| |
C © updated 21102009 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
BIODATA
Nama:
Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek SpM
Nama Panggilan:
Nila
Lahir:
Jakarta, 11 April 1949
Jabatan:
Guru Besar dan Ketua Medical Research Unit Fakultas Kedokteran UI
Suami:
Prof Dr dr H Farid Anfasa Moeloek, SpOG (Mantan Menteri Kesehatan)
Anak:
- Ir. Muhammad Reiza Moeloek
- Ir. Puti Alifa Moeloek
- Puti Anisa Moeloek
Pendidikan:
- S1 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
- S2 Spesialis Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- S3 (Doktor) Ilmu Kedokteran dari FKUI dengan disertasi tentang Model
Diagnostik Pemeriksaan Tumor Orbita, Dalam Upaya Penemuan Tumor Orbita
Lebih Dini.
Karir:
- PNS NIP 194904111976032001
- Dosen Fakultas Kedokteran UI
- Guru Besar Fakultas Kedokteran UI
- Dokter Spesialis Mata RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
- Dokter Spesialis Mata Klinik Mata Talang
- Ketua Medical Research Unit Fakultas Kedokteran UI (2007-2009)
Organisasi:
- Anggota Korpri (Korps Pegawai Republik Indonesia) RSUPN Cipto
Mangunkusumo, Jakarta
- Ketua Umum Dharma Wanita Persatuan (1999-2004 dan 2004-2009)
- Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
- Anggota Persatuan Dokter Mata Indonesia (Perdami)
- Anggota International Society Orbital Disorder, Oculoplastic and
Lacrimal Surgery
- Ketua BPK PP Perdami
- Ketua/Anggota Seminat Tumor Mata-Plastik Rekonstruksi Perdami
Alamat Rumah :
Jalan Kesehatan IV No. 7, Jakarta Pusat
Alamat Kantor:
Departemen Kesehatan RI
Jl. Rasuna Said Kav. 4-9, Jakarta Selatan
Telp: (021) 5201590 Fax: (021) 5201591
Email:
- nila.djuwita@ui.ac.id
- nilamoeloek@yahoo.com
|
|
| |
|
|
|
|
| NILA DJUWITA HOME |
|
|
 |
Nila Djuwita Moeloek
Guru Besar dan Aktivis Kesehatan
Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Farid Moeloek, SpM yang akrab dipanggil Nila,
ini seorang guru besar (pakar) dan aktivis kesehatan. Guru Besar dan
Ketua Medical Research Unit Fakultas Kedokteran UI, ini tidak jadi menjabat Menteri Kesehatan RI periode 2009-2014 menggantikan
Siti Fadilah Supari. Dokter Spesialis Mata ini seorang pemimpin yang
aktif (aktifis) di berbagai organisasi.
Tidak ada penjelasan resmi dari Presiden SBY dan Wapres
Boediono, mengapa Nila tidak jadi diangkat menjadi Menteri Kesehatan.
Namun, teka-teki dibalik kegagalan Nila itu sedikit terkuak dari ucapan
Nila sendiri. "Dalam pemeriksaan kesehatan dikatakan saya kurang tahan
stres," ujar Nila saat ditemui di Gedung Dharmawanita Persatuan Pusat di
Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2009).
Sebelumnya, Nila sudah mengikuti uji kelayakan calon menteri di Puri
Cikeas, kemudian mengikuti tes kesehatan dan kejiwaan di RSPAD Gatot
Subroto.
Jiwa Besar
Nila menunjukkan jiwa besar setelah tidak jadi diangkat menjabat
Menkes. Kebesaran jiwa ini tercermin dari jawabannya atas pertanyaan
wartawan di Gedung Dharmawanita Persatuan Pusat di Jalan HR Rasuna Said,
Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2009).
Waktu pengumuman Kabinet Indonesia Bersatu, Ibu ada di mana?
Saya di rumah bersama bapak, di dalam kamar. Kan sudah malam, masak saya
kelayapan. Karena telepon terus berdering maka tidak saya jawab. Begitu
pula dengan pesan singkat yang masuk. Saya capek, lalu saya tidur.
Kabarnya ibu menangis?
Ah enggak lah, saya cuma kaget saja.
Bagaimana perasaan ibu setelah tidak terpilih menjadi menteri?
Saya justru lega. Mungkin ini yang terbaik.
Leganya kenapa?
Kerjaan yang berat. Anda juga tahu. Kalau pekerjaan berat risiko
juga besar. Sekarang tidak ada lagi risiko.
Apa hikmah dari peristiwa ini?
Saya kan saya tidak meminta jabatan, tidak pernah kirim CV, atau
mendekati Pak SBY. Jadi saya tidak ada apa-apa, kecuali saya berambisi,
mungkin saya agak kecewa. Saya punya pengabdian yang sangat banyak.
Setelah tidak terpilih saya juga masih punya pengabdian.4)
Aktivis Kesehatan
Selain menjabat Ketua Umum Dharma Wanita Persatuan, dokter spesialis
tumor mata yang cantik, ramah, energik dan cerdas, ini juga aktif
sebagai anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI), anggota Persatuan Dokter
Mata Indonesia (Perdami), anggota International Society Orbital
Disorder, Oculoplastic and Lacrimal Surgery, Ketua BPK PP Perdami dan
Ketua/Anggota Seminat Tumor Mata-Plastik Rekonstruksi Perdami.
Nila Djuwita Moeloek, dokter ahli bedah mata asal Sumatra Selatan
berdarah Minang itu mengikuti jejak suaminya di kursi Menteri Kesehatan.
Suaminya Prof Dr dr H Farid Anfasa Moeloek, Sp.OG, adalah mantan Menteri
Kesehatan Kabinet Pembangunan VII (Presiden Soeharto) dan Kabinet
Reformasi Pembangunan (Presiden BJ Habibie).
Pegawai Negeri Sipil pemilik NIP 194904111976032001, itu tidak menyangka
akan dipercaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memimpin
Departemen Kesehatan. Dia mengungkapkan, menerima telpon dari Cikeas
sekitar pukul 22.00 Minggu 18 Oktober 2009. "Saya juga tidak mengerti
kenapa saya yang dipanggil," kata Nila, wanita cantik itu kepada pers
usai fit and proper test (wawancara) yang dilakukan Presiden SBY dan
Wapres terpilih Boediono di Puri Cikeas, Bogor, Senin, 19 Oktober 2009.
Pemilik gelar Doktor (S-3) dalam Ilmu Kedokteran dari Universitas
Indonesia dengan nilai cumlaude, itu mengaku, Presiden terpilih Susilo
Bambang Yudhoyono dan Wapres terpilih Boediono mengajaknya bicara soal
program PBB, yaitu Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development
Goals/MDG's), yang ditargetkan harus tercapai pada tahun 2015.
Tidak ada pembicaraan secara spesifik. Secara umum mereka membicarakan
target pencapaian MDG's. ”Tentu termasuk peningkatan angka kesehatan dan
pengurangan angka kematian ibu dan anak," ungkap Guru Besar Tetap Ilmu
Mata FKUI ini dalam konferensi pers usai fit and proper test.
Dijelaskan, program MDG's juga meliputi pemberantasan kemiskinan dan
kelaparan, pendidikan universal, kesetaraan gender, pemberantasan
HIV/AIDS, keseimbangan lingkungan, dan kerjasama global.1)
Namun kemudian, seusai menjalani pemeriksaan kesehatan di RSPAD Gatot
Subroto, Senin (19/10), ahli bedah mata ini menegaskan siap mengemban
tugas sebagai Menkes. "Iya, siap saja, kalau tes kesehatan ini lulus
dijalani. Kalau gak mampu, ya, mundur saja," kata dokter spesialis mata
lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), itu sembari
memperlihatkan bukti bahwa ia telah menjalani pemeriksaan.
Perihal program yang diprioritaskannya dalam Kabinet Indonesia Bersatu
periode 2009-2014, akan memfokuskan pada pencapaian Tujuan Pembangunan
Milenium (MDGs) di Indonesia. Di mana salah satu di antaranya adalah
penurunan angka kematian ibu dan anak. Hal itu ditegaskannya sesuai inti
pembicaraan dengan Presiden SBY tentang keadaan kesehatan di Indonesia.
”Jelas, kalau diberikan amanah ini, saya akan menjalankan sebaik
mungkin," kata Nila menjawab pertanyaan pers.
Nila Djuwita yang menjabat Ketua Medical Research Unit FKUI sejak 2007,
itu telah menjadi motor penelitian-penelitian di Fakultas Kedokteran UI.
Dia dinilai turut berperan untuk peningkatan peringkat UI menjadi posisi
201. Pada tahun 2009, Universitas Indonesia berada di peringkat 201
Times Higher Education – QS World University Ranking atau terbaik di
Indonesia. Peringkat UI naik tajam dari posisi 287 pada tahun 2008.
"Beliau menjadi motor penelitian-penelitian di Fakultas Kedokteran UI
dalam 2 tahun terakhir," kata Deputi Manajer Mahasiswa dan Alumni
Fakultas Kedokteran UI, dr Ari F Syam. Nila membuat situs MRU UI bisa
diakses lebih mudah. Nila juga yang memotori pengembangan Twin Tower
FKUI yang telah disetujui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.
Nila Djuwita memang sudah sangat dikenal di FKUI. Dia alumni S1 Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Juga meraih gelar S2, Spesialis Mata
dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Gelar Doktor (S3) juga
diraih dari FKUI dengan disertasi tentang Model Diagnostik Pemeriksaan
Tumor Orbita, Dalam Upaya Penemuan Tumor Orbita lebih dini.
Kepemimpinan di Dharma Wanita
Dr. Nila Djuwita dua periode memimpin Dharma Wanita Persatuan Pusat
(1999-2004 dan 2004-2009). Di bawah kepemimpinannya, Dharma Wanita
semakin menunjukkan kiprahnya dalam gerak pembangunan bangsa. Sebagai
Ketua Umum Dharma Wanita Persatuan (DWP) Pusat, dia menunjukkan
kemampuan mengkoordinasikan banyak hal di waktu yang sama serta dapat
bekerja berbarengan dengan orang lain.3)
Dia juga tampil sebagai pemikir sistem-sistem, yang berkeupayaan
menggabungkan antara isu, kejadian, dan data secara utuh dan terpadu.
Selain itu, sebagai Ketua Umum DWP, dia juga menampilkan sosok sebagai
agen perubahan, yang berkemampuan mengembangkan pemahaman, dan memiliki
kompetensi tinggi dalam menciptakan dan memenej perubahan bagi kehidupan
bangsa agar dapat bertahan hidup.
Dia seorang pemimpin pembaharu dan berani mengambil resiko, terbuka
terhadap perspektif yang luas dan kemungkinan-kemungkinan yang esensial
dalam menentukan tren dan menggerakkan pilihan. Nila Djuwita
berkeupayaan mendorong kemampuan dan kelayakan DWP untuk meningkatkan
pelayanan kepada yang lain, berpendekatan holistik untuk bekerja,
memiliki a sense of community dan berkemampuan membuat keputusan
bersama.
Dia mendorong DWP untuk berkeupayaan tampil sebagai pembantu orang lain
untuk belajar, menciptakan banyak pendekatan yang beraneka, sebagai
instruktur, juru latih, dan penasihat yang bijak (mentor). Di samping
itu, sebagai Ketua Umum DWP dia selalu berkeupayaan membantu membangun
visi bangsa dan negaranya serta memberi inspirasi bagi segenap lapisan
masyarakat, yang diposisikan sebagai kolega maupun pelanggan.
Sejak awal, Nila menyadari tak mudah untuk membagi waktu di antara
kesibukan karir, rumah tangga, dan organisasi. Namun sejak semula pula,
dia memiliki sebuah keyakinan bahwa berbagi kepada sesama itu sangatlah
penting.
Nila mengaku, sejak bergabung di DWP, mendapatkan pengalaman berharga
yaitu teraplikasinya secara nyata ilmu yang dimiliki kepada masyarakat.
Dia juga menemukan berbagai problem yang dihadapi wanita Indonesia
seperti kekerasan dalam rumah tangga dan rendahnya tingkat pendidikan.
Dia juga merasa prihatin atas kualitas pelaksanaan program KB yang
belakangan ini mengalami penurunan. Sudah tidak ada lagi pelayanan KB
gratis bagi masyarakat, sehingga mengikuti program KB dirasakan cukup
mahal oleh masyarakat kurang mampu.
Namun, di sisi lain, Nila melihat adanya perkembangan wanita dalam hal
kemauan meningkatkan kualitas diri. Tidak lagi hanya berkecimpung di
sektor domestik, tetapi juga telah banyak aktif dalam peran publik.
Sebelumnya, sebagai seorang dokter spesialis mata RSCM/FKUI dengan
status sebagai Pegawai Negeri Sipil, Nila kurang respek terhadap Dharma
Wanita. Waktu itu dia Dharma Wanita itu tak ada gunanya., hanya untuk
kumpul-kumpul isteri pegawai negeri. Tapi, setelah ’terpaksa’ terjun
langsung menjadi Ketua Dharma Wanita Unit Departemen Kesehatan, karena
waktu itu suaminya menjabat Menteri Kesehatan, barulah Nila melihat,
ternyata banyak manfaat yang bisa didapat untuk mengangkat derajat dan
intelektual istri pegawai.
Maka, ketika ada upaya untuk menghapus keberadaan Dharma Wanita dari
instansi pemerintah, Nila berkeras untuk tetap mempertahankan keberadaan
Dharma Wanita, sebagai suatu wadah berhimpunnya istri Pegawai Negeri
Sipil dalam mengembangkan diri dan intelektual.
Menurut Nila, pemberdayaan seorang wanita Indonesia harus dimulai dari
pemberdayaan bidang kesehatan dan pendidikan, yang selanjutnya akan
diikuti dengan peningkatan dalam bidang ekonomi. ”Tanpa dilandasi
kesehatan dan pendidikan memadai, wanita Indonesia akan tidak berdaya
selamanya,” katanya.
Dalam kepempinannya, dia memberi teladan nyata sosok seorang ibu yang
hebat dalam kiprahnya sebagai ibu rumah tangga, wanita karir yang
sukses, dan pemimpin organisasi yang akomodatif dan visioner.
Kebahagiaan Keluarga
Kisah cinta antara Nila Djuwita dengan Farid Anfasa Moeloek berawal
bersemi di kampus perjuangan Universitas Indonesia. Pandangan pertama
terjadi saat Nila baru masuk ke Fakultas Kedokteran UI. Saat itu, Farid
aktif sebagai panitia Opspek (Orientasi Pengenalan Kampus). Pertemuan
itu menumbuhkan benih-benih cinta di antara mereka. Farid pun resmi
melamar dan mempersuntingnya menjadi istri pada tahun 1972.2)
Dalam membina rumah tangga, keduanya selalu memegang prinsip
kebersamaan, saling menghormati dan mengasihi, sesuai denga kodradnya
masing-masing. Termasuk dalam mendidik anak menjadi tanggung jawab
berdua. Tiga orang anak sebagai buah kasih mereka (Muhammad Reiza
Moeloek, Puti Alifa Moeloek dan Puti Anisa Moeloek) sejak awal
ditanamkan nilai-nilai agama, terutama dalam menghadapi era globalisasi,
yakni nilai-nilai negatif yang berpengaruh terhadap pola kehidupan
anak-anak di zaman sekarang ini dianggap cukup meresahkan.
Ketiga anaknya, sejak masih kecil sampai mereka remaja dan memasuki
kehidupan dewasa, sangat senang melakukan kegiatan di kamar tidur orang
tuanya. Mulai dari belajar, nonton TV, maupun kegiatan lainnya.
“Anak-anak kami sangat betah berlama-lama di kamar tidur kami. Hal ini
sebenarnya cukup positif, karena selain menambah kedekatan kami sebagai
orang tua dengan anak-anak, kegiatan mereka dapat kita pantau dengan
baik. Mereka pun tidak sungkan-sungkan bercerita bila menghadapi suatu
persoalan di luar rumah, baik dalam hal pelajaran maupun dalam pergaulan
sehari-hari,” ucap Nila. Sebagai seorang ibu, Nila juga selalu
menempatkan diri sebagai seorang teman, terutama ketika mereka pada usia
remaja.
Sebaliknya, anak-anak juga bisa memantau segala kegiatan orang tuanya.
”Kalau saja kami terlalu sibuk dan mereka merasa kurang diperhatikan,
maka mereka dengan cepat akan memprotes,” ungkap Nila. Sehingga mereka
juga sering berdiskusi untuk mencari jalan keluar yang terbaik. Termasuk
ketika suaminya, Farid, usai masa jabatan sebagai Menteri Kesehatan
berniat mendirikan Yayasan Koalisi Indonesia Sehat 2010, mereka
sekeluarga terlibat dalam kegiatan yayasan itu.
Dalam manapaki kehidupan yang serba keras ini, kepada anak-anaknya, dia
selalu menekankan agar jangan mudah menyerah, dan jalani hidup ini
sesuai dengan keinginan dan hati nurani, mandiri dan bertanggung jawab.
Memang, sejak awal berkeluarga dengan Farid, mereka bersepakat untuk
mendidik anak-anak dengan cara demokratis, di mana segala persoalan
harus dibicarakan dan dipecahkan secara bersama-sama dalam keluarga.
Kepada anak-anak diberikan kebebasan untuk menentukan pendidikan yang
diinginkan selepas SMU. Ketiga anaknya pun berkembang dengan pilihan
hidup mandiri masing-masing. Nila dan Farid merasa berbahagia, kendati
ketiga anaknya tidak ada yang mengikuti jejak menjadi dokter. Tetapi
anak dan puterinya memilih jadi insinyur. ►ti/tsl
*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Sumber:
1) Keterangan Pers 19 Oktober 2009
2)
http://dwplondonmedia.blogsome.com/2006/10/01/dr-nila-djuwita-f-moeloek-dr-spm-k/
3)
www.dwp.or.id/dwp1.php?kas=12&noid=222
4)
http://news.okezone.com/read/2009/10/22/62/268323/batal-jadi-menteri-nila-moeloek-tetap-tegar
|
|