| |
C © updated 26012005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/ms |
|
| |
Nama:
Nuzran Joher, S.Ag
Lahir:
Rawang, Kerinci, 28 Oktober 1973
Agama:
Islam
Pekerjaan:
Anggota DPD dari Jambi
Istri:
Nurhasanah, M.Ag (lahir di Bangkinang 17 Agustus 1974, menikah
2001)
Anak:
1. Arvad Hamal Siraj, laki-laki, lahir Bangkinang 13 Desember 2002
Ayah:
Joher Khatib
Ibu:
Yushida Burhan
Keluarga:
Anak ke-4 dari 6 bersaudara
Pendidikan:
-SD No. 16/III Koto Beringin Rawang, Kerinci (1980-1986)
-MTsn Sungai Penuh, Kerinci (1986-1989)
-PGAN Sungai Penuh, Kerinci (1989-1992)
-S-1, IAIN Imam Bonjol, Padang (1992-1998)
-S-2, Institut Ilmu Pemerintahan (IIP), Jakarta (2000-sekarang)
Pendidikan Non Formal:
-Pelatihan Kepemimpinan Tk. Dasar, SMF IAIN Imam Bonjol, Padang
(1993)
-Pelatihan Kepemimpinan Tk. Menengah, Rektorat IAIN Imam Bonjol, Padang
(1994)
-Pelatihan Kepemimpinan Tk. Nasional, Departemen Agama RI, Jakarta (1997)
-Short Course Hukum, Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol Padang, Padang
(1997)
-Mapaba, PMII Cabang Padang, Padang (1992)
-Latihan Kader I HMI, HMI Komisariat Syariah, Padang (1993)
-Latihan Kader II HMI, HMI Cabang Purwakarta, Purwakarta (1996)
Organisasi/Pekerjaan:
-Sekretaris Umum, Karang Taruna Panca Kelana Maliki Air (1990-1991)
-Wakil Ketua, OSIS MTsn Sungai Penuh (1988-1989)
-Ketua Umum, OSIS PGAN Sungai Penuh (1990-1991)
-Sekretaris Umum, Senat Mahasiswa Jurusan IAIN Padang (1994-1995)
-Sekretaris Umum, Senat Mahasiwa Fakultas Syariah IAIN Padang (1995-1996)
-Ketua Umum, Senat Mahasiswa IAIN Padang (SMPT) (1997-1998)
-Ketua Umum, HMI Cabang Sungai Penuh, Kerinci (1999-2000)
-Anggota Departemen PAO, PB HMI (2000-2002)
-Ketua Komunikasi Umat, PB HMI (2002-2004)
-Sekretaris Jenderal, PB HMI (2002-2004)
-Staf Ahli, Masyarakat Perhutanan Indonesia Reformasi (MPI-R) Jakarta
(2003)
-Tim Teknis, Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan (SP3) Diknas RI
Jakarta (2003)
-Wakil Sekretaris, Badan Investasi Sumber Daya Manusia (Bina SDM) Jambi
(2003-sekarang)
-Sekretaris, Yayasan Pendidikan Al-Quran Al-azizi (YPAZI), Jakarta
(2001-2003)
Visi:
SEGAR (Sehat, Ekonomis, Gagasan Aktual dan Reaslistik)-kan propinsi
Jambi-Indonesia menuju kemandirian, unggul dan demokratis menuju
masyarakat berkeadilan dan sejahtera, menjunjung tinggi nilai-nilai agama,
adat istiadat, dan supremasi hukum.
Misi:
1. Turut membangun dan mewujudkan kualitas SDM Jambi-Indonesia yang
komperatif dan kompetitif.
2. Mendorong stabilitas politik yang demokratis dem terciptanya cita-cita
nasional.
3. Mendorong terciptanya supremasi hukum, terjaminnya keadilan dan
kepastian hukum.
4. Turut membangun ekonomi bangsa yang kuat dan pemberdayaan ekonomi
rakyat.
5. Terciptanya good governance dari pusat maupun daerah.
|
|
| |
|
|
|
|
Nuzran Joher
Senator Muda dari Jambi
Dia anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) berusia muda dari
propinsi Jambi. Mantan Sekjen PB HMI 2002-2004 kelahiran Maliki Air Rawang,
Kabupaten Kerinci, Jambi 28 Oktober 1973, ini bervisi SEGAR (Sehat,
Ekonomis, Gagasan Aktual dan Reaslistik). Dia juga ingin posisi lembaga DPD sama
persis dengan senat pada sistem politik bikameral di negara demokrasi maju.
Sistem perwakilan bikameral terdiri dua kamar murni Majelis Rendah dan
Majelis Tinggi itu, menurut anak dari seorang ayah petani biasa dan ibu
guru agama sekolah dasar akan memberikan penguatan yang memampukan DPD
menjalankan fungsi check and balance. DPD juga menjadi mampu bersikap
menolak rancangan undang-undang yang diajukan Pemerintah, jika itu
sungguh-sungguh memang tak dikehendaki rakyat. DPD janganlah sebatas
memberikan pertimbangan, sebagaimana berlaku sekarang yang terkesan
ambivalensi lembaga DPD.
Dengan bikameral murni setiap anggota DPD menjadi bangga bisa menyebut
diri senator. Lalu, sebagaimana senator Amerika, ayah seorang putra yang
tetap aktif membangun komunikasi politik dengan konstituennya di Jambi,
ini berkehendak suatu saat jika memungkinkan akan terjun mengukir karir
politik baru sebagai eksekutif. Modalnya adalah legitimasi kuat dari
137.018 suara yang diperoleh nya saat Pemilu Legislatif 2004.
Akrab dengan politik
Pria yang memperoleh pengajaran tentang kesabaran, kejujuran, dan
kesederhanaan hidup dari ayahnya Joher Khatib, yang sehari-hari aktif
turun ke sawah demi menafkahi keluarga, itu menghabiskan masa kecil hingga
dewasa di tanah kelahirannya Desa Maliki Air, Kecamatan Hampang Rawang,
Kabupaten Kerinci, Jambi. Ibunya Yushida Burhan selain sebagai ibu
rumahtangga biasa, sehari-hari berprofesi pula sebagai guru agama SD.
Memiliki ayah dan ibu yang baik, sedari kecil Nuzran Joher sudah terbiasa
lebih sering berada di rumah kakek dan pamannya yang jarak rumahnya hanya
500 meter jauhnya.
Dahulu, ketika kecil, sepulang dari sekolah dasar di Koto Beringin Rawang,
Nuzran Joher selalu mampir ke rumah kakek seorang kiyai bernama Buya
Burhanuddin Khatib (almarhum). Sang kakek sehari-hari hidup berdakwah
sebagai da’i. Sederetan dengan rumah sang kakek terdapat pula rumah paman,
Buya Zulfran Rahman, MA yang bekerja sebagai dosen sekaligus politisi
anggota DPRD Kerinci.
Kakek sering mengajak Nuzran Joher kecil pergi berdakwah ke mana saja,
atau oleh sang paman diajak mengikuti kegiatan politik. Walau hanya
merupakan tokoh masyarakat lokal kedua figur kakek-paman telah menjadi
idola bagi Nuzran Joher kecil, ditambah seorang kakek dari garis keturunan
ibu tepatnya paman sang Ibunda, bernama Drs H. Sa’aduddin Alwi seorang
politisi dan pejabat pemerintahan terakhir kali menjabat Sekda Kotamadya
Solok, Sumatera Barat.
Masa kecil Nuzran Joher sudah sangat akrab dengan lingkungan politik,
pendidikan, dan keagamaan yang memang sudah menjadi ciri khas lingkungan
tanah kelahirannya. Sikap dan pandangan politik Nuzran Joher sejak kecil
sudah terbentuk. Sebab anak keempat dari enam bersaudara ini memilih lebih
suka berada berdekatan dengan kakek-paman, hingga tidur di rumah di
lingkungan yang sarat kehidupan sosial politik tersebut. Nuzran jarang
tidur serumah dengan ayah, ibu, dan lima saudara kandung yang terdiri tiga
kakak perempuan dan dua adik laki-laki. Kemana kakek berdakwah Nuzran
selalu dibawa serta. Demikian pula sang paman selalu mengajak Nuzran di
setiap aktivitas politik. “Jadi, waktu kecil saya sudah tahu apa itu dewan,”
kenang Nuzran.
Desa terisolir
Nuzran hidup di desa terpencil yang sesungguhnya nyaris terisolir. Sebab
kampung halamannya berada persis di Taman Nasional Kerinci Sebelas (TNKS),
yang jika ditempuh dengan jalan darat butuh waktu 12 jam dari kota Jambi.
TNKS yang oleh Pemerintah RI dan badan dunia PBB ditetapkan menjadi
kawasan hutan lindung sebagai hutan “paru-paru” dunia yang tak boleh
dimasuki, digarap, apalagi diganggu oleh masyarakat sekitar, itu berada di
empat kabupaten, salah satunya Kabupaten Kerinci dan kabupaten lain di
Jambi dan Sumatera Barat. TNKS sesungguhnya adalah sebuah ironi kehidupan
bagi Nuzran dan warga lainnya.
Kendati disebut hutan taman nasional tak boleh digarap sebagai sumber mata
pencaharian sehari-hari, namun, illegal logging nyaris terjadi setiap hari
yang dapat disaksikan dengan mata telanjang oleh masyarakat sekitar. Ironi
ini, untungnya, di tangan politisi bertangan dingin Nuzran Joher
mendatangkan inspirasi baru. Nuzran bersama tiga anggota DPD lain asal
propinsi Jambi bertekad bulat berjuang keras menuntut pemerintah pusat dan
badan dunia terkait memberikan kompensasi ekonomis terhadap penduduk lokal
atas terbatasnya hutan sebagai sumber mata pencaharian. Bahkan, Nuzran
sudah bertemu muka dengan Menteri Kehutanan sekaligus mengajaknya melihat
langsung kondisi TNKS, di Kerinci 29 Desember 2004.
“Ini, saya sudah ketemu langsung. Pas pelantikan kabinet, saya dengan
sudara M. Nasir (anggota DPD termuda asal Jambi-Red) sudah menghadap Pak
Menteri untuk melihat secara jelas bagaimana kondisi hutan dan masyarakat
di sekelilingnya,” ucap Nuzran dengan mimik serius, menandakan pentingnya
penanganan segera TNKS.
Dalam pandangan Nuzran masyarakat harus diberdayakan secara ekonomis untuk
melepaskan ketergantungan hidup dari hutan. Harus ada usaha alternatif
lain jika penduduk dilarang menggarap hutan. Misalnya pemerintah
menghadirkan investor industri kayu manis, atau indutsri lain sehingga
banyak tertampung tenaga kerja. Atau, memberikan pelatihan-pelatihan
penanaman bibit tanaman obat sehingga hutan dapat ditanami dengan tanaman
obat. Satu bukti konkrit terbatasnya akses ekonomi warga sekitar TNKS,
kata Nuzran, TKI Ilegal asal Jambi yang kembali dipulangkan dari Malaysia
lebih banyak warga Kerinci.
Demikian pula infrastruktur jalan harus dibangun untuk ‘memecah’ Kerinci
yang terisolir. Perjuangan di bidang pendidikan juga tak kalah terhormat
untuk disuarakan Nuzran sebab 20 persen penduduk Kerinci masih tergolong
masyarakat miskin yang pendidikannya belum kompetitif ke depan. “Kita
menuntut juga bagaimana para stake holder yang terkait dalam hal ini untuk
juga melihat Jambi supaya bisa bersaing di tingkat lain,” tegas Nuzran.
Tuntutan di bidang pendidikan perlu disuarakan Nuzran, kendati ia mengakui
satu dari setiap lima rumah di kampungnya pasti ditemukan anggota keluarga
berpendidikan sarjana. Itu, berhasil dicapai dengan perjuangan ekstra
keras setiap warga Kerinci dengan berdagang keliling Indonesia. Warga yang
keliling itu berkesempatan pulang kampung hanya sekali dalam dua tiga
tahun, sebab yang penting tiap bulan bisa mengirim uang penghasilan untuk
biaya kuliah anak atau anggota keluarga jutaan rupiah perbulannya.
Sejalan dengan mempercepat akses ekonomi masyarakat Jambi, Nuzran juga
gencar memperjuangkan kelanjutan pembangunan dermaga pelabuhan laut yang
telah dimulai oleh Pemerintahan Megawati namun mulai mandeg. Nuzran
mengakui ada persoalan politis di situ. Mengingat gagasan pendirian
dermaga dicetuskan oleh Gubernur Jefri Nurdin, yang dikenal dekat dengan
lingkungan Istana ketika itu, sedang mengalami masa transisi pemerintahan
bersamaan dengan transisi di tingkat pusat.
Walau desanya terisolir tetap ada keberuntungan lain yang bisa dirasakan
Nuzran. Desanya berdekatan langsung dengan wilayah Sumatera Barat sehingga
akses pendidikan tetap tersedia. Kerinci, karena kemudahan akses ke
Sumatera Barat menjadi terkenal sebagai gudang pendidikan formal dan
informal, seperti para ulama yang banyak ditemukan di propinsi Jambi itu
berasal dari Kerinci. Desa yang Nuzran tinggali tergolong maju sebab sudah
merupakan pusat kebudayaan, kesenian, dan kegiatan politik tingkat wilayah
kecamatan. Lingkungan berpendidikan formal, keagamaan, politik, ditambah
idealisasi ketokohan sang kakek dan paman turut mempengaruhi latar
belakang terbentuknya pemikiran politik Nuzran Joher sejak belia.
Aktif berorganisasi
Nuzran banyak menghabiskan masa kecil untuk pendidikan formal dan
informal. Baik saat menjalani pendidikan dasar (SD No. 16/III Koto Penuh),
tsanawiyah (MTsn Sungai Penuh), dan guru agama (PGAN Sungai Penuh), itu ia
isi dengan kegiatan berorganisasi di tingkat OSIS dan karang taruna, dan
latihan-latihan kepemimpinan serta administrasi di lingkungan KNPI dan
Golkar. Sejumlah kegiatan yang dilakukan organisasi politik Golkar atau
KNPI, semisal lomba cerdas cermat tingkat Kabupaten Kerinci hingga
propinsi Jambi, rajin ia ikuti sekaligus memberi kesempatan kepada anak
desa ini fasiltas mengunjungi Ibukota Propinsi.
Aktivitas berorganisasi Nuzran makin kental setelah memasuki bangku kuliah
IAIN Imam Bonjol, Padang. Nuzran memilih pendidikan IAIN sebagai
kelanjutan PGAN karena sangat menghargai profesi guru. Guru, dalam
pandangan Nuzran selain mengajarkan ilmu pengetahuan juga kepemimpinan dan
akhlak yang baik. ”Maka saya mengambil kuliah di IAIN Imam Bonjol di
Padang. Disini, saya mengembangkan kemampuan leadership dan kepemimpinan
ini,” kata Nuzran, selain aktivis organisasi intra kampus dengan puncak
pencapaian terpilih sebagai Presiden SMPT IAIN Imam Bonjol, dan organisasi
ekstra kampus HMI terakhir sebagai Sekjen PB HMI 2002-2004.
Sebagai organisatoris tulen semenjak kecil, di kampus Nuzran segera
memasuki organisasi kemahasiswaan ekstra kampus PMII (Pergerakan Mahasiswa
Islam Indonesia). Di sini Nuzran telah salah pilih. Sebab wilayah Sumatera
Barat sangat kental dengan warna Muhammadiyah, ditandai dengan maraknya
kehadiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Himpunan Mahasiswa Islam
(HMI). Padahal PMII, itu lebih bercorak keulamaan NU. Maka, enam bulan
sampai setahun digeluti kondisi PMII tetap kurang maju bahkan stagnan.
Karena sudah kadung antusias berorganisasi Nuzran segera banting setir
masuk HMI. Di HMI Nuzran kembali mulai menempa diri membangun karir
politik yang lebih dewasa.
Aktivitas Nuzran di organisasi ekstra kampus tergolong sukses. Ia berhasil
mencapai puncaknya sebagai Sekjen PB HMI 2002-2004, sejajar dengan
keberhasilan di organisasi intra kampus yang juga sangat intens digeluti,
khususnya ketika reformasi tengah bergerak dari kampus ke kampus hingga ke
tingkat nasional sampai berhasil melahirkan era kepemimpinan baru yang
reformis.
Nuzran Joher pertama-tama terpilih sebagai Sekretaris Umum Senat Mahasiswa
Jurusan (1994-1995), kemudian Sekretaris Umum Senat Mahasiswa Fakultas
Syariah (1995-1996), hingga puncaknya terpilih sebagai Ketua Umum (Presiden)
Senat Mahasiswa IAIN (SMPT) Imam Bonjol Padang periode 1997-1998.
Nuzran Joher merasa bangga sebab bersamaan dengan era kepemimpinannya di
lingkungan kampus reformasi secara nasional tengah bergulir. Di era itu ia
berhasil mengasah kemampuan politik dewasa secara terbuka dengan mengelola
gerakan mahasiswa. Sebagai misal, pada tahun 1997 ia mendirikan posko
Pergerakan Mahasiswa Sumatera Barat Reformasi, terletak di lingkungan
kampusnya IAIN Imam Bonjol Padang. Pendirian Posko disepakati setelah
Nuzran berhasil mengumpulkan lebih 78 perguruan tinggi terdiri universitas,
sekolah tinggi, institut, dan akademi yang ada di seluruh Sumatera Barat.
“Waktu itulah saya mengenal banyak teman-teman. Saya sudah mulai
berkomunikasi dengan teman-teman di luar Sumatera, sudah sering
berkomunikasi tentang isu-isu pergerakan, waktu itu tahun 1997-1998,”
kenang Nuzran, yang karena gerakan politik kampusnya itu berkesempatan
berinteraksi dengan para aktivis dari kampus lain dari seluruh Indonesia,
termasuk kesempatan mengunjungi Ibukota Negara Jakarta untuk pertamakali
tahun 1996 yang sudah diidam-idamkan sejak kelas empat SD.
Bangun Jambi
Ketika lulus kuliah tahun 1998, ia menghabiskan waktu enam tahun untuk
meraih gelar sarjana agama (S.Ag) sebagai resiko aktivis mahasiswa, Nuzran
justru kembali ke Kerinci untuk membangun Jambi. Salah satu misi
politiknya adalah mendirikan HMI Cabang Sungai Penuh Kerinci. Ia terpilih
memimpinnya untuk pertamakali, periode 1999-2000.
Di tangan Nuzran, cabang baru HMI ini berhasil ‘naik pangkat’ diakui
sebagai cabang penuh oleh PB HMI, setelah berhasil melakukan sejumlah
kaderisasi dan penggalangan massa. Bahkan, ketika PB HMI menetapkan Jambi
sebagai kota pelaksanaan kongres tahun 1999 Nuzran berkesempatan terlibat
penuh di kepanitiaan lokal. Di situ Nuzran secara politis memberikan
dukungan kepada Fakhrudin yang akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum PB HMI
1999-2002.
Pilihan Nuzran berbuah manis. Begitu kongres memilih Fakhrudin ia segera
ditelepon diajak untuk ikut membantu sebagai fungsionaris PB HMI periode
2000-2002, duduk sebagai Anggota Departemen Pembinaan Aparat Organisasi (PAO)
berdomisili di Jakarta. Akhir tahun 1999 mulailah Nuzran menetap di
Jakarta, menempati sebuah rumah kost di kawasan Ciputat, tak jauh dari
rumah kediamana seorang saudara.
Walau hanya kost Nuzran berhasil mengajak warga sekitar belajar mengaji
bersama, memperdalam Al-Quran, dan sebagainya. Jaringan pengajian terus
diperluas sehingga di tahun 2001 disepakatilah mendirikan Yayasan
Pendidikan Al-Quran Al-zizi (YPAZI). Sebuah langkah sederhana namun
mempunyai manfaat ang besar untuk jangka panjang. Yayasan sudah memiliki
tanah dan gedung, sendiri milik Yayasan dibantu sejumlah donatur.
Selain mebangun pengajian, Yayasan, aktif sebagai fungsionaris PB HMI,
Nuzran tak menyia-nyiakan waktu lainnya untuk menuntut pendidikan tinggi
S-2 di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP). Untuk menambah uang saku ia aktif
pula mengajar privat dari rumah ke rumah, dengan besaran tarif lumayan
sebagai pengajar berpendidikan S-2. Ia berhasil memperoleh penghasilan
yang lumayan jutaan rupiah perbulan. Ia, antara lain mengajarkan tentang
Al-Quran, iqro, tauhid, akidah, dan sebagainya kepada para peserta yang
terdiri eksekutif perbankan termasuk diantaranya sejumlah direktur bank.
Tidaklah salah jika di tahun 2001 itu, walau belum berpenghasilan menetap
ia berani mempersunting Nurhasanah, M.Ag seorang wanita asal Bangkinan
Riau yang sedang menempuh pendidikan S-2 di UIN Syarif Hidayatullah,
Ciputat, Jakarta. Nurhasanah akhirnya lebih dahulu memperoleh penghasilan
menetap sebagai PNS di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta sekaligus telah
memberi Nuzran seorang anak Arrvad Hamal Siraj, lahir di Bangkinang, 13
Desember 2002.
Berbiaya Rp 70 juta
Ihwal pilihan sarjana agama Nuzran berputar 180 derajat pulang ke kampung
membangun Jambi dengan mengerahkan segala kemampuan dan pengalaman, itu
berbuah manis ketika sistem partai politik Indonesia memperkenalkan
lembaga baru DPD.
Nuzran Joher memilih berjuang secara politis lewat lembaga DPD sekaligus
menepis tawaran menarik dari partai-partai besar yang lahir di era
reformasi. Ia melihat, sebagai calon independen peluang keberhasilan
berjuang lewat DPD lebih terbuka. Sebab setiap anggota berkesempatan
menentukan semuanya, bisa melakukan apa saja, segala kemampuan lebih
leluasa untuk dicurahkan, tidak ada yang bisa memecat, dan akan lebih
cepat bersentuhan dengan konstituen tanpa melalui mekanisme organisasi
seperti DPC, DPW, rapat dan sebagainya.
Nuzran memperoleh pemahaman memadai tentang DPD dari Dr Rusadi
Kantaprawira, dosen IIP yang kemudian menjadi anggota Komisi Pemilihan
Umum (KPU). Di IIP saat kuliah S-2, dari Rusadi Nuzran mempelajari
konstitusi termasuk akan hadirnya lembaga baru yang nama awalnya DUD (Dewan
Utusan Daerah). Di kampus itu Nuzran mencoba menggali, membandingkan DPD
dengan konstitusi Amerika, yang memang dari sisi fungsi dan wewenangnya
DPD masih terbatas. Akan tetapi dari segi legitimasi Nuzran berpendapat
seandainya wewenang DPD lebih banyak maka lembaga ini akan lebih bagus.
“Kalau di luar, kan, namanya senator. Inilah yang pertamakali
menginspirasikan saya,” kata Nuzran tentang pertalian “cintanya” dengan
DPD.
Nuzran Joher berhasil lolos mulus ke Senayan sebab sudah memiliki kader
dan aktivis mahasiswa yang serta merta bisa digerakkan menjadi tim sukses.
Nuzran menyebutkan sudah melakukan investasi politik 15 tahun sebelumnya.
Sejumlah kawan saat masih duduk di bangku SD, Tsanawiyah, dan PGA ia
kumpulkan menjadi tim sukses. Demikian pula terhadap para aktivis
mahasiswa khususnya HMI dan tokoh-tokoh LSM. Bahkan, delapan orang pendeta
pengurus Partai Damai Sejahtera (PDS) datang menemui Nuzran menawarkan
diri tim sukses.
Walau tak ada sponsor pendukung apalagi latar belakang pengusaha, Nuzran
Joher menyebutkan hanya mengeluarkan biaya Rp 70 juta berhasil meraih
suara 137.018 pemilih. Suara sebanyak itu adalah suara terbesar yang
diraih anggota DPD asal Jambi, sekitar 11 persen suara pemilih, yang jika
dihitung dengan kursi DPR RI asal propinsi Jambi itu setara dengan dua
kursi.
Sebagai calon independen Nuzran adalah fenomena politik baru di Jambi
bahkan seluruh tanah air. Sebab ia berkampanye tanpa mengedarkan leaflet,
kartu nama, brosur, atau materi-materi kampanye modern apapun keluaran
mesin percetakan. Kartu nama yang ia buat tak lebih dari cetakan printer
komputer berwarna di atas kertas biasa. Iklan kampanye di dua media massa
lokal pun masih menyisakan utang yang belum dibayar. Utang itu jika
ditagih, walau hanya sebagai wacana, akan selalu dengan rendah hati
dijawab Nuzran dengan kata sabar saja.
Nuzran Joher banyak meraih simpati dari berbagai kalangan. Untuk
memperhalus tutur kata, sebab takut ditolak si empunya hajat yang hendak
dibantu, materi-materi dan sumbangan kampanye banyak diberikan simpatisan
dengan kata dipinjamkan.
Sosok Nuzran Joher yang hadir langsung di tengah-tengah pemilih lebih
dihargai dibandingkan rayuan politik uang yang ditebar kandidat lain. Ada
dua kabupaten di propinsi Jambi yang mayoritas masyarakatnya berasal dari
Riau. Maka, bersama istri Nurhasanah yang asal Bangkinang, Nuzran Joher
berkampanye ke kedua kabupaten itu dengan menyewa sebuah kendaraan
berpelat nomor polisi BM asal Riau. Tak pelak di dua kabupaten itu Nuzran
seorang diri berhasil meraih suara di atas 45 persen.
Kepada pemilih Nuzran sesungguhnya menawarkan visi dan misi politik yang
sederhana saja. Visinya adalah SEGAR-kan propinsi Jambi-Indonesia menuju
kemandirian, unggul dan demokratis menuju masyarakat berkeadilan dan
sejahtera, menjunjung tinggi nilai-nilai agama, adat istiadat, dan
supremasi hukum. SEGAR yang dimaksud Nuzran adalah akronim dari Sehat,
Ekonomis, Gagasan Aktual dan Reaslistik.
Lima misi yang ditetapkannya (1) Turut membangun dan mewujudkan kualitas
SDM Jambi-Indonesia yang komperatif dan kompetitif; (2) Mendorong
stabilitas politik yang demokratis dem terciptanya cita-cita nasional; (3)
Mendorong terciptanya supremasi hukum, terjaminnya keadilan dan kepastian
hukum; (4) Turut membangun ekonomi bangsa yang kuat dan pemberdayaan
ekonomi rakyat; dan (5) Terciptanya good governance dari pusat maupun
daerah.
Buah permenungan
Tanpa memiliki aktivitas bisnis selain aktif di lembaga politik DPD dan
membina Yayasan, Nuzran bergiat melakukan suatu tugas sosial bersama
sejumlah kawan mantan pengurus PB HMI. Mereka mendirikan sebuah lembaga
bisa desa sentra ekonomi bisnis, di Purwakarta. Cikal bakalnya adalah,
sewaktu menjabat Ketua Komunikasi Umat PB HMI ia mendapat program dari
Departemen Diknas Life Skill Kepemudaan, yakni memberikan pelatihan
manajemen dan kewirausahaan penggemukan domba dan tumpang sari penyulingan
nilam kepada 10 orang pemuda Purwakarta. Kegiatan itu terus berkembang
hingga mampu memproduksi domba untuk konsumsi lebaran haji.
Sejak duduk di bangku kelas empat sekolah dasar ia memiliki cita-cita kuat
ingin melihat kota Jakarta. Cita-cita itu menyeruak berdasarkan cerita
seorang bibi, qoriah warga Jakarta yang berkisah di Jakarta ada Istana,
Monas, banyak mobil dan sebagainya. Cita-cita itu pertamakali terwujud
tahun 1996. Nuzran sebagai perwakilan Senat Mahasiswa Fakultas Syariah
IAIN Nuzran diminta hadir mengikuti kegiatan kemahasiswaan di Jakarta,
yang lalu dilanjutkan ke Yogyakarta.
Ia datang menggunakan pesawat terbang. Begitu tiba di Jakarta Nuzran
mengambil berkesimpulan warga Jakarta adalah sama seperti orang-orang
sebagaimana yang dilihatnya pertamakali, yakni pengusaha berdasi,
orang-orang bermata sipit, artis, dan pejabat.
Sebab pas turun dari pesawat, melihat banyak orang mata sipit, lalu duduk
termenung, merasakan ‘oh, ini rasanya naik pesawat’, kembai menyaksikan
siapa saja yang ada di situ yakni pertama-tama melihat orang berdasi,
orang yang gagah, artis, pejabat, dan mata sipit. Sebuah pertanyaan lantas
melintas dalam pikirannya, “Dalam pertanyaan saya, dimana orang seperti
saya, yang lainnya. Dan saya ingat, memori saya waktu itu, ‘aduh, ini
tidak adil nih’,” kenang Nuzran.
Rasa ketidakadilan itulah yang telah memicunya bertekad untuk suatu saat
akan kembali datang ke Jakarta. Dan itu terbukti saat sejak akhir tahun
1999 Nuzran mulai menetap di Ciputat, meneruskan kuliah S-2 di IIP,
mendirikan Yayasan Pendidikan Al-Quran Al-azizi (YPAZI), menikah, dan
tahun 2004 diangkat menjadi anggota DPD terpilih dari propinsi Jambi. Ia
adalah “senator” berbiaya murah sebab hanya mengeluarkan uang kampanye
pemilu Rp 70 juta untuk lolos melenggang ke Senayan.
►e-ti/ht-ms
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|