| |
C © updated
20102004 -29092004 -11012003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.A., M.Sc
Lahir:
Semarang, Jawa Tengah, 16 Juni 1951
Isteri:
Sri Murniati Sachro
Anak:
1. Lucky A. Yusgiantoro
2. Filda C. Yusgiantoro
3. Inka B. Yusgiantoro
Pendidikan:
Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Kursus Reguler Angkatan (KRA)
XXV, meraih Penghargaan Wibawa Seroja Nugraha, 1992
Ph.D Ekonomi Mineral/ Sumber Daya Alam, Colorado School of Mines,
Golden, Colorado, USA, 1988
M.Sc, Colorado School of Mines, Golden, Colorado, USA, 1986
M.A. Ekonomi, University of Colorado at Boulder Main Campus, Colorado,
USA, 1988
Sarjana Teknik, Institut Teknologi Bandung (ITB), Indonesia, 1974
Pekerjaan:
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Kabinet Indonesia
Bersatu, 20 Oktober 2004 - 20 Oktober 2009
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Kabinet Gotong-Royong, 23 Juli
2001-20 Oktober 2004
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, 26 Agustus 2000-23 Juli 2001
Sekjen dan Presiden OPEC, 2004
Wakil Gubernur Lemhannas, September 1998 - Agustus 2000
Penasehat Menteri Pertambangan dan Energi, 1993 – 1998
Gubernur OPEC, Wina, Austria, 1996 – 1998
Ketua II Bidang Pemasaran Dalam dan Luar Negeri, Dewan Komisaris
Pemerintah untuk Pertamina (DKPP), 1993 – 1998
Tim Ahli PAH (Panitia AdHoc) I, Badan Pekerja MPR-RI dalam mempersiapkan
GBHN PELITA VII, 1997 – 1998
Kelompok Kerja Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional (Wanhankamnas),
dalam mempersiapkan GBHN PELITA VII
Anggota Panitia Departemen Pertambangan dan Energi, dalam menyusun GBHN
Sektor Pertambangan dan Energi PELITA VII
Pengajar berbagai kursus kepemimpinan: LEMHANNAS, SESKOGAB, SUSPIM
Pertamina dan PLN, SESPANAS, Kursus Atase Pertahanan Dephankam
Aktif dalam berbagai forum internasional: APEC, UNCTAD, UNDP, ESCAP,
OPEC, Multilateral Produsen-Konsumen, ASEAN, dan bilateral Indonesia
dengan Australia, Jepang, Amerika, Norwegia, Korea Selatan, Taiwan, Kanada
Pengalaman di Bidang Industri:
Pengalaman yang luas menangani masalah-masalah yang terkait dengan
sumber daya alam, khususnya di industri pertambangan dan energi
Konsultan/ Wakil Pimpinan perusahaan konsultan sumber daya (Resource
Development Consultant - REDECON), 1989 - 1992.
Aktif melakukan konsultasi di bidang-bidang ekonomi pembangunan (baik
nasional maupun regional), sumber daya alam, lingkungan hidup dan
pembangunan berkelanjutan
Sebagai Ketua Tim Kebijaksanaan Harga Energi, kerjasama Bank
Dunia-Departemen Pertambangan dan Energi
Ketua Tim Kebijaksanaan Ekonomi untuk Pembangunan Berkelanjutan,
kerjasama antara Bank Pembangunan Asia-Kementerian Negara Kependudukan dan
Lingkungan Hidup (KLH)
Konsultan Sumber Daya Alam - Basic Earth Science System (BESSI), 1974
-1985 bekerja di Indonesia dan Amerika (Colorado, California, dan Texas).
Dalam waktu yang bersamaan ditugaskan sebagai ahli perminyakan di Inca
Oil Company yang melakukan kegiatan eksplorasi di Laut Cina Selatan,
Indonesia
Pengalaman di Bidang Pendidikan (Formal):
Widyaiswara Lemhannas untuk mata ajaran Globalisasi–sekarang
Dewan Penyantun Universitas Atma Jaya Jakarta–sekarang
Staf Pengajar, Pasca Sarjana Magister Manajemen dan Ilmu Ekonomi Studi
Pembangunan (IESP), Universitas Atma Jaya, Jakarta, 1993–sekarang
Staf Pengajar, Program Magister Manajemen, STIE LPMI, Jakarta, 1990–sekarang
Staf Pengajar, Departemen Ekonomi, University of Colorado at Boulder,
1989
Staf Pengajar, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Trisakti,
1983–1985
Mengajar berbagai kursus singkat antara lain Kursus Manajemen (Lokakarya
Manajemen II dan III), Kursus Kepemimpinan (Suspim) Migas dan PLN, Kursus
Atase Pertahanan (Athan) di Bogor
Kegiatan Penting Lainnya:
Dewan Pendiri/ Penyantun, The Indonesian Institute for Energy
Economics (IIEE)
International Council, International Association for Energy Economics (IAEE)
Advisory Board, Pacific Economic Cooperation Council (PECC)
Aktif sebagai Pembicara, Narasumber dan Pemandu dalam Konperensi,
Lokakarya, dan Seminar di dalam dan luar negeri
Pengarang buku “Ekonomi Energi: Teori dan Praktik”, LP3ES, 1999, dan
buku “Analisis dan Metodologi Ekonomi Indonesia, Manajemen Keuangan
Internasional Ekonomi Energi”, berbagai artikel, dan tulisan dalam lingkup
kebijaksanaan makronasional
Keanggotaan Organisasi Profesi:
Ikatan Keluarga Besar Lemhannas (IKAL)
Persatuan Insinyur Indonesia (PII)
Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI)
IIEE dan IAEE
Alamat Rumah:
Jalan Kecubung I/F4, Cilandak Permai II, Jakarta Selatan
Sumber:
Kompas dan www. mesdm.net/purnomo.php
|
|
| |
|
|
|
|
Purnomo Yusgiantoro
Menteri Pemberani Tidak Populis
Dia menteri terbaik Kabinet Gotong-Royong. Pantas saja Presiden Yudhoyono
mengangangkatnya kembali menjabat Menteri
ESDM (Enerji dan Sumber Daya Mineral) Kabinet Indonesia Bersatu. Dia
menteri pemberani mengambil kebijakan tidak
populis demi kepentingan kemandirian bangsa.
Berani menaikkan harga BBM
mengikuti standar harga internasional. Di kalangan perminyakan dunia, dia
juga sangat disegani. Terbukti, dia satu-satunya Sekjen
OPEC yang dipercaya sekaligus merangkap Presiden OPEC (2004).
Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.A., M.Sc kelahiran Semarang 16 Juni 1951
memperistri Sri Murniati Sachro dan memberinya tiga orang anak, Lucky A.
Yusgiantoro, Filda C. Yusgiantoro, dan Inka B. Yusgiantoro,
sebelum menjadi menteri dikenal di belakang layar saja sebagai
pembelajar dan tenaga ahli tentang pemanfaatan ekonomis sumberdaya energi
dan mineral. Sangat berbeda dengan para mantan Menteri Pertambangan dan
Energi yang pernah ada sebelumnya, mereka itu sebelum diangkat biasanya
sudah lebih dahulu dikenal luas oleh publik. Namun justru ia dianggap
lebih berhasil hingga layak diacungi jempol.
Kemunculan nama Purnomo Yusgiantoro awalnya dicap buruk sebab dia
adalah pembawa kebijakan tunggal menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM),
mengikuti standar harga internasional. Itu, artinya harus terjadi kenaikan
harga yang signifikan.
Tak mengherankan jika sepanjang kepemimpinannya
sebagai Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), sejak 26 Agustus
2000 hingga 23 Juli 2001 di era Kabinet Persatuan Nasional pimpinan
Abdurrahman Wahid, menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono, kemudian
berlanjut di era Kabinet Gotong Royong pimpinan Megawati Soekarnoputri
pada 23 Juli 2001 hingga 20 Oktober 2004, Purnomo telah melakukan beberapa
kali kenaikan harga BBM secara bertahap agar persis mendekati harga pasar
internasional. Demikian pula, terjadi tak kurang 10 kali kenaikan harga
tarif dasar listrik (TDL).
Kebijakan Purnomo menaikkan harga BBM dan TDL dianggap aneh. Rakyat
turun ke jalan berdemo dan DPR ikut menekan, hingga Pemerintah suatu kali
untuk pertamakalinya dalam sejarah pernah mengalah mau menurunkan harga
BBM. Presiden Megawati Soekarnoputri mengakui perasaannya selalu berat
hati setiap kali harus menandatangani Keppres kenaikan harga BBM dan TDL.
Purnomo Yusgiantoro menjadi sangat tidak populis di dalam negeri hanya
karena kebijakan tunggalnya menaikkan tarif BBM dan TDL. Namun, di luar
negeri nama besarnya justru amat disegani sebagai ahli perminyakan.
Terbukti, ia bisa merangkap jabatan Sekjen dan Presiden OPEC, sebuah
organisasi kumpulan 11 negara pengekspor minyak terbesar dunia. Jabatan
rangkap ini adalah pertama kali terjadi dalam sejarah OPEC.
Karena keberhasilannya menjabat Menteri ESDM, kepada Ir. Purnomo
Yusgiantoro, M.A., M.Sc, Ph.D sudah selayaknya diacungi jempol. Ia
mendasarkan kebijakannya menaikkan harga BBM dengan logika dan alasan yang
bisa diterima oleh masyarakat luas. Jika di era Orde Baru yang otoriter
dan tertutup, setiap kenaikan harga BBM potensial menimbulkan kerawanan
sosial politik, Purnomo berhasil mengelola potensi konflik sehingga tidak
menimbulkan gejolak yang berarti di masyarakat. Salah satu kiatnya, untuk
setiap kenaikan harga BBM ia menganggarkan sejumlah dana kompensasi sosial
BBM sebagai subsidi, semacam jaring pengaman sosial kepada rakyat kecil
yang membutuhkan.
Purnomo lebih suka jika subsidi BBM puluhan triliun rupiah diberikan
dalam bentuk subsidi langsung kepada kelompok miskin, daripada menetapkan
harga BBM murah namun artifisial saja. Ia, bahkan sudah berpengalaman
melakukan proyek percontohan subsidi langsung dipindahkan dari dana
kompensasi sosial BBM melalui delapan jalur.
Subsidi dialihkan untuk
membiayai beras murah, subsidi kesehatan, subsidi pendidikan, dan
pembiayaan infrastruktur. Dengan cara demikian masyarakat percaya bahwa
subsidi, yang untuk tahun 2004 besarnya Rp 63 triliun, benar-benar sampai
ke rakyat miskin. Untuk makin mempertegas tekadnya menolong rakyat miskin,
Purnomo meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ikut mengaudit penyaluran
dana kompensiasi tersebut.
Isi hati Purnomo sesungguhnya sangat berorientasi kepada rakyat miskin.
Ia melakukan pilihan dalam menaikkan harga. Sebab terbukti, dari kelima
macam BBM minyak bakar, minyak tanah, minyak solar, minyak diesel, dan
premium, Purnomo menetapkan minyak tanah yang harganya Rp 700 per liter
dan harga pasar Rp 2.700 per liter sebagai prioritas yang terakhir
dinaikkan.
Purnomo lebih dahulu memprioritaskan pendekatan harga mekanisme
pasar kepada minyak bakar, minyak diesel, dan premium yang konsumennya
dianggap mampu membeli dengan harga pasar. Menyusul kemudian solar, lalu
terakhir kali minyak tanah. Karena, demikian Purnomo, jenis minyak tanah
menyangkut kepentingan masyarakat banyak yang umumnya ekonominya sederhana.
Purnomo tak mau mundur dari kebijakan menaikkan tarif BBM dan TDL
hingga 10 kali, walau didemo masyarakat ditekan DPR hingga dicap tidak
peka terhadap beban masyarakat. Purnomo sangat yakin betul hasil akhirnya
akan positif bagi masyarakat miskin, dan masyarakat pada akhirnya akan
bisa memahami kenaikan asal bisa dibuktikan bahwa apa yang dilakukan bisa
dirasakan secara konkret oleh masyarakat.
Profesional Mumpuni
Dengan beragam keahlian, pengalaman, jaringan pergaulan di dalam negeri
dan luar negeri, serta ditunjang tingkat pendidikan tinggi dan
profesionalisme yang memadai, lengkap sudah Purnomo Yusgiantoro sebagai
seorang teknokrat dan ekonom sekaligus pelaku utama di bidang energi dan
sumberdaya mineral yang mumpuni.
Sebagai penentu kebijakan nasional di sektor energi dan sumberdaya
mineral, ia komit menjalankan lima program yang menjadi prioritasnya.
Yakni komitmen tentang pemulihan, restrukturisasi sektor, restrukturisasi
BUMN, pemberantasab KKN, dan mendorong otonomi daerah di sektor energi dan
sumberdaya mineral.
Purnomo komit mempercepat pemulihan ekonomi terutama
ekonomi makro. Ia komit melakukan restrukturisasi sektor energi dan
sumbedaya mineral mengingat sudah semakin tidak terbendungnya arus
keterbukaan. Ia serius mempersiapkan lima rancangan undang-undang (RUU)
Minyak dan Gas (Migas), Listrik, Pertambangan, Energi, dan Panas Bumi.
Kelima RUU menjadi dasar bagi kebijakan lanjutan di masa mendatang.
Ia komit melakukan restrukturisasi BUMN terutama yang berada di bawah
kementeriannya, seperti Pertamina dan PLN.
Tujuan restrukturisasi agar
BUMN bisa memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Ia juga
komit menangani kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) secara lebih tuntas
dengan tujuan menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih. Ia komit pula
mendorong terwujudnya otonomi daerah di sektor energi dan sumberdaya
mineral.
Purnomo sudah matang dalam berbagai ladang pengabdian baik
di dalam maupun di luar negeri. Tak heran jika setelah menjadi menteri
jabatan Sekjen dan Presiden OPEC dipercayakan kepada pria kelahiran
Semarang, Jawa Tengah, 16 Juni 1951 ini.
Sebelum menjadi Menteri, lulusan Lemhannas KRA XXV yang memperoleh
penghargaan Wibawa Seroja Nugraha tahun 1992, ini adalah Wakil Gubernur
Lemhannas (Lembaga Pertahanan Nasional) September 1998-Agustus 2000.
Purnomo Yusgiantoro mempunyai pengalaman beragam di bidang perminyakan.
Demikian pula di bidang ekonomi, organisasi perminyakan internasional,
termasuk sebagai pemikir dan penggagas kebijakan. Pendidikan tinggi yang
berhasil dicapai hingga setingkat Ph.D banyak menunjang tugas-tugas
pengabdiannya.
Lulusan Sarjana Teknik pada Fakultas Teknik ITB Bandung,
tahun 1974, ini adalah pemegang dua gelar S-2. Ia meraih gelar M.Sc pada
Colorado School of Mines, Golden Colorado (Fakultas Pertambangan) tahun
1986, dan gelar M.A bidang ekonomi pada University of Colorado at Boulder
Main Campus, Colorado, Amerika Serikat (Ilmu Ekonomi) tahun 1988. Ia pun
mencapai gelar akademis tertinggi S-3, Ph.D bidang ekonomi mineral dan
sumberdaya alam dari Colorado School of Mines, Golden, Colorado juga tahun
1988.
Kepandaian Purnomo menurun pada ketiga anaknya. Ketika bersama keluarga
masih menetap di AS, sebelum menyelesaiakan S-3 bidang ekonomi mineral,
dua anaknya Lucky dan Inka berhasil mendapatkan penghargaan dari Presiden
Amerika Serikat kerena berhasil masuk 10 besar terbaik lulusan SMA di
seluruh AS. Lucky, yang sudah memberikan cucu kepada pasangan Purnomo dan Sri Murniati Sachro, penyandang gelar master dari Colorado
State University, menyelesaikan program beasiswa untuk mendapatkan gelar
doktor di Colorado.
Demikian pula Inka, pemegang gelar master pada teknik
industri dari Columbia University, yang bekerja pada Merril Lynch dengan
penghasilan 150.000 dolar AS per tahun, melanjutkan studi untuk meraih
gelar doktor di University of Michigan. Sedangkan Filda, lulusan Teknik
Kimia ITB Bandung, menyelesaikan beasiswa untuk mendapatkan gelar master
dalam fragrance and perfume di Universite de Versailles, Perancis.
Pada tahun 1993-1998 Purnomo Yusgiantoro sudah menjabat sebagai
Penasehat Menteri Pertambangan dan Energi. Ia pernah pula menjadi Gubernur
OPEC, berkedudukan di Wina, Austria tahun 1996-1998. Kemudian, sebagai
Ketua II Bidang Pemasaran Dalam dan Luar Negeri Dewan Komisaris Pemerintah
untuk Pertamina 1993-1998, Tim Ahli Panitia Ad Hoc I BP MPR RI dalam
mempersiapkan GBHN Pelita VII 1997-1998. Ia adalah anggota Pokja
Wanhankamnas dalam mempersiapkan GBHN Pelita VII, sekaligus anggota
Panitia Deptamben dalam menyusun GBHN Sektor Pertambangan dan Energi
Pelita VII.
Dia dikenal sebagai pengajar yang baik. Hal itu
terlihat dari aktivitasnya yang beragam di berbagai lembaga pendidikan. Ia
adalah pengajar di berbagai kursus kepemimpinan seperti Lemhannas,
Seskogab, Suspim Pertamina dan PLN, Sespanas, dan pengajar pada Kursus
Atase Pertahanan Dephankam.
Widyaiswara Lemhannas untuk mata ajaran Globalisasi, dan Dewan
Penyantun Universiats Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, ini tercatat
pula sebagai staf pengajar pada Program Pasca Sarjana Magister Manajemen
dan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP) Universitas Atma Jaya sejak
tahun 1993, dan pada Program Magister Manajemen STIE LPMI Jakarta sejak
1990.
Di almaternya Departemen Ekonomi University of Colorado at Boulder
ia pernah mengajar pada tahun 1989, dan sebelumnya pada tahun 1983-1985
mengajar di Fakultas Teknologi Mineral Universitas Trisakti Jakarta.
Jika di dalam negeri Purnomo Yusgiantoro adalah Dewan Pendiri dan
Penyantun The Indonesian Institute for Energy Economics (IIEE), di tingkat
internasional ia aktif sebagai anggota Dewan Internasional pada
International Association for Energy Economics (IAEE), dan sebagai anggota
Badan Penasehat Pacific Economic Cooperation Council.
Pengarang dua buku
berjudul “Ekonomi Energi: Teori dan Praktek” terbitan LP3ES tahun 1999,
dan buku “Analisis dan Metodologi Ekonomi Indonesia, Manajemen Keuangan
Internasional Ekonomi Energi”, ini juga aktif di beragam forum organisasi
dan kerjasama internasional. Seperti di APEC, UNCTAD, UNDP, ESCAP, OPEC,
Multilateral Produsen-Konsumen, ASEAN, serta pada forum kerjasama
bilateral antara Indonesia dengan Australia, Jepang, Amerika Serikat,
Norwegia, Korea Selatan, Taiwan, Kanada, dan lain-lain.
Sebagai Sekjen dan Presiden OPEC, Purnomo adalah pemimpin
Konferensi Luar Biasa tingkat Menteri OPEC ke-129, yang diselenggarakan
pada tanggal 10 Februari 2004 di Alger, Aljazair. Konferensi Tingkat
Menteri ini merupakan pertemuan pertama OPEC yang dipimpin oleh Indonesia,
sejak terpilih menjadi Presiden OPEC untuk periode tahun 2004. Untuk
sekadar diketahui saja, adalah keinginan 11 negara anggota OPEC agar
Purnomo merangkap jabatan Sekjen dan Presiden, pertamakali terjadi di
dunia.
Hal itu terjadi tak lain karena tingginya kemampuan profesionalisme
dan dedikasi pria yang, sikapnya sebagai Menteri tetap saja bisa bicara
ceplas-ceplos, menyenangkan, dan penuh wacana tiap kali pers mencoba
beradu argumen atas segala kebijakannya yang tak populis di sektor energi
dan sumberdaya mineral, seperti kenaikan harga BBM dan TDL.
Ketika pada awal Agustus 2004 harga minyak melonjak tinggi, menembus
rekor yang puluhan tahun tak terpecahkan, bahkan dalam bahasa Purnomo
disebutkan “gila”, seluruh dunia kalang kabut jadinya. Ancaman resesi
ekonomi global mengemuka, bahkan menjadi salah satu tema isu kampanye
pemilihan presiden tahap kedua di tanah air. Nama Purnomo Yusgiantoro
serta merta menjadi sorotan dunia. Ia lalu diminta agar bertemu dengan
pejabat berpengaruh di Amerika Serikat dan Inggris, demi mencegah
kemungkinan terjadi resesi global.
Ketika ia pada 14 September 2004 memimpin pertemuan penting OPEC, yang
ditambah diikuti sejumlah negara non-OPEC dan para produsen minyak raksasa
dunia, posisi harga minyak masih di atas 40 dolar AS per barrel untuk
harus diturunkan menjadi sekitar 30 dolar AS per barrel.
Purnomo agaknya berhasil memimpin kementerian ESDM,
sebagaimana ia berhasil memimpin keluarga dan organisasi OPEC. Ia telah
menyelesaikan tugas kementeriannya dengan baik sekaligus mempersiapkan
yang terbaik kepada penggantinya. Ia ingin meninggalkan kementerian ini
dengan tidak neko-neko, melainkan penuh kedamaian sebab ia datang dengan
baik dan keluar ingin dengan baik pula.
Ia telah mempersiapkan diri dengan
baik untuk itu termasuk memunculkan keinginan untuk kembali mengajar.
Kalau pun tidak diterima di kampus, Purnomo menyebutkan sudah mempunyai
modal lain yakni menyanyi. Modal itu sudah pernah dibuktikan oleh mantan
Ketua Panitia Perayaan Natal Nasional 2004, yakni dengan merekam suaranya
ke dalam bentuk kepingan piringan hitam CD. ►ht-tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|