| |
C © updated
04102003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
|
|
| |
Nama :
Muhammad Taufik
Lahir :
Jakarta, 3 Januari 1957
Agama :
Islam
Isteri:
Sri Wahyuni
Anak:
Tofan Aji Nugraha, Anisa Yusida dan Vanesa Adi Lasmita,
Ayah:
Hasan Turwaedi (almarhum)
Ibu:
Zahara
Jabatan :
Ketua KPU DKI Jakarta
Pendidikan:
SD dan SMEP di Banten
SMEA di Jakarta
Sarjana Muda Akuntansi Universitas Jayabaya, Jakarta
Karir:
Pemimpin Perusahaan Radio Muara
Pemimpin Umum Majalah Target
Organisasi:
Sekjen Serikat Pekerja Maritim Indonesia
Ketua SPSI Pelabuhan Tanjung Priok.
Golongan Karya
Partai Keadilan dan Persatuan (PKP)
1999 memilih independen
Pendiri LSM Pusat Pengkajian Jakarta
|
|
| |
|
|
|
|
Muhammad Taufik
Hidup Mengalir Laksana Air
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta ini menapaki kehidupan
dengan prinsip mengalir seperti air, tidak neko-neko dan memaksakan
kehendak. Namun, belakangan dia tersandung tuduhan korupsi. Putera bangsa yang sejak kecil piawai berkomunikasi dan
beroganisasi, ini adalah mantan Sekjen Serikat Pekerja Maritim
Indonesia, Ketua SPSI Tanjung Priok, aktivis Golkar dan PKP. Kemudian
dia memilih independen dalam dunia politik dan tersandung kasus korupsi
di KPU DKI .
Posisi independen inilah yang mengantarkan pendiri Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) Pusat Pengkajian Jakarta ini terpilih menjadi Ketua KPU
DKI Jakarta setelah melalui seleksi yang amat ketat.
Pria kelahiran Jakarta 3 Januari 1957 ini disepuh dalam keluarga
sederhana dan lingkungan yang cukup keras di Banten dan sekitar
Pelabuhan Tanjung Priok. Ayahnya, Hasan Turwaedi (almarhum), hanya
seorang buruh pelabuhan di Tanjung Priok. Ibunya Zahara seorang ibu
rumah tangga. Sehingga kehidupannya dari kecil sampai dewasa selalu
banyak tantangan. Apalagi kehidupan di pelabuhan memang sudah terbiasa
keras.
Apalagi anak pertama dari sepuluh bersaudara (empat laki-laki dan enam
perempuan) ini, lebih dulu melewati masa kecil bersama kakeknya di
Banten. Semasa bayi (selepas menyusu) sampai tamat SLTP, ia diasuh
kakeknya di Banten. Saat masuk SLTA, ia baru kembali ke pangkuan ayah-bundanya,
bergabung dengan saudara-saudaranya, yang hidup pas-pasan di lingkungan
Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.
Kehidupan yang sangat sederhana itu menimbulkan berbagai tantangan,
tidak seperti orang lain yang kehidupannya serba ada. Ia mengaku, jika
ia meminta sesuatu, orang tuanya selalu harus menimbang-nimbang dulu.
Pria yang punya obsesi menjadi ‘orang besar’ ini sejak awal mengecap
pendidikan pada jurusan ekonomi, yakni selepas dari SD, dia melanjutkan
ke SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) di Banten. Selanjutnya SMEA (Sekolah
Menengah Ekonomi Atas) di Jakarta. Kemudian kuliah Jurusan Akuntansi di
Universitas Jayabaya, Jakarta.
Dalam menapaki kehidupan dia punya prinsip mengalir seperti air. “Tapi
jangan seperti air bah,” katanya dalam wawancara dengan Wartawan
TokohIndonesia DotCom, Rabu 17 September 2003, di kamar kerjanya di
Kantor KPU DKI Jakarta. Menurutnya, menjalani hidup, tidak usah banyak
neko-neko, mengalir saja, kalau ada bendungan di depan, cari saja jalan
yang lain sebelum tujuan tercapai. “Jadi jangan sampai membobol
bendungan, karena dengan begitu berarti kita telah memaksakan kehendak,
katanya menerangkan.
Kondisi ekonomi keluarga yang sederhana dan kondisi lingkungan Tanjung
Priok yang keras serta prinsip hidupnya yang menglir seperti air, telah
membentuk dirinya sedemikian rupa, terutama dalam meniti karier. Kondisi
dan prinsip itu membangun dan membentuk dirinya untuk mengembangkan
kemampuannya yang ada. Dia tidak pernah mau diam. Dia selalu suka
berkomunikasi dengan orang lain sehingga mendorongnya gemar
berorganisasi.
Dia memang punya bakat mengorganisir. Dari kecil dia sudah
suka mengorganisir teman-temannya. Sejak SD dia selalu jadi ketua kelas.
Begitu juga di kumpulan anak-anak selalu jadi ketua. Namun yang paling
menonjol, semenjak mahasiswa dimana dia aktif di Senat Mahasiswa.
Kipiawian berorganisasi diwujudkan secara jelas, sejak suatu saat Sang
Ayah membawanya ke Pelabuhan Tanjung Priok. Di pelabuhan itu dia
berhadapan dengan banyak orang dengan berbagai tingkah dan latarbelakang.
Namun karena senang dan pintar berkomunikasi, kemudian dia bergabung
dengan Serikat Pekerja Maritim Indonesia, sehingga akhirnya dia dianggap
menjadi seorang tokoh di pelabuhan.
Sejak itu, setiap hari pria yang berbicara lugas dan to the point ini
dihadapkan dengan berbagai permasalahan pekerja maritim dan orang-orang
banyak. Sampai akhirnya dia terpilih jadi Sekjen Serikat Pekerja Maritim
Indonesia tersebut. Selanjutnya menjadi Ketua SPSI Pelabuhan Tanjung
Priok.
Dalam organisasi politik, dia juga pernah bergabung dengan Golongan
Karya. Kemudian pada era reformasi, bergabung dengan Partai Keadilan dan
Persatuan (PKP) pimpinan Edi Sudrajat. Namun setelah tahun 1999 dia
mengundurkan diri dan berhenti dari organisasi politik (partai). Ia
memilih menjadi independen dalam dunia politik.
Setelah itu dia bersama beberapa temannya mantan aktivis partai yang
sudah menyatakan diri tidak aktif lagi di partai politik (independen),
mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pusat Pengkajian Jakarta
yang konsern terhadap kebijakan-kebijakan publik.
Sebagai seorang tokoh independen, pria optimistis yang punya obsesi
tinggi, ini kemudian ikut mengikuti pencalonan anggota KPU DKI Jakarta
dengan alasan yang cukup sederhana namun prinsipil. Yakni dia ingin ikut
menegakkan demokrasi. Maka sebagai bagian dari warga masyarakat Jakarta,
dia mendaftarkan diri ikut penyaringan calon anggota KPU, badan
penyelenggara Pemilu sebagai tonggak penegakan demokrasi.
Bersama dengan ratusan orang calon lain dia mengikuti tes tertulis di
Gelanggang Olah Raga Jakarta Timur dan dilanjutkan psikotes tertulis dan
wawancara. Setelah melalui penyaringan yang ketat itu, dia termasuk
salah satu yang lolos. Selanjutnya dilantik oleh KPU Pusat dan dalam
Rapat Pleno Anggota KPU DKI Jakarta dia terpilih jadi ketua.
Kiprah kariernya hingga bisa menjadi Ketua KPU DKI Jakarta memang tidak
ada hubungannya dengan jabatan di organisasi maupun LSM yang dipimpinnya.
Karena menjadi Ketua KPU harus berangkat dari perseorangan dan
independen. Namun dalam menjalankan tugasnya sebagai Ketua KPU, jelas
pengalamannya sebagai ketua maupun anggota di beberapa organisasi sangat
membantunya.
Sementara itu, kiprahnya dalam dunia bisnis, dimulai melalui
pertimbangan yang sangat tepat. Dengan prinsip bahwa dalam mencari
materi tidak boleh mengabaikan potensi yang ada padanya sejak kecil
yaitu ‘kesenangan berkomunikasi dengan masyarakat’. Dengan alasan
tersebut, akhirnya pilihannya jatuh pada bisnis radio. Menurutnya, radio
merupakan sarana komunikasi kepada publik, dan untuk lokal masih sangat
efektif. Dengan demikian, bakat atau potensinya dalam hal berkomunikasi
bisa tersalurkan, sekaligus bisa memberinya nafkah.
Ia pun membangun dan mengembangkan Radio Muara. Memang ayahnyalah yang
mendirikan radio ini, dengan segmen Dunia Bahari. Namun ayahnya hanya
sekedar pendiri. Dengan modal pendidikan di bidang ekonomi yang
didapatnya sejak SLTP sampai sarjana, dia berhasil memimpin dam mengembangkan Radio Muara sampai menjadi sebuah radio terkemuka di
Jakarta. Kejeliannya mengalihkan segmen radio ini dari Dunia Bahari
menjadi Dangdut, menjadi kunci keberhasilannya. Ketika itu, dia mengajak
Rhoma Irama dan Camelia Malik bergabung.
Setelah radio berkembang, kemudian dia mengembangkan bisnisnya di luar
radio. Namun sebelum memutuskan bergerak di sektor atau bidang lain,
yang terlintas di benaknya adalah bisnis yang hendak dikembangkan harus
sesuai dengan kemampuan dan tetap di bidangnya. Maka bersama
teman-temannya, dia menerbitkan Majalah Target (majalah bervisi politik).
Dan, tidak lama lagi, dia akan menerbitkan Topik Indonesia.
Satu hal yang sangat istimewa dari perjalanan bisnisnya yaitu semua
perusahaannya dikelola tanpa mengandalkan pinjaman dan segala macamnya
melainkan hanya dengan menggunakan modal dari hasil usahanya sendiri.
Kesibukannya dalam organisasi dan usaha, terutama setelah menjadi Ketua
KPU DKI Jakarta, tidak membuatnya alpa dalam membina keluarga.
Perkawinannya dengan Sri Wahyuni asal Jawa, membuahkan tiga orang anak.
Anak yang pertama, laki-laki bernama Tofan Aji Nugraha, sekolah di SMA.
Sedangkan anak kedua, perempuan, bernama Anisa Yusida duduk di SMP kelas
satu, dan anak ketiga bernama Vanesa Adisty Laksmita, perempuan, masih duduk
di SD kelas dua.
Tugas di KPU
Ditanya mengenai kesiapan KPU DKI Jakarta melaksanakan Pemilu 2004, dia
mengatakan sejauh ini tidak ada problem. Karena komitmen Pemerintah
Daerah DKI Jakarta sangat kuat untuk menyukseskan Pemilu 2004 ini
sehingga segala sesuatunya berjalan lancar. Menurutnya, kunci Pemilu itu
sebenarnya terletak pada Pemerintah Daerah, karena merekalah yang
menyediakan sarana dan prasarana. “Kebetulan Gubernur DKI Jakarta
Sutiyoso, mempunyai komitmen yang kuat menyukseskan Pemilu,” katanya.
Mengenai kendala-kendala yang dihadapi dalam menjalankan tugas sebagai
Ketua KPU DKI Jakarta, dia mengatakan secara prinsipil sejauh ini belum
ada, karena komitmen dari Pemerintah Daerah DKI Jakarta yang kuat tadi
sangat mendukung pekerjaannya. Kalaupun ada sedikit kendala,
dikatakannya, paling soal hal-hal yang paling klasik yaitu keuangan.
Karena dalam penyusunan dan pelaksanaan program KPU perlu biaya. Dan
bila bicara soal keuangan berarti pihaknya berhadapan dengan Pemerintah
Daerah.
Sementara kendala yang dihadapi KPU secara keseluruhan adalah dimana KPU
dituntut menyelesaikan tiga tugas berat secara berbarengan, yaitu
pertama pendaftaran calon peserta Pemilu 2004 yaitu partai politik dan
calon anggota DPD, kedua pemetaan daerah pemilihan yang juga terkait
alokasi kursi DPR dan DPRD dan ketiga pengadaan barang kebutuhan Pemilu.
Proses verifikasi Parpol dan perseorangan calon peserta Pemilu 2004
mulai berjalan, termasuk oleh KPU daerah. Penetapan perseorangan calon
anggota DPD dijadwalkan diumumkan 9 Desember 2003. Sementara verifikasi
Parpol masih terkendala dengan tarik ulur soal batas akhir pendaftaran
yang semula dijadwalkan KPU pada 9 Oktober 2003. KPU sendiri
berketetapan bahwa jadwal penetapan Parpol peserta Pemilu 2004 pada 2
Desember 2003 sulit diundurkan lagi
Sedangkan mengenai banyaknya bakal calon partai peserta Pemilu, dia
mengatakan bahwa sebagai Ketua KPU seberapa banyak pun itu, kalau
memenuhi persyaratan tidak menjadi persoalan karena memang itu merupakan
hak dari warga masyarakat dan hal itu dilindungi oleh undang-undang.
Yang menjadi persoalan, menurutnya, adalah soal teknis dalam
menyelenggarakan Pemilu nanti. Namun itu pun kalau disosialisasikan dari
sekarang akan terselesaikan.
“Semua komponen masyarakat harus komit dulu bahwa Pemilu 2004 ini harus
sukses, karena kalau tidak, bangsa yang tengah megab-megab ini akan
lebih lama lagi megab-megabnya. Jadi Pemilu ini harus di-entrypoint
untuk sesukses-suksesnya agar bisa melepaskan diri dari kemegab-megaban
ini, sebab tidak ada yang ingin bangsa ini begini-begini terus, ”
katanya memberi pandangan dan saran kepada segenap bangsa dalam
menghadapi Pemilu 2004.
Sementara mengenai sambutan masyarakat terhadap Dewan Perwakilan Daerah
(DPD) yang merupakan sesuatu hal yang baru dalam penegakan demokrasi di
negeri ini, menurutnya, sangat positif. Terbukti sudah 105 orang yang
mengembalikan formulir dari 575 orang yang mengambil formulir pencalonan.
Namun, dia melihat adanya tantangan yang dihadapi para bakal calon (balon)
yakni sulitnya mencari dukungan sesuai dengan persyaratan yaitu harus
diajukan oleh sedikitnya 3000 orang. Sehingga terkait dengan usaha para
calon DPD untuk mendapatkan 3000 nama yang mengajukannya, membuka
kemungkinan timbulnya berbagai upaya curang seperti pemalsuan KTP. Untuk
mengantisipasinya, KPU DKI Jakarta sudah mengadakan komputerisasi,
sehingga bisa melacak KTP palsu dari nomor-nomor KTP tersebut. Dan untuk
saat ini baru KPU DKI Jakarta yang menggunakan komputerisasi di seluruh
Indonesia.
Hal pemalsuan itu sudah terbukti, sampai 23 September 2003, dari 105
formulir yang dikembalikan, dari sisi kelengkapan berkas 16 telah
dinyatakan tak memenuhi syarat untuk melangkah ke tahap berikutnya. Dan
89 berkas yang tersisa, setelah diteliti (verifikasi) secara
administratif telah banyak ditemukan manipulasi dukungan, bahkan ada 4-5
berkas calon yang verifikasinya sudah dihentikan karena adanya pemalsuan
fotokopi identitas dan tanda tangan dukungan. Jumlah itu, menurutnya,
mungkin akan terus menyusut setelah semua berkas diperiksa secara
adminstratif maupun faktual.
Dari sini ditemukan pula beberapa modus manipulasi baru, yaitu dengan
mengubah waktu pembuatan dan masa berlakunya. Selain itu ada ribuan
fotokopi yang tak bisa diidentifikasi alias rusak. Mungkin sudah
beberapa kali difotokopi ulang.
Dan ada lagi terungkap beberapa kejanggalan dalam bukti dukungan yang
disetorkan balon DPD. Dalam fotokopi KTP pemiliknya membubuhkan cap
jempol. Namun anehnya, dalam berkas tiba-tiba sipemilik KTP membubuhkan
tanda tangan. Besar kemungkinan tanda tangan pemilik identitas
dipalsukan.
Untuk lebih jelasnya mengenai DPD, dia menerangkan bahwa, setiap
propinsi diwakili oleh 4 (empat) orang DPD secara merata. Karena DPD
nantinya menjadi anggota MPR maka DPD ini akan mewakili dan menyuarakan
daerahnya di MPR dalam hal pengembangan daerah yang diwakilinya. Sedangkan perbedaannya dengan
Utusan Daerah yang sudah dikenal sebelumnya, sudah jelas terlihat, dari
segi perekrutannya, sebab DPD langsung dipilih oleh rakyat sehingga
jelas lebih dikenal rakyat.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia),
Marjuka - Atur Lorielcide. |
|