| |
C © updated 05092006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Pranawengrum Katamsi
Lahir:
Yogyakarta, 28 Maret 1943
Meninggal:
Jakarta, 4 September 2006
Suami:
- dr Amoroso Katamsi (Nikah 27 Januari 1964)
Anak:
- Ratna Arumasari, Doddy Keswara Kartikajaya, dan Ratna
Kusumaningrum (Aning Katamsi).
Ayah:
RM Surachmad Padmorahardjo
Ibu:
Oemi Salamah
Profesi:
- Penyanyi Seriosa
Penghargaan:
- Bintang Radio Nasional 1964, 1965, 1966, 1968, 1974, 1975 dan
1980
- Penghargaan khusus Piala WR Supratman
Alamat Rumah Keluarga:
Jalan Kamper 9, Kompleks Angkatan Laut Pangkalan Jati, Jakarta
Selatan |
|
| |
|
|
|
|
| PRANAWENGRUM HOME |
|
|
 |
Pranawengrum Katamsi (1943-2006) Ibu Seriosa Indonesia
Pranawengrum Katamsi salah seorang penyanyi seriosa terbaik Indonesia
sehingga dijuluki Ibu Seriosa Indonesia, meninggal dunia dalam usia 63
tahun, Senin 4
September 2006 pukul 13.50 di RSAL
Mintohardjo, Jakarta. Peraih bintang radio tingkat nasional 1964,1965,
1966 dan 1968 serta 1974, 1975 dan 1980, kelahiran Yogyakarta 28 Maret 1943, itu menderita penyakit
gagal ginjal yang mengalami komplikasi ke paru-paru dan jantung.
Selama satu bulan, isteri dari dr Amoroso Katamsi (menikah 27 Januari
1964), sempat dirawat di rumah sakit. Pranawengrum yang akrab dipanggil
sahabatnya Rum, itu meninggalkan tiga anak yang aktif di bidang musik,
yaitu Ratna Arumasari (41), Doddy Keswara Kartikajaya (39), dan Ratna
Kusumaningrum (Aning Katamsi, 37).
Jenazah puteri pasangan RM Surachmad Padmorahardjo dan Oemi Salamah, itu disemayamkan di Jalan Kamper 9, Kompleks
Angkatan Laut Pangkalan Jati, Jakarta Selatan. Jenazahnya dimakamkan hari Selasa pagi
5 September 2006 di pemakaman Pangkalan Jati.
Pranawengrum mewarisi bakat seni musik dari ayahnya, RM Surachmad
Padmorahardjo, seorang pemain biola. Bakat
alam di bidang olah suara itu pertama kali dikembangkan Nathanael Daldjoeni, Kepala SMA BOPKRI
II Yogyakarta, yang juga seorang penggubah lagu dan pemerhati musik.
Dari Nathanel dia mulai mendengar dan mengenal seriosa. Sejak itu,
kecintaan Rum pada seriosa bertumbuh. Dia merasa lagu seriosa itu indah.
Kemudian timbul keinginan menjadi penyanyi seriosa. Dia pun belajar olah vokal seriosa.
Kemudian tahun 1961, Rum mengikuti lomba nyanyi pelajar se-Indonesia jenis seriosa dan
berhasil meraih
juara pertama. Lalu, Rum mengikuti pemilihan Bintang
Radio tingkat lokal Yogyakarta dan berhasil meraih juara kedua. Tahun 1962, Rum
mengikuti lomba Bintang Radio
tingkat nasional dan menjadi juara harapan.
Setelah itu, Rum meningkatkan latihan olah vokal di bawah bimbingan Suthasoma, Suwandi, Nortier Simanungkalit,
dan Kusbini.
Dia pun kemudian mengikuti lomba Bintang Radio tingkat
nasional 1964 mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta dan berhasil meraih gelar juara pertama.
Gelar juara Bintang Radio untuk jenis seriosa pun menjadi
milik Rum pada tahun 1965 dan 1966, serta tahun 1968.
Setelah itu dia dan keluarga Katamsi bermukim di Jakarta. Rum masih giat
berlatih meningkatkan olah vokalnya di bawah bimbingan Pranadjaja,
FX Sutopo, Sunarto Sunaryo, dan Anette Frambach. Apalagi dia mendapat
dukungan penuh dari suami Amoroso Katamsi, seorang dokter, perwira Angkatan
Laut, yang juga pernah menekuni seni suara.
Kemudian Rum mengikuti lagi ajang
Bintang Radio tingkat nasional mewakili DKI Jakarta dan berhasil meraih juara pertama tahun 1974, 1975, dan 1980.
Atas berbagai prestasi itu Rum mendapat penghargaan khusus Piala WR Supratman.
Prestasi itu juga menempatkan Rum layak digelari Ibu Seriosa Indonesia.
Rum memang menganbdikan hampir seluruh hidupnya untuk seriosa. Bahkan
ketika berbaring di rumah sakit, Rum masih membicarakan seriosa. Dia
ingin kaum muda gemar menyanyi seriosa yakni menyanyi dengan dasar yang
benar. ►e-ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
=================================================
Pranawengrum Katamsi:
Ingin Membentuk Masyarakat Seriosa
Republika
Minggu, 24 Juni 2001:
Tepuk tangan men pun menyebutnya Ibu
Seriosa Indonesia untuk menghormati dedikasi Prawanengrum.
"Ternyata, masih banyak yang menggemari seriosa. Saya ingin konser ini
menjadi tanda seriosa Indonesia masih ada," kata Pranawengrum kepada
Ratu Ratna Damayani dan E Effendi dari Republika.
Pranawengrum, yang memiliki sapaan pendek Rum ini, mengaku sebelumnya
tak punya cita-cita menjadi penyanyi tenar. "Saya ini dulunya pemalu
banget," tutur perempuan kelahiran Yogyakarta, 28 Maret 1943 ini. Meski
telah 40 tahun menjadi penyanyi seriosa, ia tak merasa menjadi artis.
Bagi ibu tiga anak dan nenek empat cucu ini, masih dikaruniai Allah
kemampuan untuk tampil menyanyi adalah rahmat besar. "Usia saya 58 tahun
masih dikaruniai bisa nyanyi, waduh itu sudah luar biasa. Teman-teman
seangkatan saya banyak yang tidak tampil menyanyi lagi," katanya.
Keberhasilan karir seriosa Rum kian membulat dengan dukungan besar
keluarga. "Terutama dari suami saya," tandasnya. Ia memaparkan, sejak
menikah suaminyalah yang memilihkan baju dan perhiasaan yang akan
dikenakan saat pentas atau mengikuti kompetisi. "Pak Katamsi (Amoroso
Katamsi, suami Pranawengrum) selalu melarang saya untuk mengerjakan
pekerjaan rumah khusus untuk persiapan lomba atau pentas." Tak
ketinggalan, sambungnya, suami dan kini anak-anaknya juga ikut
mengkritik caranya membawakan lagu. "Dia (suami) kan berangkatnya juga
dari teater, jadi hampir sama. Sebaliknya, kalau anak-anak bosan
berlatih kita beri masukan juga. Kita saling mendukung."
Keluarga Katamsi ini memang menjadi kumpulan seniman. Amoroso Katamsi
sendiri selain berbintang satu Angkatan Laut adalah juga bintang film
dan pemain teater. Anak pertama, Ratna Katamsi, adalah seorang pianis
dan pengajar sekolah musik YPM. Dodi Katamsi menjadi penyanyi rock dan
mantan personel grup musik rock Elpamas Surabaya. "Nggak tahu, belajar
musiknya sama kok nyeleneh sendiri jadi rocker," kata Rum tentang anak
laki-lakinya. Sedangkan si bungsu, Aning Katamsi, mengikuti karir sang
ibu.
Dengan nada guyon, Rum mengaku yang membuatnya merasa tak menjadi artis
adalah badan besarnya. "Artis kan langsing," kilahnya. Tapi, ia justru
merasa 'kebesarannya' ini memberikan energi pada suaranya. "Suara saya
jadi lebih weeng..." lanjutnya.
Rum menceritakan, saat mendampingi suaminya sebagai dokter di Cilacap
dari 1969 sampai 1974 merupakan masa pesat bertambahnya berat badan. "Di
sana waktu itu dokternya cuma lima orang. Mau naik sepeda dikatakan
istri dokter kok naik sepeda. Mau naik becak juga dikatakan di sini
nggak ada Bu Dokter yang naik becak. Mau latihan nyanyi juga dikatakan
kok begitu. Ya, sudah akhirnya diam saja di rumah nggak ada kegiatan,"
paparnya.
Rum menuturkan, ibunya, Oemi Salamah, termasuk sosok yang berandil besar
mendorongnya bernyanyi. "Tiap kali akan lomba ibu selalu membuatkan
intip (kerak nasi -- Red) yang direndam air matang lalu diembunkan dan
diminumkan pada saya," kenangnya. "Ibu tak keberatan saya menyanyi,
hanya melarang saya bersiul." Padahal, soal siul menyiul ini termasuk
kelebihan keluarga Rum sekarang ini. "Anak saya Ratna malah juara siul
yang diadakan Jayasuprana," kata perempuan yang juga berhobi memasak dan
menjahit ini.
Kenangan terhadap ayahnya, Soerahmad Padmorahardjo, tak banyak karena
telah meninggal sejak Rum berusia tujuh tahun. "Tapi, kemampuan saya
bernyanyi datang dari ayah yang pemain orkes dan pandai main biola. Ayah
tak pernah mendidik saya menyanyi," kenang Rum.
Berikut petikan wawancara dengan soprano Indonesia ini. Ia memaparkan
perjalanan karir dan harapannya akan perkembangan seriosa di Indonesia.
Mengapa Anda merasa perlu memperingati 40 tahun berkarir seriosa?
Saya kira jarang penyanyi seriosa yang sampai 40 tahun. Kalau ingin
memperingati ke-50 tahun kan saya nggak tahu soal umur saya. Jadi, kalau
sampai 40 tahun masih bisa menyanyi, masih bisa tampil itu saya sudah
sangat bersyukur. Dan ini saya tujukan juga untuk meningkatkan seriosa
Indonesia, mumpung masih ada. Mudah-mudahan dengan pijakan pertama ini
seriosa di Indonesia kian meningkat. Ini juga menjadi tanda buat saya,
dengan dibantu teman-teman lainnya, bisa meningkatkan seriosa kembali.
Selain itu juga menunjukkan bahwa seriosa Indonesia itu masih ada. Saya
berharap seriosa ini terus digali.
Apa target konser ini?
Bisa membentuk kelompok atau masyarakat seriosa Indonesia, dengan
mengumpulkan penonton, penikmat, pencipta dan penyanyi.
Termasuk kian memasyarakatkan seriosa di Indonesia?
Dengan mengadakan lomba, pagelaran-pagelaran kecil dari rumah ke rumah,
beberapa teman sudah mulai melakukannya. Sebetulnya juga ada
pertunjukan-pertunjukan kecil, tapi tidak terekspos.
Terutama yang membantu ya televisi itu. Tapi, televisi sekarang karena
soal budget dan sebagainya itu mungkin kurang berminat, apalagi televisi
swasta. Atau mungkin saja seriosa itu ... (Pranawengrum menirukan suara
kebanyakan penyanyi opera Barat), padahal lagu seriosa itu juga ada yang
riang, lincah.
Sebenarnya banyak lagu lain yang bisa diseriosakan, seperti lagu Melati
Putih yang juga dinyanyikan Tika Bisono, lantas saya bawakan dengan
seriosa. Juga lagu Aku Bermimpi karya Mas Guruh (Guruh Soekarnoputra).
Ini lagu anak-anak dan saya seriosakan, ternyata banyak orang yang suka
juga. Dengan teknik tertentu ternyata seriosa itu bisa diterima orang.
Dan lagu seriosa itu sebetulnya juga bukan hanya untuk orang tua saja,
tergantung lagu dan cara membawakannya.
Sayangnya, yang sering nyanyi di televisi itu bukan penyanyi seriosa
murni, mereka penyanyi yang menyanyikan lagu seriosa. Ya, merasa sayang,
ada kesempatan menyanyi seriosa di televisi tapi bukan penyanyi seriosa
sesungguhnya. Dengan begitu ya tak menarik ditonton.
Saya juga tak pernah memaksa anak-anak saya belajar seriosa. Ya mungkin
karena sering mendengarkan saya latihan di rumah dan menonton saya
tampil, dari situ mungkin mereka merasa menyanyi itu enak. Apalagi
ketika rumah saya masih di Pasar Minggu (Jakarta Selatan) saya juga
membuat kelompok seriosa mulai dari remaja hingga ibu-ibu. Sekarang
anak-anak itu yang menikmati.
Bagaimana kisahnya hingga Anda menekuni dunia seriosa?
Awal mulanya ketika SMA kelas 2 BOPKRI Yogyakarta. Di sekolah itu sering
diadakan kegiatan menyanyi. Suatu ketika kepala sekolah menegur, kamu
bisa nyanyi ya? Saya jawab, nggak pernah nyanyi Pak. Tapi, beliau
berkeyakinan saya bisa nyanyi dan disuruh mewakili sekolah untuk ikut
pekan kesenian pelajar. Saya dapat juara kedua.
Ketika akan lulus sekolah, lalu ikut pekan kesenian pelajar tingkat
nasional dan dapat juara kesatu. Mulai dari sinilah, tahun 1961, saya
mulai menekuni seriosa. Kalau nggak diminta kepala sekolah rasanya tak
mungkin. Memang dari kecil rasanya bisa nyanyi tapi kok nggak pernah
diikutkan lomba sama guru. Saya dulu pemalu banget.
Kenapa memilih seriosa?
Dulu zaman saya kecil yang ada cuma tiga macam lagu, yaitu hiburan,
keroncong dan seriosa. Saya merasa kayaknya seriosa itu pas di telinga.
Bagi saya yang masih SR (sekolah rakyat -- Red), waktu itu merasa ada
tantangan-tantangan untuk menyanyikan lagu yang sulit. Buat saya nyanyi
kayak gitu kok bagus, lagunya juga bagus meski susah. Bagaimana ya bisa
nyanyi kayak gitu. Itu jadi tantangan buat saya.
Ketika SMP saya kian suka saja sama seriosa. Saya senang saja, tapi tiap
kali ada lomba-lomba di sekolah, karena pemalu tak pernah ikut atau
disuruh ikut. Ikutnya cuma paduan suara sekolah saja. Jadi, sepertinya
saya masuk dunia seriosa ini dengan terpaksa karena disuruh ikut lomba
oleh kepala sekolah. Lama-lama karena dapat juara timbul keyakinan
mungkin saya bisa, cuma belum kulino (terbiasa -- Red).
Siapa yang mengarahkan Anda memilih jalur seriosa?
Nggak ada. Ini krentek ati (panggilan hati -- Red). Lagu-lagu seriosa
itu bagus-bagus dan mengena di hati buat saya. Dan nggak gampang
menyanyikannya. Saya merasa saya pas di seriosa ini. Saya cocok saja di
seriosa ini. Karena kalau kita menyanyikan juga harus sesuai dengan
ekspresinya. Lagu yang sedih atau gembira itu kentara sekali ekspresinya
di seriosa itu.
Selama ini ada hal-hal yang menghambat karir Anda berseriosa?
Saya merasa tak ada kendala yang berarti selama berkarir seriosa ini.
Hanya saja karena saya ibu rumah tangga dengan sendirinya nggak bisa
hanya sepenuhnya khusus menyanyi, seperti bangun tidur langsung latihan,
ya nggak bisa. Jadi ibu rumah tangga ya ngurusin anak dulu, mereka mau
apa. Dan saya kira itu juga bukan hambatan yang berarti. Ya, saya pikir
semua orang juga mengurusi keluarganya.
Lalu apa yang membuat Anda tetap eksis hingga kini?
Ya, masih berlatih meskipun tak seperti waktu masih muda dulu. Karena
kesibukan juga dan sempat mendampingi suami kerja yang otomatis juga
ikut Dharma Wanita. Kebetulan saya jadi sekretaris, jadi menyita banyak
waktu. Mulai saat itu saya nggak ngajar lagi hingga keterusan sampai
sekarang.
Kebiasaan-kebiasaan lain untuk menjaga stamina suara?
Saya biasa jalan kaki dan orhiba (olah raga hidup baru).
Ada pantangan makanan?
Kalau untuk sehari-hari tak ada. Tapi, untuk menghadapi event besar ya
sedikit menahan untuk tak minum es dan goreng-gorengan.
Dibandingkan menyanyikan jenis lagu-lagu lain, menyanyi seriosa itu apa
memang berat?
Nnggak juga. Setiap musik itu punya jalurnya sendiri-sendiri. Nggak ada
yang ini lebih bagus dari yang lainnya, nggak ada itu. Cuma untuk
menyanyikan atau menguasainya orang harus punya keterampilan untuk itu.
Harus belajar juga, jangan hanya mengandalkan bakat alam saja. Bakat
alam mungkin memang bagus, tapi mesti diimbangi dengan belajar.
Saya memang tak pernah belajar di sekolah formal, tapi kursus
kemana-mana. Sejak menjadi juara Bintang Radio di Yogyakarta, guru dan
para ahli musik itu bukan menunggu kita datang pada mereka, tapi
beliau-beliau itu malah menyuruh saya untuk mau diajari. Beliau-beliau
itu, seperti Pak Suwandi, Suthasoma, Kusbini, N Simanungkalit dan Djanad
malah kepingin ngajari saya. Saya bersyukur sekali. Setelah saya pindah
ke Jakarta giliran dibina Pak Pranandjaya, Bu Sari Indrawati, Ronald
Pohan, Annette Frambach dan FX Sutopo.
Kenapa Anda hanya mengkhususkan menyanyi seriosa Indonesia saja?
Saya berangkat dari situ. Namun, saya juga tak melupakan lagu-lagu lain
dari Barat, seperti cuplikan-cuplikan lagu opera, dari oratorium. Hingga
saat ini saya belum pernah kehabisan stok lagu seriosa, termasuk seriosa
Indonesia. Malah ada beberapa yang masih ada di tempat orang-orang
tertentu, seperti komponis yang sengaja mencipta untuk hadiah seseorang.
Nah, lagu-lagu seperti ini yang belum tergali dan banyak yang kayak
begini.
Kebetulan jalur yang saya pilih khusus seriosa Indonesia, jadi banyak
stok lagunya. Ya, saling tukar menukar lagu dengan teman, dapat dari
komponisnya langsung. Kalau lagu seriosa Barat kan sudah banyak
dibukukan, tinggal cari bukunya saja. Kalau lagu seriosa Indonesia belum
ada yang dibukukan. Jadi, orang jadi sulit mendapatkannya. Kadang-kadang
saya menelepon langsung ke komponisnya, punya lagu ini nggak. Tapi,
sumber yang mengartikan lagu-lagu itu kayaknya belum ada. Makanya,
dengan saya mengadakan acara 40 tahun saya berseriosa ini saya ingin
membentuk masyarakat seriosa Indonesia. Keinginan yang sebetulnya tak
muluk ya. Jadi, untuk melestarikan seriosa Indonesia dan yang
sudah-sudah tetap dikenal oleh generasi mendatang.
Selain itu, juga untuk menghargai komponis-komponis. Saya ingin juga
mengajak generasi muda, pencipta lagu, penyanyi dan sebagainya bisa ikut
melanjutkan kelestarian seriosa Indonesia ini.
Jadi, stok lagu seriosa itu tak sedikit?
Wah, banyak. Mungkin selama ini orang hanya mendengar lagu yang itu-itu
saja seperti Melati Putih (karya Guruh Soekarnoputra -- Red), padahal
banyak sekali. Komponisnya juga banyak walau sebagian besar sudah
meninggal, seperti Pak Iskandar, Pak Syafei Embut, Pak Mochtar Embut.
Tapi, masih banyak juga yang masih hidup seperti Pak FX Sutopo, Mbak
Trisutji Kamal.
Apakah sedikitnya jumlah penyanyi seriosa mempengaruhi publikasi
lagu-lagunya?
Antara lain mungkin itu. Tapi, terutama karena media penyampainya yang
kurang banyak. Sekarang ini sepertinya RRI dan televisi tak pernah
menyiarkan lagu seriosa Indonesia. Saya lihat belakangan ini nggak ada.
Karena medianya kurang, komponisnya ya nggak mencipta lagi. Dan
kira-kira tiga sampai lima tahun terakhir ini tak ada pemilihan Bintang
Radio dan Televisi. Biasanya penyanyi seriosa kan munculnya dari
lomba-lomba seperti itu. Tapi, pengalaman sebagai juri, saya merasa
peserta kayaknya memilih kategori seriosa karena menganggap paling
sedikit saingannya. Bukan karena ia sudah belajar dan kepingin
betul-betul menguasai seriosa.
Menurut Anda, kenapa selama ini minat orang jadi penyanyi seriosa sangat
sedikit?
Orang biasanya menganggap menyanyi seriosa tak laku jual. Padahal nggak
juga ya. Karena terbukti dari kursus-kursus musik sekarang banyak juga
yang belajar menyanyi klasik. Seriosa itu kan sebutan di Indonesia,
kalau di luar negeri disebutnya ya musik klasik atau artsong. Dengan
adanya Masyarakat Seriosa Indonesia, maka diharapkan ada penonton,
penyanyi dan komponis yang bisa ikut bergabung. Mudah-mudahan seperti
tahun 1960-an dulu itu, seriosa sangat semarak.
Anda sudah meluncurkan album seriosa?
Dulu saya pernah bikin album, tahun 1980-an. Tapi, kata produsernya
tidak laku... he-he-he. Jadi, saya jual sendiri atau dibagi-bagikan
saja. Tapi, lucunya waktu lomba Bintang Radio dan Televisi tahun 1980-an
dan 1990-an ditemukan dalam tiap lomba-lomba itu ada lima kaset bajakan.
Ya, lucu kan, katanya nggak laku dijual tapi ada yang membajak. Tiap
lomba itu kan peserta rata-rata cuma 30 orang dan bisa ditemukan lima
kaset bajakan dari mereka. Katanya, mereka beli dari salah satu toko di
Kebayoran.
Sampai saat ini saya belum bikin album lagi, ya karena katanya nggak
laku itu. Jadi, kebanyakan kita nyanyi seriosa itu untuk diri sendiri
dan lingkungan tertentu. Rencananya, dalam konser ini sekalian mau jual
kaset tapi masih mau melihat respon dulu. Dengan melihat karcis yang
terjual habis, ternyata masih banyak yang berminat. Mungkin saya
memproduseri sendiri kaset itu. Soalnya produser lain rasanya nggak ada
yang berminat memproduseri lagu seriosa.
Bagaimana Anda menilai kader-kader seriosa sekarang ini?
Banyak yang berbakat apalagi mereka banyak yang memulainya dari
pendidikan musik yang betul. Karena untuk menyanyi yang benar itu belum
tentu kita bisa koreksi diri sendiri apalagi untuk pemula.
Musik klasik diyakini mampu mempengaruhi kecerdasan, apakah lagu-lagu
seriosa juga begitu?
Saya kira sama. Wong namanya lagu ya mesti ada pengaruhnya juga. Yang
jelas, karena ada kesulitan-kesulitannya, maka untuk menyanyikan seriosa
memerlukan keseriusan dalam berlatih dan menyanyikannya. Dalam lagu ada
tanda-tandanya, kita harus halus atau kencang. Kita harus belajar
mengekspresikan dengan pas. Saya sendiri sudah 40 tahun menyanyi seriosa
rasanya kok tetap masih kurang sempurna.
Selain bakat, apa yang dibutuhkan untuk menjadi penyanyi seriosa?
Ketekunan, dan rasanya tak mungkin penyanyi seriosa tak memiliki bakat
suara yang bagus. Karena, menyanyi seriosa itu tak bisa cuma
sepotong-potong terus berhenti. Ekspresi itu terus berjalan dalam satu
lagu. Apalagi kalau pentas tak mungkin kalau tak punya bakat suara
bagus. Untuk menyanyi seriosa yang bagus memang ada tahapannya, untuk
pemula juga ada tahapannya. Tuntutan lagu itu memerlukan pendalaman
emosi.
Selama ini hanya sedikit yang bisa menikmati seriosa, menurut Anda
kenapa?
Untuk mencerna lagu seriosa itu membutuhkan sesuatu kemampuan. Lain
halnya lagu pop yang lebih mudah dicerna. Ada lagu-lagu tertentu yang
bisa didengarkan semua orang, tapi ada lagu yang pada tingkatan tertentu
bukan konsumsi umum. Kalau seperti saya mendengarkan seseorang menyanyi,
itu sudah bisa menilai kira-kira dia sudah sampai tingkatan keberapa.
Dengan mengolah diri sendiri kita bisa merasa apakah nada ini pas atau
tidak untuk diperdengarkan.
Ada rencana buka sekolah seriosa?
Saya sudah tua. Biar generasi anak-anak saja yang masih terus mengajar.
Penyanyi seriosa yang muda-muda sekarang juga cukup baik. Animo
masyarakat juga sudah mulai banyak. Terbukti kalau ada pagelaran
orkestra penontonnya juga banyak. Saya sangat senang sekali seriosa
Indonesia mulai tumbuh lagi. Saya berharap pimpinan-pimpinan orkestra
ini sering mengajak penyanyi seriosa untuk tampil bersama mereka. Dan
bukan hanya mengajak Aning dan Binu (keduanya penyanyi seriosa), tapi
masih banyak yang lainnya.
Ya, memang nggak gampang menyanyi dengan orkes itu. Banyak para bintang
radio itu menyanyi bagus saat diiringi piano, tapi begitu diiringi
orkestra keteteran. Semestinya penyanyi itu yang memimpin dirigen untuk
menyanyi, tapi kebalikannya yang terjadi, justru penyanyi itu dituntun
dirigen sebab tak tahu dimana mau masuknya.
Menjadi penyanyi seriosa itu bisa memberi kehidupan yang memadai?
Sekarang ya. Buktinya anak saya bisa nyanyi terus. Ya, Aning (Aning
Katamsi, putri Pranawengrum -- red), begitu juga Binu D Sukaman. Semua
itu asal ditekuni pasti bisa. Ya, cukup memadai kalau saya lihat
kenyataannya anak saya bisa begitu.
Sekarang situasinya lebih terbuka karena ada orkes ini, orkes itu.
Mereka mengajak penyanyi yang menyanyi seriosa, seperti lagu-lagu opera
dari luar. Binu mengisi soundtrack sinetron. Saya dulu juga pernah
bersama Idris Sardi dan Sudarnoto juga sempat mengisi film-film layar
lebar. Grup kita ini juga mengisi suara Beruang Madu di Ancol sebelum
tempat itu terbakar, meski orang nggak tahu siapa yang menyanyi itu.
Saya kira penyanyi seriosa itu tetap terpakai. ()
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|