A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Buku
 ► Galeri
 ► Pengusaha
 ► Company Profile
 ► Kadin
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 14082005  
   
  ► e-ti  
  Nama
Raam Jethmal Punjabi
Lahir
Surabaya, 6 Oktober 1943
Jabatan:
Chairman dan CEO Tripar Multivision Plus
Isteri:
Shanta Ramchand Harjani (Raakhee Punjabi)
Anak:
- Ameet Punjabi (Alm)
- Karuishma Punjabi
- Amrit Punjabi
Ayah:
Jethmal Tolaram Punjabi
Ibu:
Dhanibhai Jethmal Punjabi

Karir:
- Karyawan Toko P Vishindas, Pasar Baru, Jakarta dan Pedagang pakaian keliling di sekitar Menteng, Jakarta, 1958-1961
- Bisnis lingerie, 1961-1963
- Bisnis mail order, 1963-1968
- Bisnis impor film, 1969
- Mendirikan dan memimpin PT Panorama Film (produksi perdana Mama, stradara Wim Umboh), 1971-1979
- Mendirikan dan memimpin PT Tiga Cakra Film (produksi perdana Romantika Remaja, sutradara Yopie Burnama, 1979
- Mendirikan dan memimpin PT Parkit Film (produksi perdana Pintar-Pintar Bodoh, 1980), 1979
- Mendirikan dan memimpin PT Tripar Multivision Plus, 1990 (sampai Agustus 2005 telah memproduksi lebih 200 judul sinetron)
- PT Rapi Film (dalam royalti)
- PT Parkit Commercial Production
- PT Inem Film (dalam royalti)
- PT Kanta Indah Film (dalam royalti)
- PT Virgo Putran Film (dalam royalti)
- PT Tiga Cakra Film
Sarinande Films (dalam royalti)

Produksi Film, al:
- Mama
- Demi Cinta
- Pengalaman Pertama
- Dari Mata Turun Ke Hati
- Mystics in Bali
- Lady Terminator
- Dangerous Seductress
- The Devil's Sword
- 5 Cewe Jagoan (Five Deadly Angels) 1980
- Perawan Rimba (Jungle Virgin Force) 1982
- Pintar-Pintar Bodoh (1981)
- Kamp tawanan wanita (1983)
- Perawan rimba (1983)
- Maju Kena Mundur Kena (1983)
- Ferocious Female Freedom Fighters (1989)
- Java Burn (1989)
- Cintaku di Rumah Susun
- Boneka dari Indiana
- Petualangan 100 Jam
- Buruan Cium Gue!
- Aku Cemburu

Produksi Sinetron, al:
- Gara-gara (1990)
- Lika-Liku Laki-Laki
- Tuyul dan Mbak Yul
- Pelangi di Hatiku
- Panji Manusia Mileninum
- Bela Vista
- Simfoni Dua Hati
- Saat Memberi Saat Menerima
- Shangrila
- Untukmu Segalanya
- Senja Makin Merah
- Jin dan Jun
- Abad 21
- Jinny Oh Jinny
- Dewi Fortuna
- Saras 008
- Bidadari
- Doa Membawa Berkah
- Tersanjung
- Tersayang
- Terpesona
- Janjiku
- Do'aku Harapanku
- Hanya Kamu
- Kehormatan
- Wah Cantiknya
- Kecil-Kecil Jadi Manten
- Julia Jadi Anak Gedongan
- Jumilah Binti Selangit
- Bule Masuk Kampung
- Jamilah Binti Selangit
- Waktu Terus Berjalan
- Indera Ke-Enam
- ABG (Akibat Banyak Gaul)
- Setetes Embun
- Pena Asmara dan Kehormatan
- Bukan Perempuan Biasa
- Tiga Orang Perempuan,
- Sendal Bolong untuk Hamdhani
- Boneka Poppy (2005)
- Titipan Ilahi (2005)


 
 
     
 
BIOGRAFI

 

Raam Jethmal Punjabi

Panggung Hidup Raja Sinetron

 

Raam Punjabi yang berdarah India ini lahir di Surabaya 6 Oktober 1943, merupakan produser film dan sinetron yang sukses. Raam Punjabi dari tahun 1962 sampai 1963 bekerja disebuah perusahaan tekstil sampai pada tahun 1964 ia merintis sebuah usaha impor tekstil sampai pada akhirnya pada tahun 1969 ditinggalkannya. Ketertarikan anak ketiga dari tujuh putra-putri pasangan Jethmal Tolaram Punjabi dan Dhanibhai Jethmal Punjabi ini pada dunia perfilman sudah datang dari sejak kecil, dimana terkait dengan hobinya menonton film dan kebiasaannya keluar masuk bioskop.

Pada tahun 1967, Ram bersama dua kakaknya Dhammoo Punjabi dan Gobind Punjabi mendirikan perusahaan importir film, PT Indako Film dengan modal Rp 30 juta. Tiga tahun kemudian, ia mendirikan PT Panorama Film (1971-1976) yang bersama PT. Aries Internasional Film memproduksi film Mama karya sutradara Wim Umboh tahun 1972 yang merupakan film Indonesia pertama yang menggunakan seluloid 70 milimeter, tapi kurang laku ketika dilempar ke pasar. Kemudian kembali Raam memproduksi film Demi Cinta yang dibintangi Sophan Sophiaan dan Widyawati. Namun film produksi keduanya ini termasuk biasa-biasa saja dalam peredarannya. Akhirnya di film produksinya yang ketiga Pengalaman Pertama bintang terang menghampirinya. Film ini dibintangi Roy Marten, Yatie Octavia, dan Robby Sugara. Pada tahun 1980-an ketika kondisi perfilman Indonesia sedang terpuruk, Raam malah sukses, membawa trend film bertemakan komedi di perfilman Indonesia dengan menampilakan bintang komedi pada saat itu trio Warkop (Warung Kopi) yaitu Dono, Kasino dan Indro.

Dalam kurun waktu tujuh belas tahun awal karirnya sebagai produser, Ram telah memproduksi lebih dari seratus film termasuk lewat PT Parkit Film yang ia dirikan pada 1981. Pada tahun sekitar tahun 1989 dimana kondisi perfilman Indonesia benar-benar hancur, Raam yang sebagai seorang produser film tidak kehilangan akal. Dia berhasil berpikir cepat dan cemerlang, Ram beralih ke dunia sinetron yang pada saat itu memang baru dan juga seiring dengan munculnya stasiun televisi swasta pertama yaitu RCTI. Raam melihat hal tersebut sebagai peluang yang baik dan itu terbukti dengan suksesnya serial sinetron komedi Gara-Gara, yang dibintangi Lydia Kandou dan Jimmy Gideon .

Pada tahun 1990 ia mendirikan rumah produksi PT Tripar Multivision Plus dengan modal Rp. 250 juta.

Raam Punjabi meniti dari awal hingga puncak kesuksesannya dengan tidak lepas dari berbagai masalah dan kontroversi. Daya cipta dan kreativitas ia tumpahkan demi merengkuh tahta tertinggi industri film di Indonesia. Di satu sisi ia dipuji sebagai penyelamat industri film Indonesia, pada saat bersamaan dinista sebagai biang kemerosotan mutu tontonan. Tapi Punjabi terus melangkah walau harus menghadapi semuanya.


Pernikahan Ram Punjabi dan Raakhee

 

Sinetron-sinetron yang diproduksi perusahaannya memang memiliki ciri tersediri, yakni selalu menampilkan tokoh-tokoh yang cantik, dari lingkungan keluarga menengah ke atas dan terkesan jauh dari realitas yang ada. Seringkali kritik dialamatkan pada sinetron hasil rumah produksinya. Tapi Raam tidak bergeming. Hingga tahun 2000-an tidak ada yang bisa menyaingi kebesaran Punjabi dalam industri hiburan televisi, terutama film dan sinetron. Pada tahun 2004, buku biografi Raam Punjabi berjudul Panggung Hidup Raam Punjabi telah dikeluarkan. Buku setebal lebih dari 300 halaman dan disusun oleh Alberthiene Endah itu banyak mengetengahkan sisi kehidupan Raam Punjabi. Buku tersebut ini akan diterbitkan Grasindo (kelompok penerbit milik PT Gramedia).

Lain-lain
Punjabi adalah bahasa yang dipergunakan di daerah Punjab di negara India dan Pakistan. Raam Punjabi bersekolah di SMA Vidya Bavan. Saat ini Raam Punjabi menjabat sebagai Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri & Festival di Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI).
 

 

Panggung Hidup Raam Punjabi

Oleh: Frans Sartono & Bre Redana

Kompas Minggu, 14 Agustus 2005: Dia sering dituduh sebagai ”penjual mimpi”. Artis yang main di sinetronnya, apa pun perannya, harus cantik. ”Jangankan artis, di kantor saya semua cantik-cantik,” kata Raam Punjabi, bos rumah produksi Multivision Plus yang terkenal dengan sinetron-sinetronnya yang gemerlap. Dengar jawaban dia.

Raam Punjabi mengajak makan siang di kantornya di kawasan Roxy, Jakarta Pusat. Bersama sang ”raja sinetron” ini kami makan di ruang makan kantornya dengan menu dari gado-gado boplo sampai es cendol ala Surabaya.

”Es cendol tidak ada yang seenak di Surabaya,” kata Raam. Ditemani istrinya, Raakhee, dia bercerita segala macam hal di meja makan itu. Selain menjawab pertanyaan atas sinetron-sinetron produk Multivision Plus yang sering dituduh sebagai menjual mimpi, dia bercerita banyak hal mengenai Surabaya—bagian penting hidupnya, terutama di masa kecil dan remajanya. Dia memang dilahirkan di kota itu, tanggal 6 Oktober 1943.

Tentang sinetronnya terlebih dahulu. ”Kalau saya gagal dalam usaha, bisa enggak saya pasang tulisan di sini: Toko Penjual Mimpi. Tidak mungkin, kan? Adakah orang yang membeli mimpi? Tetapi, kalau saya taruh di situ Raam Punjabi Penjual Harapan, saya jamin banyak yang datang. Persentase mimpi menjadi kenyataan itu nol koma sekian persen, tetapi kalau harapan jadi kenyataan itu banyak,” kata Raam.

Dengan kata lain, dia membedakan apa itu mimpi dan apa itu harapan. ”Istilah menjual mimpi itu sudah salah menurut saya. Mimpi itu apa, saya sendiri enggak ngerti,” katanya sembari menambahkan dia tidak punya cara dan waktu untuk menyosialisasikan pikirannya dalam bentuk tulisan. Ia hanya percaya pada karya dan perbuatan.

Betapapun sudahlah, harus diakui Raam adalah figur yang berhasil merealisasikan mimpinya. Dia konsisten dengan apa yang dikerjakannya, termasuk hidupnya sendiri, yang seperti mimpi panggung sinetron. Dalam buku biografi yang baru saja diluncurkannya, Panggung Hidup Raam Punjabi (2005, ditulis Alberthiene Endah), akan terlihat konsistensi Raam dalam meniti hidup yang seperti mimpi.

Kualitas kenangan

Baik dalam buku maupun perbincangan, Raam banyak menceritakan pengalaman masa kecilnya (di Surabaya), mengenai kedekatan dan kemudian kecintaannya pada film. Dia ceritakan persahabatannya dengan para penjaga pintu bioskop semasa usianya belum genap 12 tahun sehingga dengan itu dia bisa masuk gedung bioskop secara gratis. ”Saya boleh masuk setelah lampu gelap, dan buru-buru keluar sebelum film benar-benar selesai,” ceritanya.

Dalam beberapa hal, persahabatan antara anak kecil dan pihak bioskop itu mungkin seperti cerita film Cinema Paradiso karya Tornatore—film indah yang bertumpu pada kualitas kenangan. Bedanya, di dalam Cinema Paradiso persahabatan itu antara si bocah dan proyeksionis, sedangkan pada Raam kecil dengan penjaga pintu. ”Pernah imbalannya saya boleh menonton, tetapi si penjaga pintu pinjam sepeda saya. Eh, sampai film selesai, sampai pukul dua belas malam, dia tidak kembali. Saya pulang ke rumah dimarahi Ayah,” tuturnya.

Masa kecil di Surabaya dia kenang dengan perasaan romantik. Dia bisa bercerita mengenai rumahnya di kawasan Pasar Besar di mana di lantai bawah ayahnya berjualan karpet, trem atau kereta listrik di kota itu, pohon mangga di sebuah rumah sakit yang dia panjat untuk mencuri buahnya, dan lain-lain. Yang tidak pernah terlewat dari berbagai episode masa kecil adalah pengalaman menonton film dengan cara gratisan, termasuk ikut serta menonton film gratis yang diputar khusus untuk tentara.

Pakaian dalam

Tidak kalah romantik adalah cerita jatuh-bangun sebelum Raam dikenal dalam posisi seperti sekarang, sebagai ”raja sinetron”. Masih pada usia belasan, setelah ayahnya meninggal dunia, dengan restu ibundanya Raam nekat pindah ke Jakarta untuk mengadu nasib.

Awal kehidupan di Jakarta dia lalui dengan menjadi pegawai toko kain di kawasan Pasar Baru. Setelah itu Raam mencoba berjualan sendiri dengan cara door to door, menjual antara lain kemeja Arrow, dilanjutkan lingerie alias pakaian dalam wanita.

Adakah berjualan lingerie itu bagian dari kesukaannya pada segi-segi kecantikan wanita? Raam tertawa. ”Dengan hanya melihat luarnya, saya bisa tahu ukuran seorang wanita,” kata Raam, yang dilirik oleh Raakhee yang kemudian ikut tertawa.

Bersama Raakhee itulah Raam mengarungi pasang surut dunia perfilman. Pada awal tahun 1970-an, saat dunia perfilman Indonesia mulai ramai, Raam memulai debut dengan memproduksi film Mama. Film berbiaya besar yang disutradarai Wim Umboh itu langsung gagal.

Melihat Raam, sebenarnya seperti melihat praksis pragmatisme seperti ditulis para penganjur hidup sukses semacam Carnagie. Raam tidak pernah menyerah, dan dari dia kita kenal antara lain film-film laris model film-film Warkop: Dongkrak Antik, Maju Kena Mundur Kena, Gantian Dong, dan lain-lain.

Zaman perbioskopan berganti dengan sinetron dan Raam tetap survive. Dialah produser dari sinetron komedi seperti Tuyul dan Mba Yul sampai model drama seri Doaku Harapanku.

”Di dunia hiburan, kalau mau bikin komedi Anda harus ciptakan salah pengertian. Kalau mau bikin drama percintaan, Anda harus ciptakan saling pengertian,” katanya. Itulah panggung hidup Raam.
 

Buku:

Panggung Hidup RAAM PUNJABI
ISBN : 9797590755
Pengarang : ALBERTHIENE ENDAH
Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia .PT
PP-MM Universitas Trisakti, Jakarta
Penerbitan : 2005
Bahasa : INDONESIA
Sampul : Hard Cover
Ukuran : 17.5 x 25 cm
Berat : 1.40 kg
Bonus : -
Jumlah Halaman : 287 hal
Stok : 21
Harga : Rp 180.000,00

Sinopsis
Dunia hiburan layaknya dunia politik sama-sama punya panggung penuh magnet. Ada pesona yang membuat setiap orang terpana dan tertarik untuk ikut bermain di dalamnya. Dan pemainnya adalah para selebriti yang selalu menjadi pusat perhatian dan memesona.


Ditengah gempuran teknologi informasi, ruang selebriti dan politisi semakin tipis jaraknya.


Banyak selebriti terjun kedunia politik pun begitu sebaliknya, tak ada ryuang pembatas yang ketat diantara ragam level kehidupan. Dunia hiburan menjadi kerajaan baru dimana raja dan ratunya adalah para bintang film,musisi, model, polotisi, bahkan intelektual.


Saat ini, dunia hiburan yang paling banyak menyedot perhatian masyarakat adalah sinetron. Kegandrungan masyarakat di kota dan desa terhadap sinetron digerakkan oleh cita rasa yang sama. Baik film maupun sinetron, telah menjadi magnet yang menyedot kesadaran penontonnya. Ini budaya massa yang didalamnya terkandung ikon-ikon yang pengaruhnya menghujam kesadaran pemirsa. Dan salah satu ikon penting dalam dunia hiburan terutama sinetron di tanah air adalah Raam Punjabi.


Keberhasilan Ramm Punjabi tentu bukan hadiah Cuma-Cuma. Keringat dan semangat hidup pantang menyerah yang selalu bermetamorfosa didalam dirinya, setiap saat,bahkan setiap detik, telah mengantarkannya pada jenjang keberhasilan.

Daftar Isi
1. Rama dari Surabaya 1
2. Anak Dagang Merantau 55
3. Cinta Membawa Harapan 113
4. Musibah dan Anugerah 159
5. Dari Layar Lebar ke Sinetron 219
Komentar Sahabat dan Kerabat 294
Penghargaan-Penghargaan 315
Biografi Singkat 322
 

 

Raam Punjabi Bantah Buat Sinetron Perusak Moral

Jakarta, 24 Juni 2005 00:26
Pemilik rumah produksi sinetron (production house/PH) dan film PT Tripar Multivision Plus, Raam Punjabi, mengatakan bahwa pihaknya tidak pernah membuat produk sinematografi yang merusak moral bangsa Indonesia.

"Saya kira tidak ada PH yang punya tujuan dan niat merusak moral dan akhlak bangsa, serta merusak jalan pikiran orang. Semua beranjak dari satu niat yang murni untuk memberikan hiburan dan sesuatu yang baik bagi masyarakat," kata Raam Punjabi pada jumpa pers peluncuran biografinya yang berjudul "Panggung Hidup" di Jakarta, Kamis.

Raam menampik anggapan masyarakat bahwa produk sinetron dan film yang dia hasilkan hanya semata menjual kemewahan dan mimpi.

"Dalam kamus saya mimpi itu tidak eksis, tapi harapan yang dapat menjadi kenyataan. Yang saya ingin bangkitkan adalah harapan dan semangat dan itu terlihat jelas dalam produk kita," kata Raam.

Menurut dia, wajar saja bila ada masyarakat yang menolak sinetron dan filmnya karena tidak sesuai dengan moral dan nilai-nilai ketimuran.

"Beda pendapat sah-sah saja, selera berbeda itu tidak apa-apa, jadi kalau ada yang merasa produk itu tidak cocok dengan seleranya dan tidak mau menonton itu hak masing-masing," ungkap pemilik PH yang pernah membuat film kontroversial, "Buruan Cium Gue", itu.

Raam hanya mencoba untuk membuat sinetron atau film yang disukai, diinginkan dan menjadi tren masyarakat sesuai dengan komitmennya memajukan industri sinetron dan film Indonesia.

Komitmen, semangat dan kegigihan dari seorang Raam Punjabi yang kemudian ditulis oleh Alberthiene Endah, Redaktur Pelaksana Majalah Prodo yang juga pernah menulis biografi Kris Dayanti.

"Panggung Hidup" yang menceritakan kehidupan Raam Punjabi sejak kecil sampai menjadi salah seorang pelopor sinematografi elektronik (sinetron) Indonesia itu mulai beredar luas pada Jumat (24/6). [EL, Ant]

 

 

 

MENYIKAPI KREATIVITAS RAAM PUNJABI
(Tinjauan dari sudut pendidikan)

Oleh: Drs. Hermansyah,
Widyaiswara PPPG Tertulis Bidang Studi PPKn
 

Sumber:
http://www.depdiknas.go.id/publikasi/
Buletin/Pppg_Tertulis/08_2001/raam_punjabi.htm

Pendahuluan


"Film dan sinetron di Indonesia di bawah bayang-bayang keluarga Punjabi, dengan Raam yang berada di singgasana", kata S. Sinansari Ecip dalam resonansinya (Republika, 28 Maret 2000).

Raam Punjabi yang keturunan India itu tak dapat dipungkiri, memang tergolong sosok yang kreatif sekaligus produktif dalam meramaikan dunia perfileman nasional, utamanya sinetron. Lewat rumah produksi yang dimilikinya (Multivision Plus), Raam menempatkan diri sebagai produser sinetron-sinetron drama yang banyak mengeksploitasi kemewahan gaya masyarakat urban kota metropolitan.

Apakah Raam sekedar numpang bisnis hiburan' dengan memanfaatkan perkembangan pertelevisian yang begitu pesat, atau la mempunyai suatu idealisme di luar semua itu? Pertanyaan ini penulis lontarkan sehubungan dengan fungsi televisi yang tidak saja diharapkan sebagai media hiburan, tetapi sekaligus juga sebagai media pendidikan.

Menurut pengamatan penulis, produk-produk sinetron Raam memang cukupmenghibur ara pemirsa fanatiknya terutama dari kalangan remaja yang notabene adalah generasi muda pewaris dan penerus masa depan bangsa. Dalam kapasitas sebagai pendidik, wajar saja kalau penulis turut mengkhawatirkan dampak psikologisnya terhadap pembentulan kepribadian dan perilaku para remaja kita sehubungan dengan gaya hidup glamour yang banyak ditonjolkan dalam karya-karya Raam. Kekhawatiran itu memperoleh alasan pembenar dengan semakin banyak dipublikasikannya hasil-hasil penelitian para pakar mengenai pengaruh tayangan TV pada perubahan perilaku, terutama pengaruh negatifnya.

Televisi dan pengaruhnya

TV adalah produk tekhnologi audio visual yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat dewasa ini. TV hadir di tengah-tengah keluarga memberikan kontribusi yang besar terhadap kebutuhan akan informasi, hiburan dan pendidikan.
Sampai sejauh mana pengaruh tayangan televisi terdadap perubahan perilaku pemirsanya? Pendapat pakar dan hasil penelitian berikut ini mencoba menjawabnya.

1. Dwyer menyimpulkan, sebagai media audio visual, TV mampu merebut 94 % saluran masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga.TV mampu untuk membuat orang pada umumnya mengingat 50 % dari apa yang mereka lihat dan dengar di layar TV walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum orang akan ingat 85 % dari apa yang mereka lihat di TV setelah tiga jam kemudian dan 65 % setelah tiga hari kemudian (Dwyer, 1988).

2. Televisi adalah media komunikasi, sedangkan komunikasi adalah suatu bisnis yang besar. Sebagai layaknya setiap bisnis, motivasi dan kebutuhannya adalah untuk mendapatkan keuntungan, bukan untuk meningkatkan kesejahteman masyarakan secara keseluruhan (Croos, 1983;).

3. Dr. Arif Sadiman M.Sc dalam tulisannya yang berjudul "Pengaruh televisi pada perubahan perilaku" (jurnal teknodik No. 7/IV/Teknodik/Oktober 1999) mengutip Laporan UNESCO, 1994 yang menyatakan bahwa pada tahun 1994 koran-koran di Singapura menyajikan hasil polling pendapat yang dilakukan pihak kepolisian kepada 50 pemuda yang terlibat tindak kekerasan. Hasil polling tersebut menyimpulkan bahwa kebanyakan dari mereka yang melakukan tindak kekerasan suka menikmati film-film kekerasan di TV.

Pembaca yang budiman, sebenamya cukup banyak pula hasil-hasil penelitian yang menemukan pengaruh positif dari tayangan TV. Hal ini terjadi apabila fungsi TV didudukkan secara proporsional, di samping sebagai media hiburan juga sekaligus membawa misi pendidikan. Apabila TV terjebak ke dalam nuansa hiburan semata, dikhawatirkan justru sisi negatifnya yang akan menonjol.

Karya Raam Punjabi Kaitannya Dengan Pendidikan Nilai

Sengaja penulis menjadikan karya Raam Punjabi sebagai model, dengan alasan produk-produk sinetron Raam banyak diakrabi oleh pemirsa TV di Indonesia khususnya kaum remaja yang kebanyakan adalah para pelajar.

Di era reformasi, kebebasan untuk berkreatvitas adalah syah-syah saja. Bukankah berlaku adagium "tidak ada kreativitas tanpa kebebasan?" Namun demikian sisi tanggung jawab moral untuk menyelaraskan produk kreativitas dengan kebutuhan pembangunan watak bangsa (Nation and Character Building) tak dapat diabaikan begitu saja. Pembangunan watak bangsa adalah investasi non material jangka panjang yang sangat urgen demi kelestarian dan kemajuan suatu bangsa.

Setelah penulis mengamati karya-karya Raam (terutama sinetron), penulis melihat ada kekurang sesuaian antara kebutuhan dunia pendidikan. nilai dengan substansi cerita-cerita Raam pada umumnya. Di satu sisi, pendidikan nilai (Agama dan PPKN) yang diajarkan di sekolah memberikan penekanan kepada perlunya hidup sederhana, hemat dan cermat, namun disisi yang lain hampir setiap hari para pelajar kita dijejali dengan tayangan-tayangan kehidupan glamour yang sangat jauh dari realita kehidupan sebagian besar remaja kita terutama yang hidup di pedesaan. Sebagai pendidik penulis sangat mengkhawatirkan dampak negatif dari keadaan yang kontradiktifini.

Dalam kehidupan masyarakat yang masih rendah kemampuarr berapresiasinya, pengaruh buruk tayangan media elektronik semacam TV lebih cepat meresap ketimbang pengaruh positipnya. Tokoh-tokoh selebritis yang kerap muncul dalam tayangan TV, tidak jarang dijadikan model gaya hidup remaja masa kini. Mereka bukan saja mengagumi kecantikan dan ketampanan tokoh idolanya, tetapi dijadikannya para tokoh selebritis itu sebagai tokoh identifikasi. Cara bicara, penampilan dan cara berprilaku kaum selebritis baik ketika ia memainkan tokoh tertentu maupun dalam kehidupan riilnya seolah menjadi sesuatu yang wajib dijadikan kiblat kehidupan para remaja.

Karya-karya Raam Punjabi rata-rata bercirikan kemewahan dan sangat menonjolkan gaya hidup kelas menengah atas masyarakat urban. Ciri lain dari karya Raam adalah banyak menampilkan gambaran kelonggaran batasan nilai pergaulan. Paham bebas nilai atau prinsip seni untuk seni yang mulai tumbuh pada jaman Renaissance di Eropa seolah diadopsi begitu saja. Karya-karya semacam ini menjadi lahan subur bisnis hiburan dewasa ini. Apabila hal semacam itu dibiarkan tanpa kendali, tidak menutup kemungkinan akan semakin banyak kalangan remaja yang terjerumus ke dalam cara hidup hedonis dan oportunis.

Penulis menyadari penuh keberadaan rumah produksi multivision plus (milik Raam Punjabi) sebagai lembaga bisnis yang mesti profit oriented. Namun, apakah karena alasan itu multivision plus sama sekali tidak tergerak untuk sedikit menyisakan ruang idealismenya?

Berdasarkan pengamatan penulis, multivision plus pernah memproduksi sinteron yang berjudul "Bukan perempuan biasa", sebuah sinetron yang menampilan aktris legendaris (Christine Hakim) sebagai pemeran utama di bawah arahan Sutradara kondang Jajang Pamuntjak. Sayangnya sinteron jenis ini kurang mendapat respon positif dari para pemirsa televisi kita, sehingga ratingnya rendah dan sangat tidak menguntungkan secara bisnis.

Kasus ketidak suksesan jenis sinteron idealis seperti "Bukan perempuana biasa", menunjukkan bahwa daya apresiasi para pemirsa televisi kita terhadap karya-karya bermutu masih rendah. Mungkin faktor inilah yang menyebabkan para pemilik rumah produksi di Indonesia enggan meluncurkan karya-karya yang bermutu sekaligus mendidik. Dengan kata lain, membanjirnya karya-karya seni komersial yang mengabaikan nilai pendidikan dewasa ini sangat terkait dengan rendahnya apresiasi seni masyarakat. Menghadapi realita demikian, menumpahkan kesalahan kepada para pekerja seni belaka memang kurang bijaksana.

Menyikapi kasus ketidaksuksesan "Bukan Perempuan Biasa", penulis berpendapat tidak selayaknya para pemilik rumah produksi menanggapi dengan penuh rasa frustasi Bukankah ini sebuah tantangan bagi kreativitas para pekerja seni ?

Memperoduksi karya seni yang berkualitas, mendidik sekaligus menghibur memang bukan pekerjaan mudah. Untuk menghasilkan produk sinetron yang bermutu sekaligus menghibur dibutuhkan tenaga profesional yang memiliki komitmen tinggi sekaligus menguasai strategi pemasarannya. Sumber daya semacam itu bukannya tidak ada di Indonesia, tetapi harus diakui memang masih langka. Para pemilik rumah produksi sudah saatnya memberikan perhatian terhadap masalah ini dengan cara menjadikan pembinaan tenaga seni sebagai investasi jangka panjang. Disamping itu yang tak kalah pentingnya adalah polotical will dari pemerintah dalam pengembangan seni yang kondusif terhadap pembangunan watak bangsa. Dengan adanya perhatian yang sungguh-sungguh dari pemerintah, diharapkan akan memacu gairah para pekerja seni termasuk para pengusaha hiburan untuk berkreasi melahirkan karya-karya yang berkualitas.

Penulis patut bersyukur, ditahun 2001 Multivision Plus memproduksi sinetron serius yang diberi judul "Tiga Perempuan". Pemeran utamanya dipercayakan kepada Christine Hakim dengan sutradara Maruli Ara. Akankah sinetron ini sukses dipasaran? Mudah-mudahan, kalaupun tidak, anggaplah kehadiran "Tiga Perempuan" sebagai setetes air pengurang dahaga bagi para pemirsa televisi yang telah memiliki kedewasaan berapresiasi ditengah gempuran karya-karya sinetron yang miskin visi.

Masa depan perfileman di Indonesia sebetulnya cukup prospektif apabila mendapat perhatian yang sungguh-sungguh baik dari para pekerja seni, masyarakat maupun pemerintah. Mengapa kita mesti kehilangan inspirasi untuk memproduk sinetron yang berkualitas.? Sebagai ilustrasi, bukankah tidak sedikit tema lagu yang potensial untuk diangkat dalam bentuk cerita ke layar kaca?

Penulis berpendapat, apabila digarap dengan sungguh-sungguh tema lagu karya Ebiet G. Ade cukup menjanjikan untuk meraih sukses apabila diangkat kelayar kaca dalam bentuk sinetron. Lagu- lagu Ebiet yang melankolis dan kental dengan nuansa religius sangat cocok dengan selera pasar masa kini sekaligus membawa banyak misi pendidikan.

Sebagai contoh, tengoklah PT. Persari Film yang sukses mengusung tema lagu "Aku Ingin Pulang" ke dalam cerita layar kaca. Yang sangat disayangkan PT.Persari Film temyata tak tahan juga menghadapi godaan keuntungan finansial. Hal ini terbukti, ketika rating "Aku ingin pulang" semakin tinggi, sinetron tersebut terus diproduksi untuk memuaskan selera pemirsa televisi yang miskin apresiasi. Pada akhirnya muncullah kesan dibuat-buat, sehingga "Aku Ingin Pulang" nyaris kehilangan makna. Ebiet sendiri akhirnya berkomentar sinetron itu rasanya sudah tidak ada lag! hubungannya dengan lagu saya.

Penulis berharap, PT, Persari Film di masa-masa yang akan datang tidak terjebak kepada idiologi bisnis semata-mata dalam memproduk karya-karyanya. Semoga keikhlasan Ebiet G. Ade dalam melepas tema lagu "Titip rindu buat ayah" untuk kembali diangkat ke layar kaca tidak disia- siakan PT. Persari Film.

Upaya Menyikapinya

Bagaimana menyikapi gencamya karya-karya sinetron yang cenderung profit oriented dan bebas nilai di era reformasi dewasa ini ? Penulis menyadari bahwa kehadiran sinetron dengan tema-tema cerita gaya keluarga gedongan Kota Metropolitan turut memberikan sumbangsih terhadap perkembangan pertelevisian di Indonesia. Namun yang perlu diwaspadai adalah jangan sampai keuntungan jangka pendek pengorbankan kepentingan Jangka panjang.

Ingatlah! Nation and Character Building jauh lebih urgen untuk diperhatikan secara serius ketimbang kepentingan bisnis hiburan yang hanya menguntungkan sekelompok orang. Keterpurukan bangsa Indonesia dewasa ini bukan semata-mata karena faktor ekonomi atau faktor politik, tetapi rapuhnya kepribadian juga turut memberi andil di dalamnya.

Menanggapi situasi pertelevisian yang kurang kondusifbagi pendidikan nilai, keluhan dan kecaman kepada produk media audio visual tersebut adalah tindakan yang kurang bijaksana. Yang penting untuk segera dilakukan yaitu perlunya upaya untuk saling mendekatkan visi antara pelaku bisnis hiburan, pengelola televisi disatu pihak dan pelaku pendidikan di pihak lain. Tindakan konfrontatif sama sekali tidak produktif. Melarang anak-anak dan para remaja untuk tidak menonton acara TV adalah perbuatan naif. Tindakan seperti itu, tergolong anti kemajuan dan mustahil dilakukan pada era globalisasi dewasa ini.

Sebaliknya membiarkan anak-anak atau para remaja untuk melahap bayangan yang kontra produktif dengan pendidikan nilai berarti memporak-porandakan pendidikan nilai itu sendiri. Tindakan yang tepat adalah tindakan proaktif bukan tindakan reaktif.

Hal-hal di bawah ini adalah manifestasi dari tindakan yang proaktif dalam menyikapi era pertelevisian

1. Berpikirlah positif terhadap kehadiran TV (sebagai media audio visual) yang notabene berfungsi di samping sebagai media hiburan, juga diharapkan hadir sebagai media pendidikan. Optimalkan kehadiran TV sebagai sumber belajar secara selektif tanpa harus meninggalkan unsur hiburannya.

2. TVRI yang dinilai sudah cukup banyak menampilkan unsur pendidikan dalam tayangannya perlu lebih diberdayakan. TVRI harus segera dibebaskan untuk menayangkan iklan dalam batas-batas yang dapat ditolerir. Hal ini penting untuk segera diwujudkan agar TVRI memiliki sumber dana yang memadai dalam rangka menunjang kreativitas sumber daya manusia yang dimilikinya. Sajian acara bernuansa pendidikan yang dikemas dalam hiburan yang menarik perlu banyak diproduksi. Dengan demikian kecenderungan bertambah banyaknya pemirsa TVRI yang berpaling ke TV Swasta dapat dicegah. Di masa-masa yang akan datang TVRI diharapkan mampu bersaing secara sehat dengan TV swasta. TVRI juga dituntut mampu menjadi pelopor dalam memproduk tayangan yang berkualitas sekaligus menghibur dan layak jual (marketable).

3. Pihak pengelola Televisi Swasta hendaknya menyadari betui keberadaan televisi yang dikelolanya sebagai televisi independen (Independent Television) yang dituntut menyuguhkan tayangan secara. proporsional. Kecenderungan menempatkan diri sebagai televisi komersial (Commercial television Broadcast) harus segera dibenahi karena jelas-jelas merampas hak pemirsa untuk mendapatkan tayangan yang sehat dan mendidik.

4. Ajaklah anak-anak dan para remaja untuk mendiskusikan acara-acara tertentu yang digemari mereka tetapi berpotensi membawa dampak negatif. Diskusi-diskusi semacam itu bermanfaat untuk meningkatkan daya apresiasinya. Para guru dalam jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah dapat mengangkat isu-isu aktual yang berkaitan dengan tayangan TV dalam proses pembelajaran di kelas. Hal ini sangat efektif dilakukan apabila dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu yang kental dengan nuansa nilai seperti PPKN dan Pendidikan Agama. Penggunan metoda yang relevan (seperti diskusi, pemecahan masalah dan VCT) akan mampu menumbuhkan daya nalar siswa dan membentuk filter diri dalam respon pengaruh eksternal dari tayangan TV.

5. Penulis memandang penting diadakannya temu dialog antara kalangan pendidikan (kalau perlu melibatkan siswa ) dengan pengelola TV dan pekerja seni (produser, sutradara, penulis cerita, para aktor dan aktris, dan lain-lain)

6. Visi penulis adalah, marilah kita ciptakan wajah pendidikan yang toleran terhadap perkembangan seni hiburan. Sebaliknya penulis juga mengajak kalangan pekerja seni hiburan (utamanya yang ditayangkan lewat TV semacam sinetron) untuk lebih memiliki tanggung jawab sosial. Rumah, rumah produksi hendaknya tidak sekedar profit oriented tetapi juga perlu peduli terhadap unsur pendidikannya (educative oriented), Insya Allah bisa.

Penutup

Pada akhimya penulis perlu menjelaskan mengenai substansi pokok-pokok pikiran yang dipaparkan di atas. Tulisan ini sama sekali tidak berpretensi untuk memojokkan karya-karya sinetron yang tumbuh pesat bak jamur di musim hujan di bumi pertiwi dewasa ini. Sebaliknya penulis merasa bersyukur karena seiring merosotnya pamor film-film layar lebar, produk-produk sinetron bangkit untuk menggantikannya.

Muncul sebuah harapan sebagai ungkapan rasa tanggung jawab seorang pendidik, sisihkanlah ruang pendidikan pada karya-karya kreatif Anda selaku pekerja seni hiburan (khususnya sinetron) demi berhasilnya pembangunan watak bangsa. Mengapa kita mesti mengeksploitasi budaya masyarakat urban secara berlebih, bukanlah Indonesia kaya akan budaya daerah yang religius?

Penulis yakin, di tangan seorang penulis cerita, penulis skenario dan sutradara yang handal, budaya daerah di Indonesia dapat diangkat dalam tayangan sinetron yang menarik dan marketable. Si Doel Anak Sekolahan adalah contoh sukses sebuah sinetron yang berpijak pada budaya lokal. Begitu juga "Siti Nurbaya" dan "Aksara Tanpa Kata " yang mengangkat budaya ranah Minang dan Bali. Sementara "Keluarga Cemara" adalah contoh tayangan sinetron yang cukup representatif mengangkat dinamika kehidupan masyarakat kebanyakan.

Semoga di masa-masa yang akan datang para pekerja seni hiburan mau bergandengan tangan dengan para pendidik dalam upaya memberikan fondasi nilai yang positif bagi generasi muda. Apabila kerja sama mulia ini dapat segera diwujudkan, Insya Allah gejala krisis identitas dan krisis kepribadian di kalangan generasi muda dapat diatasi.

Daftar Pustaka

* Makes Up Yor Mind, New York; New Amerinan Library, 1983
* Jumal Teknodik No. 7/IV/Teknodik/Oktober 1999
* Majalah Mingguan Tempo, edisi 8-14 Januari 2001
* Majalah mingguan Forum Keadilan No. 44, 11 Februari 2001
* Harian Republika, 28 Maret 2000
* Harian Republika, 4 Pebruari 2001
* Linesco, Non Violence, Tolerance and Television Report to the Chairman; New Delhi, 1994.