| |
CR updated
29082005-28042003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Nurcholis Madjid
Lahir:
Jombang, Jawa Timur, 17 Maret 1939
Meninggal:
Jakarta, 29 Agustus 2005
Agama:
Islam
Isteri:
Omi Komariah
Anak:
- Nadia Madjid
- Ahmad Mikail
Menantu:
David Bychkon
Pendidikan
Pesantren Darul ‘ulum Rejoso, Jombang, Jawa Timur, 1955
Pesantren Darul Salam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur 1960
Institute Agama Islam Negeri (IAIN), syarif hassuyatullah, Jakarta, 1965
(BA, Sastra Arab)
Institute Agama Islam Negeri (IAIN), syarif hassuyatullah, Jakarta, 1968 (Doktorandus,
Sastra Arab)
The University of Chicago (Universitas Chicago), Chicago, Illinois, USA,
1984 (Ph.D, Studi Agama Islam)
Bidang yang diminati
Filsafah dan Pemikiran Islam, Reformasi Islam, Kebudayaan Islam, Politik
dan Agama
Sosiologi Agama, Politik negara-negara berkembang
Pekerjaan
Peneliti, Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial (LEKNAS-LIPI),
Jakarta 1978-1984
Peneliti Senior, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta,
1984-sekarang
Dosen, Fakultas Pasca Sarjana, Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Syaruf
Hadayatullah, Jakarta 1985-sekarang
Rektor, Universitas Paramadina Mulya, Jakarta, 1998 – Sekarang
Penerbitan (sebagian)
The issue of modernization among Muslim in Indonesia, a participant
point of view in Gloria Davies, ed. What is Modern Indonesia Culture
(Athens, Ohio, Ohio University, 1978)
(“Issue tentang modernisasi di antara Muslim di Indonesia: Titik pandangan
seorang peserta” dalam Gloria Davies edisi. Apakah kebudayaan Indonesia
Modern (Athens, Ohio, Ohio University, 1978)
“Islam In Indonesia: Challenges and Opportunities” in Cyriac K. Pullabilly,
Ed. Islam in Modern World (Bloomington, Indiana: Crossroads, 1982)
“Islam Di Indonesia: Tantangan dan Peluang”” dalam Cyriac K. Pullapilly,
Edisi, Islam dalam Dunia Modern (Bloomington, Indiana: Crossroads, 1982)
Khazanah Intelektual Islam (Intellectual Treasure of Islam) (Jakarta,
Bulan Bintang, 1982)
Khazanah, Intelektual Islam (Jakarta, Bulan Bintang, 1982)
Islam Kemoderanan dan Keindonesiaan (Islam, Modernity and Indonesianism),
(Bandung: Mizan, 1987, 1988)
Islam, Doktrin dan Peradaban (Islam, Doctrines and civilizations),
(Jakarta, Paramadina, 1992)
Islam, Kerakyatan dan KeIndonesiaan (Islam, Populism and Indonesianism) (Bandung:
Mizan, 1993)
Pintu-pintu menuju Tuhan (Gates to God), (Jakarta, Paramdina, 1994)
Islam, Agama Kemanusiaan (Islam, the religion of Humanism), (Jakarta,
Paramadina, 1995)
Islam, Agam Peradaban (Islam, the Religion of Civilization), (Jakarta,
Paramadina, 1995)
“In Search of Islamic Roots for Modern Pluralism: The Indonesian
Experiences.” In Mark Woodward ed., Toward a new Paradigm, Recent
Developments in Indonesian
IslamicThoughts (Teme, Arizona: Arizona State University, 1996)
“Pencarian akar-akar Islam bagi pluralisme Modern : Pengalaman Indonesia
dalam Mark Woodward edisi, menuju suatu dalam paradigma baru, Perkembangan
terkini dalam pemikiran Islam Indonesia (Teme, Arizona: Arizona State
University, 1996)
Dialog Keterbukaan (Dialogues of Openness), (Jakarta, Paradima, 1997)
Cendekiawan dan Religious Masyarakat (Intellectuals and Community’s
Religiously), (Jakarta: Paramadina, 1999)
Lain-lain
Anggota MPR-RI 1987-1992 dan 1992-1997
Anggota Dewan Pers Nasional, 1990-1998
Ketua yayasan Paramadina, Jakarta 1985-Sekarang
Fellow, Eisenhower Fellowship, Philadelphia, 1990
Anggota KOMNAS HAM, 1993-Sekarang
Profesor Tamu, McGill University, Montreal, Canada, 1991-1992
Wakil Ketua, Dewan Penasehat ICMI, 1990-1995
Anggota Dewan Penasehat ICM, 1996
Penerima Cultural Award ICM, 1995
Rektor Universitas Paramadina Mulya, Jakarta 1998-Sekarang
Penerima “Bintang Maha Putra”, Jakarta 1998
Keikutsertaan dalam events internasional
Presenter, Seminar Internasional tentang “Agama Dunia dan
Pluralisme”, Nopember 1992, Bellagio, Italy
Presenter, Konperensi Internasional tentang “Agama-agama dan Perdamaian
Dunia”, April 1993, Vienna, Austria
Presenter, Seminar Internasional tentang “Islam di Asia Tenggara”, Mei
1993, Honolulu, Hawaii, USA
Presenter, Seminar Internasional tentang “Persesuaian aliran Pemikiran
Islam”, Mei 1993, Teheran, Iran.
Presenter, Seminar internasional tentang “Ekspresi-ekspresi kebudayaan
tentang Pluralisme”, Jakarta 1995, Cassablanca, Morocco
Presenter, seminar internasional tentang “Islam dan Masyarakat sipil”,
Maret 1995, Bellegio, Italy
Presenter, seminar internasional tentang “Kebudayaan Islam di Asia
Tenggara”, Juni 1995, Canberra, Australia
Presenter, seminar internasional tentang “Islam dan Masyarakat sipil”,
September 1995, Melbourne, Australia
Presenter, seminar internasional tentang “Agama-agama dan Komunitas Dunia
Abad ke-21,” Juni 1996, Leiden, Netherlands.
Presenter, seminar internasional tentang “Hak-hak Asasi Manusia”, Juni
1996, Tokyo, Jepang
Presenter, seminar internasional tentang “Dunia Melayu”, September 1996,
Kuala Lumpur, Malaysia
Presenter, seminar internasional tentang “Agama dan Masyarakat Sipil”,
1997 Kuala lumpur
Pembicara, konperensi USINDO (United States Indonesian Society), Maret
1997, Washington DC, USA
Peserta, Konperensi Internasional tentang “Agama dan Perdamaian Dunia” (Konperensi
Kedua, Mei 1997, Vienna, Austria
Peserta, Seminar tentang “Kebangkitan Islam”, Nopember 1997, Universitas
Emory, Atlanta, Georgia, USA
Pembicara, Seminar tentang “Islam dan Masyarakat Sipil” Nopember 1997,
Universitas Georgetown, Washington DC, USA
Pembicara, Seminar tentang “Islam dan Pluralisme”, Nopember 1997,
Universitas Washington, Seattle, Washington DC, USA
Sarjana Tamu dan Pembicara, Konperensi Tahunan, MESA (Asosiasi Studi
tentang Timur Tengah), Nopember 1997, San Francisco, California, USA
Sarjana Tamu dan Pembicara, Konperensi Tahunan AAR (America Academy of
Religion) Akademi Keagamaan Amerika, Nopember 1997, California, USA
Presenter, Konperensi Internasional tentang “Islam dan Hak-hak Asasi
Manusia”, Oktober 1998, Geneva, Switzerland
Presenter, Konperensi Internasional tentang “Agama-agama dan Hak-hak asasi
Manusia”, Nopember 1998 state Departmen (departemen luar negeri amerika),
Washington DC, USA
Peserta Presenter “Konperensi Pemimpin-pemimpin Asia”, September 1999,
Brisbane, Australia
Presenter, Konperensi Internasional tentang “Islam dan Hak-hak Asasi
Manusia, pesan-pesan dari Asia Tenggara”, Nopember 1999, Ito City, Japan
Peserta, Sidang ke-7 konperensi Dunia tentang Agama dan Perdamaian (WCRP),
Nopember 1999, Amman, Jordan.
Alalat Rumah Keluarga:
Jalan Johari I No.8, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
|
|
| |
|
|
|
|
=
1
2
3
4
5 =
Nurcholis Madjid Berpulang Dalam Damai Ikon
pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia,
Nurcholis Madjid menghembuskan nafas terakhir dengan wajah damai setelah
melafalkan nama Allah pada Senin 29 Agustus 2005 pukul 14.05 WIB di
Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), Jakarta Selatan. Cendekiawan kelahiran Jombang, Jawa Timur, 17 Maret 1939,
itu meninggal akibat penyakit hati yang dideritanya.
Cak Nur, panggilan akrabnya, mengembuskan napas terakhir di
hadapan istrinya Omi Komariah, putrinya Nadia Madjid, putranya Ahmad
Mikail, menantunya David Bychkon, sahabatnya Utomo Danandjaja,
sekretarisnya Rahmat Hidayat, stafnya Nizar, keponakan dan adiknya.
Cak Nur dirawat di RS Pondok Indah mulai 15 Agustus karena
mengalami gangguan pada pencernaan. Pada 23 Juli 2004 dia menjalani
operasi transplantasi hati di RS Taiping, Provinsi Guangdong, China.
Jenazah Rektor Universitas Paramadina itu disemayamkan di
Auditorium Universitas Paramadina di Jalan Gatot Subroto, Jakarta.
Kemudian jenazah penerima Bintang Mahaputra Utama itu diberangkatkan dari Universitas Paramadina setelah
upacara penyerahan jenazah dari keluarga kepada negara yang dipimpin
Menteri Agama Maftuh Basyuni, untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan
(TMP) Kalibata Selasa (30/8) pukul 10.00 WIB. Sementara, acara pemakaman
secara kenegaraan di TMP Kalibata dipimpin oleh
Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Alwi Shihab.
Sejumlah tokoh datang melayat dan melakukan shalat jenazah. Di antaranya
Presiden Susilo Bambang Yudhoyo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan
Presiden KH Abdurrahman Wahid, Syafi’i Ma’arif, Siswono Yudo Husodo,
Rosyad Sholeh, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua Umum PP Muhammadiyah
Din Syamsuddin, Azyumardi Azra, mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua
Panitia Ad Hoc II DPD Sarwono Kusumatmadja, Wakil Ketua DPD Irman
Gusman, Agung Laksono. Juga melayat Pendeta Nathan Setiabudi,
Kwik Kian Gie, dan banyak lagi. Sementara pernyataan dukacita mengalir
antara lain dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Majelis Tinggi
Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), Presidium Pusat Himpunan Mahasiswa
Buddhis Indonesia, keluarga besar Solidaritas Tanpa Batas (Solidamor),
dan lain-lain.
Seluruh bangsa Indonesia kehilangan seorang tokoh yang menjadi ikon
pemikiran pembaruan dan gerakan Islam di negeri ini. Gagasan tentang
pluralisme telah menempatkannya sebagai intelektual muslim terdepan. Dia
menganggap penting pluralisme, karena ia meyakini bahwa pluralisme
adalah bagian dari ketentuan Tuhan yang tak terelakkan.
Dia mengembangkan pemikiran mengenai pluralisme dalam bingkai civil
society, demokrasi, dan peradaban. Menurutnya, jika bangsa Indonesia mau
membangun peradaban, pluralisme adalah inti dari nilai keadaban itu,
termasuk di dalamnya, penegakan hukum yang adil dan pelaksanaan hak
asasi manusia. Dr. Nurcholis Madjid (1)
Cendekiawan Muslim Milik Bangsa
Nurcholis Madjid, yang populer dipanggil Cak Nur, itu merupakan ikon
pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Ia cendekiawan muslim
milik bangsa. Gagasan tentang pluralisme telah menempatkannya sebagai
intelektual muslim terdepan. Terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus
di dalam berbagai kemorosotan dan ancaman disintegrasi bangsa.
Namanya
sempat mencuat sebagai salah seorang kandidat calon presiden Pemilu
2004. Namun akhirnya ia mengundurkan diri proses pencalonan melalui
Konvensi Partai Golkar. Belakangan dia sakit dan sempat beberapa lama
dirawat di Singapura.
Cak Nur lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga kiai terpandang di
Mojoanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 17 Maret 1939. Ayahnya, KH Abdul
Madjid, dikenal sebagai pendukung Masyumi. Setelah melewati pendidikan di
berbagai pesantren, termasuk Gontor, Ponorogo, menempuh studi kesarjanaan
IAIN Jakarta (1961-1968), tokoh HMI ini menjalani studi doktoralnya di
Universitas Chicago, Amerika Serikat (1978-1984), dengan disertasi tentang
filsafat dan khalam Ibnu Taimiya.
Nurcholish Madjid kecil semula bercita-cita menjadi masinis kereta api.
Namun, setelah dewasa malah menjadi kandidat masinis dalam bentuk lain,
menjadi pengemudi lokomotif yang membawa gerbong bangsa.
Sebenarnya menjadi masinis lokomotif politik adalah pilihan yang lebih
masuk akal. Nurcholish muda hidup di tengah keluarga yang lebih kental
membicarakan soal politik ketimbang mesin uap. Keluarganya berasal dari
lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) dan ayahnya, Kiai Haji Abdul Madjid,
adalah salah seorang pemimpin partai politik Masyumi. Saat terjadi “geger”
politik NU keluar dari Masyumi dan membentuk partai sendiri, ayahnya tetap
bertahan di Masyumi. Sahabat Cak Nur, Utomo Dananjaya, Direktur Institute
for Education Reform Universitas Paramadina mengatakan, “Dengan nuansa
politik pada waktu itu, keluarga Cak Nur biasa mengobrol, mendengar,
bicara soal-soal politik.”
Utomo kerap dituding sebagai salah seorang “kompor” yang mendorong
Nurcholish ke pentas politik. Atas tudingan itu ia berseloroh, “Ah tidak,
politik sudah ada dalam pemikiran Cak Nur sejak pemilu tahun 1955.
Generasi saya dan dia sudah cukup dewasa untuk memahami, membaca, dan
melihat politik.”
Kesadaran politik Nurcholish muda terpicu oleh kegiatan orang tuanya yang
sangat aktif dalam urusan pemilu. Apalagi orang tua santri Kulliyatul
Mualimin al-Islamiyah Pesantren Darus Salam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur,
itu adalah kiai, tokoh masyarakat, sekaligus pemimpin Masyumi. “Mengobrol
dalam keluarga tentu termasuk juga soal politik. Hanya, Cak Nur itu kan
yang menonjol pemikirannya, bukan sikap politiknya,” kata Utomo, yang
akrab dipanggil Mas Tom.
Politik praktis mulai dikenal Nurcholish saat menjadi mahasiswa. Ia
terpilih sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Ciputat,
tempat Nurcholish menimba ilmu di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Islam
Institut Agama Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Jakarta. Pengalamannya
bertambah saat menjadi salah satu calon Ketua Umum Pengurus Besar HMI.
Saat menjadi kandidat ketua umum, kemampuan Nurcholish sudah cukup komplet.
Pikirannya, ngajinya, menjadi imam, khotbah, ceramah agama, bagus semua.
“Orang-orang HMI waktu itu terpukau oleh pikiran-pikiran Cak Nur,” kata
Utomo menirukan kekaguman Eky Syahrudin Duta Besar Indonesia untuk Kanada
itu.
Kendati memimpin organisasi mahasiswa ekstrakurikuler yang disegani pada
awal zaman Orde Baru, Nurcholish tidak menonjol di lapangan sebagai
demonstran. Bahkan namanya juga tidak berkibar di lingkungan politik
sebagai pengurus Komite Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), kumpulan
mahasiswa yang dianggap berperan menumbangkan Presiden Sukarno dan
mendudukkan Mayor Jenderal Soeharto sebagai penggantinya. Prestasi Cak Nur
lebih terukir di pentas pemikiran. Terutama pendapatnya tentang soal
demokrasi, pluralisme, humanisme, dan keyakinannya untuk memandang
modernisasi atau modernisme bukan sebagai Barat, modernisme bukan
westernisme. Modernisme dilihat Cak Nur sebagai gejala global, seperti
halnya demokrasi.
Pemikiran Nurcholish tersebar melalui berbagai tulisannya yang dimuat
secara berkala di tabloid Mimbar Demokrasi, yang diterbitkan HMI. Gagasan
Presiden Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara ini memukau banyak orang,
hingga Nurcholish digelari oleh orang-orang Masyumi sebagai “Natsir muda”.
“Gelar Natsir muda itu bukan karena dia pintar agama, melainkan karena
pemikiran-pemikirannya. Saat itu hampir semua orang bilang begitu,” ujar
Utomo, yang mengaku kenal Nurcholish sejak tahun 1960-an, yaitu saat Tom
menjadi Ketua Umum Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Nurcholish Ketua Umum
HMI.
Pemikiran Nurcholish yang paling menggegerkan khalayak, terutama para
aktivis gerakan Islam, adalah saat pemimpin umum majalah Mimbar Jakarta
ini melontarkan pernyataan “Islam yes, partai Islam no”. Nurcholish ketika
itu menganggap partai-partai Islam sudah menjadi “Tuhan” baru bagi
orang-orang Islam. Partai atau organisasi Islam dianggap sakral dan orang
Islam yang tak memilih partai Islam dalam pemilu dituding melakukan dosa
besar. Bahkan, bagi kalangan NU, haram memilih Partai Masyumi. Padahal
orang Islam tersebar di mana-mana, termasuk di partai milik penguasa Orde
Baru, Golkar. Pada waktu itu sedang tumbuh obsesi persatuan Islam. Kalau
tidak bersatu, Islam menjadi lemah. Cak Nur menawarkan tradisi baru bahwa
dalam semangat demokrasi tidak harus bersatu dalam organisasi karena
keyakinan, tetapi dalam konteks yang lebih luas, yaitu kebangsaan.
Karena gagasannya ini, tuduhan negatif datang ke arah Nurcholish, mulai
dari pemikir aktivis gerakan Islam sampai peneliti asing. Di dalam negeri,
pemikiran Nurcholish ditentang tokoh Masyumi, Profesor H.M. Rasjidi.
Sedangkan dari negeri jiran, Malaysia, ia dicerca oleh Muhammad Kamal
Hassan, penulis disertasi yang kemudian diterbitkan dengan judul Muslim
Intellectual Responses to “New Order” Modernization in Indonesia. Hassan
menuding Nurcholish sebagai anggota Operasi Khusus (Opsus) di bawah Ali
Moertopo. Tudingan ini dibantah Utomo, yang kenal betul pribadi Nurcholish.
“Tuduhan itu tidak berdasar, karena kami saat itu benar-benar bersama-sama.
Itu fitnah, dan Kamal Hassan tak pernah bertemu kami untuk mengkonfirmasi
sumbernya itu,” ujar Tom.
Kejutan berikut datang lagi pada Pemilu 1977, dalam pertemuan di kantor
Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), saat para aktivisnya sedang
cenderung memilih Golkar sebagai kendaraan politik. Nurcholish
satu-satunya tokoh yang meminta agar mahasiswa tidak memilih Golkar.
“Sebab, waktu itu, menurut Cak Nur, Golkar sudah memiliki segalanya,
militer, birokrasi, dan uang,” kata Utomo. Maka, dalam kampanye Partai
Persatuan Pembangunan (P3), Nurcholish mengemukakan teori “memompa ban
kempes”, yaitu pemikiran agar mahasiswa memilih partai saja ketimbang
Golkar. “Cak Nur percaya pada check and balances, mengajak mahasiswa agar
tidak memilih Golkar, dan dia tak masuk Golkar. Ada pengaruh atau tidak?
Nyatanya, di Jakarta PPP menang. Dengan tema demokrasinya itu, orang
menjadi lebih berani, sehingga Golkar di Jakarta terus-terusan kalah,”
ujar Mas Tom.
Pemikiran politik Nurcholish semakin memasuki ranah filsafat setelah ia
kuliah di Universitas Chicago, di Chicago, Illinois, Amerika Serikat,
untuk meraih gelar doktor dalam bidang filsafat. Nurcholish terlibat
perdebatan segitiga yang seru dengan Amien Rais dan Mohamad Roem.
Pemicunya adalah tulisan Amien Rais di majalah Panji Masyarakat, “Tidak
Ada Negara Islam”, yang menggulirkan kegiatan surat-menyurat antara
Nurcholish yang berada di Amerika dan Roem di Indonesia. Cak Nur
menyatakan tidak ada ajaran Islam yang secara qoth’i (jelas) untuk
membentuk negara Islam. Surat-surat pribadi itu ternyata tak hanya dibaca
Roem, tetapi juga menyebar ke tokoh lain, misalnya Ridwan Saidi dan Tom
sendiri.
Barangkali itu sebabnya, ketika Nurcholish pulang dari Amerika pada tahun
1984, setelah meraih gelar Ph.D, lebih dari 100 orang menyambutnya di
Pelabuhan Udara Internasional Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Mereka antara
lain Fahmi Idris, Soegeng Sarjadi, A.M. Fatwa, dan para tokoh lainnya.
“Cak Nur saya kira istimewa. Ketika pulang dari AS, ternyata banyak sekali
orang yang menyambutnya. Saya tidak pernah melihat seseorang yang selesai
sekolah disambut seperti itu,” kata Mas Tom kagum.
Di kalangan alumni HMI, Nurcholish sangat berpengaruh. Misalnya, saat
Korps Alumni HMI (KAHMI) akhirnya menerima Pancasila sebagai asas tunggal
dan harus menemui Presiden Soeharto di Istana, Nurcholish “diculik”
kawan-kawan HMI-nya untuk menghadap Presiden. “Karena ada orang yang
berusaha tidak mengikutkannya. Tapi ada yang menyatakan dia harus ikut.
Sebab, kalau Cak Nur datang, pertemuan menjadi cukup kuat,” kata Mas Tom
yang ahli pendidikan itu.
Pertemuan Nurcholish dengan Soeharto terakhir, pada Mei 1998, menunjukkan
besarnya pengaruh Cak Nur. Saat itu Nurcholish berbicara langsung kepada
Soeharto memintanya mundur.
Kata Mereka Tentang Cak Nur
Namun, kritik terhadap seseorang selalu ada. Demikian pula halnya terhadap
Cak Nur. Penentang lama Nurcholish, Daud Rasyid, meragukan kemampuan Cak
Nur. Menurut Daud, pengalaman Cak Nur terjun ke kancah politik belum ada.
“Cak Nur cukup dekat dengan pemerintah Orde Baru, sering memanfaatkan
situasi, dan mengikuti arah politik pada saat itu,” katanya. Nah, tipe
pemimpin seperti itu, menurut Daud, susah diharapkan membawa bangsa yang
besar. “Pemimpin yang dikenal tegar saja menghadapi sebuah rezim
kadang-kadang tak kuat,” ujar Daud. Rupanya, Daud tak menyimak sepuluh
butir pernyataan yang menjadi platform Cak Nur. Salah satu butirnya
menyebutkan perlunya dilakukan rekonsiliasi nasional. Dan hanya dengan
cara ini bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa besar.
Kritik lain datang dari melalui buku Pluralisme Borjuis (Kritik atas Nalar
Pluralisme Cak Nur) yang ditulis Nur Khalik Ridwan. Ridwan melakukan
kajian kritis atas gagasan pluralisme Cak Nur. Peneliti alumni IAIN Sunan
Kalijaga, Yogyakarta, ini menganggap pemikiran Cak Nur, kendati memiliki
tingkat liberalisasi tinggi, serta didukung penguasaan khazanah Islam
klasik dan modern, telah menjadi semacam rezim kebenaran atau hegemoni
intelektual bercorak logosentris. Pribadinya cenderung dikultuskan, dan
gagasannya "disakralkan".
Dalam resensi yang ditulis J. Sumardianta, Pustakawan, tinggal di
Yogyakarta mencatat pluralisme Cak Nur inilah yang dikaji Khalik dengan
perspektif lain.
Berdasarkan hasil lacakan atas genealogi keluarga dan komunitas sosialnya,
Khalik menyebut Cak Nur berasal dari lingkaran Islam borjuis. Tipologi
Islam borjuis digunakan Khalik untuk mengidentifikasi kelas mengengah atas
muslim perkotaan yang secara ekonomi mapan, ideologinya condong ke
Masyumi-HMI, dan cenderung mengusung simbol-simbol Islam formal. Menurut
Khalik, pluralisme Cak Nur, yang bertumpu pada gagasan Islam agama
universal, tetap berputar di orbit komunal partikular karena masih melihat
kebenaran agama lain dengan perspektif agama sendiri.
Dalam konteks ahlulkitab, Cak Nur hanya terpaku pada agama formal dan
mengesampingkan "paham-paham keagamaan" masyarakat adat yang terkesan
primitif namun kaya kearifan. Gagasan Cak Nur tentang sekularisasi (menghindarkan
umat dari kecenderungan mengukhrawikan persoalan duniawi tanpa kecuali
gagasan negara Islam) dan modernisasi (menganjurkan umat berpikir rasional
dengan mendukung pembangunan) dinilai Khalik sebagai strategi buat
mengelabui rezim otoritarian Orde Baru. Agar komunitas Islam borjuis tidak
terus-menerus larut dalam trauma kepahitan politik dibubarkannya Masyumi.
Ide “Islam yes, partai Islam no”, yang diintroduksi Cak Nur saat Soeharto
mengebiri partai berbasis agama dan ideologi pada awal 1970-an, dinilai
Khalik sebagai strategi neo-Masyumi untuk bersimbiosis dengan kepentingan
rezim, agar mereka tidak lagi dituduh mengusung formalisme Islam ke arena
politik. Dan, agar Soeharto memandang pewaris Masyumi menyantuni Islam
substantif. Tak mengheran bila mereka banyak yang jadi petinggi Golkar dan
terserap ke birokrasi pemerintahan.
Pluralisme Cak Nur, di mata Khalik, tidak memiliki sensitivitas pembebasan
bagi kaum buruh, petani miskin di pedesaan, penghuni kampung kumuh,
gelandangan, dan "sampah masyarakat" perkotaan lainnya yang rentan
ketidakadilan sekaligus pengambinghitaman. Konsepsi Cak Nur tentang Islam
sebagai agama keadilan, agama kemanusiaan, dan agama peradaban hanya bisa
diakses kaum profesional dan eksekutif muda bergelimang duit, namun
kerontang spiritual, melalui berbagai kursus filsafat keagamaan yang
diselenggarakan Paramadina di hotel-hotel berbintang. Tak mengherankan
pula bila Khalik menyebut kinerja Cak Nur sebagai pluralisme borjuis.
Sayang, kerangka sosiologi pengetahuan John B. Thompson, dalam Studies in
the Theory of Ideology (1985), kurang didayagunakan Khalik untuk
mempertajam hasil analisis. Kendati disajikan dengan langgam subjektivitas
yang meledak-ledak, buku ini tergolong karya teologi pembebasan tahap
keempat. Refleksinya sudah menggunakan metode analisis nonmarxis,
berangkat bukan dari dogmatisme agama, melainkan keprihatinan iman wong
kesrakat, dan menyantuni heterogenitas agama dalam perjumpaannya dengan
Islam.*** Yayat,
dari berbagai sumber.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|