| |
C © updated 11062004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) XII
Nama Kecil:
Raden Mas Gusti Suryo Guritno
Gelar:
Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Paku Buwono Senopati Ing Ngalago
Abdurahman Sayidinan Panatagama XII, disingkat Paku Buwono (PB XII).
Lahir:
Surakarta, 14 April 1925
Wafat
Surakarta, 11 Juni 2004
Ayah:
Paku Buwono XI
Ibu:
Gusti Kanjeng Ratu Pabu Buwono, putri Kanjeng Pangeran
Puspodiningrat Paku Buwono IX
Garwa Ampil (Selir):
5 orang
Anak:
37 orang
Pendidikan:
= ELS (Europeesche Lagere School) di Pasar Legi, Solo
= Hogere Burger School (HBS) Bandung
Jabatan:
Raja Keraton Kasunanan Surakarta (12 Juli 1945-11 Juni 2004)
Penghargaan:
= Pangkat militer kehormatan (tituler) Letnan Jendral
= Bintang Gerilya
= Medali penghargaan dari Dewan Harian Angkatan 1945 pada 28 Oktober 1995 |
|
| |
 |
|
|
|
Paku Buwono XII (1925-2004)
Sinuhun Hamardika Wafat
Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) XII, meninggal dunia Jumat 11 Juni 2004
pukul 08.15 WIB di Rumah Sakit Dr Oen. Raja Keraton Kasunanan Surakarta
yang sebelumnya bernama Raden Mas Gusti Suryo Guritno dinobatkan menjadi
raja tanggal 12 Juli 1945, pada usia 20 tahun, dengan gelar Sampeyan
Dalem Ingkang Sinuhun Paku Buwono Senopati Ing Ngalago Abdurahman
Sayidinan Panatagama XII, kemudian disingkat Paku Buwono (PB XII). Ia
raja terlama dalam Dinasti Mataram.
Sinuhun, panggilan akrab PB XII, beberapa hari terakhir mengalami koma
dan menjalani perawatan intensif di ruang gawat darurat di rumah sakit
itu, sejak Senin (7/6/2004). Sejumlah tenaga medis dari Jakarta termasuk
dari RS Pertamina sebelumnya didatangkan untuk ikut menangani sakit yang
diderita Sinuhun. Menurut pihak keluarga kondisi kesehatan raja
terganggu akibat kelelahan setelah menjalani sejumlah aktivitas.
Sekretaris pribadi Paku Buwono XII, Sulistyo Wibowo mengatakan, Sinuhun
akan dimakamkan di kompleks pemakaman raja-raja Mataram, di Imogiri, DI
Yogyakarta, Senin 21 Juni 2004. Sinuhun meninggal pada usia 79 tahun.
Putra bungsu Paku Buwono XI dengan permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Pabu
Buwono, putri Kanjeng Pangeran Puspodiningrat Paku Buwono IX, ini
dilahirkan 14 April 1925.
Sepanjang kekuasaan Dinasti Mataram, PB XII adalah raja yang paling lama
memerintah (12 Juli 1945-11 Juni 2004). Sejak dinobatkan menjadi Raja
Kraton Kasunanan Surakarta sampai wafat tidak mengangkat permaisuri dan
hanya memiliki garwa ampil (selir) dengan 37 orang anak.
PB XII adalah raja di kerajaan penerus Dinasti Mataram, yang terpecah
menjadi dua, yakni Keraton Kasunanan Surakarta, dan Kasultanan
Yogyakarta, selepas Perjanjian Giyanti. Dalam beberapa waktu terakhir
ini, praktis tidak ada aktivitas berat yang dilakukan Sinuhun, termasuk
pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh politik seperti yang sebelumnya
biasa dilakukannya.
PB XII di masa kecilnya masuk sekolah ELS (Europeesche Lagere School) di
Pasar Legi, Solo. Di sekolah yang sama ini pula beberapa pamannya, putra
Sinuhun Paku Buwono X yang sebaya dengannya menempuh pendidikan. PB XII
termasuk murid yang mudah bergaul dan hubungannya dengan teman-teman
berlangsung akrab dan di sekolah pun bergaul tanpa memandang status
sosial yang disandangnya.
Mulai tahun 1938 PB XII terpaksa berhenti sekolah agak lama, sekitar
lima bulan, karena harus mengikuti ayahandanya yang memperoleh mandat
mewakili Sinuhun Paku Buwono X pergi ke Belanda menghadiri undangan
perayaan peringatan 40 tahun kenaikan Tahta Ratu Wilhelmina.
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Hogere Burger School (HBS)
Bandung bersama beberapa pamannya. Baru dua setengah tahun ia belajar,
pecah perang Asia Timur Raya, dan waktu itu bala tentara Jepang menang
melawan sekutu dan Indonesia pun jatuh ke tangan Jepang.
Paku Buwono XI memintanya pulang dari Bandung ke Solo. PB XII pun
menurut, tak mau membantah perintah dari ayahandanya tersebut. Ternyata,
sesaat berada kembali di Kraton Kasunanan Surakarta, ia harus menerima
kenyataan menyedihkan lantaran pada Sabtu, 1 Juni 1945, ayahandanya --Paku
Buwono XI-- wafat.
Kemudian, ia dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahandanya pada 12
Juli 1945. Lalu, hanya sebulan setelah naik tahta, Republik Indonesia
diproklamasikan kemerdekaannya oleh Soekarno-Hatta. Oleh karena itu,
Paku Buwono XII disebut pula sebagai Sinuhun Hamardika yang artinya raja
di zaman kemerdekaan.
Selama revolusi fisik PB XII memperoleh pangkat militer kehormatan (tituler)
Letnan Jendral dari Presiden Soekarno. Kedudukannya itu menjadikan ia
sering diajak mendampingi Presiden Soekarno meninjau ke beberapa medan
pertempuran terutama saat pecah agresi Belanda ke dua.
Dalam rangka mendukung perjuangan bersenjata merebut kemerdekaan
tersebut, Kraton Solo dan Yogyakarta banyak berperan dalam membantu
memasok logistik maupun menyumbang berbagai perlengkapan lain, seperti
mobil, persenjataan serta dana.
Atas perannya tersebut, PB XII memperoleh Bintang Gerilya dan piagam
sekaligus medali penghargaan dari Dewan Harian Angkatan 1945 pada 28
Oktober 1995 di Kraton Surakarta.
RM Yuli Sulistio Wibowo, Sekretaris Pribadi PB XII menuturkan bahwa
semasa hidupnya PB XII melebur Kraton Solo menjadi Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) dan tetap konsisten perhatiannya terhadap
rakyat.
► tsl-sp-ant
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|