| |
C © updated 23012006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama
Naomi Susilowati Setiono
Lahir
1960
Suami:
Setiono
Anak:
- Priskila Renny (23)
- Gabriel Alvin Prianto (17)
Pendidikan:
- Sekolah Menengah Apoteker Theresiana Semarang, 1980
- Sekolah Tinggi Theologia Lawang, Jatim
Pekerjaan:
- Pengusaha
Alamat:
Batik Tulis Tradisional Laseman Maranatha di Jalan Karangturi I/I
Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah
|
|
| |
|
|
|
|
| NAOMI HOME |
|
|
 |
Naomi Susilowati Setiono
Pengusaha Batik, Mantan Kernet Bus
Kegetiran hidup tak menyurutkan perjuangan Naomi Susilowati Setiono (46)
dalam menjalani kesehariannya. Dengan berapi-api, wanita sederhana ini
menuturkan kisah hidupnya yang diawali sebagai tukang cuci baju,
pemotong batang rokok, kernet bus antarkota, dan akhirnya menjadi
pengusaha serta perajin batik lasem.
Semua ini karena kebaikan Tuhan, ujarnya mensyukuri perbaikan hidup yang
dialaminya. Meski bukan pengusaha batik nomor wahid di Kabupaten
Rembang, Jawa Tengah, perempuan peranakan Tionghoa ini sangat terkenal
di dunia perbatikan, khususnya batik lasem.
Hingga tak heran, rekan-rekannya memintanya untuk menjadi ketua cluster
batik lasem, yang hingga kini belum diberi nama. Dalam waktu dekat,
cluster ini akan dinamai menjadi semacam asosiasi perajin/pengusaha
batik lasem.
Jenis batik lasem (atau laseman) yang perkembangannya jauh tertinggal
dibanding batik solo dan yogya ini terus digeluti, meski masih
menggunakan peralatan tradisional. Naomi yang memimpin Batik Tulis
Tradisional Laseman Maranatha di Jalan Karangturi I/I Lasem, Rembang,
ini mengerahkan 30 perajin guna mendukung usahanya.
Selain mengemban status single parent, Naomi terkenal aktif sebagai
pendeta di gereja setempat. Bahkan, akhir-akhir ini ia disibukkan dengan
mengisi seminar maupun pemaparan ke berbagai instansi mengenai
seluk-beluk batik lasem.
Ia juga tengah merintis pengaderan perajin batik ke sekolah-sekolah
secara gratis. Kalau tidak kami sendiri yang mengader, siapa lagi? Tidak
bisa hanya mengandalkan pemerintah, ujarnya.
Naomi mengaku pernah melontarkan gagasannya kepada Bupati Rembang
Hendarsono (saat itu) untuk menyisipkan cara membatik ke dalam pelajaran
muatan lokal. Sayangnya, ide ini tak ditanggapi dan dianggap tidak bisa
berhasil.
Akhirnya, ia langsung turun ke sekolah-sekolah untuk menyampaikan
gagasannya itu. Kini, ia masih menunggu tanggapan dari sekolah-sekolah.
Jika masalah tempat, saya bisa meminjam balai desa, tak perlu keluar
uang, ujarnya.
Meski sangat sibuk, produktivitasnya tak berubah. Setiap bulan Naomi dan
rekan-rekan pekerja di tempatnya menghasilkan rata-rata 150 potong batik
tulis. Batik-batik bermotif akulturasi budaya Cina dan Jawa ini dikirim
ke berbagai daerah, seperti Serang (Banten), Medan (Sumut), dan Surabaya
(Jatim).
Naomi menjelaskan, usaha batik yang digeluti sejak tahun 1990 ini
merupakan limpahan dari orangtua. Namun, ia tidak semata-mata menerima
begitu saja.
Pada tahun 1980, lulusan Sekolah Menengah Apoteker Theresiana Semarang
ini mendapatkan masalah sehingga dikucilkan dari keluarga yang saat itu
terpandang di wilayahnya. Ditolak dari keluarga yang telah mengasuhnya
21 tahun itu mau tak mau harus diterimanya. Ia pun pindah ke Kabupaten
Kudus.
Di tempat ini ia menyingsingkan lengan baju dan bekerja sebagai pencuci
pakaian. Tergiur penghasilan yang lebih tinggi, ia pindah sebagai buruh
pemotong batang rokok di Pabrik Djarum Kudus.
Karena kurang cekatan, ia hanya mendapatkan penghasilan yang sedikit, Rp
375 per hari. Padahal teman-teman dapat memotong rokok berkarung-karung,
bisa mendapat uang Rp 2.000-an, ujar lulusan Sekolah Tinggi Theologia
Lawang, Jatim, ini.
Ia hengkang dan berpindah sebagai kernet bus Semarang-Lasem. Singkat
cerita, orangtuanya memintanya kembali ke Lasem. Itu pun dengan berbagai
cemooh. Saya ditempatkan di bawah pembantu. Mau minta air dan makan ke
pembantu. Saya juga tidak boleh memasuki rumah besar, ujarnya.
Perlakuan ini ia terima dengan lapang dada. Sedikit demi sedikit ia
mempelajari cara pembuatan batik lasem. Mulai dari desain, memegang
canting, melapisi kain dengan malam, hingga memberi pewarnaan
diperhatikannya dengan saksama.
Hingga suatu hari, tahun 1990, orangtuanya memutuskan tinggal dengan
adik-adiknya di Jakarta. Usaha batik tidak ada yang meneruskan. Dari
titik inilah Naomi dipercaya untuk melanjutkan usaha batik warisan
turun-temurun ini.
Kesempatan ini digunakan Naomi untuk mengubah sistem dan aturan main
bagi pekerjanya. Ia memberi kesempatan kepada perajin untuk menunaikan
ibadah shalat. Sesuai kewajiban yang ingin mereka jalankan, saya
memberikannya. Ini salah satu sistem baru yang saya terapkan, ujarnya
yang pernah bercita-cita sebagai arkeolog.
Suasana kerja juga bukan lagi atasan dan bawahan. Ia menganggap perajin
adalah rekan usaha yang sama-sama membutuhkan dan menguntungkan. Jika
siang hari turun tangan dalam memproses batik, malam hari digunakannya
untuk membuat desain.
Hingga kini, ibu dari Priskila Renny (23) dan Gabriel Alvin Prianto (17)
ini masih tetap eksis di dunia perbatikan. Perlahan namun pasti, batik
lasem mulai menggeliat dan dilirik kembali oleh para pencinta batik,
baik dari dalam negeri maupun luar negeri. (Ichwan Susanto, Kompas,
23 Januari 2006) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|