| |
C © updated 26102005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/esero |
|
| |
Nama
H Probosutedjo
Lahir
Kemusuk, Jogjakarta, 1 Mei 1930
Jabatan:
Chairman dan CEO Mercu Buana Group |
|
| |
|
|
|
|
INHEADNEWS:
01
02 =
H Probosutedjo
Laboratorium Pertanian Sukamiskin
Bagi pengusaha H Probosutedjo, adik kandung satu ibu mantan Presiden
Soeharto, Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sukamiskin, menjadi Ladang
Pengabdian (LP) dan Laboratorium Pertanian (LP).
Kehadirannya di LP Sukamiskin, telah menjadi berkah bagi LP itu sendiri
dan segenap penghuninya. Tanpa sungkan, sebagaimana dikisahkan beberapa
Napi, Probo menyapa setiap Napi di LP itu, bersenda-gurau dan bahkan
sering memberi nasehat. Dia memberi dorongan bagi para Napi untuk
menjemput masa depan yang lebih baik.
Penjara, yang lebih disosialisasikan dengan sebutan Lembaga
Pemasyarakatan (LP atau Lapas) adalah tempat kurungan yang memenjarakan
dan membatasi kebebasan penghuninya. Namun, bagi pengusaha pribumi H
Probosutedjo, LP itu hanya memenjarakan atau mengurungnya secara fisik
(raga). Ruang sempit berterali besi yang dihuninya di Blok Timur Atas
No.38 LP Sukamiskin, Bandung, tak mampu membelenggu jiwa, kreativitas,
naluri bisnis dan semangat pengabdiannya.
Secara raga dia memang merasa terkurung, akibat putusan MA yang
menghukumnya empat tahun penjara atas tuduhan korupsi yang dianggapnya
keliru sehingga dia mengajukan PK (peninjauan kembali), namun dia tidak
mau larut dalam keterkurungan raganya. Kendati penjara itu sangat tidak
mengenakkan dan sulit diterimanya karena tidak merasa melakukan korupsi
atau bersalah merugikan negara, dia tak mau terkurung bersedih meratapi
nasib di LP itu. Pak Probo, panggilan akrab Direktur Utama PT Menara
Hutan Buana (PT MHB), itu malah mengubah penjara (LP) itu menjadi Ladang
Pengabdian dan Laboratorium Pertanian.
Belum tiga bulan Probo hadir di LP itu (sejak 3/3/2006), ia telah
melakukan banyak hal yang berguna bagi para penghuninya. Prinsip
sebaik-baiknya orang adalah berguna bagi orang lain, diwujudkannya di
mana pun termasuk di dalam penjara itu. Air mandi yang sebelumnya keruh
dan terbatas di LP itu, kini menjadi bersih dan lancar. Dua pompa air
yang tadinya rusak diganti atas bantuan Probo. Kubah masjid yang
sebelumnya kelihatan kurang bagus dan kusam, diperbaiki dengan kubah
tembus sinar sehingga ruangan masjid menjadi lebih cerah dan tidak
lembab.
Kemudian, setelah dia mengetahui ada beberapa Napi yang ahli dalam hal
jahit-menjahit (konveksi), Probo pun membeli puluhan mesin jahit modern.
Sebagian Napi pun kini menekuni usaha konveksi di LP itu. Universitas
Mercu Buana telah mengorder kaos dari kerajinan konveksi binaan Probo di
LP Sukamiskin itu.
Bukan itu saja, dan lebih spektakuler, Probo mengubah lahan pekarangan
LP itu menjadi Laboratorium Pertanian. LP yang tadinya merupakan akronim
dari Lembaga Pemasyarakatan diubahnya menjadi akronim dari Laboratorium
Pertanian dan Ladang Pengabdian. Berbagai jenis tanaman palawija
dibudidayakan dengan teknologi pertanian modern di pekarangan LP itu. Di
tengah kehijauan palawija itu terdapat pula dua kolam yang dimanfaatkan
para Napi sebagai arena memancing ikan.
Kolam pemancingan dan kebon palawija itu, telah bermanfaat sebagai
kegiatan positif yang sekaligus secara psikologis berfungsi menjernihkan
pikiran dan jiwa para napi di LP itu. Sebagaimana diungkapkan seorang
petugas LP, kegiatan bercocok tanam dan memancing itu paling tidak
berguna mengalihkan perhatian para napi dari pikiran-pikiran kurang baik
menjadi berpikir positif. Di situ mereka ceria seraya dapat belajar
bercocok tanam secara modern.
Keceriaan seperti itu, terjadi tatkala wartawan Tokoh Indonesia dan
Koran Indonesia membesuk H Probosutedjo, Senin 15/5/2006. Sebagai
seorang tokoh yang perjalanan hidupnya telah dipublikasikan di Majalah
Tokoh Indonesia dan Website Tokoh Indonesia, wartawan media ini merasa
berkewajiban membesuknya.
Tidak mudah untuk membesuknya di penjara itu. Setelah melalui berbagai
prosedur, wartawan media ini menemui Probo tatkala sedang asyik di
ladang pertanian yang dibinanya di LP itu bersama puluhan napi, di
antaranya HM Ramli Arabi, Dirut PT Qurnia Subur Alam Raya, yang bertugas
sebagai tenaga ahli pertanian.
Laboratorium Pertanian
Pengusaha H Probosutedjo bertemu dengan mantan Gubernur Aceh Ir Abdullah
Puteh dan Dirut PT Qurnia Subur Alam Raya HM Ramli Arabi di LP
Sukamiskin, Bandung. Ramli Arabi yang piawai dalam hal teknologi
pertanian modern yang sudah lebih dulu menghuni salah satu ruang sempit
di LP itu, telah lama memendam hasrat untuk mengaplikasikan keahliannya
di LP itu. Tapi tak pernah terwujud.
Sampai pada Jumat 3/3/06, Probosutedjo dan Abdullah Puteh dipindahkan
dari LP Cipinang, Jakarta ke LP Sukamiskin, Bandung. Tak berapa lama,
Probosutedjo yang segera juga ingin memanfaatkan lahan pekarangan LP
itu, bertemu Ramli. Ramli pun menyusun proposal. Setelah dikaji bersama
Ir Abdullah Puteh, jadilah lahan pekarangan LP itu disulap menjadi lahan
pertanian modern, yang oleh Probo lebih tepat disebut sebagai
Laboratorium Pertanian.
Disebut Laboratorium Pertanian, karena di atas lahan yang terbatas itu
ditanami berbagai jenis tanaman palawija, antara lain cabai, tomat,
terong, ketimun, pepaya, melon, kol, bayam dan sayuran lainnya, secara
teknis pertanian modern dengan metode mulsanisasi (berselimut plastik
UV).
Hanya dalam satu bulan, berbagai tanaman palawija itu telah tumbuh
sedemikian lebatnya. Bahkan ketimun telah di-panen. Cabai besar telah
mulai berbuah, tomat juga sebentar lagi akan mulai dipanen.
Secara bisnis, hasilnya memang tidak seberapa lantaran luas lahannya
sangat terbatas. Namun, kegiatan budidaya palawija itu telah lebih
berfungsi sebagai Laboratorium Pertanian, yang selain berguna sebagai
ladang uji coba teknologi pertanian modern, juga sekaligus mendidik para
napi untuk memiliki keteram-pilan pertanian modern. Sehingga kelak
setelah selesai menjalani hukuman di LP itu, mereka mampu mandiri
menjadi petani-petani modern.
Dengan demikian Laboratorium Per-tanian Sukamiskin ini dapat berfungsi
mendukung trans-formasi ekonomi kerayatan demi ke-makmuran bangsa.
Probo merasa empati melihat para napi di LP itu, baik yang menurut-nya
memang benar-benar bersalah maupun kemungkinan tidak bersalah tetapi
harus dipidana dan menjalani hari-harinya di penjara itu. “Mereka semua
di sini baik-baik. Mereka harus diberi kegiatan yang positif sesuai
bakat dan keterampilan-nya. Yang belum punya keterampilan dilatih,
sehingga punya keterampilan. Maka, Probo berjanji, jika mereka keluar
dari LP itu, sebagian akan diberi pekerjaan, baik dalam usaha konveksi
maupun pertanian.
Soeharto Center
Untuk mewujudkan hasratnya, Probo akan segera membentuk Soeharto Center,
yang kegiatannya antara lain dalam bidang pendidikan, pertanian dan
kerajinan. Ide Soeharto Center itu, tercetus ketika Probo, Abdullah
Puteh dan Ramli memulai bercocok tanam palawija di LP Sukamiskin itu.
Soeharto Center, itu akan mendirikan Universitas atau Institut Pertanian
di atas lahan luas yang tidak terlalu jauh dari Jakarta. Mahasiswa yang
akan diterima di Institut Pertanian itu adalah anak-anak dari keluarga
kurang mampu (miskin) tetapi cerdas dan rajin belajar. Mereka
(mahasiswa) tidak akan dipu-ngut biaya satu sen pun, gratis. Mereka akan
diasramakan, dibiayai hidupnya, disediakan buku-buku pelajarannya,
pendeknya segala keperluannya selama kuliah gratis, disediakan Soeharto
Center.
Namun mereka harus berpraktek dan bekerja langsung di lahan pertanian
institut itu. Para mahasiswa harus bersedia disiapkan menjadi
benar-benar petani yang bergelar insinyur pertanian. Tidak menjadi
insinyur pertanian berdasi, seperti banyak ditemukan di negeri ini.
Institut Pertanian itu, juga akan tetap membina Napi dan Laboratorium
Pertanian Suka-miskin dari tahun ke tahun. Dengan upaya ini, kemakmuran
bangsa berbasis ekonomi kerakyat-an dan agrobisnis akan dapat
diwujudkan. ►mti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|