| |
C © updated
02092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Mayor Jenderal Anumerta Donald Isac Panjaitan
Lahir:
Balige, Tapanuli, 9 Juni 1925
Meninggal:
Jakarta, 1 Oktober 1965
Dimakamkan:
Taman Makam Pahlawan Kalibata
Agama:
Kristen
Pendidikan Formal:
- Sekolah Dasar
- Sekolah Menengah Pertama
- Sekolah Menengah Atas
Pendidkan Militer:
Latihan Gyugun
Pendidikan Lain:
- Kursus Militer Atase (Milat), tahun 1956
- Associated Command and General Staff College, di
Amerika Serikat
Karier Militer:
- Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat
(Men/Pangad), tahun 1962
- Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat
- Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T)
II/Sriwijaya di Palembang
- Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I
Bukit Barisan di Medan
- Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat
Republik Indonesia (PDRI).
- Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara
Sumatera
- Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di
Bukittinggi, tahun 1948
- Komandan Batalyon Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
- Anggota Gyugun Pekanbaru, Riau
Prestasi:
- Salah seorang pembentuk Tentara Keamanan Rakyat
(TKR)
- Membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik
Rakyat Cina (RRC) untuk PKI
Tanda Kehormatan:
Pahlawan Revolusi
|
|
| |
|
|
|
|
Mayor Jenderal Anumerta D.I. Panjaitan
(1925-1965)
Pembongkar Konspirasi PKI - RRC
Keberhasilan Mayor Jenderal Anumerta D.I.
Panjaitan membongkar rahasia kiriman senjata dari Republik Rakyat Cina
(RRC) untuk Partai Komunis Indonesia (PKI) serta penolakannya terhadap
rencana PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri atas buruh dan
tani, membuat dirinya masuk daftar salah satu perwira Angkatan Darat
yang dimusuhi oleh PKI. Kebencian PKI itu kemudian berujung pada aksi
penculikan serta pembunuhan dirinya saat pemberontakan Gerakan 30
September 1965.
Pria kelahiran Balige, Tapanuli yang bernama
lengkap Donald Isac Panjaitan, ini masuk militer pada jaman pendudukan
Jepang. Setelah lebih dulu mengikuti latihan Gyugun, ia selanjutnya
ditugaskan di Gyugun Pekanbaru, Riau. Setelah kemerdekaan RI, ia
merupakan salah seorang pembentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Di TKR, ia mengawali kariernya sebagai komandan batalyon, selanjutnya
ia sering berpidah tugas. Setelah Indonesia memperoleh pengakuan
kedaulatan, ia diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara & Teritorial
(T&T) I/Bukit Barisan di Medan. Ia juga pernah bertugas sebagai Atase
Militer di Bonn, Jerman. Terakhir ia bertugas sebagai Asisten IV
Menteri/ Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) ketika peristiwa sadis itu
menimpa dirinya.
Panjaitan lahir di Balige, Tapanuli, 9 Juni 1925. Pendidikan formal
diawali dari Sekolah Dasar, kemudian masuk Sekolah Menengah Pertama, dan
terakhir di Sekolah Menengah Atas. Ketika ia tamat Sekolah Menengah
Atas, Indonesia sedang dalam pendudukan Jepang. Sehingga ketika masuk
menjadi anggota militer ia harus mengikuti latihan Gyugun. Selesai
latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga
Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia
bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang
kemudian menjadi TNI. Di TKR, ia pertama kali ditugaskan menjadi
komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi
IX/Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948. Seterusnya menjadi Kepala
Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera. Dan ketika Pasukan
Belanda melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi
Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia
(PDRI).
Seiring dengan berakhirnya Agresi Militer Belanda
ke II, Indonesia pun memperoleh pengakuan kedaulatan. Panjaitan sendiri
kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium
(T&T) I Bukit Barisan di Medan. Selanjutnya dipindahkan lagi ke
Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/Sriwijaya.
Setelah mengikuti kursus Militer Atase (Milat)
tahun 1956, ia ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman
Barat. Ketika masa tugasnya telah berakhir sebagai Atase Militer, ia pun
pulang ke Indonesia. Namun tidak lama setelah itu yakni pada tahun 1962,
perwira yang pernah menimba ilmu pada Associated Command and General
Staff College, Amerika Serikat ini, ditunjuk menjadi Asisten IV
Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Jabatan inilah terakhir
yang diembannya saat peristiwa G 30/S PKI terjadi.
Ketika menjabat Asisten IV Men/Pangad, ia mencatat
prestasi tersendiri atas keberhasilannya membongkar rahasia pengiriman
senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk PKI. Dari situ diketahui
bahwa senjata-senjata tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti bahan
bangunan yang akan dipakai dalam pembangunan gedung Conefo (Conference
of the New Emerging Forces). Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang
sedang giatnya mengadakan persiapan melancarkan pemberontakan.
Penganut Kristen ini, terkenal sangat taat
beragama. Karenanya, dia juga salah satu perwira di jajaran TNI AD yang
tidak menyukai PKI sekaligus yang menolak pembentukan Angkatan Kelima
yang terdiri atas buruh dan tani sesuai rencana PKI. Dan karena itulah
dirinya dimusuhi dan dibunuh oleh PKI.
Dengan bertameng alasan dipanggil oleh Panglima
Tertinggi Presiden Soekarno, tujuh perwira tinggi TNI AD, pada malam 30
September atau pagi dinihari tanggal 1 Oktober 1965 hendak diculik oleh
sekelompok berpakaian Pengawal Presiden yang kemudian diketahui adalah
pasukan PKI. Enam perwira tinggi itu berhasil diculik, namun Jenderal
A.H. Nasution berhasil lolos tapi puteri dan ajudannya menjadi korban
peristiwa itu.
Mayjen Anumerta D.I. Panjaitan yang malam dinihari
itu merasa heran akan pemanggilan mendadak itu. Namun karena
loyalitasnya pada pimpinan tertinggi militer, Presiden Soekarno, ia pun
berangkat namun terlebih dahulu berpakaian resmi. Namun firasatnya yang
tajam sepertinya merasakan bahaya yang sedang terjadi. Sebelum memasuki
mobilnya, dengan berdiri di samping mobil ia lebih dulu memohon doa
kepada Tuhan. Namun belum selesai menutup doanya, pasukan PKI sudah
memberondongnya dengan peluru.
Ia bersama enam perwira lainnya, lima diantaranya
perwira tinggi yakni: Jend. TNI Anumerta Achmad Yani; Letjen. TNI
Anumerta Suprapto; Letjen.TNI Anumerta S Parman; Letjen. TNI Anumerta
M.T. Haryono; Mayjen. TNI Anumerta Sutoyo S; dan satu perwira pertama,
ajudan Jenderal Nasution yakni Kapten CZI TNI Anumerta Pierre Tendean
pada malam itu gugur sebagai bunga bangsa demi mempertahankan ideologi
Pancasila.
Pencarian yang dilakukan di bawah pimpinan Soeharto
(Mantan Presiden RI yang waktu itu menjabat sebagai Pangkostrad),
ditemukanlah jenazah Panjaitan di Lubang Buaya, terkubur massal di dalam
satu sumur tua yang tidak dipakai lagi bersama enam perwira lainnya. Ia
gugur sebagai Pahlawan Revolusi, kemudian dimakamkan di Taman Makan
Pahlawan Kalibata. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, pangkatnya
yang sebelumnya masih Brigadir Jenderal kemudian dinaikkan satu tingkat
menjadi Mayor Jenderal.
Kini di Lubang Buaya, Jakarta Timur di depan sumur
tua tempat jenazah ditemukan, berdiri Tugu Kesaktian Pancasila sebagai
tugu peringatan atas peristiwa itu. Dan pada era pemerintahan Soeharto
ditetapkanlah tanggal 1 Oktober setiap tahunnya sebagai hari Kesaktian
Pancasila sekaligus sebagai hari libur nasional. ► juka-atur
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|