
Putra Prawiro, seorang guru, ini mempunyai perjalanan karir yang panjang.
Ia mulai sebagai sekretaris BKR, Yogyakarta (1945). Kemudian Perwira
Markas Tertinggi Perhubungan TRI, Yogyakarta (1947-1948), Staf Gubernur
Militer Daerah Istimewa Yogyakarta (1945-1951), Pegawai Teknis
Direktorat Akuntan Negara (1960-1965), Deputi Menteri Pemeriksa Keuangan
Negara/BPK (1965), Deputi Menteri Urusan Bank Sentral (1965), Gubernur
Bank Negara Indonesia (1966), Gubernur Bank Indonesia (1966-1973),
Gubernur Dana Moneter Internasional (IMF) dan merangkap wakil Gubernur
Bank Pembangunan Asia (ADB) untuk Indonesia (1967-1971).
Ia pun pernah menjadi anggota Tim Ahli Ekonomi Presiden (1968-?), Ketua
Dewan Gubernur Bank Dunia (IBRD, 1971-1973). Kemudian ia berturut-turut
dilantik sebagai menteri kabinet, yang dimulai pada Kabinet Pembangunan
II dan III sebagai Menteri Perdagangan (1973-1978, 1978-1983).
Selanjutnya pada kabinet pembangunan IV ia dipercayakan sebagai Menteri
Kruangan (1983-1988). Lalu pada tahun 1988 ia diangkat pula sebagai
Menko Bidang Ekuin dan Pengawasan Pembangunan, yang diselesaikannya pada
tahun 1993.
Perjalanan mudanya juga cukup menarik. Sebagaimana ditulis di buku Apa &
Siapa 1985-1986, Radius pernah menjadi penjual rokok ketika masih di SMP.
Hasil dari penjualan rokok itu digunakan untuk sekolah dan keperluan
sehari-harinya. Ia pun pernah bergabung dengan Tentara Pelajar (TP) yang
dipimpin oleh Martono, yang belakangan menjadi Menteri Transmigrasi.
Ketika kuliah di Belanda, ia pun melanglang "buana" ke berbagai kota di
Eropa dengan mengendarai sepeda motor BMW. Dan kegemaran itu tetap
dilanjutkan sepulangnya kembali ke Indonesia, meskipun ia pernah jatuh
karena tergelincir. Dan ia tidak pernah kapok. Bahkan sampai menjadi
Asisten Ahli pada Direktorat Akuntansi Negara dan merangkap anggota
Badan Pengawas Keuangan, ia masih tetap meneruskan kegemarannya itu.
Baru kemudian ketika menjadi Gubernur Bank Indonesia pada tahun 1965, ia
"terpaksa" menghentikan naik motor. "Karena pertimbangan keamanan dari
pemerintah, saya lalu disuruh naik mobil sendiri," ujarnya. Meski begitu
hobinya naik motor tetap tidak hilang begitu saja. "Saya sendiri masih
senang naik sepeda motor sampai sekarang," tambah penggemar fotografi
ini.
Radius menikah dengan Leonie Supit, dan dikaruniai empat anak. Dan
seperti ditulis buku Apa & Siapa, bersama isterinya Radius pun suka
berkebun. Sementara itu belakangan ia juga punya kegemaran lain yakni
minum teh pahit seusai makan makanan berlemak.
Bertepatan dengan peringatan Dies Natalis ke-150, Theologische
Universiteit Kampen, lembaga pendidikan teologi yang cukup dikenal di
Belanda, menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Teologi
kepada Dr. Radius Prawiro. Beberapa pertimbangan yang menjadi dasar
penganugerahan gelar kehormatan bagi promovendus, adalah ia dinilai
berperan aktif dalam bidang gerejawi, terlibat aktif dalam pendirian
sebuah jemaat di Jakarta, menjadi Ketua Majelis Pertimbangan PGI selama
lebih dari satu periode, aktif terlibat di berbagai kepengurusan Lembaga
Pendidikan Tinggi Kristen di Indonesia, dan memprakarsai pendirian
yayasan yang memusatkan pelayanannya pada bidang faculty development,
pengembangan sarana dan prasarana pendidikan, perpustakaan dan
laboratorium. Selama 14 tahun melayani, yayasan ini telah membantu
puluhan dosen dalam menyelesaikan studi lanjutnya(S-2 dan S-3).
Satu catatan penting, Radius sangat memberi perhatian pada upaya
kontekstualisasi teologi. Hal ini tidak terlepas dari latar belakang
kekristenannya. Nenek moyangnya berasal dari lingkungan Kiai Sadrach,
penginjil Jawa kharismatis, yang berusaha memahami Injil dari perspektif
kulturalnya. Cara berteologi seperti ini telah membuka wawasan dan
memberi perspektif lain bagi gereja-gereja Belanda dalam berteologi.
Dalam sambutannya, Dr. Radius antara lain mengatakan bahwa di tengah
derasnya arus globalisasi gereja harus mampu memberikan pelayanan
terbaiknya bagi masyarakat.
MIS
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|