| |
CR updated
28042003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Nurcholis Madjid
Lahir:
Jombang, Jawa Timur, 17 Maret 1939
Pendidikan
Pesantren Darul ‘ulum Rejoso, Jombang, Jawa Timur, 1955
Pesantren Darul Salam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur 1960
Institute Agama Islam Negeri (IAIN), syarif hassuyatullah, Jakarta, 1965
(BA, Sastra Arab)
Institute Agama Islam Negeri (IAIN), syarif hassuyatullah, Jakarta, 1968 (Doktorandus,
Sastra Arab)
The University of Chicago (Universitas Chicago), Chicago, Illinois, USA,
1984 (Ph.D, Studi Agama Islam)
Bidang yang diminati
Filsafah dan Pemikiran Islam, Reformasi Islam, Kebudayaan Islam, Politik
dan Agama
Sosiologi Agama, Politik negara-negara berkembang
Pekerjaan
Peneliti, Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial (LEKNAS-LIPI),
Jakarta 1978-1984
Peneliti Senior, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta,
1984-sekarang
Dosen, Fakultas Pasca Sarjana, Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Syaruf
Hadayatullah, Jakarta 1985-sekarang
Rektor, Universitas Paramadina Mulya, Jakarta, 1998 – Sekarang
|
|
| |
|
|
|
|
=
1
2
3
4
5 = Dr. Nurcholis Madjid (4)
Kegelisahan Soal Mutu Pendidikan
Di tengah kegelisahannya melihat kondisi bangsa saat ini, ia masih sempat
menyoroti pembangunan pendidikan yang dianaktirikan selama ini. Mutunyapun
memprihatinkan. Dari 106 negara, Indonesia berada di urutan ke 102.
Indonesia sudah 58 tahun merdeka, tapi kualitas pendidikan belum
menggembirakan. Mutu pendidikan, Indonesia ketinggalan jauh, di banding
dengan negara-negara tetangga. Merosotnya mutu pendidikan, tidak terlepas
dari kebijakan pemerintah.
Selama ini dan cenderung masih berlangsung hingga sekarang, perhatian
pemerintah untuk memajukan pendidikan kurang. Pengadaan sandang, pangan
dan papan masih mendapat prioritas. Sementara pembangunan pendidikan
ditempatkan diurutan ke sekian. Hingga kini, kebijakan pemerintah belum
berpihak kepada pengembangan mutu pendidikan.
Bahkan pihak luar menilai fasilitas lembaga pendidikan Indonesia-kecuali
Fakultas Kedokteran, tidak memenuhi syarat dan sudah ketinggalan zaman.
Sistem politik Indonesia pun cenderung mengekang kebebasan lembaga
pendidikan. Dengan sistem politik yang sangat sentralistik, fasilitas
pendidikan menumpuk di Jawa hingga 65 persen sedang 35 persen lagi untuk
daerah di luar Jawa. Akibatnya, pendidikan di luar Jawa sangat tertinggal
di banding di Jawa.
Maraknya korupsi di Indonesia juga menjadi penghambat berbagai kemajuan
termasuk bidang pendidikan. Lihat saja, ada pejabat atau mantan pejabat
yang mengoleksi mobil-mobil mewah hingga belasan jumlahnya. “Saya tidak
tahu dari mana duit pejabat itu sehingga mampu membeli puluhan mobil yang
harganya ratusan juta rupiah”, kata Rektor Universitas Paramadina, Prof Dr
Nurcholish Madjid, geleng kepala.
Di Amerika, Jepang dan negara-negara lain baik di Asia dan Eropa,
perkembangan pendidikan hampir merata. Sebab, anggaran yang dialokasikan
ke pendidikan besar dan berjalan lancar. Sementara PTS di Indonesia,
hampir tidak pernah lagi mendapat bantuan dari pemerintah.
Dalam laporan statistik, penyandang gelar doktor (S3) di Indonesia sangat
rendah. Dari satu juta penduduknya, yang bergelar S3 (diraih secara
prosedur) hanya 65 orang. Amerika dari satu juta penduduknya, 6.500 orang
bergelar S3, Israel 16.500, Perancis 5000, German 4.000, India 1.300 orang.
“Jika Indonesia ingin menyamai India, harus bekerja 20 kali lipat lagi”,
katanya.
Meski demikian, dia tetap optimis mutu pendidikan Indonesia masih bisa
ditingkatkan, asalkan pemerintah berkenan. Tergantung kepada kemauan
pemerintah.
Memang, tugas pemerintah tidak hanya memikirkan pendidikan, tetapi
forsinya jangan sampai dikorbankan karena bidang lain. Investasi SDM lewat
jalur pendidikan masih sangat dibutuhkan bangsa ini dalam rangka mengejar
ketertinggalannya. Terjadinya kesenjangan di Indonesia karena pendidikan
tidak bermutu dan berkembang.
Menurutnya, pendidikan bermutu mampu mengatasi kesenjangan. Contohnya,
Korea Selatan. Negara ini memberikan prioritas untuk majukan pendidikan.
Pengadaan sandang, pangan dan papan perlu tapi pembangunan pendidikan
jangan sampai dianaktirikan. Kemajuan sebuah negara sangat ditentukan
tingkat pendidikan sumber daya manusianya.
“Mengedepankan bidang pendidikan sangat tepat”, ujar tokoh nasional yang
selalu berpenampilan sederhana itu.
Memang ada konsekuensinya jika pendidikan berkembang melebihi sektor
lainnya. Jika dalam suatu negara, masyarakatnya memiliki pengetahuan
tinggi tapi nganggur sangat berpotensi untuk ribut-ribut seperti di Korea.
Banyak pihak mengatakan kemajuan pendidikan di Korea justru dipergunakan
untuk keributan. Tetapi setelah bosan bertikai, kemudian pandangan mereka
pun berubah. Sebab, masyarakatnya yang terdidik sama-sama berpikir
menciptakan kegiatan untuk memakmurkan masyarakatnya. Korea berkembang dan
maju.
Contoh lainnya, Malaysia yang pada tahun 1970-an, masih mengimpor tenaga
pengajar dari Indonesia. Kini, pendidikan di Malaysia jauh di atas
Indonesia. Mengapa? Pemerintahnya memberikan perhatian yang sangat serius.
Tidak seperti di Indonesia, pendidikan kurang diperhatikan. “Di masa lalu
pemerintah terkesan ragu membangun sektor pendidikan ini”, ujar Nurcholish
yang mendapat gelar doktor dari Universitas Chicago, Illinois, Amerika
tahun 1984. Dia berharap, di masa mendatang pemerintah dapat
memprioritaskan pembangunan pendidikan.
Kegelisahan akan pembangunan pendidikan yang berjalan tidak sebagaimana
mestinya itu membuatnya berinisiatif mendirikan Universitas Paramadina
tahun 1998. Kampus ini dicanangkan sebagai ladang persamaian kader manusia
baru. Paramadina dengan bangga menyambut calon mahasiswa yang mau belajar
dan menyediakan diri menghadapi tantangan. Obsesinya, mencetak
manusia-manusia baru yang meresapi makna beragama, menguasai ilmu dan
teknologi, mengedepankan etos kewirausahaan.
Perhatiannya terhadap masalah pendidikan membuktikan bahwa ternyata Cak
Nur bukan sekadar ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia.
Ia juga seorang pemikir dan pelaku di bidang pendidikan. Gagasan tentang
pluralisme telah menempatkannya sebagai intelektual muslim terdepan.
Terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus di dalam berbagai kemorosotan
dan ancaman disintegrasi bangsa.
*** e-ti,
Hatorangan dari berbagai sumber.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|