| |
C © updated 20062005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/esero |
|
| |
Nama
H Probosutedjo
Lahir
Kemusuk, Jogjakarta, 1 Mei 1930
Jabatan:
Chairman dan CEO Mercu Buana Group |
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
H
Probosutedjo
Tujuh
tahun era reformasi, bangsa ini belum bisa keluar dari berbagai
permasalahan, kesulitan ekonomi dan gangguan keamanan. Bahkan kemiskinan
semakin menggurita sehingga terjadi busung lapar. Penegakan HAM pun
justru cenderung mengesampingkan kemanusiaan yang adil dan beradab.
Melihat keadaan ini, Pak Harto sangat sedih. Padahal beberapa negara
yang juga mengalami krisis moneter tujuh tahun lalu, kini
perekonomiannya sudah maju dan tak ada gangguan keamanan.
Sebagaimana diungkapkan oleh adik-nya, Probosutedjo, dalam percakap-an
dengan Wartawan Tokoh Indone-sia, kesedihan Pak Harto semakin mendalam
manakala belum melihat tampilnya pemimpin yang sungguh-sungguh memahami
permasalahan bangsa ini. Beberapa pemimpin yang tampil, selain tampaknya
kurang memahami permasalahan bangsa, juga tidak punya keberanian
menghadapi segala macam kesulitan bangsa dan negara ini.
Para pemim-pin, dalam pandangan Pak Harto, masih hanya sibuk mencari dan
menggalang dukungan politik, berkoalisi sana-sini, demi kelanggengan
kekuasaannya semata.
Kesedihan Presiden Kedua Republik Indonesia, HM Soeharto, yang pada
pertengahan tahun delapan puluhan dianugerahi gelar Bapak Pem-bangunan
Nasional itu, adalah juga kesedihan rakyat kebanyakan yang mengalami
tekanan kesulitan hidup yang makin berat dalam bebera-pa tahun terakhir
ini.
Busung lapar terjadi. Antri memperoleh raskin (beras untuk rakyat
miskin) sudah menjadi pemandangan yang biasa. Demikian juga antri minyak
tanah. Pengangguran pun semakin me-ningkat. Ada anak sekolah kelas IV SD
gantung diri karena tidak bisa membayar uang sekolah.
Kualitas manusia Indonesia pun bukannya makin meningkat, malah makin
terpuruk. Di-tambah lagi dengan memuncaknya rasa takut akibat keamanan
yang tidak terjaga. Tejadi pe-ngeboman di banyak tempat yang menewaskan
banyak jiwa yang tak bersalah. Penjarahan dan penghakiman sendiri seolah
menjadi hal yang lumrah.
Pak Harto akhirnya menjadi sangat berduka karena melihat masyarakat
busung lapar, melihat bom terjadi dan bencana di mana-mana. “Melihat itu
Pak Harto sedih dan berduka sekali,” kata Probo.
“Bandingkan jamannya Pak Harto, terutama tidak ada pengeboman karena
rakyat rajin melakukan Siskamling,” ungkap Probo. Seka-rang, keluhnya,
karena semua anti sama militer, padahal militer mestinya bisa
dimanfaatkan untuk mencegah jangan sampai terjadi penge-boman dan
sebagainya. Tapi karena kebodoh-an, militer dicurigai.
Mestinya militer diajak kerjasama asalkan jangan berkuasa, tapi ada
kerjasama. Ini militer dicurigai terus, sama sekali disingkirkan, lalu
akhirnya terjadi pengeboman di mana-mana.
Rasa kemanusiaan yang adil dan beradab juga dikesampingkan justru dengan
dalih pem-berlakukan hak azasi manusia. Setiap individu bebas melakukan
kehendaknya. Akibatnya si lemah semakin tertindas, si kaya semakin kaya,
hypermarket bertumbuh melindas pasar tradisional.
Dalam kondisi yang demikian sulit itu, terjadi pula bencana kece-lakaan
beruntun, banjir, gempa dan tsunami yang menelan ratusan ribu korban
jiwa dan menyengsarakan jutaan rakyat. “Saat terjadinya berbagai bencana
itu, kesedihan Pak Harto berubah menjadi kedukaan yang mendalam,” ungkap
Probo.
Menurut Probosutedjo, kesedihan Pak Harto juga dinyatakan manakala
mendengar disebarkannya informasi sesat yang menggambarkan seolah-olah
Pak Harto sebagai penyebab semua kesulitan bangsa ini. Seolah-olah
pemerintahan Orde Baru hanya melakukan yang buruk, korupsi dan lain
sebagainya. Seolah-olah pemerintah Orde Baru tidak pernah melakukan
pembangunan di negeri ini.
Padahal, sebagai suatu gambaran, sesung-guhnya dalam kepemimpinan Pak
Harto, Indo-nesia pernah mencatat prestasi penting dalam menurunkan
angka kemiskinan. Data membuk-tikan, pada 1970, jumlah penduduk miskin
mencapai 67%, berhasil ditekan menjadi 11.86% pada 1996. “Sebuah
prestasi yang tidak kecil diukur dari pengalaman negara mana pun di
dunia dalam menanggulangi kemiskinan,” sebagaimana diakui Menko Kesra
Alwi Shihab.
Namun, keadaan berubah demikian cepat ketika krisis ekonomi melanda pada
1997 dan kemudian diikuti gerakan reformasi yang tidak terkendali.
“Semua proses penurunan angka kemiskinan terhenti, bahkan hasil-hasil
yang selama ini dicapai dengan kerja keras itu sebagian besar telah
terhapus dalam waktu yang relatif singkat,” kata Alwi Shihab dalam situs
resmi Menko Kesra.
Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), jika pada 1996 jumlah
penduduk miskin sudah hanya 11.86%, pada 2003 meningkat menjadi 37,4
juta atau sekitar 17,4% dan pada 2004 diperkirakan menjadi 36,1 juta
atau masih sebe-sar 16,6% dari seluruh penduduk Indonesia.
Laporan Pembangunan Manusia 2004, badan internasional yang bernaung di
bawah organisa-si PBB, United Nations Development Programme (UNDP), juga
mengungkapkan kondisi kualitas (fisik) manusia Indonesia yang makin
sangat memprihatinkan. Indeks Pembangunan Manusia (Human Development
Index) yang mencermin-kan tingkat kesehatan, pendidikan dan ekonomi
rata-rata penduduk menempatkan Indonesia pada peringkat 111 dari 175
negara, jauh di bawah peringkat negara-negara tetangga seperti Singapura
(25), Brunei (33), Malaysia (58), Thailand (76) dan Filipina (83).
Bahkan lebih rendah dari negara-negara terbelakang seperti Kirgistan
(110), Guinea-Katulistiwa (109) dan Aljazair (108).
Demikian pula perkembangan tingkat daya saing Indonesia ternyata sangat
rendah diban-dingkan negara-negara berkembang lain, baik itu “Daya Saing
Bangsa” maupun “Daya Saing Sumber Daya Manusia (SDM)”. Sebagaimana
terungkap dalam diskusi pengurus ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia)
Cabang Bandung Koordinator Jawa Barat kala melakukan kunjungan kerja ke
Redaksi “PR”, Kamis (19/2/2004). ISEI mengomentari hasil penelitian
Organisasi Buruh Internasional (ILO) yang mengatakan bahwa 110 juta
rakyat Indonesia terancam miskin.
ISEI Jabar mengungkapkan, tingkat “Daya Saing Bangsa” pada 2000,
Indonesia hanya berada pada posisi ke 44 dari 45 negara ber-kembang.
Begitu pula 2001, berada pada posisi ke 46 dari 47 negara berkembang.
Bahkan tahun 2002, menduduki peringkat paling bawah yakni posisi 49 dari
49 negara berkembang.
Kondisi yang memprihatinkan ini, terjadi pula pada tingkat “Daya Saing
SDM”. Pada tahun 2000, Indonesia berada pada posisi ke 43 dari 45 negara
lainnya. Tahun 2001, pada posisi ke 45 dari 47 negara. Kemudian tahun
2002, berada pada posisi ke 48 dari 49 negara. Belum lagi dalam hal daya
saing untuk menarik investasi, Indonesia berada pada posisi kedua dari
bawah.
Tidak Ada Orang Kuat
Pak Harto menyatakan para pemimpin bangsa saat ini masih seolah belum
mengerti dan tak tahu apa permasalahan bangsa. “Inilah yang membuat Pak
Harto sedih,” kata Probosutedjo, adik seibu Pak Harto. Pak Harto
bersedih melihat banyaknya pemimpin yang tidak memahami permasalahan
bangsa sehingga tidak ada seorang pun yang berani berbuat sesuatu untuk
mengatasi permasalahan bangsanya.
Probo juga mengungkapkan pengalaman menariknya baru-baru ini, tatkala
kedatangan mitra usaha, Doktor Graaf, dari Jerman. Graaf, pemilik
industri raksasa alat-alat rumahtangga TEKA Kuchentechnik di Jerman dan
Spanyol. Menurut Graaf, kepada Probo, saat ini di Indonesia sudah tidak
ada lagi orang kuat (pemimpin), sehingga keadaan sulit menjadi
berlarut-larut begini. “Sayang, negara yang begitu besar, yang begitu
makmur, tidak ada orang kuat,” ujar Graaf.
Memang, kata Probo, kelihatannya keba-nyakan pemimpin saat ini masih
saja tak tahu apa permasalahan bangsanya. Padahal melihat dan
mengidentifikasinya mudah sekali, yakni persoalan kemiskinan. Lalu,
kalau benar mereka tidak memahami masalah, sudah pasti mereka tidaklah
memiliki strategi jitu untuk mengatasi kemiskinan itu.
Probo menyebutkan setiap pemimpin harus lebih dahulu bisa memahami
masalah, ke-mudian baru menentukan bagaimana stra-tegi mengatasi
kesulitan dan permasalahan bangsa. Strategi kemudian dituangkan da-lam
program supaya tepat pelaksanaannya. Jadi, kemiskinan itu harus diatasi.
Caranya bagaimana, Probo menyebutkan justru hal itulah yang sampai
sekarang belum terlihat diketahui para pemimpin yang berakibat segala
permasalahan tetap berlarut-larut begini.
Pemimpin bangsa, karena tidak mengetahui strategi pemecahan masalah,
maka apapun yang dilakukannya menjadi selalu tidak pernah cocok.
Seperti, kata Probo, Presiden pengganti Habibie, ataupun Habibienya
sendiri, itu seperti tidak tahu apa yang harus ditempuh untuk mengatasi
ke-sulitan dan permasalahan bangsa.
Habibie, misalnya, ia mengatasi kesulitan bangsa dengan membebaskan
demokrasi sebebas-bebasnya. Habibie memberlakukan demokrasi liberal,
semua orang boleh bicara. Namun pertanyaannya, apakah cara begitu sudah
tepat.
Kemudian Gus Dur, dengan strategi membe-baskan PKI. Semua ajaran,
termasuk ajaran ateis, boleh diajarkan di Indonesia. Apakah cocok?
Ternyata tidak cocok sebab tidak bisa menyelesaikan masalah. Jamannya
Megawati, ingin menyatukan bangsa dengan bergotong-royong, namun jiwa
gotong royong yang dimaksudkannya belum jelas.
Begitu pula Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Probo melihat, juga belum
memiliki strategi pemecahan masalah bangsa. “Tampaknya belum memiliki
program sehingga apa strateginya menjadi belum jelas pula,” kata Probo.
Probo menyebutkan para pemimpin di era reformasi belum banyak yang
mempunyai strategi pemecahan masalah sebrilian Pak Harto. Pak Harto
menerapkan strategi Trilogi Pembangunan, yakni stabilitas nasional,
pertumbuhan ekonomi, dan pemerataan hasil-hasil pembangunan. “Itulah
strategi yang ditempuh oleh Pak Harto. Sementara pemimpin sesudahnya
belum punya strategi yang jelas,” kata Probo.
Strategi Trilogi Pembangunan, itu adalah strategi yang terakhir ditempuh
Pak Harto setelah melalui sejumlah pengujian empirik di lapangan.
Menurut Probo, jika saja strategi Pak Harto itu dianggap memang tidak
cocok lagi, lalu strategi apa yang dimiliki pemimpin sekarang?
Kemanusiaan yang Beradab
Probo menyebutkan, satu hal lain yang juga turut membuat Pak Harto
sering prihatin adalah, ini eranya reformasi dalam semua bidang lalu
muncullah opini dan anggapan negatif bahwa semua yang dilakukan oleh
Orde Baru adalah salah.
Kesedihan lain Pak Harto, selama hampir delapan tahun usia reformasi,
terkait cara-cara yang ditempuh dengan mengedepankan isu hak asasi
manusia, kebebasan sebebas-bebasnya, tanpa menyadari bahwa mengedepankan
hak asasi manusia sama dengan hak-hak perorangan. Padahal, apa yang
mereka maksud hak-hak asasi manusia hanya cocok di negara-negara yang
sudah maju, seperti Amerika dan Eropa.
Kalau keadaan Indonesia sudah seperti Amerika atau Inggris, kata Probo,
hak asasi memang harus ditempuh sebab setiap orang harus memikirkan
kepentingan pribadinya. Pemerintah pun sudah bisa mengatasi segala
kesulitan. Seperti kemiskinan yang terjadi di Amerika dan Inggris sudah
diambilalih pemerintah sehingga tidak ada orang terlantar. Berbeda di
Indonesia, pemerintah belum sang-gup mengambil peranan mengatasi
kemiskinan rakyat.
Kini, di Indonesia, hak asasi manusia itu diartikan dan
diimplementasikan dengan mengedepankan hak-hak perorangan. Akibat
kesalahpahaman demikian, maka yang sekarang terjadi dan tumbuh adalah
orang tidak lagi memikirkan kepentingan orang lain, tidak ada lagi yang
memikirkan kemiskinan, tidak ada yang memikirkan penderitaan rakyat
kecil. Semuanya sibuk bicara hak-hak perorangan, memikirkan dirinya
sendiri, yang kalau istilah Jakarta ‘siapa lo siapa gue’. Nasib yang
lemah, menjadi tidak mendapat apa-apa.
Pada jaman Pak Harto, makna hak-hak asasi atau hak-hak perorangan itu
diimplementasikan sebagai kemanusiaan yang adil dan beradab. Jadi, orang
kaya harus memikirkan orang mis-kin, tidak bisa hanya memikirkan dirinya
sendiri.
Menurut Probo, cara mengentaskan kemiskin-an haruslah dengan bergotong
royong. Orang kaya harus membantu orang miskin. Sama seperti ajaran
agama Islam, bahwa orang kaya harus membantu orang miskin. Demikian pula
agama lain selalu mengajarkan sama, orang kaya harus membantu orang
miskin.
Tetapi sekarang kenyataannya tidak demi-kian. Akibat yang terlihat
terjadi busung lapar di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ini sesuatu yang
sebenarnya tidak mesti terjadi kalau ada rasa kekeluargaan, yaitu orang
kaya membantu orang miskin.
Probo mengulangi bahwa Pemerintah Indone-sia berbeda dengan Pemerintah
Amerika dan Inggris yang sudah kuat.
Negara maju ini sudah bisa mengatasi segala kesulitan, membantu orang
miskin. Karena itu, Indonesia tidak bisa serta-merta meniru Amerika atau
Inggris dengan kebebasan liberalnya. Di kedua negara itu, orang yang
tidak memiliki pekerjaan memperoleh tunjangan supaya bisa hidup.
“Di Indonesia mana ada tunjangan bagi orang yang tidak bekerja. Mereka
dibiarkan saja, kalau tidak bekerja, ya terlantar. Menyekolahkan anak
saja tidak sanggup, sampai anaknya gantung diri. Nah, keadaan yang
seperti inilah yang belum dipahami oleh para pemimpin kita, sehingga
turut mengutamakan kebebasan hak asasi, tapi bukan kemanusiaan,” kata
Probo.
Kesenjangan Makin Lebar
Sekarang yang paling menyedihkan Pak Harto lagi, kekuatiran kalau nanti
terjadi kesen-jangan ekonomi yang makin melebar. Kelihatan-nya
kesenjangan yang melebar itu sudah terlihat makin nyata. Indikasinya,
antara lain, dalam keadaan kesulitan ekonomi melanda kebanyak-an rakyat,
justru bertumbuh hypermarket dan apartemen mewah di mana-mana. “Kalau
ini sampai terjadi berlarut-larut, apakah kita masih bisa mewujudkan
cita-cita NKRI?” ujar Probo.
Sekarang dengan otonomi daerah pun terlihat bagaimana daerah-daerah yang
kaya bisa membangun daerahnya secara berlebihan. Uang masuknya
berlebihan, sehingga pejabat-pe-jabatnya mewah-mewah, gajinya jauh lebih
tinggi dari orang dari daerah miskin. Di NTT kekurangan, di Jawa juga
begitu, sebab penghasilan tidak ada. Kalau begini, keinginan
mencita-citakan negara kesatuan pun akan semakin sulit terwujud.
Probo juga menyoroti adanya keinginan membentuk pendidikan yang agamais
tapi nyatanya ajaran nonagama diperbolehkan terbit. Seperti ajaran PKI,
yang jelas-jelas tidak mengakui ajaran agama. Ajaran PKI boleh
diter-bitkan dan dijual bebas di mana-mana. “Kalau dulu, jaman Orde
Baru, jelas itu dilarang karena berbahaya demi generasi penerus. Tapi,
sekarang dianggapnya, ya biar saja demi kebebasan. Ya kebebasan yang
akibatnya begi-ni,” keluh Probo, mengutip keluhan Pak Harto.
Menurut Probo, negara-negara yang masih berkembang, atau baru merdeka
tidak ada membebaskan negaranya dengan hak asasi sebebas-bebasnya.
Singapura bisa maju karena tidak terlalu bebas memberikan hak asasi. Di
sana koran yang terbit hanya satu. Tapi orang Amerika dan sebagainya,
diam saja, karena melihat Singapura sudah makmur sejahtera.
Di Cina jauh lebih keras lagi. Semua dikendalikan pemerintah diarahkan
ke mana tujuannya. Tetapi kenyataan, Cina sekarang makmur bisa menabung
dan tabungannya banyak sekali. Indonesia, kalau mau ikut-ikutan negara
maju, mestinya tunggu dulu. “Sebenar-nya, sama halnya dengan
pejabat-pejabat, pembesar-pembesar itu, apa mau dicampur dengan rakyat
miskin? Susah, kan nggak mau. Jadi harus diangkat dulu yang miskin itu,”
ujar Probo memberi gambaran.
Penyebab Kemiskinan
Probo menyatakan keprihatinan bahwa sungguh memalukan, Indonesia yang
sudah 60 tahun merdeka, terlepas dari penjajah, namun rakyatnya masih
sangat miskin. Masih banyak yang busung lapar, penyakit polio,dan jutaan
anak putus sekolah karena orang tuanya kurang mampu dan pemerintah
memungut biaya yang tidak terjangkau oleh rakyat kecil.
Setelah 60 tahun merdeka, menurutnya, tidak semestinya pemerintah
mencari pinjaman luar negeri bermilyar-milyar dolar. Dia memberi contoh,
Malaysia, Singapura, Philipina, Taiwan dan Korea Selatan yang dulunya
dijajah bangsa asing, kini sudah mandiri. Rakyatnya sudah hidup
sejahtera. Pemerintahnya tidak memiliki utang luar negeri seperti
Indonesia.
Probo juga berharap agar pemerintah menyelusuri penyebab kemiskinan
rakyat yang berlarut-larut itu. Lalu dia menyebut beberapa penyebab
kemiskinan di negeri ini. Pertama, pada awalnya karena keterbelakangan
akibat dijajah Belanda 350 tahun. Tapi bangsa lain di Asia yang dulu
dijajah bangsa asing, kini sudah sejahtera.
Kedua, kemiskinan terjadi akibat kebodohan. Kebodohan ini terus
berlarut-larut karena pemerintah kurang memperhatikan pendidikan. Di
negara maju, pendidikan diutamakan. Seluruh biaya, mulai sekolah dasar
sampai sekolah lanjutan atas bahkan sampai perguruan tinggi, ditanggung
oleh pemerintahnya. Karena pendidikan adalah human investment yang
penting bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Maju mundurnya
masa depan bangsa, tergantung dari keberhasilan pendidikan rakyatnya.
Menurut Probo, hal inilah salah satu yang sangat mempihatinkan di negara
ini. Biaya pendidikan, bukan saja belum dapat ditanggung pemerintah
bahkan dinaikkan sampai jutaan dan ratusan juta rupiah. Fakultas
kedokteran, misalnya, sampai lima ratusan juta rupiah. Sehingga anak
petani dan pegawai negeri tidak mungkin menjadi dokter. “Jangankan masuk
Fakultas Kedokteran, masuk SLTA saja sudah banyak yang tidak mampu,”
keluhnya. Jika keadaan ini dibiarkan, menurut Probo, kebodohan bangsa
ini akan terus berlarut-larut dan kemiskinan pun akan terus membelenggu.
Ketiga, kemiskinan akibat kemalasan. Kemalasan rakyat Indonesia timbul
sebagai akibat dari kebodohan. Dan anehnya, kemalasan ini merasuk ke
berbagai sendi kehidupan bangsa dan negara ini. Menurut pengusaha
pindiri Mercu Buana Group ini, kita malas karena ada tanah begitu luas
dan subur namun menjadi belukar saja. Padahal kalau diolah, itu menjadi
sumber pendapatan yang sangat tinggi.
Misalnya dengan membangun HTI (Hutan Tanaman Industri) pulp, akan
menciptakan lapangan kerja dan mengentaskan kemiskinan. Sehingga sumber
daya alam yang melimpah dan tanah yang subur tidak dibiarkan terlantar.
Seharusnya tanah yang subur, karena curah hujan yang melimpah, bisa
diolah untuk menyejahterakan rakyat. Sehingga pemerintah Indonesia tidak
perlu mencari pinjaman ke luar negeri. Bahkan seharusnya setiap tahun
pemerintah memperoleh surplus anggaran.
Tetapi akibat malas, bodoh sehingga banyak rakyat dan pemimpin yang
kemelindi (sok rumongso biso ora biso ngrumongsani). Sekarang terkesan
semakin banyak orang Indonesia malas dan sering kemilindi. Pemimpin
(orang) sok merasa dirinya pintar tapi tidak tahu sampai di mana
kekurangannya.
“Banyak orang Indonesia merasa dirinya hebat, saya bisa jadi presiden,
saya bisa jadi menteri, saya bisa menjadi pejabat, tapi akhirnya tidak
bisa berbuat sesuatu. Dan itulah yang sesungguhnya terjadi dan menjadi
penyakit. Kalau penyakit itu tidak disadari betul-betul celaka,” Probo
mengingatkan.
Probo menyebutkan keadaan yang sebenarnya sekarang terjadi di Indonesia
itu, tampak kurang dipahami oleh para pemimpin. Yakni permasalahan
keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan, kemalasan dan kemilindi atau
disingkat 5-K. Dua masalah terakhir (kemalasan dan kemilindi) merambah
dalam beberapa tahun terakhir ini.
Keterbelakangan terjadi akibat kita 350 tahun dijajah Belanda.
Kebodohan, itu sesuai peringkat Indonesia di urutan 111 dari 175 negara,
jauh di bawah peringkat negara-negara tetangga seperti Singapura (25),
Brunei (33), Malaysia (58), Thailand (76) dan Filipina (83). Bahkan
lebih rendah dari negara-negara terbelakang seperti Kirgistan (110),
Guinea-Katulistiwa (109) dan Aljazair (108).
Pemimpin Sibuk Cari Dukungan
Para pemimpin saat ini terkesan hanya sibuk mencari dukungan politik.
Seperti Presiden Yudhoyono yang membentuk kabinet koalisi, di mana
orang-orang partai diangkat semuanya supaya aman di parlemen, supaya
tidak ada oposisi yang bisa menjatuhkan dia.
Apakah dia itu takut dijatuhkan? Mestinya, kata Probo, tidak perlu takut
kalau betul-betul memahami keadaan rakyat Indonesia, dan tahu strategi
bagaimana membangun bangsa. “Jika memahami permasalahan bangsa, dan tahu
strategi memecahkannya, kenapa mesti takut? Kenapa harus membentuk
kabinet koalisi? Kenapa tidak membentuk zaken kabinet yang terdiri
orang-orang pintar?”
Probo menyebutkan bagaimana Pak Harto, mengumpulkan orang-orang pintar
dalam Kabinet Pembangunan I, II, III dan seterusnya. Termasuk Pak Radius
almarhum.
Dia menjabat mulai dari Gubernur Bank Indonesia, kemudian Menteri
Perdagangan, Menteri Keuangan, dan Menko Ekuin, itu luar biasa.
Satu hal yang terkesan dari Radius bagi Probo, tatkala dahulu
berbincang-bincang mengenai pembagian hasil kontrak kerja minyak. Dahulu
dalam kontrak bagi hasil (production sharing contract) itu 65:35, 65%
untuk pemerintah dan 35% untuk asing seperti Caltex. Tapi Radius, selaku
Menteri Keuangan mengusulkan sama Pak Harto dan disetujui, kontrak
sebaiknya diubah jangan 65:35, tapi 90:10. Sebab pihak asing dengan 10%
sudah untung.
Akhirnya tawar-menawar, jadilah 15% untuk asing, pemerintah mendapat
85%. Ada kenaikan pendapatan pemerintah sampai 20 persen. Mestinya,
kontrak bagi hasil seperti Freeport, yang terjadi di Irian, itu pun
ditinjau kembali karena keuntungan asing terlalu besar. “Mestinya orang
asing malu mengambil keuntungan besar dari negara yang miskin-miskin
seperti Indonesia,” kata Probo. Selanjutnya baca: Mari Melihat jernih.
Selengkapnya baca Majalah Tokoh Indonesia Edisi 21 ► mti/ht-ms-crs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|