|
|
 |

Nama:
Nurdin Purnomo
Lahir:
Jakarta, 15 Agustus 1945
Kebangsaan:
Indonesia
Istri:
Vivien Purnomo
Anak:
Vivi, Deavi dan Sylvia.
Pendidikan:
1963 - SMA, Pah Tsung Jakarta.
1967- Akademi St Stephen Stanley Hongkong.
1978-79, kursus keuangan dan pariwisata Jakarta.
1981- Intra Marketing Program, Hongkong.
Dan memiliki sejumlah sertificate dari dalam dan luar negeri.
Pengalaman Kerja:
1976- sekarang Pimpinan PT Setia Tour
1984-sekarang Pimpinan Citra Mustika Indah Jakarta. Pengelola Hotel dan
Restauran.
1985- sekarang Pengurus APPI (Asosiasi Pondok Pemuda Indonesia).
1986-Pimpinan PT Setia Air Raya Freight Forwarding. Agen Tunggal
Penerbangan Asing.
1992-1994 Humas FAGA (Foreigh Airlines General Sales Agent Association).
1992-2000, Wakil Ketua DPP ASITA.
1993-sekarang, Ketua Umum DPP SIPCO (Society of Indonesian Profesional
Convention Organizers).
1994-sekarang, Ketua Umum YPPI (Yayasan Pengembangan Pendidikan
Indonesia).
1995-sekarang, Anggota Working Group AIDA (Australia Indonesia Development
Area).
1998-sekarang, Pendiri dan Ketua Umum PBI (Partai Bhinneka Tunggal Ika
Indonesia).
1999-anggota KPU.
1999-sekarang, Pimpinan Umum Harian Umum Glodok Standard.
2000- Ketua FOMI (Forum Olahraga Masyarakat Indonesia). Ketua Kehormatan
Perhimpunan Hakka Sizhuan, Ketua presidium Aliansi Nasionalis (terdiri
dari 11 Parpol peserta Pemilu). Ketua Presidium Forum Silatuhrami dan
Lembaga Keagamaan Organisasi Lembaga Keagamaan Indonesia.
2001, Pendiri dan Pemimpin Sekolah He Ping, Ketua Kehormatan Perhimpubnan
Hakka XANXI.
2002, Produser Film Kolosal Hello Bandung, Wakil ketua Umum World Hakka
Tsung Tsin Federatiaon, Ketua panita Penyelenggara World Hakka Conference
ke 17 di Jakarta, Pendiri da Ketua Panita Penyelengga World Chinese Expo
di Jakarta. Masih banyak lagi lembaga atau organisasi yang ditekuni dan
dipimpinnya.
|
|
Nurdin Purnomo
Siap Calon Presiden 2004
Ia sebagai warga negara Indonesia dari suku Tionghoa menyatakan siap
memimpin bangsa dan negara ini. Menurutnya, sangat keliru jika masih ada
sikap memusuhi suku Tionghoa di Indonesia. Suku Tionghoa yang sudah
menjadi WNI berjumlah sekitar 22 juta jiwa. Menempati urutan ketiga
setelah Jawa dan Sunda. Jadi, sangat janggal, jika terbesar ketiga masih
dimusuhi. Deklarator dan Ketua Umum DPP Partai Bhineka Tunggal Ika
Indonesia (PBI) ini pun menyatakan siap bertarung secara jantan dan fair
sebagai calon presiden pada Pemilu 2004.
Ia memang seorang anak bangsa yang tidak pernah takut untuk menyuarakan
kebenaran dan menentang ketidakadilan. Sepanjang didukung fakta yang
akurat, dia tampil di baris depan untuk meluruskan berbagai ketidakadilan
dan aturan yang tidak benar. Resiko apa pun yang kemudian timbul pada
dirinya, dia sudah siap. Sikap itu tertanam dalam diri Nurdin Purnomo,
pria kelahiran Jakarta, 15 Agustus 1945, seorang warga negara Indonesia
keturunan suku Tionghoa.
Dia tampak sederhana. Tapi di balik kesederhanaan itu, terselip kepedulian
yang sangat peka dan tinggi. Artinya, jika dia melihat sesuatu yang tidak
pada tempatnya, langsung berteriak. Tentu bukan di jalanan, tapi dia
menggunakan wawasan dan intelektualnya, misalnya, mengajukan protes kepada
pembuat aturan itu. Ada kawan atau tidak, tidak terlalu dipikirkan.
Sebab, keinginannya untuk melakukan sesuatu tidak pernah tergantung kepada
teman-teman. Kalau ada kawan tentu sangat bagus, tapi tanpa teman, dia
juga tetap maju untuk menyampaikan keinginannya. Jika protes membuahkan
hasil dan untuk kepentingan banyak orang, dia pun optimis akan datang
sendiri pengikutnya. “Jika melakukan tindakan protes terhadap sesuatu
aturan, harus didukung fakta, jangan asal bunyi”, kata Nurdin Purnomo
kepada Tokoh Indonesia di kantornya di kawasan KH Hasyim Ashari, Jakarta
Pusat.
Ketika pemerintah Indonesia tahun 1967, mengeluarkan peraturan untuk
melarang lagu-lagu Tionghoa beredar di Indonesia, Nurdin Purnomo
lah orang pertama yang keberatan dan tampil memprotesnya. Pada saat dia
memulai protesnya, Warga Negara Indonesia keturunan Tionghoa banyak yang
merasa ketakutan. Kalau usaha itu buntu, banyak yang berpikiran justru
akan semakin menyusahkan orang Tionghoa tinggal di Indonesia. Tapi Nurdin
bukan tipe manusia penakut. Dalam setiap aksinya, dia selalu berfikir
obyektif dan tidak pernah terlintas dalam benaknya kegagalan.
Orang Tionghoa sudah menjadi bagian dari penduduk Indonesia, kok masih
ada pembatasan terhadap kebebasannya”, kata Nurdin Purnomo. Perjuanganya
pun berhasil dan teman-temannya yang tadinya merasa was-was langsung
menjuluki Nurdin sebagai seorang “pahlawan” dan pembawa angin segar bagi
warga negara Indonesia keturunan Tionghoa. Begitu juga ketika ada
pembatasan jumlah turis dari Hongkong ke Indonesia. Nurdin pula yang
menjadi pionir dan berhasil meniadakan pembatasan itu. Sebab Nurdin yang
sangat sering bepergian ke manca negara, juga aktif menjual pariwisata
Indonesia.
Dalam hidupnya, Nurdin selalu berpegang kepada: “Kita tidak usah takut
demi memperjuangkan suatu kebenaran, karena justru kebenaran itu
sendiri yang akan memperjuangkan kita”. Dan itu pula yang melatarbelakangi keberaniannya dalam sikap dan perbuatannya baik ketika
memimpin perusahaan, partai atau terjun dalam kegiatan sosial. Karena itu,
waktu, tenaga, pikiran dan harta bendanya banyak tersedot untuk kepentingan
organisasi. Keuntungan bahkan aset perusahaan pun dijualnya untuk mendanai
berbagai kegiatan yang dilakukannya mulai dari Parpol hingga sosial.
Bayangkan, ada 50 organisasi yang ditekuninya dan sebagian besar posisinya
sebagai pimpinan. Organisasi itu selain di Indonesia juga tersebar di
berbagai negara di dunia. Karena itu, kantornya pun berada di banyak
negara. Itu artinya, kesibukannnya sangat luar biasa. Hari ini di Jakarta,
besok sudah di Kalimantan atau Surabaya, lusa di Singapura atau Malaysia
dan hari berikutnya di Amerika atau di Eropa. Begitu dia menjalani hidup
ini. Kebetulan ketiga
orang anaknya, sekolah di Australia. “Bekerja dan bekerja sudah bagian
dari hidup saya. Bekerja pun bisa menjadi refresing bagi saya”, ujar
Nurdin.
Kantornya pun hampir tidak pernah sepi. Selain menjadi pusat bisnis travel
biro perjalanan, juga menjadi kantor pusat partai yang dipimpinnya. Ruang
kerjanya yang berukuran luas, hampir tidak pernah tertutup. Sebab, tamunya
cukup banyak dan bisa masuk tanpa prosedur yang berbelit. “Saya sangat
terbuka kepada siapa saja. Sepanjang ada waktu, saya akan menerima siapa
saja”, ujarnya.
Target Politik
Sambil mengelola bisnis Biro Travel, Nurdin Purnomo memprakarsai pendirian
partai politik yakni Partai Bhineka Tunggal Ika Indonesia (PBI) yang
didelekrasikan 1 Juni 1998. Ketika itu, banyak tantangan yang dihadapi
terutama dari teman-temannya keturunan suku Tionghoa. Alasannya, tidak
akan jalan dan Nurdin pun diajak untuk mendirikan partai yang dikhususkan
untuk warga keturunan. Tapi bukan Nurdin namanya kalau tidak teguh pada
prinsip. Ajakan temannya ditolak dan dia mendirikan dan membesarkan PBI.
Pada Pemilu 1999 lalu, PBI menduduki rangking 10 besar dari 48 partai
politik (Parpol) peserta pemilu. “Ini prestasi yang cukup hebat”, kata
Nurdin. Saat ini ada sekitar 100 orang kader PBI yang duduk di DPR/MPR RI, DPRD Tk I
dan II. PBI diterima masyarakat dan pengurus di daerah pun sudah terbentuk.
Yang lebih menggembirakan lagi, seluruh kader dan simpastisan PBI, dari
pusat hingga daerah, telah menyatukan sikap dengan satu target politik
yakni mengantar Ketua Umum DPP PBI Nurdin Purnomo menjadi calon Presiden
Republik Indonesia pada Pemilu 2004 ini.
Kok berani orang Tionghoa tampil sebagai Capres? Why not! Saya adalah
warga negara Indonesia dan siap memimpin bangsa dan negara ini. Memang, di
masa lalu dan cenderung masih berlangsung hingga sekarang, pemerintah
menciptakan jarak kepada warga negara Indonesia dari suku Tionghoa.
Akhirnya, terbentuk opini masyarakat untuk memusuhi warga keturunan.
Dia tegaskan, jika masih tertanam rasa benci, memusuhi atau memojokkan
suku Tionghoa di Indonesia, merupakan kekeliruan dan kesalahan besar.
Memusuhi suku Tionghoa tidak ada untungnya dan hanya menimbulkan kerugian
bagi bangsa dan negara ini. Suku Tionghoa yang sudah menjadi WNI sekitar
22 juta jiwa dan menempati urutan ke tiga setelah Jawa dan Sunda. Sangat
janggal, jika terbesar ketiga masih dimusuhi? “Pemerintah dan masyarakat
Indonesia harus menjadikan suku Tionghoa menjadi teman sejati untuk
membangun bangsa ini”, ujar Nurdin.
Dia menambahkan negara RRT pun sangat potensial untuk mendukung Indonesia
menuju negara maju. Karena itu, masyarakat Indonesia sebaiknya memberikan
kesempatan bagi warga Tionghoa memimpin negara ini. “Saya tidak berjanji,
tapi optimis keadaan Indonesia akan lebih baik, jika diberikan kesempatan
untuk memimpin negara ini”, ujar Nurdin.
Mengenai komentar yang mengatakan Tionghoa membuat perekonomian Indonesia
susah dan sulit, Nurdin langsung berang. Mana mungkin itu. Itu sesuatu
kekeliruan yang ditiupkan orang-orang dengan tujuan menciptakan
ketidakstabilan. Nurdin mengatakan mungkin saja, ada konglomerat Tionghoa yang
kurang perhatian, tapi pasti lebih banyakTionghoa di Indonesia yang sangat
concern terhadap bangsa ini. “Mereka berbuat dan berkerja untuk kemajuan
bangsa ini”, ujarnya. Sama halnya dengan visi PBI yakni memajukan bangsa
ini dari bidang politik.
PBI Berani Tampil Beda
Kiprah Partai Bhineka Tunggal Ika Indonesia (PBI) dalam kancah politik
masih relatif baru dan kini, memasuki tahun ke lima. PBI dideklarasikan 1
Juni 1998 dan menjadi salah satu partai politik peserta Pemilu 1999 lalu.
Meski pendatang baru, kehadiran PBI langsung buat kejutan dan diterima
masyarakat. Betapa tidak, dari 48 partai politik peserta Pemilu 1999 lalu,
PBI masuk dalam 10 besar.
Dari hasil Pemilu lalu, PBI telah menempatkan 80 orang kadernya duduk di
DPRD II, 10 orang di DPRD I dan seorang wakil di lembaga DPR/MPR. Tidak
hanya keluarga besar PBI dan simpatisannya yang tercengang atas prestasi
PBI. Tapi Parpol peserta Pemilu yang lain terutama pendatang baru juga
mengakui kehebatan partai yang pendiriannya diprakarsai oleh seorang Warga
Negara Indonesia (WNI) keturunan Tionghoa bernama Nurdin Purnomo.
Nurdin menolak anggapan melejitnya PBI dalam kancah Parpol akibat
keberhasilannya sebagai seorang bisnis man yang bergerak dalam wisata.
Nama Nurdin dalam bisnis pariwisata sudah kesohor di dan ke mana-mana, di
Indonesia dan luar negeri. Kantornya tersebar di berbagai negara.
“Keberhasilan PBI merupakan kerja keras dari pengurus”, ujar Nurdin
merendah. Sebagai orang yang sederhana dan konsisten, Nurdin akan merasa
bahagia bila yang dilakukannya dapat dinikmati orang banyak dengan suka
ria.
Dalam percakapan dengan Wartawan Tokoh Indonesia, ia mengatakatan proses
perjalanan dan pendirian PBI menghadapi banyak tantangan. Tantangan tidak
hanya dari kalangan WNI keturunan tapi juga dari WNI yang bukan keturunan.
Suku Tionghoa menilai PBI tidak akan eksis karena dipimpin oleh WNI
keturunan. Sementara WNI non keturunan akan enggan memasuki PBI karena
bisa menimbulkan penafsiran membesarkan suku Tionghoa di Indonesia.
Bahkan, pada saat dideklarasikan, beberapa pengurus yang bukan keturunan
Tionghoa, meski sudah masuk dalam susunan pengurus, enggan ditonjolkan.
“Waktu itu pengurus dari nonketurunan mengatakan tidak perlu terlihat
sebagai pendiri PBI. Tapi tetap akan membantu dan membesarkannya”, ujar
Nurdin mengenang masa pendirian PBI. Selain itu, warga keturunan pada masa
itu banyak diselemuti rasa ketakutan untuk terjun ke panggung politik.
Tapi bagi Nurdin, sikap mendua dari teman-temannya itu justru memacu
semangatnya untuk terus tampil mengibarkan bendera PBI ke seluruh pelosok
nusantara. Berbagai kendala, dia hadapi termasuk untuk mendanai kegiatan
partai. Nurdin sangat menyadari dalam melakukan sesuatu kegiatan apalagi
yang sifatnya besar dan nasional pasti banyak rintangan. Itu semua sudah
diperhitungkan sejak awal, jauh sebelum mendirikan PBI.
Karena itu, dia pun rela menjual sebagian harta kekayaannya, untuk
kebutuhan partai. “Saya dan keluarga bukanlah tipe yang menjadikan harta
kekayaan adalah segala-galanya. Butuh harta, yes. Tapi gila harta, no”,
ujar Nurdin. Ketika dia harus mengurangi aset untuk kepentingan perjuangan
baik melalui partai atau kegiatan sosial, istri dan anak-anaknya bisa
memahami. “Ketiga orang anak saya sudah bekerja di Australia”, ujarnya.
Menyangkut nama, ia mengatakan diilhami dengan situasi dan kondisi
Indonesia. Artinya, bangsa ini merupakan bangsa heterogen, pluralistik.
Secara realitas, bangsa ini berbhineka, tapi sekaligus juga bertunggal ika.
Kemudian dipadukan dalam satu nama dan lahirlah Bhinneka Tunggal Ika. “PBI
diharapkan dapat menyatukan langkah untuk menjadikan Indonesia menuju masa
depan yang lebih baik”, ujarnya.
Perjuangan
Harus diakui berhembusnya angin reformasi telah merubah struktur dan peta
politik di tanah air. Seiring dengan perubahan sistem pemerintahan dari
Orde Baru ke Orde Reformasi, maka terbukalah kesempatan untuk mendirikan
Partai Politik (Parpol). Jika di masa Orde Baru, Parpol hanya tiga, maka
pada Pemilu 1999 sudah 48 Parpol dan pada Pemilu 2004 jumlahnya
diperkirakan akan naik duapuluhan parpol.
Mengenai jumlah Parpol, ia mengatakan tidak ada masalah. Apa tidak
berpotensi menimbulkan benturan konflik politik? Lho, di masa lalu jumlah
Parpol hanya dua (PDI dan PPP) di tambah Golkar. Tapi pertentangan sangat
sengit. Baik menjelang dan pascakampanye selalu diwarnai keributan.
Di awal orde reformasi, jumlah Parpol peserta Pemilu 1999 sebanyak 48 dan
keributan relatif kecil di banding masa orde baru. “Bagi PBI semakin
banyak partai makin bagus sehingga banyak pilihan masyarakat”, katanya.
Pertumbuhan Parpol ini suatu pertanda yang sangat menggembirakan bagi
kehidupan berpolitik di Indonesia.
Dia mengatakan arus reformasi ini akan mengantar bangsa ini menuju alam
demokrasi. Didorong keinginan untuk ikut memberikan pendidikan politik
kepada masyarakat, maka terbentuklah PBI sebagai sarana penampung dan
penyalur aspirasi politik dari kader dan simpatisannya. PBI menjadi wadah
guna mempererat persaudaraan dan kesatuan dalam kebhinekaan. PBI
berdasarkan falsafah Pancasila, sebab lambang negara itu selain sebagai
ideologi, juga merupakan falsafah hidup bangsa. Filosopinya menjalin
kebersamaan dalam keanekaragaman. “PBI akan memperjuangkan hak-hak politik
kaum minoritas”, ujar Nurdin Purnomo.
Tujuan PBI, Pertama: Membangun pemerintahan yang desentralistik, bersih
dari KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Kedua: Menciptakan masyarakat
adil, makmur dan beradab. Ketiga: Menegakkan hak-hak asasi manusia.
Keempat: Mewujudkan masyarakat yang mempunyai persamaan dalam hal
kewajiban tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan. Kelima:
Mengembangkan kehidupan demokratis. Motto PBI: Unjuk kerja bukan unjuk
rasa dan berani tampil beda.
Program jangka pendek: Mendesak pemerintah untuk melaksanakan reformasi
total di bidang hukum, membatalkan dan mencabut Kepres, Inpres dan Surat
Edaran/Undang-undang yang mengandung unsur SARA. Mengusulkan kepada
pemerintah untuk meningkatkan upah minimum regiomal (UMR), meningkatkan
batas pendapatan tidak kena pajak. Jangka menengah: Merancang program
kembali ke desa sebagai upaya membangun perekonomian desa. Menyalurkan
anak-anak putus sekolah untuk bekerja setelah memperoleh pendidikan
ketrampilan.
Jangka panjang: Mengusulkan agar program wajib belajar ditingkatkan hingga
SMA, serta dilakukannya program kesehatan gratis.
“Komitmen pengurus agar program ini tidak sekadar janji atau slogan, tapi
akan menjadi kenyataan”, ujar Nurdin. Dalam melakukan perjuangan, PBI
dilandasi jalan damai, tidak mengerahkan massa. Sebagai Parpol, PBI
memiliki visi dan misi yakni tidak akan dipengaruhi atau mau terpengaruh
oleh pihak-pihak lain. PBI akan maju dengan konsepnya sendiri dalam
memperjuangkan aspirasi politik kader dan simpatisannya.
“PBI akan maju untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil, makmur dan
beradap serta demokratis”, ungkap Nurdin. Dia pun optimis dalam Pemilu
nanti, PBI akan naik kelas dari 10 besar menjadi 5 besar. Itu artinya,
kader PBI akan semakin banyak duduk di legislatif baik di daerah maupun di
pusat. Maka semakin terbukalah peluang bagi PBI menempatkan Ketua Umum DPP
PBI sebagai calon Presiden (Capres) Indonesia tahun 2004 ini.
Kalau ada yang mengancam Anda jika tampil sebagai Capres? Wah, tidak
masanya lagi menakut-nakuti. Komitmen saya akan menjadikan PBI sebagai
salah satu sarana perjuangan untuk kepentingan orang banyak. Tampilnya PBI
dalam kancah politik yang dimulai pada Pemilu 1999 sudah tepat sebagai
awal pergerakan menciptakan iklim demokrasi. “Momentum itu akan kami
pergunakan sebaik-baiknya dan mengajak masyarakat Indonesia untuk bersama-sama
membangun bangsa ini”, ujar deklarator PBI itu.
Pendirian PBI bukan merupakan akhir perjuangan, justru menjadi awal kerja
keras dan perjuangan yang amat panjang menciptakan masyarakat madani.
Menurut Nurdin persiapan PBI menghadapi Pemilu 2004 nanti lebih baik dari
Pemilu 1999. “Kami sudah siap bertarung dalam Pemilu mendatang”, kata
Nurdin. Dia pun sangat optimis pemilih PBI akan berkembang.
Ditanya tentang dukungan konglomerat WNI keturunan Tionghoa terhadap PBI,
Nurdin mengatakan banyak yang masih menunda partisipasinya. Alasannya,
sudah sempat duduk di partai ini dan partai itu. “Saya yakin, jika sudah
memahami perjuangan PBI, mereka akan datang tanpa dipanggil atau disuruh,”
ungkap Nurdin Purnomo.
Nurdin mengakui pada Pemilu lalu masih banyak peraturan yang dilanggar
oleh Parpol dan dibenarkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Karena itu,
Nurdin menilai proses Pemilu lalu tidak layak disebut sebagai Pesta
Demokrasi karena sarat dengan pelanggaran yang akhirnya melukai dan
menyakiti para pengurus Parpol. Kalau bentuk pelanggaran masih mewarnai
proses Pemilu 2004 ini, janganlah disebut Pesta Demokrasi. Barangkali
lebih tepat sebutan kontens Parpol-parpol saja.
*** Ensiklopedi Tokoh Indonesia, hs
|
|