|
|
 |
Nama:
Paulus Indra
Lahir
Bengkulu, 14 Oktober 1944
Isteri
Lucy Iskandar
Anak
Mario Fajar (32), Marco Hari (29), dan Maria Dini (27).
Pekerjaan.
CEO Puri Intirasa
Perusahaan
Kafe dan restoran Tator Coffee Boutique, Kafe Patio, Kafe Mario,
Dermaga Foodcourt, Restoran Waroeng Pojok, dan Marios Place. |
|
Paulus Indra
Mengelola Kafe karena Hobi
Di lingkungan industri pariwisata, Paulus Indra bukanlah orang baru. Ia
adalah pendiri perusahaan biro perjalanan Puri Tour. Karena perusahaannya
aktif bergerak di lingkungan industri pariwisata, ia kerap kali menjamu
turis-turis yang datang ke Indonesia dengan membawa mereka antara lain ke
restoran-restoran yang terbaik. Bisnis pariwisata itu selalu berhubungan
dengan semua yang serba ‘wah’ atau glamour. Semua turis ingin menginap di
hotel yang terbaik, ingin makan makanan yang terenak, restorannya juga
harus yang terbagus. Suatu ketika, timbul dipikirannya, kenapa tidak
membuat restoran?
Untuk membuat suatu restoran yang bagus, CEO Puri Intirasa ini tidak mau
coba-coba atau tanggung-tanggung. Harus total. Karena restoran atau Kafe
adalah bisnis baru buatnya, ia harus belajar lagi dari bawah.
”Saya harus mempersiapkannya sebaik mungkin. Saya tidak mau cuma buka
sebentar lalu tutup. Saya mau restoran atau kafe yang saya buka bisa maju,”
katanya bersemangat. Ia pun mulai berpikir restoran apa kiranya yang akan
mereka buka? Akhirnya, setelah lama menimbang-nimbang, Indra dan istrinya
memilih Nasi Uduk sebagai menu utama yang akan mereka jual di restoran
bakal dibuka. Lokasi yang dipilih, adalah dilingkungan perumahan Puri
Kembangan, Jakarta Barat. Pada 1982, Restoran yang diberi nama Farini pun
berdiri. Nama ini diambil dari nama ketiga anaknya Mario Fajar (32), Marco
Hari (29), dan Maria Dini (27).
Indra dan Lucy Iskandar, sang istri pun sibuk melakukan survey harga-harga
di pasar. ”Bagi saya ini adalah hal yang baru, tapi saya senang
melakukannya,” kata Indra sambil mengenang saat pertama kali ia membuka
usaha restoran. Ia dan istrinya harus bangun pagi-pagi guna berbelanja
berbagai kebutuhan di pasar. Istrinya boleh dibilang chef utama yang
mengawasi sendiri bagaimana nasi uduk dimasak. Selain itu mereka pun aktif
dalam melayani tamu-tamu yang datang.
Agar restorannya diketahui oleh khalayak ramai, sebelum dibuka, Indra
setiap hari menugaskan orang memasang spanduk yang berisi pengumuman
misalnya, tujuh hari lagi Restoran Farini dengan menu nasi uduk akan
dibuka, enam hari lagi akan dibuka, lima hari lagi akan dibuka, dan
seterusnya.
Karena publikasinya begitu gencar ditambah lagi makanannya yang lezat,
setiap hari terjadi antrian panjang tamu-tamu yang ingin mencoba nasi uduk
Farini. Bahkan ketika itu jalanan di sekitarnya sampai macet karena
banyaknya mobil yang parkir di depan restorannya. Omzet penjualan nasi
uduknya sebesar Rp 2,5 juta per hari dengan menghabiskan sekitar 17 hingga
18 dandang. Pada saat itu omzet tersebut sudah cukup besar.
Setelah tiga tahun mencoba dengan restoran nasi uduk, Indra pun mendapat
semangat baru dan berani untuk melangkah lebih jauh lagi. Ia pun
memutuskan hadir di Denpasar, Bali.
”Kali ini pilihan menu saya adalah seafood. Target pasar saya adalah
turis-turis asing yang berkunjung ke Bali,” kata Indra. Saat ini ia
memiliki tiga restoran sea food di Bali. Restoran yang pertama Mini
Seafood Legian, di Legian. Kedua, Kuta Seafood, dan yang ketiga Bali
Seafood juga di Kuta.
Survey Sampai ke Wina
Setelah membuka kegiatan di Bali, saya terpikir, kenapa tidak membuka
usaha di Jakarta? Pertengahan 90-an, pendapatan perkapita penduduk Jakarta
cukup tinggi, sekitar USD 10.000 per tahun. Selain itu banyak eksekutif
muda yang sudah sering bepergian ke luar negeri. Banyak di antaranya
lulusan luar negeri. Mereka ini memiliki gaya hidup yang berbeda. Tercetus
gagasan dalam benak Indra untuk membuka sebuah kafe untuk kelas ini di
Jakarta.
”Saya pun mengirim surat ke beberapa kedutaan asing yang terkenal dengan
kafe-nya. Tapi Austria yang lebih cepat membalas surat saya,” kenang Indra
yang dikenal sangat serius dengan setiap bisnis yang dilakukannya.
Membuka kafe yang benar-benar menjadi favorit pengunjung, lagi-lagi Indra
tidak mau coba-coba. Ia pun memutuskan untuk berangkat ke Austria. Ia
membawa timnya berangkat ke Wina untuk melakukan survey. ”Kami bangun pagi
langsung menuju ke kafe, kami pindah dari satu kafe ke kafe lain hingga
malam hari. Berhari-hari kami mencoba mempelajari gaya hidup kafe-kafe di
Wina, akhirnya kami pun mantap.” Kata Indra yang ingin tahu apa sih kafe
itu? Menurut Indra, ia dan timnya singgah di sekitar 60 kafe, di Wina
Austria.
Namun demikian Indra dan timnya masih dua kali lagi datang ke Wina,
Austria untuk memantapkan rencananya. Akhirnya pada 1997 Kafe Wien pun
dibuka di Plaza Senayan. Di sini, para tamu yang datang selain dijamu
dengan berbagai menu yang lezat, mereka pun dihibur dengan iringan musik
klasik. Jadilah Kafe Wien sebagai kafe paling esklusif di Jakarta.
Membedakan Kafe dengan Restoran
Kita pernah bertanya kepada Indra apa sebenarnya perbedaan antara kafe
dengan Restoran? Tiga kali bolak-balik Jakarta-Wina, membuat Indra menjadi
ahli dalam hal kafe. ”Kalau Restoran kan biasanya buka pukul 11.00 sampai
15.00. Lalu tutup dan mulai buka lagi pukul 18.00 sampai dengan pukul
21.00 untuk makan malam. Sedangkan kafe bukanya dari pagi sampai malam.
Kalau tadinya kafe hanya menyediakan menu coffee dan pastri serta
sandwich, kini kafe mulai menawarkan makanan seperti steak dan lainnya.
”cerita Indra. Kafe sebenarnya tempat diskusi tokoh-tokoh politik,
budayawan, bisnismen, dan masing-masih tokoh memiliki kafe langganan
tersendiri di mana mereka biasa menghabiskan waktu senggangnya.
Di kafe umumnya orang lebih santai dan tidak terlalu formal. Gaya
menyantap makanan di kafe dibuat semudah mungkin dan tidak mengotori
tangan. Sajiannya cepat dan lengkap. Waktu buka kafe lebih panjang
dibandingkan restoran.
Marios Place
Setelah sukses dengan Kafe Wien, Indra kemudian membuka lagi berbagai kafe
dan restoran.sebuah. Dari deretan kafe dan restoran yang sudah dibukanya
antara lain Tator Coffee Boutique, Kafe Patio, Kafe Mario, Dermaga
Foodcourt, Restoran Waroeng Pojok, dan Marios Place.
Semua kafe dan resto yang didirikan Indra memiliki keunikan masing-masing.
Marios Place misalnya didesign untuk segala usia. Untuk anak muda oke,
eksekutif oke, orang tua juga oke. Untuk memadukan berbagai keinginan ini,
Indra menugaskan Asep R. Mulyadi, Manager Kafe Marios Place untuk menyusun
berbagai program acara yang bisa mengakomodasi berbagai kelompok usia ini.
Ada acara musik hidup setiap malam, antara lain Jazz Night, ada Cowboy
Night, Latino Night, Top 40, dan masih banyak lagi program menarik lainnya.
Oleh karena itu wajarlah kalau Marios Place sudah menjadi tempat favorit
di kawasan Menteng kendati usianya satu tahun pada Juni yang akan datang.
Tak terasa, sudah 17 kafe dan resto yang didirikan Indra sejak lima tahun
terakhir ini dengan jumlah pegawai sekitar 700 orang. Dari data yang
tercatat, setiap bulannya sekitar 250.000 tamu datang dan menikmati
makanan dan minuman di seluruh restorannya yang tersebar di Jakarta dan
Bali.
”Saya berencana, membuka 13 restoran lagi dalam dua tahun mendatang,
sehingga jumlahnya menjadi 30.” Kata Indra yang berkeinginan perusahaannya
tercatat di Bursa Efek Jakarta.
”Tapi saya tetap akan berkonsentrasi di Jakarta,” tambahnya. Indra ingin
santai dan tidak mau lagi repot mondar-mandir ke kota lain kecuali
beberapa outlet yang akan segera dibuka di Makassar dengan sistim waralaba.
Kalau dengan sistem waralaba, Indra setuju untuk membuka di kota-kota
lain. Resep agar restoran dan kafenya sukses adalah ia harus hadir di
semua restorannya sesering mungkin. Ia harus selalu menjaga kualitasnya.
Dari semua kafe yang telah ia dirikan, Kafe Tatorlah yang menjadi tempat
favoritnya. Di sini ia bisa menikmati suasana kafe dengan suguhan kopi
Arabica asli Tanah Toraja. ”Racikan kopi di kafe ini adalah racikan
sendiri yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.” Kata Indra berpromosi.
Kini, Indra sibuk mengelilingi kafe satu ke kafe lainnya. ”Ini pekerjaan
saya. Melihat-lihat suasana, mencoba makanan atau minuman. Kelihatannya
santai tapi serius,” kata lelaki yang lahir di Bengkulu, 14 Oktober 1944.
Yang pasti, menurut Indra, ada lima hal penting yang harus ada di setiap
kafe dan restorannya. Pertama makanan yang terbaik dengan rasa yang enak,
kedua tempat yang menyenangkan dengan dekorasi yang nyaman, kebersihan
yang selalu terjaga, hiburan yang bagus, dan servis yang terbaik.
Kalau semuanya tersedia sudah pasti kafe dan restoran akan diserbu
konsumen.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), sumber SH-Audrey G. Tangkudung
|
|