| |
C © updated 27092005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/tempo |
|
| |
Nama:
Rachmawati Soekarnoputri
Lahir:
Jakarta, 27 September 1950
Agama:
Islam
Jabatan:
= Ketua Umum Partai Pelopor
= Ketua Yayasan Pendidikan Bung Karno
Ayah:
Soekarno
Ibu:
Fatmawati
Saudara Seibu:
= Guntur Sukarnoputra 1944
= Megawati Sukarnoputri 1947
= Rachmawati Sukarnoputri 1950
= Sukmawati Sukarnoputri 1952
= Guruh Sukarnoputra 1953
|
|
| |
|
|
|
|
| RACHMAWATI HOME |
|
|
 |
Rachmawati Soekarnoputri
Merasa Lebih Marhaenis
Dia putri kedua Bung Karno dari Fatmawati. Dari semua saudaranya,
tampaknya dia merasa paling artikulatif membicarakan ajaran Marhaenisme.
Bahkan di depan publik seringkali Rachma, panggilan akrabnya, meremehkan
kakaknya sendiri, mantan Presiden Megawati, yang juga Ketua Umum PDIP.
Sikapnya yang dianggap publik terlalu menyepelekan dan cenderung
membenci kakaknya sendiri itu, terlihat dari berbagai pernyataannya
terutama saat Megawati menjabat Presiden Republik Indonesia. Rachma
seperti ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih pantas memimpin Indonesia
dari kakanya Megawati.
Namun Pemilu 2004 telah menunjukkan pernyataan publik. Partai Pelopor
yang dipimpin Rachma sangat tidak sebanding dengan dukungan rakyat
pemilih kepada PDIP pimpinan Megawati.
Pada Pemilu 2004 itu tiga putri proklamator Bung Karno tampil dengan
membawa biduk partai sendiri. Megawati Sukarnoputri dengan Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Rachmawati Sukarnoputri mengusung
Partai Pelopor (PP) dan Sukmawati Sukarnoputri memimpin Partai Nasional
Indonesia (PNI) Marhaenis.
Ketiga partai itu (PDIP, Partai Pelopor dan PNI Marhaenis) itu memiliki
hubungan sejarah dengan PNI (Partai Nasional Indonesia) yang didirikan
Sukarno. Kendati PDIP dan Partai Pelopor berasas Pancasila dan hanya PNI
Marhaenis, yang secara tegas menyatakan asas Marhaenisme ajaran Bung
Karno.
Namun Rachma tampaknya merasa paling marhaenis dari kakak dan adiknya.
Dia lebih artikulatif membicarakan ajaran Marhaenisme.
Bung Karno mengajarkan marhaenisme sebagai teori perjuangan, sekaligus
sebagai teori politik dengan tiang penyangga sosionasionalisme dan sosio
demokrasi. Ajaran ini lahir sebagai jawaban terhadap praktis
kolonialisme dan imperialisme penjajah Belanda di tanah air.
Sukarno menggali ajaran ini dari rahim budaya Indonesia. Pada masa-masa
pergerakan nasional, Sukarno kuliah di Bandung dan menemukan jodoh
Inggit Garnasih. Sehingga dia sangat intim dengan budaya Sunda.
Suatu ketika, Sukarno berjalan di persawahan di daerah Bandung Selatan,
ia berkenalan dengan seorang petani bernama Abdi Marhaen. Petani itu
punya sawah sendiri, memiliki cangkul dan rumah sebagai tempat tinggal.
Akan tetapi, sekalipun memiliki alat produksi sendiri, kehidupannya
sangat tidak layak.
Gambaran kehidupan petani Marhaen ini, kemudian dijadikannya salah
satu pilar ajaran Marhaenisme. Bung Karno melihat, kala itu mayoritas
penduduk Indonesia, hidup seperti Abdi Marhaen. Maka dia pun memberi
nama ajaran (paham) ini ”Marhaenisme”. Misinya adalah memperjuangkan
kesejahteraan sosial (sosio demokrasi) pada seluruh kaum marhaen yang
mengalami penindasan dan pengisapan di negeri ini.
Dalam catatan Tokoh Indonesia, Bung Karno memiliki sembilan isteri,
yakni: (1) Oetari; (2) Inggit Garnasih, mempunyai dua anak angkat yakni
Ratna Juami dan Kartika; (3) Fatmawati, memberinya lima anak yakni
Guntur Sukarnoputra 1944, Megawati Sukarnoputri 1947, Rachmawati
Sukarnoputri 1950, Sukmawati Sukarnoputri 1952 dan Guruh Sukarnoputra
1953; (4) Hartini melahirkan Taufan Sukarnoputra 1951-1981, Bayu
Sukarnoputra 1958; (5) Dewi Sukarno melahirkan Kartika Sari Sukarno
1967; (6) Haryati; (7) Yurike Sanger; (8) Kartini Manoppo melahirkan
Totok Suryawan 1967; dan (9) Heldy Djafa. ►e-ti/crs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|