|
|
ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA |
|
| Search |
|
|||||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
C © updated 17092003 | ||||||||||||||||||||||||||||
|
|
![]() Nama: Otto Hasibuan, SH, MM Lahir: Pematang Siantar, 5 Mei 1955 Agama: Kristen Profesi: Advokat Jabatan: Ketua Umum DPP Ikadin Isteri: Normawati Damanik Anak: Putri Linardo Hasibuan (kuliah jurusan ekonomi di Curtin University, Australia) Lionie Petty Hasibuan (SMP) Natalia Octavia Hasibuan (SD) Yakub Putra Hasibuan (SD) Ayah: Hasibuan Ibu: Boru Siahaan Pendidikan: S1 Fakultas ukum UGM Comparative Law Course di University Technology of Sidney Kandidat Doktor di UGM Organisasi: Wakil Sekretaris Cabang Jakarta (1986) Ketua Cabang Jakarta Barat (1990) Wakil Sekjen DPP Ikadin (1995) Pejabat Sekjen DPP Ikadin dan Sekjen DPP (1992-2002) Ketua Umum DPP Ikadin periode 2003-2007 Kordinator KKAI Anggota International Bar Association (1985) Anggota Inter Pacific Bar Association. Alamat Kantor: |
Otto Hasibuan SH.MM (2) Kiat: Kepercayan dan KemampuanMengenai kiat keberhasilan, ia menjelaskan dengan lebih dulu berkisah tentang seorang mantan asisten pengacaranya, yang sekarang sudah sukses dan merayakakan ulang tahun. Si teman ini beberapa kali mengucapkan terimakasih karena merasa keberhasilannya tidak terlepas dari proses magangnya di kantor Otto. Saat itu, ia diminta untuk memberikan kata sambutan. Ia tidak panjang lebar. Ia mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang khusus mengenai itu. Tetapi banyak orang yang bertanya, kenapa dia ini berhasil? “Saya menjawab bahwa ia pantas berhasil, karena ia rajin, pintar dan sebagainya.” Tetapi orang lain bertanya lagi: “Kan banyak orang yang rajin dan pintar tetapi tidak berhasil?” Ia jawab, “Itulah kemuliaan Tuhan dan kemurahan Tuhan.” Dalam hal ini ia ingin menjelaskan kiat keberhasilannya sangat ditentukan oleh kemuliaan dan kemurahan Tuhan. Jadi, katanya, di luar itu ia tidak tahu secara pasti kiatnya di mana dan bagaimana untuk berhasil dan sukses. Walaupun ia lebih lanjut menjelaskan, kiatnya menjalankan profesi, pertama adalah harus dipercaya dan punya keahlian atau kemampuan. “Jangan sekali-kali kita punya kemampuan tapi tidak dipercaya, maka orang tidak mau pakai, dan walaupun kita bisa dipercaya tetapi tidak punya kemampuan, orang juga tidak mau pakai. Jadi kalau salah satu dari hal ini saya gadaikan hari ini, besok saya jual apa. Sebab kemampuan dan dipercaya itu harus jalan bersama-sama,” katanya. Kedua, advokat dipakai orang bukan karena pangkat yang dimilikinya, bukan karena dia ketua Ikadin tapi karena profesi advokat memang profesi yang terhormat dan mulia, dan setiap orang respek terhadap advokat itu. Kalau orang tidak lagi respek pada advokatnya, tidak ada penghargaan lagi dan tidak ada kepercayaan, maka orang tidak akan serahkan seluruh urusannya pada advokat tersebut. Menurutnya, walaupun mungkin banyak oknum advokat yang tidak melakukan profesi advokat secara mulia dan terhormat, tapi profesi itu akan tetap terhormat sekarang dan selamanya. Kenapa ia katakan begitu? “Karena boleh kita bayangkan, orang datang kepada advokat menyerahkan dan mempercayakan urusannya, soal cerai, soal hartanya, diserahkan kepada advokat. Tidak pernah atau jarang sekali orang yang menyerahkan urusannya tersebut bertanya: Apa yang anda tulis? Apa yang anda katakan di persidangan. Tapi langsung percaya saja. Padahal itu bisa membuat dia kehilangan hartanya atau putus perkawinanannya. Jadi, respek itulah kehormatan itu. Karena profesinya terhormat maka haruslah dilaksanakan dengan cara terhormat. Untuk bisa jadi terhormat harus bisa dipercaya, agar kepercayaan tersebut bisa berjalan, harus mempunyai kemampuan,” jelasnya. Satu hal yang perlu dicatat dalam perjalanan hidupnya konsepnya untuk meraih sakses tidak hanya dalam satu bidang. Ia tidak mau meraih sukses di profesi dan organisasi dengan mengorbankan keluarga dan kemasyarakatan. Dia tak ingin sukses satu bidang, tapi pada bidang lainnya tertinggal. “Konsep hidup saya harmoni,” katanya. Konteks Bernegara Dalam konteks bernegara, tadinya ia ingin secara langsung terlibat memberikan kontribusi, tapi dalam keadaan negara kita yang masih begini, ia pikir, lebih baiklah melakukannya dari sisi yang lain. Ia memilih tidak selalu harus menjadi pelaku utama dalam politik praktis. Biarlah dari sisi yang lain memberikan kontribusi. Karena, menurutnya, dalam konteks bernegara ini tidak berarti harus menteri supaya menjadi orang yang hebat. Artinya siapa yang bisa memberikan kontribusi pada negaranya dengan keberadaan yang ada padanya itu sudah baik dan cukup. Maka konsepnya, jangan berpikir dan jangan meminta orang lain berbuat baik pada negara, selalu menuntut orang lain berbuat baik kepada negara ini, tetapi hendaklah berbuat dari diri sendiri dulu bagi negaranya. Sebab kalau semua orang berbuat begitu, otomatis negara ini akan baik. “Ketika kita meminta orang lain berbuat baik, kecenderungannya orang itu sendiri tidak pernah berbuat baik. Tapi jika diri sendiri sudah berbuat baik, hal itu sudah sebuah permintaan agar orang berbuat baik juga. Jadi tidak harus berteriak-teriak, tetapi berbuat. Intinya menjadi teladanlah.” ujarnya. *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Marzuka Situmorang |
||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
| Copyright © 2003 Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |