| RAAM PUNJABI HOME |
|
|
 |
Raam Jethmal Punjabi
Raja Penjual Mimpi Bertangan Dingin Perjuangannya
dimulai dari titik nol. Dia raja sinetron penjual mimpi bertangan
dingin. Dia dipuji
sebagai penyelamat industri film Indonesia, di sisi lain ia dianggap
menjual mimpi. Tapi ia konsisten dengan apa yang dikerjakannya. Kota
Pahlawan memberinya banyak kenangan dan inspirasi untuk meraih sukses.
Kota Surabaya di pertengahan tahun 1950-an, akan terus terpatri dalam
ingatan seorang laki-laki keturunan India. Tentang seorang bocah kecil
belasan tahun bernama Raam yang menyelinap ke dalam sebuah bioskop untuk
memuaskan kegandrungannya menonton film. Sang penjaga bioskop yang baik
membantu menyelundupkannya masuk ketika lampu-lampu sudah dipadamkan dan
membantunya keluar sebelum lampu-lampu menyala kala film usai.
Laki-laki itu, Raam Punjabi, adalah si bocah yang gandrung film. Kini,
ia tak lagi harus menyelundup diam-diam hanya untuk menonton film-film
yang disukainya. Dialah yang kini disebut-sebut merajai dunia sinetron
di televisi. Berbagai film dan sinetron yang sukses lahir dari tangan
dinginnya.
Diakuinya, ketertarikan anak ketiga dari tujuh putra-putri pasangan
Jethmal Tolaram Punjabi dan Dhanibhai Jethmal Punjabi ini pada dunia
perfilman sudah dirasakannya sejak ia masih kecil. Hobinya yang paling
menonjol tentu saja menonton film dan ia punya kebiasaannya keluar masuk
bioskop.
Dalam beberapa hal, persahabatan itu seperti cerita film “Cinema
Paradiso” karya Tornatore, sebuah film indah tentang kenangan. Bedanya,
di dalam “Cinema Paradiso”, persahabatan terjalin antara si bocah dan
proyeksionis, sedangkan pada Raam kecil dengan penjaga pintu.
Raam pun berkisah, ”Pernah imbalannya saya boleh menonton, tetapi si
penjaga pintu pinjam sepeda saya. Eh, sampai film selesai pukul dua
belas malam, dia tidak kembali. Saya pulang ke rumah dimarahi Ayah.”
Tentu saja hal itu tidak membuatnya kapok. Ia kembali pergi ke bioskop,
menemui sahabatnya si penjaga pintu dan menyelundup ke dalam bioskop
setelah lampu padam.
Raam mengenang masa kecilnya di Surabaya sebagai masa yang indah dan
penuh romantisme. Rumah orangtuanya terletak di kawasan Pasar Besar.
Rumah itu merangkap toko ayahnya. Di lantai bawah, sang ayah berjualan
karpet. Raam juga masih ingat, di masa itu masih ada trem atau kereta
listrik sebagai alat transportasi yang digemari masyarakat di kotanya.
Pengalaman yang selalu membuatnya geli selain menonton bioskop
diam-diam adalah mencuri mangga yang pohonnya berada di halaman sebuah
rumah sakit. Kesukaannya pada film juga disalurkannya dengan ikut serta
menonton film gratis yang diputar khusus untuk tentara.
Pencipta tren
Raam Jethmal Punjabi lahir di Surabaya, 6 Oktober 1943. Awalnya ia tidak
serta merta berkecimpung di dunia perfilman. Dari tahun 1962-1963, ia
bekerja di sebuah perusahaan tekstil. Pada tahun 1964 ia merintis sebuah
usaha impor tekstil sampai pada akhirnya pada tahun 1969
ditinggalkannya.
Pada tahun 1967, Raam bersama dua kakaknya Dhammoo Punjabi dan Gobind
Punjabi mendirikan perusahaan importir film, PT Indako Film dengan modal
Rp 30 juta. Tiga tahun kemudian, ia mendirikan PT Panorama Film
(1971-1976) yang bersama PT Aries Internasional Film memproduksi film
“Mama” karya sutradara Wim Umboh.
Film yang dibuat tahun 1972 itu merupakan film Indonesia pertama yang
menggunakan seluloid 70 milimeter, tapi kurang laku ketika dilempar ke
pasar. Tak putus asa, Raam kembali memproduksi film “Demi Cinta” yang
dibintangi Sophan Sophiaan dan Widyawati. Lagi-lagi film produksi
keduanya ini termasuk biasa-biasa saja dalam peredarannya. Namun bintang
terang menyinarinya saat memproduksi film ketiga berjudul “Pengalaman
Pertama.” Film ini dibintangi Roy Marten, Yatie Octavia, dan Robby
Sugara.
Saat ini Raam Punjabi menjabat sebagai Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri
& Festival di Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI). Ia dikenal
bisa membaca selera pasar dan menjadi trend setter perfilman. Pada tahun
1980-an ketika kondisi perfilman Indonesia sedang terpuruk, Raam malah
sukses menelurkan film komedi di jagat perfilman Indonesia dengan
menampilkan bintang komedi pada saat itu trio Warkop (Warung Kopi) yaitu
Dono, Kasino dan Indro. Malah sejak itu film komedi menjadi tren dan
banyak produser mengekor membuat film-film komedi.
Tahun 1981, Raam mendirikan PT Parkit Film. Dan dalam jangka waktu 17
tahun karirnya sebagai produser, ia sudah memproduksi lebih dari 100
film. Bahkan, sekitar tahun 1989 kala kondisi perfilman Indonesia
benar-benar hancur, Raam tidak kehilangan akal. Dengan segala daya
kreatifnya, ia segera beralih ke dunia sinetron yang pada saat itu baru
dikenal sebagai jenis tontonan baru. Kebetulan, di saat hampir bersamaan
muncul stasiun televisi swasta pertama yaitu RCTI.
Bagi Raam yang jeli, hal itu merupakan peluang yang baik bagi
terobosannya. Terbukti kemudian, serial sinetron komedi “Gara-Gara”,
yang dibintangi Lydia Kandou dan Jimmy Gideon yang diproduksinya sukses.
Melambungkan kembali nama Lydia Kandou dan menambah ketenaran Jimmy
Gideon tidak hanya sebagai pelawak, tetapi juga pemain sinetron komedi.
Kesuksesan demi kesuksesan mendorongnya mendirikan rumah produksi PT
Tripar Multivision Plus dengan modal Rp 250 juta pada tahun 1990. Rumah
produksi ini juga memproduksi sinetron-sinetron yang sukses digemari
masyarakat.
Hingga tahun 2000-an tidak ada yang bisa menyaingi kebesaran Raam
Punjabi dalam industri hiburan televisi, terutama film dan sinetron.
“Film dan sinetron di Indonesia di bawah bayang-bayang keluarga Punjabi,
dengan Raam yang berada di singgasana”, kata S. Sinansari Ecip dalam
resonansinya di harian Republika, 28 Maret 2000.
Pada tahun 2004, Raam Punjabi menerbitkan biografinya yang berjudul
“Panggung Hidup Raam Punjabi.” Buku itu memuat begitu banyak
pengalamannya sampai menjadi sukses sebagai raja sinetron seperti
sekarang. RH
Raam Jethmal Punjabi (2)
Dari Lingerie ke Layar Kaca
Di satu sisi ia dipuji sebagai penyelamat industri film Indonesia, di
sisi lain ia dianggap menjual mimpi. Tapi ia konsisten dengan apa yang
dikerjakannya.
Berkunjung ke kantor Multivision Plus, rumah produksi Raam Punjabi, maka
kita akan menemukan beberapa wajah jelita dan ganteng para artis
sinetron yang tengah diproduksinya tengah mengurus masalah kontrak atau
hal-hal lain di kantor itu.
Paras yang rupawan memang ciri khas yang begitu menonjol dan tak dapat
ditanggalkan dari sinetron-sinetron yang diproduksi Raam Punjabi. Semua
artis pemainnya memiliki paras yang cantik dan ganteng. Cerita-cerita
sinetronnya kebanyakan tentang tokoh-tokoh berwajah rupawan dari kelas
menengah ke atas dan jalinan kisahnya sendiri terkadang terlalu
dibuat-buat dan jauh dari realita. Hal itu menyebabkan berbagai kritik
dilontarkan pada sinetron hasil rumah produksinya. Namun Raam tidak
bergeming.
Bukan sekali Raam dituduh sebagai ”penjual mimpi”. Diakuinya sendiri,
artis yang main di sinetronnya, apa pun perannya, harus cantik.
”Jangankan artis, di kantor saya semua cantik-cantik,” katanya sambil
tertawa.
Namun bukan berarti ia mau menerima tuduhan menjual mimpi.
”Kalau saya gagal dalam usaha, bisa nggak saya pasang tulisan di sini:
Toko Penjual Mimpi. Tidak mungkin, kan? Adakah orang yang membeli mimpi?
Tetapi, kalau saya taruh di situ Raam Punjabi Penjual Harapan, saya
jamin banyak yang datang. Persentase mimpi menjadi kenyataan itu nol
koma sekian persen, tetapi kalau harapan jadi kenyataan itu banyak,”
katanya panjang lebar.
Menurutnya, istilah ‘menjual mimpi’ itu salah. Namun meski ia ingin
sekali menjelaskan perbedaan antara mimpi dan harapan yang dimaksudnya,
Raam mengaku tidak punya cara dan waktu untuk menyosialisasikan
pikirannya dalam bentuk tulisan. Ia hanya percaya pada karya dan
perbuatan.
Apapun tuduhan orang, tidak bisa dipungkiri bahwa Raam amat konsisten
dengan apa yang dikerjakannya. Itulah kunci kesuksesannya sebagai raja
sinetron saat ini.
Bukan berarti apa yang dijalaninya terasa mudah. Raam pernah merasakan
pahit getir dan susahnya kehidupan ketika usianya masih relatif muda. Di
usia belasan, ayahnya meninggal dunia. Dengan restu ibunya, Raam muda
nekat pindah ke Jakarta untuk mengadu nasib.
Awal kehidupan di Jakarta dia lalui dengan menjadi pegawai toko kain di
kawasan Pasar Baru. Setelah itu, Raam mencoba berjualan sendiri dengan
cara door to do. Barang yang dijualnya antara lain kemeja merek Arrow,
juga lingerie alias pakaian dalam wanita.
Soal pengalamannya menjual lingerie inilah maka Raam sambil tertawa
berkata, “Dengan hanya melihat luarnya, saya bisa tahu ukuran seorang
wanita.”
Setelah menikahi Rakhee, Raam dan isterinya mengarungi pasang surut
dunia perfilman. Pada awal tahun 1970-an, saat dunia perfilman Indonesia
mulai ramai, Raam memulai debut dengan memproduksi film “Mama”. Film
berbiaya besar yang disutradarai Wim Umboh itu ternyata gagal.
Disinilah konsistensi Raam diuji. Ternyata ia tidak pernah menyerah.
Setelah terus mencoba, akhirnya kesuksesan diraihnya saat memproduksi
film-film bergenre komedi. Film-film yang dibintangi Wakop DKI
(Dono-Kasino-Indro) itu antara lain berjudul: “Dongkrak Antik”, “Maju
Kena Mundur Kena”, “Gantian Dong”, sampai sekarang masih sering diputar
ulang di televisi.
Zaman film layar perak berganti dengan sinetron dan Raam tetap survive.
Sinetron “Gara-gara” yang sukses disusul sinetron komedi seperti “Tuyul
dan Mbak Yul”, juga sinetron drama seri, diantaranya “Doaku Harapanku.”
”Di dunia hiburan, kalau mau bikin komedi Anda harus ciptakan salah
pengertian. Kalau mau bikin drama percintaan, Anda harus ciptakan saling
pengertian,” kata Raam.
Soal moralitas
Saat ini, dunia hiburan yang paling banyak menyedot perhatian masyarakat
adalah sinetron. Kegandrungan masyarakat di kota dan desa terhadap
sinetron digerakkan oleh cita rasa yang sama. Baik film maupun sinetron,
telah menjadi magnet yang menyedot kesadaran penontonnya. Ini budaya
massa yang didalamnya terkandung ikon-ikon yang pengaruhnya menghujam
kesadaran pemirsa.
Tanpa disadari apa yang disuguhkan sinetron kerap ditiru oleh
penontonnya. Dari hal-hal yang ringan seperti mode pakaian, rambut,
sepatu dan aksesoris sampai hal-hal yang patut dipertimbangkan seperti
etika, moral dan tingkah laku.
Di tengah-tengah gempuran aneka judul sinetron yang diputar setiap hari,
menjadi sulit menyaring mana sinetron yang berdampak baik maupun buruk
bagi penontonnya.
Raam Punjabi, sang raja sinetron yang sinetronnya paling banyak
bertaburan di televisi kemudian ikut dituding sebagai salah satu pihak
yang ikut menyebabkan degradasi moral. Sinetron Raam kerap kali
mengeksploitasi kemewahan gaya masyarakat urban kota metropolitan.
Disusul kemudian, salah satu film Raam yang berjudul “Buruan Cium Gue”
pernah menimbulkan polemik dan akhirnya dicabut dari peredaran.
Namun, Raam Punjabi berkilah pihaknya tidak pernah membuat produk
sinematografi yang merusak moral bangsa Indonesia. Menurutnya, tidak ada
satupun rumah produksi yang punya tujuan dan niat merusak moral dan
akhlak bangsa, serta merusak jalan pikiran orang. Semua beranjak dari
satu niat yang murni untuk memberikan hiburan dan sesuatu yang baik bagi
masyarakat.
Raam menampik anggapan masyarakat bahwa produk sinetron dan film yang
dia hasilkan hanya semata menjual kemewahan dan mimpi.
”Yang saya ingin bangkitkan adalah harapan dan semangat dan itu terlihat
jelas dalam produk kita," ujarnya.
Menurut dia, wajar saja bila ada masyarakat yang menolak sinetron dan
filmnya karena tidak sesuai dengan moral dan nilai-nilai ketimuran. Beda
pendapat sah-sah saja dan selera berbeda itu tidak apa-apa. Kalau ada
yang merasa produk itu tidak cocok dengan seleranya dan tidak mau
menonton itu hak masing-masing.
Multivision Plus sesungguhnya tidak selalu memproduksi kisah-kisah
bertabur kemewahan. Tahun 2001, mereka memproduksi sinetron serius yang
diberi judul "Tiga Perempuan". Pemeran utamanya dipercayakan kepada
Christine Hakim dengan sutradara Maruli Ara. Mereka juga pernah
memproduksi sinteron yang berjudul "Bukan Perempuan Biasa", sebuah
sinetron yang juga menampilan Christine Hakim sebagai pemeran utama di
bawah arahan sutradara kondang Jajang Pamuntjak.
Raam hanya mencoba untuk membuat sinetron atau film yang disukai,
diinginkan dan menjadi tren masyarakat sesuai dengan komitmennya
memajukan industri sinetron dan film Indonesia.
Komitmen, semangat dan kegigihan dari seorang Raam Punjabi patut
diteladani. Dari seorang penjual lingerie menjadi raja sinetron,
bukankah itu sesuatu yang luar biasa? ►e-ti/rh, dari berbagai
sumber.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|