| |
C © updated 01042008-14032006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Prof Dr Otto Soemarwoto
Lahir:
Purwokerto, Jawa Tengah, 19 Februari 1926Meninggal:
Bandung, 1 April 2008
Jabatan Terakhir:
Guru Besar Emeritus Unpad, Bandung
Agama:
Islam
Isteri:
Idjah Natadipraja MA
Anak:
- Gatot Soemarwoto
- Rini Soemarwoto
- Banbang Soemarwoto
Pendidikan:
- SD, Temanggung (1941)
- MULO, Yogyakarta (1944)
- Sekolah Tinggi Pelayaran, Cilacap (1944)
- SMA, Yogyakarta (1947)
- Fakultas Pertanian UGM (1954)
- Doktor dalam Plant Physiology, Universitas California, Berkeley, AS,
Disertasi: "The Relation of High Energy Phospate to Ion Absorption by
Excised Barley Roots," (1960)
Karir:
- Mualim Kapal Kayu (1944-1945)
- TRIP (1948-1949)
- Asisten Botani Fakultas Pertanian UGM (1952)
- Asisten Ahli FP UGM (1955)
- Guru Besar Ilmu Bercocok Tanam, Fakultas Pertanian & Kehutanan UGM
(sejak 1960)
- Direktur Lembaga Biologi Nasional di Bogor (1964-1972)
- Direktur SEAMEO (South East Asia Ministers of Education Organization)
dan Biotrop Bogor (1968-1972)
- Guru Besar Tata Guna Biologi Unpad (sejak 1972)
- Direktur Lembaga Ekologi Unpad (1972)
- Guru Besar Tamu di Universitas California, Berkeley, AS (1980)
- Guru besar emeritus Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung
Kegiatan Lain:
- Anggota Board of Directors, International Institute for
Environment and -Development, New York dan London (1971-1978)
- Anggota Executive Board, International Union for Conservation of
Nature and Natural Resources, Swiss (1972-1976)
- Anggota Dewan Redaksi Journal of Environmental Conservation Zurich,
Swiss
- Anggota Dewan Redaksi Journal of Agriculture and Environment, Den
Haag, Nederland (1974)
- Anggota Commission on Ecology, Swiss (1980)
Buku/Karya Tulis:
- The Alang-Alang Problem in Indonesia, paper, the Tenth Pacific
Science Congress, Honolulu, AS, 1961
- Problems of High School Biology Teaching in Indonesia, Kadarsan
Sampoerno & O. Soemarwoto, IUCN Publications, 1968
- Ecological Aspects of Development, Elsevier Publishing Co., Amsterdam
- Prinsip Sistim Penafsiran Pengaruh Lingkungan, Bandung, Lembaga
Ekologi Unpad (1974)
- Environmental Education and Research in Indonesian Universities,
Singapore, Maruzen Asia
- Jaring-Jaring Kehidupan Mengenai Amdal, Indrapress, 1981
- Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Jakarta, Djambatan (1983)
- Indonesia dalam Kancah Isu Lingkungan Global, Jakarta, Gramedia
Pustaka Utama (1991)
- Atur Diri Sendiri: Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup,
Yogyakarta, UGM Press (2001)
Penghargaan:
- Bintang Mahaputra Utama (1981)
- Satyalencana Kelas I (1982)
- Order of the Golden Ark dari Negeri Belanda
- Doktor Honoris Causa Wagenin Agricultural University, Belanda (9 Maret
1993)
Alamat:
Jl. Cimandiri No. 16, Bandung
Telp. (022) 4206867- 4206895
Sumber:
Universitas Padjadjaran, PDAT dan Kompas 26 Februari 2006.
|
|
| |
|
|
|
|
| OTTO HOME |
|
|
 |
Prof Dr Otto Soemarwoto (1926-2008)
Guru Besar Pro Lingkungan & NKRI
Guru besar emeritus Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, ini seorang
tokoh yang pro lingkungan hidup dan
pro Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Doktor dalam Plant Physiology, Universitas California, Berkeley, AS,
kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 19 Februari 1926, ini meninggal dunia
dalam usia 82 tahun Selasa 1 April 2008 di Bandung.
Kendati dia sudah berusia 82 tahun kepergian pakar lingkungan hidup, ini
masih mengejutkan banyak pihak. Sebab selama ini ia dikenal sebagai
sosok yang bugar dan sehat. Menurut Gatot P Soemarwoto (50), putra
tertuanya, dia menderita lever kronis yang baru teridentifikasi tiga
bulan sebelum meninggal.
Otto meninggal di Rumah Sakit Santosa Internasional Bandung setelah
dirawat 10 hari. Dia meninggalkan istri, Ny Idjah Natadipradja (82),
serta tiga anak, Gatot P Soemarwoto (50), Rini Susetyawati (47), dan
Bambang Irawan (44). Jenazah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum
Sirnaraga, Bandung, Selasa 1 April 2008 pukul 11.30.
Sebelum dimakamkan, jenazahnya disemayamkan di rumahnya di Jalan
Cimandiri 16 Bandung. Sangat banyak pelayat, baik kerabat maupun
koleganya, mulai dari kalangan perguruan tinggi, aktivis lingkungan,
hingga pejabat pemerintah.
***
Guru besar emeritus Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, ini seorang
tokoh yang pro lingkungan hidup dan
pro Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Doktor dalam Plant Physiology, Universitas California, Berkeley, AS,
kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 19 Februari 1926, ini mengatakan
setiap proyek harus bertujuan untuk memperkuat NKRI dan lingkungan hidup.
Prof Dr Otto Soemarwoto yang
dikenal rendah hati dan sederhana, itu mengatakan selama ini banyak
kegiatan pembangunan yang mengabaikannya. Dia memberi contoh, pembangunan
transportasi yang lebih banyak diarahkan pada transportasi darat.
Padahal Indonesia adalah negara kelautan. Akibatnya, laut belum
menjadi penghubung, melainkan pemisah.
Menurut suami dari Idjah Natadipraja MA dan ayah dari Gatot Soemarwoto, Rini Soemarwoto
dan Bambang Soemarwoto, itu pembangunan juga masih bersifat Jawa-sentris sehingga
menimbulkan iri hati dan berujung kehendak untuk memisahkan diri.
Menurutnya, sekitar 80 persen pembangunan jalan tol ada di Pulau Jawa. "Ini jelas
tidak pro-NKRI,” tegas Otto Soemarwoto.
Dari sejak muda dia sudah punya komitmen tentang pelestarian lingkungan
hidup dan memperkuat NKRI. Pria yang masih tampak bugar pada usia
delapan puluhan tahun ini menjalani hidup apa adanya bagaikan air
mengalir. Dia hidup bersahaja. Terlihat antara lain dari kegemarannya
mengendaeai sepeda ontel pada masa dia mengajar di Unpad dulu. Dia
mengayuh sepeda dari Jalan Cimandiri menuju Kampus Unpad di Jalan Dipati Ukur,
Bandung, dan begitu sebaliknya.
Kebiasaan naik sepeda itu sudah dilakoninya sejak kuliah di Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. ”Dulu naik sepeda dari Blunyah
hingga Mangkubumen, ya sekitar lima kilometerlah. Tapi dulu kan sambil
pacaran, jadi asyik aja ha-ha,” ujar Otto mengenang masa lalunya,
sebagaimana ditulis Kompas 26 Februari 2006.
Sekarang, ia tidak berani lagi menyusuri jalanan Kota Bandung dengan
sepedanya. ”Saya sudah tua. Ngeri melihat lalu lintasnya,” kata Otto.
Meski dia masih membiasakan diri
berjalan kaki untuk jarak yang tidak terlalu jauh. Menurutnya, ”Itu salah satu upaya
untuk mengurangi polusi.”
****
Otto Soemarwoto menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat (Sekolah
Dasar) di Temanggung (1941) dan MULO di Yogyakarta (1944). Anak keenam dari 13 bersaudara pegawai
DPU zaman Belanda, yang bercita-cita jadi ahli pertanian, ini sempat
nyasar menjadi pelaut, hanya karena senang melihat kaapal. Dia memasuki Sekolah Tinggi Pelayaran
di Cilacap (1944). Lalu dia sempat menjadi Mualim Kapal Kayu (1944-1945).
Namun cita-citanya menjadi ahli pertanian tak pernah padam. Maka
selepas menamatkan SMA di Yogyakarta (1947), dia mendaftar di
Fakultas Pertanian Klaten. Namun, tiba-tiba, Belanda datang menyerbu, Otto
bergabung ke TRIP (1948-1949). Setelah situasi tenang, tahun 1949 dia kuliah di Fakultas
Pertanian UGM, dan lulus dengan cum laude (1954). Kemudian dia pun
sempat mengajar di
almamaternya. Sebelumnya, 1952, dia sudah menjadi Asisten Botani Fakultas Pertanian UGM.
Setelah lulus sebagai insinyur pertanian dari UGM, dia menjabat Asisten Ahli FP UGM (1955). Kemudian setelah meraih gelar Doktor filosofi tanaman (Plant Physiology)
dari Universitas California, Berkeley, AS dengan disertasi: "The Relation of High Energy Phospate to Ion Absorption by
Excised Barley Roots" (1960), dia pulang ke tanah
air, kembali ke UGM. Kala itu, dalam usia relatif muda, 34 tahun, dia
diangkat menjadi
guru besar (termuda) di UGM. Dia Guru Besar Ilmu Bercocok Tanam, Fakultas Pertanian & Kehutanan UGM
(sejak 1960).
Saat kuliah di Universitas California, Berkeley, AS,
itu pula, Otto
berkenalan dengan Idjah Natadipradja yang kemudian dinikahinya tahun
1956 dan dan dikaruniai tiga anak.
Perihal nama depannya, Otto, juga muncul ketika dia kuliah di Amerika.
Kala itu banyak orang bertanya mengapa dia hanya punya nama
keluarga, Soemarwoto. Akhirnya, daripada repot-repot menjelaskan
ditambahlah namanya menjadi Otto Soemarwoto.
Namun setelah pulang ke Bandung, dengan memakai nama Otto itu, banyak
orang menyangka dia orang Sunda. Walaupun bagi Otto, kesukuan adalah cerita lama.
Namun dia selalu merasa beruntung
beristerikan Idjah Natadipraja, puteri Sunda. Paduan Jawa-Sunda membuat meja makan nyaris
selalu lengkap dengan tahu tempe dan sayuran.
Setelah beberapa tahun mengajar di UGM, kemudian, Otto dipercaya menjadi Direktur Lembaga
Biologi Nasional (LBN) di Bogor (1964-1972). Di sini dia
mendalami biologi, terutama biologi molekuler -- bidang yang memerlukan
peralatan rumit dan mahal. Saat mendalami biologi ini, dia makin tertarik pada ekologi
lingkungan, kendati masih terbatas pada ekologi tumbuh-tumbuhan.
Pada saat bersamaan, dia juga menjabat Direktur SEAMEO (South East Asia Ministers of Education Organization)
dan Biotrop Bogor (1968-1972). Lalu, sejak 1972, dia aktif sebagai Guru Besar Tata Guna Biologi Unpad.
Selain itu, dia juga menjabat Direktur Lembaga Ekologi Unpad (1972).
Lembaga ini didirikannya sejak 23 September 1972 dengan berbagai
keterbatasannya, baik anggaran maupun tenaga. Semula, hanya dikelola
tiga orang, termasuk Idjah Natadipradja, isterinya sendiri. Peralatan
pun hanya pensil, kertas, dan mistar. Sampai akhirnya menjadi Lembaga
Ekologi yang patut dibanggakan oleh Unpad. Lembaga ini begitu
populer dengan banyaknya masalah yang
diolah, serta banyak cerita yang dipublikasikan.
Lembaga Ekologi Unpad ini kemudia berubah nama menjadi Pusat Penelitian Sumber
Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL). Otto juga menjabat sebagai kepala.
Dia mengabdi di lembaga penelitian itu lebih dari 20 tahun. Lembaga ini
bahkan sempat sebagai salah satu
pelaksanaan resolusi Konferensi Stockolm.
Sejak memimpin lembaga itu, Otto dikenal sebagai seorang ahli yang
sering melontarkan pernyataan kontroversial. Sampai-sampai dia diumpamakan sebagai
tokoh wayang, Bratasena. Salah satu contoh, ketika kemacetan kawasan Puncak,
Bogor, diributkan, dengan santainya ia mengatakan,"Biar saja Puncak
macet, tidak usah dibenahi. Lama-lama orang kan bosan ke sana."
Selain itu, pada 1993, diluar dugaan banyak temannya, Otto bergabung dengan Business
Council for Sustainable Development yang diketuai Bob Hasan, tokoh
bisnis yang dikenal kontroversial dan sangat dekat dengan penguasa Orde
Baru. Otto sadar bisa dituduh jual diri dengan menerima jabatan direktur
eksekutif di lembaga yang melibatkan Bob Hasan itu.
Tapi, Otto
punya alasan, bukanlah soal ekonomi. Saat itu, ia melihat ada usaha dari pengusaha ke
arah yang baik. Masalah lingkungan juga menciptakan bisnis baru, seperti
teknologi pengolahan limbah, teknologi pengurangan asap dan bau.
Pada 1980, Otto juga berkesempatan sebagai Guru Besar Tamu di Universitas California, Berkeley, AS.
Selain itu, Otto juga aktif sebagai anggota Board of Directors, International Institute for
Environment and Development, New York dan London (1971-1978). Juga anggota Executive Board, International Union for Conservation of
Nature and Natural Resources, Swiss (1972-1976) dan anggota Dewan Redaksi Journal of Environmental Conservation Zurich,
Swiss. Anggota Dewan Redaksi Journal of Agriculture and Environment, Den
Haag, Nederland (1974) dan anggota Commission on Ecology, Swiss (1980).
Ketika pensiun 1 Maret 1999, dengan jabatan terakhir Kepala Pusat Penelitian Sumber
Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL) Unpad, Otto mewariskan delapan
doktor dan sejumlah master. Dia digantikan oleh Dr Nani Djuangsih.
Saat pensiun itu, Otto menerima "hadiah mewah"
dari rekan-rekannya berupa seminar besar yang dihadiri 400 undangan.
Sampai-sampai Menteri Lingkungan Hidup kala itu, Emil Salim berujar: "Saya kagum dengan cara pensiun Pak Otto, yang dilengkapi seminar,
diberitakan di koran. Ini bukti bahwa Otto tidak sendirian dalam
mengembangkan karir dan ilmunya."
Kepakarannya tentang lingkungan tidak hanya diakui di dalam negeri,
tetapi juga di luar negeri. Tertbukti, 1993, Otto
memperoleh gelar doktor honoris causa dari Wageningen Agricultural
University, Belanda, karena dinilai berjasa mengembangkan konsep
pekarangan dan pemikiran tentang kaitan hutan dan lingkungan.
Kala itu,
Otto mengingatkan pemilik hutan tropik dan nontropik, bahwa penyusutan
hutan tropik hanya 0,5 juta kilometer persegi, sedangkan hutan nontropik
sudah menyusut 6,5 juta kilometer persegi.
Setelah pensiun, bukannya Otto berhenti dari aktivitas keilmuannya. Ia
terus
mengajar di Unpad, UI dan UGM, pembicara di berbagai seminar dan
diskusi. Bahkan pada perayaan ulang tahun kelahirannya yang ke-80, Otto
didaulat menyampaikan ceramah umum yang dihadiri sejumlah tokoh dan
sivitas akademika Universitas Padjajaran.
Bahkan setelah pensiun , Otto masih saja rajin membaca dan menulis.
Karya tulisnya yang terakhir adalah Atur Diri Sendiri: Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup,
Yogyakarta, UGM Press (2001).
Sebelumnya, dia telah meluncurkan berbagai buku dan karya tulis, di
antaranya: The Alang-Alang Problem in Indonesia, paper, the Tenth Pacific
Science Congress, Honolulu, AS, 1961; Problems of High School Biology Teaching in Indonesia, Kadarsan
Sampoerno & O. Soemarwoto, IUCN Publications, 1968; Ecological Aspects of Development, Elsevier Publishing Co., Amsterdam; Prinsip Sistim Penafsiran Pengaruh Lingkungan, Bandung, Lembaga
Ekologi Unpad (1974); Environmental Education and Research in Indonesian Universities,
Singapore, Maruzen Asia; Jaring-Jaring Kehidupan Mengenai Amdal, Indrapress, 1981; Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Jakarta, Djambatan (1983);
dan Indonesia dalam Kancah Isu Lingkungan Global, Jakarta, Gramedia
Pustaka Utama (1991).
Atas berbagai pengabdiannya, Otto telah menerima Bintang
Mahaputra Utama (1981), Satyalencana Kelas I (1982), dan Order of the
Golden Ark dari Negeri Belanda.
HUT Ke-80
Dalam rangka HUT ke-80 Prof. (Em) Otto Soemarwoto, PhD, Unpad
mendaulatnya memberikan ceramah umum bertema: “Pembangunan Berkelanjutan : Antara Konsep
dan Realita” di Aula Unpad, Bandung , 20 Februari 2006 pkl. 10.00 WIB.
Undangan yang hadir, antara lain Ir. Rachmat Witoelar, Menteri Negara Lingkungan Hidup RI beserta
Ibu Erna Witoelar (Duta Besar Khusus PBB untuk Millenium Development
Goals/Kawasan Aisa Pasifik) dan para Deputi di Lingkungan Kementerian Negara Lingkungan Hidup.
Juga hadir Walikota Bandung dan Walikota Cimahi, para Pimpinan Universitas, Fakultas dan Lembaga Unpad,
para Anggota Dewan Penyantun dan para Guru Besar Unpad, serta para Pimpinan dan Peneliti Lembaga Ekologi/PPSDAL Unpad.
Rektor Unpad
Prof. H. A. Himendra Wargahadibrata, atas nama civitas akademika Unpad,
dalam pidato sambutannya mengatakan peringatan HUT yang diisi dengan ceramah umum bagi para tokoh yang
berjasa bagi pengembangan ilmu pengetahuan, merupakan apresiasi sebagai
penghormatan atas jasa/pengabdian para tokoh yang mudah-mudahan dapat
menjadi suri tauladan bagi kita semua.
Rektor Unpad mengatakan bahwa
Prof. Otto telah dikenal sebagai tokoh nasional dan internasional
dibidang lingkungan hidup. Banyak karya dan buah pemikiran Prof. Otto
yang telah disumbangkan baik untuk kepentingan Unpad maupun nasional. Di
Unpad, khususnya, beliau adalah perintis/pendiri Lembaga Ekologi Unpad
yang kini menjadi Pusat penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan
(PPSDAL) yaitu lembaga pertama di lingkungan pendidikan tinggi di
Indonesia yang memfokuskan diri pada isu-isu lingkungan hidup.
Prof. Otto merupakan tokoh yang melahirkan Pola Ilmiah Pokok Unpad yaitu
Bina Mulia Hukum dan Lingkungan Hidup. Hingga saat ini maupun masa yang
akan datang PIP Unpad dipandang masih relevan dalam mendorong kemajuan
Unpad dalam mendukung pembangunan nasional.
Bidang Ilmu Lingkungan Hidup harus terus dikembangkan dan dilanjutkan
oleh para penerusnya. Saya melihat, pendekatan Multidisclipinary
Sciences berbasis ilmu Lingkungan Hidup harus dikembangkan, seperti :
Komunikasi Lingkungan, Psikologi Lingkungan dan aspek keilmuan lainnya.
Salah satu yang menonjol serta telah menjadi isu internasional dalam
persoalan lingkungan hidup yang berhubungan dengan bidang ilmu lainnya
baik Ilmu Sosial maupun Ilmu-ilmu Eksakta adalah masalah Development of
Traditional & Indigenous Knowledge dan Education for Sustainable
Development. Permasalahan ini selayaknya terus diperhatikan secara
cermat untuk dikaji dan dikembangkan lebih dalam khususnya oleh Lembaga
Ekologi/PPSDAL Unpad.
Hal tersebut merupakan bagian penting dalam memenuhi tuntutan persoalan
yang terus berkembang di tengah-tengah masyarakat. Sebagai insan
akademik kita turut memberikan kontribusi bagi bangsa dan masyarakat
sesuai spirit dan nilai-nilai Tri Dharma Perguruan tinggi.
Ceramah Umum yang disampaikan oleh Prof. Otto, kata Himendra, merupakan
bukti bahwa diusianya yang telah lanjut, beliau tetap produktif dan
tetap mempunyai semangat tinggi untuk menyumbangkan pemikirannya bagi
kita semua.
Masalah Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) yang
diangkat pada Ceramah Umum ini merupakan tema yang sangat menarik untuk
dibahas, mengingat kompleksitas permasalahannya ditengah-tengah krisis
bangsa yang multidimensi. Pembangunan berkelanjutan harus dihadapi dan
disikapi secara arif dan bijaksana, konsisten, menjunjung tinggi aspek
hukum, sosial, dan kemanusiaan, serta melibatkan semua elemen
pembangunan secara holistik/integratif.
Diharapkan di masa yang akan datang, Unpad terus menunjukkan
eksistensinya di bidang lingkungan hidup. Saat ini, saya merasa bangga
telah lahir tokoh-tokoh muda Unpad yang konsisten dalam masalah
lingkungan hidup seperti : Oekan Abdullah, Eri Megantara, Chay Asdhak,
Tb, Benito A. Kurnani, Pampam Parikesit, dan Budi Gunawan. Saya yakin,
kelak akan semakin banyak lagi tokoh muda yang akan menjadi penerus
jejak Prof. Otto Soemarwoto.
Saya juga berharap, dimasa yang akan datang Unpad dapat terus
menunjukkan eksistensinya di bidang lingkungan hidup dengan
mengembangkan pendekatan Multidisciplinary Sciences, bahkan hal tersebut
dapat menjadi pionir lahirnya “Centre of Excellence” di Universitas
Padjadjaran.
Saya sangat menghormati sosok Prof. Otto, sebagai seorang akademisi yang
diharapkan dapat dijadikan suri tauladan khususnya bagi para staf
pengajar/peneliti. Sifat-sifat beliau yang tidak pernah takut untuk
selalu bekerja keras, belajar sepanjang hayat (Lifelong Learning),
Jujur, Konsisten, dan tetap sederhana (Low Profile) selayaknya menjadi
tauladan generasi muda Unpad.
►e-ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|