| |
C © updated 08092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/asiaweek |
|
| |
Nama:
Munir, SH
Lahir:
Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965
Meninggal:
Amesterdam, 7 September 2004
Agama:
Islam
Isteri:
Suciwati
Anak:
Soultan Alif Allend (12 Oktober 1998)
Diva (2 tahun)
Ibu:
Ny Jamilah
Jabatan Terakhir:
Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia
Imparsial
Pendidikan:
S1 Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang, 1990
Karir:
= Karyawan perusahaan persewaan sound system dan penjualan alat
elektronik
= Sukarelawan LBH Surabaya (1989)
= Ketua LBH Surabaya Pos Malang (1991)
= Koordinator Divisi Pembunuhan dan Divisi Hak Sipil Politik LBH Surabaya
(1992-1993)
= Kepala Bidang Operasional LBH Surabaya (1993-1995)
= Direktur LBH Semarang (1996)
= Sekretaris Bidang Operasional YLBHI (1996)
= Wakil Ketua Bidang Operasional YLBHI (1997)
= Wakil Ketua Dewan Pengurus YLBHI (1998)
= Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak
Kekerasan (Kontras) (16 April 1998-2001)
= Ketua Dewan Pengurus Kontras (2001)
= Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia
Imparsial (2004)
Organisasi:
= Sekretaris Al-Irsyad Kebupaten Malang (1998)
= Sekretaris Badan Perwakilan Mahasiswa FH Universitas Brawijaya (1988)
= Ketua Senat Mahasiswa FH Universitas Brawijaya (1989)
= Anggota HMI
= Divisi Legal Komite Solidaritas untuk Marsinah
= Sekretaris Tim Pencari Fakta Forum Indonesia Damai
Penghargaan:
= Satu orang dari 20 pemimpin politik muda Asia pada milenium baru
oleh Majalah Asiaweek (Oktober 1999)
= Right Livelihood Award 2000 di Swedia (Pengabdian di bidang HAM dan
kontrol terhadap militer di Indonesia (8 Desember 2000)
= Man of The Year versi majalah Ummat (1998)
Alamat Rumah:
Jalan Cendana XII No.12, Jakasampurna Permai, Bekasi Barat
Alamat Kantor:
Kontras: Jalan Borobudur No.14, Jakarta Pusat
YLBHI: Jalan Diponegoro No.74, Jakarta Pusat

Munir dan Isteri (dok kel) |
|
| |
|
|
|
|
Munir, SH (1965-2004)
Si Pahlawan Orang Hilang
Mantan Koordinator Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak
Kekerasan) ini pantas dijuluki sebagai pahlawan orang hilang. Dia seorang
pejuang HAM sejati yang gigih dan berani. Keberaniannya jauh melampaui
sosok pisiknya yang kerempeng. Namun, sayang, Direktur Eksekutif Lembaga
Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial kelahiran Malang 8 Desember
1965 ini, wafat dalam usia relatif muda, 39 tahun, dalam penerbangan
menuju Amsterdam, 7 September 2004.
Pada 6 September 2004, isterinya Suciwati dan anaknya Soultan Alif Allend
melepas Munir menuju Amsterdam (Belanda) untuk melanjutkan studi program
master (S2) di Universitas Utrecht, Belanda. Alumni Fakultas Hukum
Universitas Brawijaya ini, sekitar pukul 21.55 WIB, naik Garuda Indonesia
GA-974 menuju Singapura untuk kemudian transit terbang ke Amsterdam. Tiba
di Singapura pukul 00.40 waktu Singapura, kemudian pukul pukul 01.50 waktu
Singapura take off menuju Amsterdam.
Menurut sumber Tokoh Indonesia di PT Garuda Indonesia, tiga jam setelah
pesawat GA-974 take off dari Singapura, supervisor awak kabin bernama
Najib melaporkan kepada pilot Pantun Matondang bahwa seorang penumpang
bernama Munir yang duduk di kursi nomor 40 G menderita sakit. Munir bolak
balik ke toilet. Pilot meminta Najib terus memonitor kondisi Munir. Munir
pun dipindahkan duduk di sebelah seorang penumpang yang kebetulan
berprofesi dokter yang juga berusaha menolongnya. Penerbangan menuju
Amsterdam menempuh waktu 12 jam. Namun dua jam sebelum mendarat 7
September 2004, pukul 08.10 waktu Amsterdam di bandara Schipol Amsterdam,
saat diperiksa, Munir telah meninggal dunia.
Pejuang hak asasi manusia (HAM) itu, pergi untuk selama-lamanya. Bangsa
ini kehilangan seorang tokoh muda yang dikenal gigih membela kebenaran
sejak Pak Harto masih berkuasa. Kematian pendiri Komisi untuk Orang Hilang
dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), itu pun segera mendapat perhatian
amat luas di Indonesia. Banyak SMS dan telepon ke berbagai media
menanyakan kebenaran berita duka itu.
Sejumlah orang terkejut dan bersedih. Mereka berdatangan ke rumah almarhum
yang tampak sederhana di Jalan Cendana XII No.12 Jakasampurna Permai,
Bekasi Barat. Di antaranya, para aktivis LSM, Munarman (YLBHI), dan Smita
Notosusanto (Cetro) serta para keluarga korban pelanggaran HAM Semanggi
I-II, Trisakti, Mei 98, dan Tanjung Priok.
Pejuang HAM yang sempat bekerja di sebuah perusahaan persewaan soud system
dan menjual alat-alat elktronik, itu sejak mahasiswa terkenal keras hati.
Sebelum menyelesaikan studinya di FH Universitas Brawidjaja (1990) sudah
aktif sebagai sukarelawan LBH Surabaya (1989). Kemudian menjadi anggota
LBH dan menjabat Ketua LBH Surabaya Pos Malang (1991). Lalu menjabat
Koordinator Divisi Pembunuhan dan Divisi Hak Sipil Politik LBH Surabaya
(1992-1993) dan Kepala Bidang Operasional LBH Surabaya (1993-1995).
Sebelum hijrah ke Jakarta menjabat Sekretaris Bidang Operasional YLBHI
(1996), dia lebih dulu menjabat Direktur LBH Semarang (1996). Kemudian di
YLBHI dia menjabat Wakil Ketua Bidang Operasional (1997) dan Wakil Ketua
Dewan Pengurus YLBHI (1998). Sampai kemudian dia mendirikan dan menjabat
Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak
Kekerasan (Kontras) (16 April 1998-2001) dan Ketua Dewan Pengurus Kontras
(2001).
Saat menjabat Koordinator Kontras namanya melambung sebagai seorang
pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia
membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari
Kopassus. Setelah Pak Harto jatuh, penculikan itu menjadi alasan
pencopotan Danjen Kopassus (waktu itu) Prabowo Subianto dan diadilinya
para anggota tim Mawar.
Dia pun memperoleh The Right Livelihood Award di Swedia (2000) sebuah
penghargaan prestisius yang disebut sebagai Nobel alternatif. Sebelumnya,
Majalah Asiaweek (Oktober 1999) menobatkannya menjadi salah seorang dari
20 pemimpin politik muda Asia pada milenium baru dan Man of The Year versi
majalah Ummat (1998). Ia mendapat hadiah uang dari Yayasan The Right
Livelihood Award sebesar Rp 500 juta. Separoh dari hadiah itu diberikan ke
Kontras dan sebagian lagi dikirim kepada ibunya di Malang untuk renovasi
rumah.
Sementara, kendati namanya sudah mendunia, Munir tetap hidup bersahaja.
Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial
(2004), ini tinggal di rumah sederhana dan ke mana-mana naik sepeda motor.
Sekali waktu motornya pernah dicuri. Padahal ia pun sering mendapat
ancaman. Saat membongkar kasus pembunuhan aktivis buruh Marsinah, ia pun
diancam akan dijadikan sosis oleh orang yang mengaku aparat keamanan.
Begitu pula ketika dia membongkar kasus penculikan aktivis mahasiswa pada
akhir kekuasaan Soeharto. Bahkan rumah ibunya pun (Ny Jamilah, 78) pernah
diancam bom. Dia juga pernah diisukan anak Gerwani oleh sebuah majalah.
Majalah itu kemudian minta maaf.
Munir merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara. Di kalangan keluarga,
teman dekat dan tetangganya, dia dikenal sebagai orang yang memiliki
kepedulian sosial. “Sejak mengenyam pendidikan di SD Muhammadiyah di kota
kelahirannya dia terlihat suka menolong orang lain,” ungkap Ali Ahmad,
salah seorang keluarga almarhum kepada Jawa Pos.
Minur meninggal seorang istri, Suciwati, dan dua orang anak, Sultan Alif
Allende (5) dan Diva (2). Menurut penuturan isterinya, tak ada satu pun
firasat yang dirasakan sebelum kepergian Munir yang begitu mendadak ini.
Pertemuan mereka terakhir terjadi Senin malam 6 September 2004, tatkala
mereka melepas Munir terbang ke Belanda dengan pesawat Garuda.
Mereka tiba di bandara sekitar satu setengah jam sebelum pesawat take off.
Di bandara, teman-teman Munir dari Imparsial sudah ada yang ikut menunggu.
Saat itu, Munir memang tampak berat berpisah dengan keluarganya. Meski,
rencananya, isteri dan anaknya akan menyusul beberapa bulan kemudian.
Isterinya sangat terkejut, ketika Usman Hamid (koordinator Kontras)
memberitahukan meninggalnya Munir.
Belum diketahui pasti apa penyakit yang menyebabkan kematian Munir. Dalam
general check up yang dilakukan sebelum Munir berangkat ke Belanda,
sebagai salah satu prasyarat yang harus disertakan, kondisi kesehatannya
dinyatakan baik-baik saja. Menurut Suciwati, setahun lalu, Munir memang
sempat di rawat di RS Saint Carolus. “Saat itu, dokter berpesan supaya
suami saya itu tidak terlalu lelah. Kalau bisa, dalam sebulan, istilahnya
liburnya seminggu,” kata Suciwati.
Memang semakin mendekati hari keberangkatannya ke Belanda, Munir terlihat
sibuk ke sana-kemari untuk menghadiri dengan berbagai acara dan persiapan.
Misalnya, pada Selasa ada pesta perpisahan yang dilakukan Kontras. Lalu,
pada Jumatnya, 3 September 2004, Munir menghadiri acara makan siang
bersama di Kantor Imparsial di Jalan Diponegoro, Jakarta. Sore harinya
masih ada acara "perpisahan" yang diadakan Propatria di Hotel Santika,
Jakarta. Tapi, kondisi Munir saat itu tampak baik-baik.
Dalam acara itu Munir banyak menyampaikan harapan bahwa dia akan mengambil
program doktor sekaligus, meskipun beasiswa yang diperolehnya hanya untuk
program master di Universitas Utrecht. ►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|