| |
C © updated 28032006 -
21102004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Malem Sambat Kaban, MSi
Lahir:
Binjai, 5 Agustus 1958
Agama:
Islam
Jabatan:
- Menteri Kehutanan Kabinet Indonesia Bersatu
- Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang
Isteri:
Nurmala Dewi
Anak:
Tujuh orang
Ayah:
AM Kaban
Ibu:
S. Tarigan
Pendidikan:
- SMAN 7 Medan
- S1 Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya
- S2 Institut Pertanian Bogor
Karir:
- Dosen, Universitas Ibnu Khaldun, Bogor
- Dosen, Universitas Islam As Syafiiyah
- Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Ibnu Khaldun
- Anggota DPR dan MPR
Organisasi:
- Sekjen DPP Partai Bulan Bintang
- Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang
Kegiatan Lain:
- Jakarta Public Relation
- Peneliti potensi ekonomi wilayah Taman Gunung Leuser pada 1992
- Ketua tim Penelitian Potensi Ekonomi Lemah di tahun 1993
- Peneliti muda pada studi pengkajian Strategi Pengusahaan Anak
Perusahaan Joint Venture Pertamina pada 1994
Alamat:
Gedung Manggala Wanabakti Blok I Lt.4
Jl. Jend. Gatot Subroto
Telp: (021) 5730216, 5730278, 5730213
Fax: (021) 5700226 |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
MS Kaban
Bintang Bulan Bintang di Kabinet
Dia bintang dari Partai Bulan Bintang di Kabinet Indonesia Bersatu.
Sesaat setelah diangkat menjabat Menteri Kehutanan, MS Kaban, bernama
lengkap Malem Sambat Kaban, langsung melakukan gebrakan memberantas
illegal logging. Pria kelahiran
Binjai, Sumatera Utara, 5 Agustus 1958, ini dengan cepat menguasai
masalah utama yang perlu segera diatasi di lingkup tugas`departemennya.
Padahal, semula dia tidak menduga dan mengaku tak pernah bermimpi menjadi menteri,
apalagi menjadi Menteri Kehutanan. Bahkan, saat dilantik pun, dalam hati, dia
masih bertanya-tanya. ''Apa iya aku jadi menteri?'' sebagaimana
dikemukakannya kepada pers.
Suami dari Nurmala Dewi dan ayah dari tujuh anak ini, diangkat
menjabat Menteri Kehutanan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat
dia menjabat Sekretaris Jenderal DPP Partai Bulan Bintang, salah satu
partai yang mendukung pencalonan pasangan Capres-Wapres SBY-JK dari
sejak awal, bersama Partai Demokrat dan Partai Keadilan dan Persatuan
Indonesia.
Tak lama setelah diangkat jadi menteri, dia pun terpilih menjadi
Ketua Umum DPP PBB sekaligus Ketua Formatur dalam Muktamar II PBB di
Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Minggu 1/5/2005. Kaban terpilih,
setelah kandidat terkuat lainnya Hamdan Zoelva, menyerahkan dukungan
kepadanya, tanpa harus melalui pemilihan tahap kedua. Kaban
menggantikan Yusril Ihza Mahendra yang kemudian menjabat Ketua Dewan
Surya.
Nama Adat
Menteri Kehutanan bernama lengkap, Malem Sambat Kaban, yang
disebutnya sebagai 'nama asli sebelum syahadat', merupakan nama adat. Kaban,
putera bangsa berdarah Karo, itu
berikrar memeluk Islam semasa mahasiswa di Universitas Jayabaya, Jakarta.
Dia berasal dari keluarga
besar. Terlahir dari pasangan AM Kaban, pedagang, dan S Tarigan, ibu
rumah tangga, sebagai anak keenam dari 11 bersaudata. Sebuah keluarga dari Suku Karo,
salah satu suku di Sumatera Utara. Ayahnya tak lahir sebagai Muslim,
melainkan sebagai keluarga yang taat pada adat. Maka nama anak-anak diberikan sesuai
nama adat. MS di depan marga kaban adalah
kepanjangan dari Malem Sambat. Malem itu artinya
baik. Sambat artinya menolong. Jadi Malem Sambat artinya orang yang baik dan suka menolong.
Masa kecilnya terbilang senang-senang saja, walaupun lantaran kenakalan,
beberapa tahun dia harus dibesarkan di lingkungan perkebunan, tidak
bersama orangtuanya. Secara ekonomi, orang tuanya tergolong mampu.
Ayahnya seorang pedagang. Saat
orang lain belum punya mobil, orangtuanya sudah punya mobil. Kala
itu, ayahnya punya empat buah penggilingan padi. Namun, mulai 1968,
bisnis penggilingan padi ayahnya menurun, sehingga usahanya dialihkan ke
perkebunan karet dan kemudian ekspansi ke perkebunan
kelapa sawit.
Namun karena ketika kecil, dia memang agak nakal dan susah diatur,
maka ketika duduk di kelas VI SD, untuk membina, dia 'diasingkan' oleh orangtuanya dan
tinggal bersama orang yang tak dikenal di perkebunan di Deli Serdang.
Mula-mula tinggal di rumah asisten
perkebunan. Saat itu, tiap hari dia wajib menyiram kebun dan macam-macam
pekerjaan, hal yang tak pernah wajib dilakukannya saat tinggal bersama
orang tuanya.
Namun tak berapa lama, karena masih susah diatur, dia pun diusir dari
rumah asisten perkebunan itu. Akhirnya, selama dua tahun, dia tinggal di
rumah kosong, rumah staf perkebunan yang tidak berpenghuni. Namun, karena
disiplin di SMP mengharuskan seorang siswa harus tinggal dengan orangtua atau
wali, akhirnya dia
pindah ke rumah seorang buruh paling rendah di perkebunan itu.
Selama tiga tahun, dia tinggal di rumah buruh perkebunan yang kondisi
ekonominya sangat sederhana, bahkan menderita. Di situ dia menikmati
beras yang bau apek. Nasinya hanya bisa dimakan kala hangat.
Begitu dingin dan menjadi kering tidak bisa lagi dimakan.
Waktu itu, dia dapat jatah beras bagus sebanyak 16 kilogram per bulan
dari orang tuanya. Namun oleh induk semangnya, buruh perkebunan itu, beras
bagus itu dijual untuk
membeli lauk dan keperluan lainnya.
Setiap hari makanannya nasi apek dengan lauk sayur ikan teri dan sambal dengan kuah yang dibanyaki.
Selama hidup bersama keluarga buruh perkebunan itu, dia menikmati
suka-dukanya jadi
buruh di perkebunan. Di sana dia banyak belajar tentang arti kehidupan.
Namun di situ dia menikmati hidup dengan segala dinamikanya. Terdidik bergaul
dengan anak karyawan perkebunan yang susah, namun, di sekolah bergaul dengan
anak-anak staf perkebunan.
Padahal budaya feodalis sangat kental dalam sistim pergaulan dan
kemasyarakatan di lingkungan perkebunan kala itu, bahkan mungkin hingga
saat ini. Anak-anak staf perkebunan sangat jarang mau bergaul dengan
anak-anak karyawan (buruh). sebaliknya anak-anak buruh merasa minder
bergaul dengan anak-anak staf. Namun, Kaban kecil bisa menerobos tembok
feodalis itu. sebab dia memang bukan anak buruh dan juga bukan anak staf,
melainkan anak seorang pedagang.
Pada tahun pertama di bangku SMP, dia sempat tinggal kelas karena susah diatur.
Kala itu, tiap pekan dia mendapat peringatan
dari guru. Tapi, walau dia susah diatur, nilai pelajarannya tak pernah buruk.
Setiap kali ujian dia mendapat nilai yang baik. Sehingga para gurunya selalu tak habis pikir.
Tapi karena kelakuannya yang sulit diatur dan dianggap nakal, dia pun
terpaksa tidak naik kelas.
Setelah tinggal kelas, dia pun tersentak dan tersadar. Pada tahun kedua duduk di kelas satu
SMP, kenakalan kanak-kanaknya berkurang. Dia bisa lebih tertib mematuhi
disiplin. Sehingga setiap
catur wulan, dia pun mendapat peringkat bagus di kelasnya.
Ada seorang guru, bernama Tahir, yang tak lepas dari kenangan masa kenakalannya
di sekolah. Sang Guru pernah memukulnya dengan buku. Saking marahnya,
guru mata pelajaran Kewarganegaraan itu
memukulnya memakai buku dengan begitu kerasnya sehingga buku itu pun
sobek dan kertasnya berserak. Namun, setelah dewasa, dia tahu kemarahan
guru itu karena rasa sayangnya. Sehingga Sang Guru itu masih selalu ingat, kalau
bertemu selalu menyapanya dengan senang.
Setelah tamat SMP, dia pindah ke Medan dan sekolah di SMAN 7 Medan. Di
Medan dia juga kost. Pengalaman hidup di perkebunan dan kost di Medan, sangat besar
memengaruhi jalan hidupnya. Hidup jauh dari orang tua menjadi pelajaran
hidup yang berharga baginya. Di situ dia menimba banyak pelajaran dalam
mengarungi hidup.
Setamat SMA, dia hijrah ke
Jakarta karena terobsesi dengan perjuangan aktivis mahasiswa pada
dasawarsa 1970-an. Sudah sejak duduk di bangku
SMP dia mengagumi para aktivis mahasiswa seperti Dipo Alam,
Hariman Siregar, Akbar Tandjung, dan Heri Akhmadi yang disebutnya Si
Sepatu Laras.
Apalagi dia sering baca kopian koran Salemba. Maka sesaat tamat SMA,
dia meminta kepada ayahnya untuk kuliah di Jakarta. Dengan harapan,
dalam hati,
ingin bertemu dengan para aktivis itu. Ayahnya sempat melarang. Namun
karena dia berkeras, akhirnya diizinkan. Apalagi, kakaknya juga iku mendukung. Setelah di
Jakarta, dia pun bisa memenuhi impiannya bertemu dengan para aktivis itu.
Dia pun masuk Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya, Jakarta. Lalu
dia sempat masuk resimen mahasiswa. Setelah
itu, barulah dia berkenalan dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Bahkan, ia pernah menjadi Ketua HMI Jakarta.
Masuk Islam
Saat mahasiswa itulah dia berikrar masuk Islam tahun 1980-an. Dia belajar soal Islam dari
membaca buku dan pengalaman masa kecil. Ketika masih duduk di bangku SD, setiap hari Minggu
dia
diajak ke gereja. Lalu di sekolah, guru agama meminta siapa yang tak beragama
Islam keluar. Dia pun ikut keluar. Namun dia tetap melihat dari jendela.
Kala itu, dia mendengar, bahwa
Tuhan itu satu, tidak beranak dan diperanakkan, tak ada yang sama dengan
dia.
Setelah mahasiswa, dia merasa lebih logis menerima apa yang diajarkan guru agama
waktu di SD itu. Maka dia pun memilih masuk Islam dan aktif di
organisasi mahasiswa Islam, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sampai pernah menjadi Ketua HMI Jakarta.
Kala itu, pada rezim Orba, dia tergolong mahasiswa yang amat kritis.
Sehingga kekritisan sering membuat dirinya dicekal.
Padahal pada masanya jadi mahasiswa itu adalah zaman Kampus Kuning, tahun 1978. Kala
itu, awal-awal dari pembreidelan Dewan Mahasiswa dan lahirnya
NKK BKK.
Dia termasuk mahasiswa yang tidak setuju atas NKK BKK. Bahkan,
sesungguhnya mahasiswa yang bersikap seperti ini sangat mendominasi.
Para mahasiswa yang berpikir oposisi terhadap pemerintah itu sangat kental. Waktu itu,
para mahasiswa didoktrin para senior.
Pada awalnya, Kaban secara pribadi, masih
resisten dengan organisasi kemahasiswaan. Sehingga dia malah tertarik masuk
resimen mahasiswa. Tapi tak berapa lama, setelah dia masuk Islam, Kaban
pun masuk HMI
dan mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah.
Dicekal
Masa yang paling berkesan baginya adalah tahun 1983-1985, kala
dunia kampus sangat tidak steril dari intelijen. Saat itu, tak ada aktivitas
mahasiswa yang tak terekam intelijen. Kaban merasa yakin bahwa nyaris semua
elemen mahasiswa
dipakai intelijen.
Hal ini sangat terasa. Contohnya, ketika gencar-gencarnya dia ikut mengkritisi
dan tidak setuju penunggalan azas Pancasila, sejak saat itulah
dia menikmati
panggilan-panggilan interogasi dan pencekalan cukup lama.
Pencekalan itu baru gugur setelah Pak Harto mundur 1998.
Salah satu pencekalan yang dialaminya adalah ketika mendapat rekomendasi dari Pak Natsir untuk
sekolah ke Malaysia. Pak Natsir merekomendasinya kepada
Anwar Ibrahim yang waktu itu masih menjabat menteri, untuk mendalami Ekonomi Islam
di Malaysia. Bahkan, dia sudah direkomendasi
MUI. Namun dia batal belajar ke Malaysia karena dicekal.
Dia juga pernah mengalami pemanggilan, pencekalan, dan penahanan
kota. Bahkan pernah dalam satu hari harus lapor dua kali. Namun demikian,
dia tidak surut, karena
yakin suatu saat rezim Soeharto pasti bakal runtuh.
Terjun ke Dunia Politik
Setelah menamatkan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya,
Kaban berkecimpung dalam pengembangan sumber daya manusia di Jakarta
Public Relation. Dia terjun meneliti potensi ekonomi wilayah Taman Gunung
Leuser pada 1992 dan berbagai penelitian lain.
Kaban yang kemudian meraih gelar S2 dari program Pasca Sarjana
IPB, aktif pula sebagai pengajar di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor. Dia
pun sempat menjadi Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Ibnu
Khaldun. Hingga kini, ia masih tetap mengajar mata kuliah ekonomi mikro
syariah setiap Jumat. Selain itu, dia juga aktif berceramah di berbagai
tempat dan kegiatan.
Kemudian, setelah reformasi bergulir, dia pun terjun ke dunia politik.
Sebelumnya, pada Pemilu 1997, sebenarnya dia sudah dilamar PPP yang kala itu
diketuai Ismail Metareum. Dia diminta masuk PPP dan dijanjikan akan dikasih
nomor jadi dari Jawa Barat. Namun, waktu itu Kaban belum terpikir untuk
masuk partai politik. Sebab kala itu dia berpikir, untuk apa jadi anggota
DPR/MPR, dalam sistem perpolitikan yang sangat terkontrol, dimana presidennya pun
masih Soeharto terus. Maka dia pun tetap memilih mengajar saja.
Namun, menjelang
reformasi, Kaban sering berkumpul dan diskusi dengan para senior, orangtua.
Salah satu topik yang banyak dibicarakan adalah kalau
Soeharto jatuh kita mau ngapain?
Lalu, waktu itu mereka intensif membicarakan
masalah pendirian partai politik. Pada mulanya mereka ingin mendirikan
parpol, dimana ketuanya Amien Rais dan Yusril jadi sekjennya.
Namun, ketika pembicaraan sampai pada soal nama dan asas partai, tidak
tercapai kesepahaman.
Akhirnya Amien Rais dan kawan-kawan memilih mendirikan partai sendiri,
yakni PAN (Partai Amanat Nasional). Sementara, Yusril dan Kaban bersama
kawan-kawan tetap akan mendirikan
Partai Bulan Bintang yang berasas Islam,
memperjuangkan Piagam Jakarta. Yusril didaulat jadi ketua umum. Kemudian, Yusril pun langsung
mengusulkan Kaban jadi Sekjen.
Kala itu, Kaban langsung menyatakan
keberatan, karena merasa belum ada pengalaman. Akhirnya, Anwar Haryono (alm)
menelepon: 'Saya dengar kabar, Anda menolak jadi Sekjen. Saya minta tolong, Anda dampingi
Yusril'. Karena orangtua sudah ngomong begitu, akhirnya Kaban bersedia.
Jadi Menteri
Walau sudah menjabat Sekretaris Jenderal DPP Partai Bulan Bintang dan
kemudian duduk sebagai anggota DPR/MPR hasil Pemilu 1999 dan 2004, Kaban
tak pernah bermimpi, apalagi berambisi, menjadi menteri. Walaupun
partainya, PBB menjadi salah satu pendukung utama, dari awal, pencalonan
pasangan Calon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan
Calon Wakil Presiden M Jusuf Kalla, yang kemudian menjadi pemenang.
Menurutnya, hanya nasib baik saja yang mengantarnya jadi menteri.
Disebut nasib baik, karena memang dia merasakan demikian. Ceritanya,
begini: Pada jam 15.00, tanggal 18 Oktober 2004, dia ditelepon untuk ketemu SBY
di Cikeas dalam
rangka membantu presiden dan wapres terpilih di kabinet. Namun waktu sampai
di Cikeas. Sudi Silalahi, orang kepercayaan SBY, bilang,
'Wah kita sebenarnya mau reschedule pertemuan ini'.
Setelah itu, kaban tidak segera pulang, namun masih duduk dan ngobrol bersama
Sudi dengan yang lain. Tiba-tiba saja,
SBY keluar, terus salaman dan duduk bergabung. Lalu berdialog. Kaban sendiri
terkesan bingung. Dalam hati, dia bertanya:
'Apa wawancaranya begini?' Tapi, dialog dengan SBY itu, rasanya tak menjurus kepada apa yang
diinfokan kepadanya sebelumnya. Waktu itu SBY bilang, 'Ya sudah nanti kita ketemu
lagi.'
Setelah itu, Kaban mendatangi Sudi Silalahi. Lalu Sudi bilang, 'Sudahlah Pak SBY sudah
kenal Kaban.' Setelah itu, Kaban keluar pulang. Ketika wartawan mencegat
dan bertanya, dia tidak bisa menjelaskan apa pun yang dibicarakan.
Karena memang yang dibicarakan tidak ada yang spesifik mengenai bidang
tugas tertentu seorang menteri.
Lalu, malam saat presiden akan mengumumkan susunan kabinetnya, Yusril
memintanya untuk menunggu saja di rumah. Kaban pun segera pulang ke
kediamannya di Bogor. Tiba-tiba sekitar pukul 21.00 handphone-nya
berdering. Setelah diangkat, suara seorang pria memintanya agar segera
bertemu Jusuf Kalla di Istana Wapres. Dipesankan agar masuk lewat pintu
belakang.
Kaban pun segera bergegas ke Jakarta. namun, dalam hati dia masih
merasa penasaran. ''Disuruh
ke Istana Wapres ada apa nih,'' gumamnya dalam hati. Dia pun mencoba
menelepon Hatta Rajasa dan Aksa Mahmud dalam perjalanan. Keduanya
berhasil diajak bicara lewat telepon. namun pembicaraan dengan kedua
tokoh itu, justru
semakin membuatnya bingung.
Lalu, Kaban pun menelepon Ali Muchtar. ''Pak Ali sebenarnya aku disuruh ke
Jakarta mau ngapain dan mau ketemu siapa?'' Ali menjawab: ''Abang harus ke istana.
Calon menteri yang lain sudah berada di istana." Akhirnya, mobil
pun dikebut hingga kecepatan 140 kilometer per jam.
Begitu sampai di depan istana, ternyata Kaban sudah ditunggu.
Kemudian SBY datang menemui beberapa calon menteri. ''Tadinya saya mau
ajak ngobrol satu per satu, tapi saya sudah paham. Dalam menentukan
keputusan ini saya banyak mendapat bisikan dari kiri-kanan. Tapi saya
ambil keputusan berdasarkan pandangan mata hati. Saya ajak, bapak-bapak
ikut membantu saya,'' ujar SBY.
Semula dia dapat masukan akan diangkat menjadi menteri sosial. Tapi,
setelah diumumkan, dia diangkat jadi Menteri Kehutanan. Dia merasa kaget.
"Terus terang nggak kebayang menjadi seorang
menteri. Waktu dilantik jadi menteri saja, sampai ada perasaan, 'apa iya
aku ini jadi meteri?'
Pada awal menjabat menteri, Kaban mengaku sempat merasa 'kagok
banget.' Pasalnya, harus ada ajudan dan protokol. Rasanya ada suatu perubahan suasana yang berbeda dari dunia partai ke parlemen
dan dari parlemen ke eksekutif. Dia merasakan adanya suatu lompatan beban.
Karena ketika di parlemen cenderung normatif saja, bahasanya ideal. Sedangkan di dunia
eksekutif, yang dihadapi dunia yang sebenarnya, nyata. Problemnya
menyangkut perilaku manusia yang berneka ragam dan kepentingan beraneka
ragam. Sebagai menteri, risiko pertanggungjawaban
publiknya lebih terasa.
Cepat Kuasai Masalah
Kendati dia tak pernah membayangkan akan menjadi menteri, apalagi
Menteri Kehutanan, dia tak terlihat kurang memahami bidang tugasnya.
bahkan dia terlihat cepat menguasai masalah di bidang kehutanan. sejak
hari pertama dia dengan tangkas menjawab berbagai pertanyaan wartawan
mengenai apa yang akan dilakukannya segera dalam jabatannya sebagai
Menteri Kehutanan.
Sepertinya dia sudah mempersiapkan diri dalam waktu cukup lama untuk
mengemban tugas itu. Memang, kalau dari sisi penguasaan masalah, dia
merasa tidak ada kesulitan. Karena lima tahun aktif di
panitia anggaran di DPR, telah bersentuhan dengan Departemen Kehutanan dalam
konteks berapa penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Di Komisi III DPR
dia juga berhubungan Dephut, termasuk kasus-kasusnya. Dia juga pernah di Komisi IX sub komisi BUMN,
yang menyentuh BUMN
yang diperiksa BPK, termasuk Perhutani dan Dephut.
Dari segi latar
belakang pendidikan, dia juga berhubungan dengan masalah kehutanan.
karena tesisnya mengulas masalah
'Taman Nasional Gunung Leuseur'. Maka, ketika duduk sebagai Menteri
Kehutanan, rasanya dia seperti masuk
kembali pada bab-bab tesisnya ketika meraih gelar master (S2) dari
Institut Pertanian Bogor (IPB).
Dia melihat masalah kehutanan yang harus segera dibenahi, selain
masalah illegal logging juga masalah degradasi hutan yang sangat cepat sekali terjadi.
Degradasi hutan itu sudah sangat mengganggu
fungsi hutan sebagai SDA yang lestari, flora yang beraneka ragam pun
sudah sangat rusak.
Dia menjelaskan, pada 1970-an, luas hutan kita mencapai 180 juta hektare.
Saat ini, sudah hanya 120 juta hektare. Bahkan hutan yang benar-benar
masih utuh, mungkin hanya tingal sekitar 57 juta hektare, sebagaimana
dikemukakannya kepada Republika, Minggu, 21 Nopember 2004.
Dia pun memalu genderang memerangi illegal logging. Sebab
menurut data beberapa LSM yang diterimanya, dalam
lima tahun terakhir ini, akibat keganasan perampokan kayu hutan,
tak kurang dari 20 juta hektare telah
hancur. Begitu pula data dari Dephut, tak kurang dari 2,7 juta hektare per
tahun hutan rusak.
Keluarga
Baginya, keluarga adalah segalanya. Namun, secara terus terang, dia
mengakui, setelah sibuk di partai dan parlemen apalagi setelah menteri,
dia tidak bisa lagi bertemu dengan anak-anak dalam waktu yang cukup
seperti sebelumnya.Dia hanya bisa ketemu anak-anak rata-rata
satu jam sehari. Hanya ketemu habis subuh sampai jam 06.00 pagi.
Sampai-sampai anaknya pernah bertanya saat dia pulang jam 22.00. 'Eh kok bapak pulang
cepat?' Sebab biasanya, dia pulang tengah malam sejak aktif di partai.
Tapi, Kaban bersyukur, meski anak-anaknya masih sedang puber, sampai saat ini
tidak ada yang menyimpang dari harapannya. ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|