| |
C © updated 07092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama:
BRAy Mooryati Soedibyo, S.S., M.Hum.
Lahir :
Surakarta , 5 Januari 1928
Agama:
Islam
Suami:
Ir. Soedibyo Purbo Hadiningrat, M.Sc
Anak:
Lima Orang
Ayah:
KRMTA Poornomo Hadiningrat Bupati Brebes, Putra KPH Hadiningrat
Bupati di Demak
Ibu:
GRA. Kussalbiyah Putri Sri Susuhunan Pakoe Boewono X dari Kraton
Surakarta Hadiningrat
Pendidikan:
1. Tahun 1954, Universitas Saraswati Surakarta Jurusan Sastra
Inggris, Program D-3
2. Tahun 1977, Bahasa Perancis di Centre Culturel Francais tingkat VI
3. Tahun 1981, Ahli Kecantikan Internasional Cidesco-Vancouver-Canada
4. Tahun 1995, Doktor Honorus Causa dari Pacific Western University Los
Angeles USA
5. Oktober 2000, S-1 Universitas Terbuka (UT) Jurusan Penterjemah
(Translation)
6. Januari 2003, -S2 Program Studi Linguistik Penerjemahan Bahasa Inggris
Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Surakarta
7. September 2003, Mengikuti Kuliah Program Doktoral S3
Minat Utama
Marketing -Strategic Management Universitas Indonesia Jakarta
Pengalaman Pekerjaan:
1. Direktur Utama, PT Mustika Ratu Tbk
2. Direktur Utama, PT Mustika Ratu Investama
3. Direktur Utama, PT Mustika Ratu Centre
4. Direktur Utama, PT Mustika Princess Hotel
Pengalaman Organisasi :
1. Ketua Umum Ikatan Amemetri Kebudayaan Tradisional Indonesia (IAKTRI),
1976- sekarang
2. Ketua Umum Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (PERKOSMI), 1986-
2002
3. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP
Jamu), 1986-2003
4. Ketua Umum Asean Cosmetic Association (ACA), 1993-1995
5. Anggota Dewan Penyantun Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS)
Surakarta, 1994-sekarang.
6. Ketua Kadin Indonesia Bidang Industri Tekstil, Aneka dan Agroindustri,
1999 - sekarang
7. Anggota MPR RI Tahun 1997, Kepres No. 262/M/97
8. Pendiri dan Ketua Umum Yayasan Puteri Indonesia, Pemegang Franchise
Miss Universe
9. Direktur Utama Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Mooryati Soedibyo (LPPMS)
10. Ketua Umum Asosiasi SPA Indonesia (ASPI) (Board Member International
SPA Association), (ISPA) 1999-2004
11. Ketua Umum Cidesco (Commitee d'Estetique et de Cosmetologie),
Indonesian Section, 2000-2004
12. Ketua Federation of Asia Pacific Bridal Associations (FAPBA),
Indonesian Section
13. Dewan Penasehat dan Pendiri Yayasan Emong Lansia (Lanjut Usia)
15. Dosen Bidang Tata Krama Fakultas Sastra Universitas Indonesia,
1988-1990
Penghargaan:
1. Tahun 1989, Penghargaan Upakarti dari Presiden Republik
Indonesia, untuk Usaha Pelestarian Obat Tradisional Indonesia
2. Tanggal 2 Mei 1993, Penghargaan Satyalencana Pembangunan dari Presiden
Republik Indonesia, atas jasa Pengabdian Pendidikan Luar Sekolah
3. Penghargaan The Asean Marketing Management Award, diberikan oleh The
Asian Institute of Management (AIM), Philipina, sebanyak dua kali pertama
tanggal 4 Juni 1993 untuk Marketing dan kedua tanggal 24 September 1996
untuk Management
4. Penghargaan Sahwali Award tentang Kepedulian Lingkungan, oleh Pusat
Informasi dan Pengelola Lingkungan Indonesia (PIPLI), pada 11 November
1996.
5. Memenangkan juara Umum Tata Rias Internasional:
-- 1981 Juara I-di Hongkong dengan tema Dewi Shinta
-- 1984 Juara I-di Kanada dengan tema Paksi Jatayu
-- 1986 Juara I-di New York dengan tema Putri Junjung Buih
-- 1987 Juara II-di Skotlandia dengan tema Bhineka Tunggal Ika
6. Tenaga Wanita Terbaik untuk DKI, tahun 1999 dan 2003
7. Pengolahan Limbah Terbaik di DKI, tahun 2001, 2002, dan 2003
8. Kalpataru DKI Pembinaan Lingkungan, tahun 1994
9. Tahun 2003 memperoleh anugerah Best of the Best Entrepreneur of the
Year dari Ernst & Young, yang acara puncaknya diselenggarakan di Monte
Carlo -Monaco pada tanggal 4- 8 Juni 2003
Prestasi:
• Juara Umum Lomba Tata Rias Asian Beauty Congress di Hongkong,
Maret 1981 dengan tema Dewi Shinta
• Juara Umum Lomba Tata Rias Cidesco di Canada, Juli 1984 dengan tema
Paksi Jatayu
• Juara Umum Lomba Tata Rias Cidesco di New York Agustus 1984 dengan tema
Putri Junjung Buih
• Juara II Lomba Tata Rias Cidesco di Glasgow Scotlandia, 10 Agustus 1987
dengan tema Burung Garuda
• Juara I Lomba Tata Rias Cidesco di Singapore, 1981 dengan tema Ratu
Kencono Wungu.
|
|
| |
|
|
|
|
==
1 2
3 4 5 6 ==
BRAy Mooryati Soedibyo, Wawancara (2)
Senator Percantik Jakarta
Ia tak jemu-jemu memajukan jamu di forum nasional dan internasional.
Sebagai cucu Sri Susuhunan Pakoe Boewono X Keraton Surakarta kehidupan
BRAy Mooryati Soedibyo sangat erat ke segala hal yang berkaitan dengan
kecantikan, jamu tradisional, dan lingkungan keraton. Pengetahuannya di
bidang itu tak diragukan lagi. Maklum, sejak usia tiga tahun ia sudah
tinggal menetap di Keraton Surakarta, yang dikenal sebagai sumber
kebudayaan Jawa.
Di keraton Mooryati, ia akrab dipanggil Ibu Moor saja, memperoleh
pendidikan tradisional yang sangat menekankan tata krama, seni tari
klasik, kerawitan, membatik, ngadi saliro ngadi busono, mengenal
tumbuh-tumbuhan berkhasiat, meramu jamu dan kosmetika tradisional dari
bahan alami, bahasa sastra Jawa, tembang dengan langgam mocopat, aksara
Jawa Kuno, dan bidang seni lainnya.
Sejak belia ia sudah hobi minum jamu. Persis sejak tahun 1973 hobi
itu dikembangkannya menjadi ladang usaha. Ramuan jamu resep Keraton
Surakarta yang semula diberikan kepada teman-temannya, dikemasnya
menjadi bisnis. Dalam perkembangan selanjutnya produk-produk jamunya
terdiri 800 item yang bisa ditemukan di lebih 20 negara. Mulai dari
produk untuk balita, umum, super, dan premium, dari produk untuk orang
tua hingga remaja puteri. Berikut petikan wawancara BRAy Mooryati
Soedibyo dengan wartawan TokohIndonesiaDotCom, di gedungnya yang
megah Mustika Ratu Center, Pancoran, Jakarta Selatan.
Anda dikenal sebagai tokoh utama penggali, pejuang, pemrakarsa,
sekaligus pelaku industri jamu terkemuka. Bagaimana perjalanan hidup Ibu
bersama jamu yang dikembangkan oleh Mustika Ratu?
Saya, menggali tradisi nenek moyang kita yang sudah hampir terpendam
dan sudah hampir dilupakan masyarakat. Tradisi perawatan kesehatan dan
kecantikan sesungguhnya sudah berkembang dengan baik dan menjadi budaya
yang benar-benar dipelihara oleh nenek moyang kita sejak ratusan tahun
lalu, hingga munculnya pengobatan modern di tanah air. Tentu, tidak
mudah mengembangkan budaya yang sudah hampir dilupakan masyarakatnya.
Itulah makanya, saya harus memulai usaha saya dari kecil, dari
industri rumahan atau home industry yang sangat sederhana, yang
kemudian berkembang secara alamiah menjadi perusahaan yang semakin besar.
Kini, setelah hampir 30 tahun mengembangkan jamu, PT Mustika Ratu sudah
berkembang menjadi suatu perusahaan besar berbasis industri, bahkan
telah menjadi perusahaan yang sudah go public atau menjual
sahamnya kepada masyarakat.
Mengapa jamu sempat terpendam dan tidak menarik digunakan masyarakat?
Dulu, jamu-jamu yang secara intensif digunakan nenek moyang kita, itu
mulai ditinggalkan masyarakat seiring dengan masuknya obat-obatan hasil
produksi perusahaan farmasi ke Indonesia. Di sinilah, jamu mulai
tersisihkan dan dilupakan. Masyarakat tidak lagi memakai jamu dengan
semestinya. Demikian pula dengan ahli pengobatan tradisionil, yang
selama ini melayani masyarakat, mulai ditinggalkan.
Ketika para dokter yang sudah mengenyam pendidikan di fakultas
kedokteran mulai eksis di masyarakat, maka, para pengobat alternatif pun
semakin kehilangan perannya. Namun sangat disyukuri, sebagian besar
rakyat kecil masih tetap setia memelihara warisan budaya nenek moyang
kita, termasuk dalam menggunakan jamu. Sehingga masih tetap berakar
dalam kehidupan mereka, walaupun pada satu sisi hal itu didorong karena
obat-obatan hasil farmasi yang relatif mahal.
Apakah itu sebab, selama masa krisis ekonomi yang menurunkan daya
beli masyarakat jamu kembali menjadi eksis dalam masyarakat?
Oh, ya.... Setelah krisis ekonomi menimpa Indonesia, penggunaan jamu
dalam masyarakat langsung mendongkrak peningkatan hidup para pengusaha
jamu. Karena masyarakat tidak mampu membeli obat-obatan hasil produk
farmasi, maka mereka berusaha mengkonsumsi jamu-jamu sebagai wujud dari
paradigma sehat. Paradigma sehat, maksudnya, agar jangan sampai
menderita sakit. Sebab kalau sakit, pada saat itu biayanya akan menjadi
sangat mahal. Dengan demikian, sebelum sakit dirawat dengan obat-obatan
tradisional dan jamu-jamuan.
Sebagai perintis industrialisasi jamu, apa yang melatari visi Ibu
mengembangkan jamu serta merealisasikannya sehingga Ibu dikenal sebagai
penggali, pejuang, pemrakarsa sekaligus pelaku industri jamu?
Saya tidak hanya merintis pembangunan jamu-jamu dalam bentuk yang
sophisticated. Tetapi, mengembangkan produk-produk yang lebih modern
melalui proses yang canggih. Misalnya beras kencur, gula asam, jamu
kunir asam, dan segala macam, itu yang saya awetkan.
Demikian juga dengan freshdrink, atau minuman segar yang dapat
dikonsumsi secara instant, langsung, cepat, awet, dan tanpa pengawet.
Menurut saya, kemasan seperti itu merupakan jawaban dari kebutuhan (demand)
masyarakat karena mereka mau mengkonsumsi jamu yang siap dikonsumsi.
Sebagai sebuah industri bagaimana Ibu melihat keberlanjutan usaha
industri jamu Indonesia di masa depan?
Industri jamu memiliki dukungan yang sangat kuat dari alam Indonesia,
berupa kekayaan dan keanekaragaman tumbuhan yang sangat berlimpah dan
tumbuh suburnya di Indonesia.
Apapun yang ditanam, jika kita ingin mengembangkannya, maka relatif
mudah karena didukung dengan tanah yang sangat subur. Namun sebagai
sebuah industri, produk jamu hanya akan bertahan jika didukung dengan
permintaan dari konsumen. Jika tidak ada pembeli jamu, tentu saja
industri itu tidak akan berkembang.
Demikian juga dengan rakyat, dalam hal ini petani, juga tidak akan
mendapat pekerjaan. Bahkan, bukan suatu hal yang mustahil kalau tanaman
yang digunakan sebagai bahan dasar jamu juga berpotensi punah. Tentu
masyarakat petani akan berpikir berkali-kali untuk menanam kencur,
kunyit, temu lawak, kalau tidak ada yang membeli. Dengan kata lain,
siklus perdagangan harus berlangsung secara ideal. Dimana ada permintaan
(demand) harus ada penawaran (supply). Kalau demand
dan supply tidak seimbang maka akan mengakibatkan munculnya
kelangkaan pasokan kalau demand tinggi, atau sebaliknya
mengakibatkan oversupply.
Keberhasilan saya, saya tidak hanya berhasil merintis mengembangkan
jamu dalam produk yang sophisticated (canggih). Karena, saya juga
memakai ekstrak. Kalau dulu jamu itu direbus 5 gelas, menjadi 1 gelas.
Sekarang, siapa yang sempat memeras begitu. Maka kemudian saya
membuatnya ekstrak. Saya cari mesin Ultra High Treatmen (UHT)
untuk mengawetkan.
Beras kencur misalnya, supaya tidak hanya tahan dua hari tapi dua
tahun. Tidak usah 5 gelas menjadi 1 gelas, tapi sesudah di ekstrak, dari
100 kg menjadi 10 kg, hingga dipil. Pil sendiri tidak usah 10, minumnya
ngggak usah segelas atau secangkir, tapi cukup satu pil karena sudah
diekstrak dari 100 kg menjadi 10 kg.
Itu, adalah salah satu inovasi untuk mengikuti kemauan masyarakat
yang sudah modern dan serba praktis, tidak seperti jaman nenek moyang
kita dahulu?
Sekarang kita juga harus mengikuti globalisasi. Yang namanya ekspor
adalah perdagangan global. Akan ada entry barrier ke negara lain,
batasan-batasan untuk masuk. Nanti diciptakan kesepakatan-kesepakatan
seperti ASEAN, AFTA, WTO, dan lainnya.
Kita mau tidak mau harus mengikuti, dan kita tidak bisa ekspor kalau
tidak mengikuti requirement dari sana. Misalnya, kita harus ada
GNP (Goodman Newfactoring Practicied). Kita tidak boleh
mengekspor ke negara lain kalau tidak punya sertifikat GNP.
Maka pemerintah harus memberikan, memudahkan, atau membimbing. Memang
mahal membimbing pengusaha-pengusah kecil untuk mempunyai sertifikat
GNP. Kalau dia tidak bisa bayar karena mungkin juga membutuhkan tempat
yang luas. Atau ada peraturan-peraturan yang berlaku dari Departemen
Kesehatan, misalnya apakah ada aturan dindingnya harus dicat, harus
marmer, atau yang lainnya. Pokoknya peraturan-peraturan standar itu.
Mestinya, khusus kepada sekelompok pengusaha-pengusaha kecil
diberikan satu sertifikat untuk memenuhi persyaratan demikian?
Terus sekarang harus ada apoteker. Tidak bisa bayar apoteker, karena
paling tidak harus ada satu juta rupiah. Perusahaan kecil mana bisa
bayar satu juta buat seorang apoteker.
Saya, bukan Ketua Umum Gabungan Pengusaha (GP) Jamu lagi, tapi
sebagai penasehatnya karena saya sudah lima kali dipilih jadi ketua. Dan
saya tidak mau memonopoli. Pada Munas, saya serahkan, sekarang saya
tidak bersedia lagi. Kalau tidak, mau dipilih terus. Selanjutnya, Kadin
memberi kesempatan pikiran-pikiran baru pada anak-anak muda.
Nah mengenai apoteker tadi, itu sudah pernah kita laporkan kepada
Departemen Kesehatan supaya satu Apoteker untuk lima perusahaan. Ini
dilakukan untuk mendapatkan ijin GNP itu tadi, dimana harus ada Apoteker
sebagai alah satu persyaratannya. Sebab persyaratan itu sendiri banyak
sekali.
Jadi, mereka juga sudah bisa ekspor, kalau yang sudah mampu,
mempunyai kualitas yang bagus, dididik, dibina. Kalau nggak dibina dan
dididik, hanya jalan sendiri, ya… jalannya bagaimanalah nanti. Namanya
juga bisnis, kalau nggak dibikin pasarnya…. Pemerintah itu bisa membuat
pasar.
Membuat pasar, bukan hanya mempromosikan, atau mengeluarkan iklan
saja. Tetapi dengan memberikan bimbingan bagaimana memproduksi yang
bagus, mendidik yang baik apakah sistemnya atau kualitasnya, khasiatnya,
memilih bahan bakunya, standarnya. Kalau itu dibina, tentu saya rasa
bisa maju karena meskipun krismon, ini jamu pertumbuhannya bisa naik
20%. Malah lebih dari situ juga bisa. Kalau ekspor lebih bisa, sampai
100% bisa.
Jamu saya, itu di luar negeri saya ekspor dalam masa krismon, malah
jadi naik menjadi 100%. Untung kalau dollar naik. Kalau rupiahnya
melemah, kan dollarnya naik. Misalnya kemarin sempat Rp 10.000/$1,
sekarang sudah Rp. 8.000, pendapatan saya malah turun. Maka, apakah saya
mengharapkan rupiah melemah, nggak juga. Tapi, seharusnya pemerintah
bikin pasar, dibantu, begitu.
Saya mikirnya bukan hanya untuk…. tapi juga perusahaan-perusahaan
kecil. Karena kita berpenduduk 220 juta, bersaingnya nggak habis kok,
kita dapat 3 juta orang saja, duitnya sudah banyak kok. Pasarnya banyak.
Kita tidak takut saingan, kok.
Yang penting, orangnya harus dididik supaya menjadi senang dengan
perawatan kesehatan, dengan alat-alat yang ada sesuai dengan tradisi
Indonesia sendiri yaitu jamu. Karena, Malaysia saja sudah meniru membuat
jamu.
Di Eropa kabarnya juga sudah demikian, ya?
Ya, Eropa itu kan tradisionalnya yaitu… Suplemen, King…. Di Amerika
juga ada, seperti Herbal dan lainnya. Kalau di Jepang namanya Sun
Corella. Dari Cina juga perdagangannya besar sekali. Jadi, kita harus
meniru.
Sekarang sudah jaman serba industri dan jamu semakin berkembang di
seluruh dunia seperti yang Ibu sebutkan. Bukankah ini kesempatan
Indonesia mencari pasar, misalnya ke Afrika?
Itu, sudah dilakukan sendiri-sendiri. Mereka itu, kerja keras lho,
menjual jamu ini. Tapi di kita itu belum ada seperti dorongan, dukungan
di negara Cina.
Di Cina itu, dari nanamnya itu pemerintah memberikan lahan untuk
tanam, kemudian bibit diteliti, meneliti khasiatnya dari bahan-bahan
yang ada di dalam tumbuhan obat itu, kemudian juga boleh dipakai oleh
pengusaha-pengusaha. Ada pengusaha pemerintah, ada pengusaha yang swasta.
Kalau ada khasiatnya, mereka bisa pakai, ndak usah mereka bayar sendiri.
Jadi ada fasilitas pemerintah karena itu asetnya bangsa.
Kemudian masuk ke hospital, dokter-dokternya itu pegawi negeri, ada
namanya dokter tradisional ada juga dokter modern. Mereka bekerja sama
erat sekali, karena di universitas China itu ada universitas untuk obat
tradisional, ada unversitas untuk obat modern. Itu dua-duanya bisa
saling mengisi.
Di Indonesia hal demikian belum terjadi, menurut Ibu?
Ya, belum ada. Sekolahan saja, yang Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu)
ajak kerja sama untuk membuka satu pendidikan untuk ahli jamu, baru ada
dengan Universitas Gajah Mada, Universitas Tri Sakti, dan satu lagi
dengan Universitas Parahyangan.
Kita itu pengusaha, bukan scientis. Kalau ilmunya itu tidak
dilestarikan, yaitu khasiatnya ini apa, ramuan ini dengan ini lebih
cocok ini, kalau ini jangan dicampur dengan ini. Dari semua bidang yang
memiliki ilmu, ya, dokter yang ajarkan, ahli-ahli jamu yang mengajarkan,
kemudian ahli farmasi juga mengajarkan, orang-orang ini ahli jamu. Itu,
sudah ada di Gajah Mada untuk program D-3. Nanti lama-lama bisa jadi
S-1. Itu juga supaya pendidikan dokter, pendidikan farmasi, juga
mendapatkan pendidikan khasiat obat-obatan tradisional Indonesia itu
sendiri.
Pemerintah pernah merencanakan memasukkan obat-obat ramuan
tradisional (jamu) ke rumah sakit, bagaimana kelanjutannya?
Itu, kan baru rencana. Keinginan dari GP Jamu, karena
pengusaha-pengusaha jamu ini sudah lama, pada waktu saya masih memegang
Ketua Umum GP Jamu sudah berusaha melakukan pendekatan dengan dokter,
pendekatan dengan rumah sakit agar jamu di pakai. Tapi, karena dokter
itu dididik untuk menggunakan obat-obatan yang sudah melalui penelitian,
hanya bisa memakai obat-obatan yang sudah mendapatkan
sertifikat-sertifikat Clinical Trial (uji klinik), itu baru boleh.
Dia itu memang mendapatkan pendidikan obat-obatan modern.
Ada obat-obatan lain, apakah dari Cina atau India, yang namanya
Iyurveda atau dari Indonesia yang namanya Jamu, tapi harus melalui
clinical trial. Itu bisa dimengerti. Tapi dalam hal ini, tentunya,
pemerintah juga bisa mendorong bagaimana caranya mempercepat hal ini.
Sebab, di Cina dan di India itu sudah berlaku. Kalau di India itu,
lulusan sekolahnya namanya ‘Hakin’.
Menurut Ibu, yang sudah melakukan banyak hubungan dengan Pemerintah,
mengapa kita begitu lambat mengadaptasi kemajuan seperti di Cina dan
India?
Mungkin karena budget yang diberikan kepada Departemen
Kesehatan itu tidak diarahkan pada obat tradisional. Tapi, diarahkan
pada obat farmasi, obat modern, rumah sakit, puskesmas, yang dananya
harus generik, yang murah kepada rakyat kecil. Itu bagus, tapi jamunya
juga harus dikembangkan.
Disamping obat modern hasil farmasi, obat tradisional (jamu) bisa
membantu si sakit agar bisa lebih cepat sembuh. Tidak salah kalau
pemerintah membentuk sistem pemberian obat dengan racikan ganda, satu
dari obat hasil farmasi dan satu lagi racikan jamu. Itu yang diinginkan
GP Jamu.
Secara medis, hal demikian tidak salah bukan?
Tentu, tidak menyalahi. Yang penting, harus melalui penelitian.
Pemeritah dapat melakukan penelitian secara cepat dan murah, dan tidak
perlu berbentuk resep. Jamu itu kan formula. Ramuannya terdiri dari 15
atau 16 ramuan yang dijadikan menjadi satu. Tetapi untuk memformulasi
15, atau 16 ramuan menjadi satu akan relatif lebih lama dan mahal.
Tetapi, ramuan dari bahan tunggal pun dapat digunakan untuk membantu
pasien.
Misalnya, dari bahan baku (raw material) kunyit dapat
mengklaim khasiat sebagai penyembuh penyakit mulas. Departemen Kesehatan
pun sudah melakukan uji klinis terhadap kunyit tersebut. Sekarang,
pemerintah harus membantu agar bahan kunyit yang diproduksi GP Jamu
dapat memasuki rumah sakit, dan dokter-dokter dapat memberikan kunyit
tersebut kepada pasien-pasien yang menderita penyakit mulas.
Demikian juga dengan jahe sebagai bahan tunggal, tanpa dicampuri
bahan lain, boleh mengklaim dapat menyembuhkan masuk angin, mual.
Sekarang, para pengusaha jamu itu mempunyai ramuan yang beraneka ragam
dan berbeda beda satu sama lain.
Perbedaan ini bisa dilatarbelakangi berbagai hal. Misalnya, seperti
ramuan yang diperoleh dari nenek moyangnya sendiri, atau dari buku,
maupun sumber-sumber lain. Ramuan-ramuan ini harus diperiksa lagi oleh
pemerintah sebelum masuk ke rumah sakit. Sementara ramuan tunggal
relatif tidak membutuhkan pemeriksaan, karena rumah sakit sendiri pun
sudah memiliki clinical trial atau penelitian secara ilmiah untuk
bahan-bahan tunggal. Jadi, dapat dengan segera direkomendasi pemerintah
untuk dipakai para dokter sebagai bagian dari resep para pasien.
Saat ini, PT Mustika Ratu mempekerjakan ribuan orang baik mereka yang
menjadi karyawan maupun yang tidak. Seperti pedagang jamu yang
disediakan outlet-nya oleh PT Mustika Ratu. Ini membuktikan bahwa
industri jamu dapat menyerap banyak tenaga kerja.
Kalau outlet yang saya sediakan (PT Mustika Ratu) mungkin
hanya mempekerjaan puluhan ribu saja, tetapi kalau outlet yang
disediakan seluruh perusahaan jamu, khususnya yang tergabung dalam GP
Jamu, sudah mempekerjakan 40 sampai 50 ribu pekerja. Di sini belum
termasuk pedagang jamu gendong.
Mata rantai perdagangan jamu Indonesia sendiri, hingga saat ini sudah
bagaimana?
Perdagangan jamu sudah meluas ke berbagai negara, mulai dari Asia,
Amerika Serikat, Eropa, hingga Afrika. Bahkan, jamu gendong sudah meluas
hingga ke Malaysia Barat dan Malaysia Timur. Kenapa di Malaysia
berkembang jamu gendong, karena Malaysia itu merasa serumpun dengan
Indonesia. Sehingga lebih mudah menjelaskan dan menerangkan faedah dan
khasiat jamu, dibandingkan dengan masyarakat Eropa atau Amerika Serikat.
Dilihat dari kemampuannya menyediakan lapangan kerja, apakah Ibu
percaya industri dan perdagangan jamu dapat menjadi alternatif
penyediaan lapangan kerja?
Kalau ini dikembangkan secara otomatis akan menyerap tenaga kerja.
Kalau penggunaan jamu di kalangan masyarakat juga berkembang, maka
pengusaha jamu juga akan berkembang. Bagaimana mengembangkan penggunaan
jamu di kalangan masyarakat? Disinilah peranan pemerintah.
Kalau pemerintah sudah membantu melakukan penelitian akan khasiat
jamu, disosialisasikan, dan diumumkan, maka masyarakat akan percaya pada
manfaat penggunaan jamu tersebut. Dengan adanya kepercayaan masyarakat,
secara otomatis akan meningkatkan demand (permintaan) terhadap
jamu. Dan hal itu akan berdampak positif terhadap peningkatan usaha
jamu.
Kendala pengembangan jamu apakah hanya karena pemerintah belum serius
melakukan penelitian dan mensosialisasi manfaat jamu tersebut?
Sebenarnya, peranan pemerintah yang diharapkan para pengusaha jamu
lebih dari sekadar penelitian dan sosialisasi penggunaan jamu. Kalau
boleh dibilang, dampak dari penelitian dan sosialisasi seperti ini,
tergolong kecil.
Saat ini pun Departemen Kesehatan RI selalu mengiklankan “Cintailah
Produk Dalam Negeri”. Tetapi, iklan itu tidak berdampak apa-apa karena
pasarnya sudah dikuasai produk luar negeri. Bahkan, dapat dikatakan,
iklan tersebut menjadi kontradiktif. Yang sangat diharapkan masyarakat
pengusaha jamu adalah membantu agar jamu berkembang, diproduksi dengan
mutu yang lebih baik, produksi yang innovatif, sehingga mutunya lebih
bersaing.
Pada era perdagangan bebas, apakah memungkinkan jamu diperlakukan
sebagai komoditi ekspor Indonesia?
Hampir semua komoditi dapat menjadi komoditi ekspor, termasuk jamu.
Permasalahannya, bagaimana membuat jamu sebagaimana yang diinginkan
konsumen luar negeri.
Kalau Anda bertanya, bagaimana agar jamu menjadi komoditi ekspor,
maka kita harus memenuhi referensi konsumen (requirement) dan
peraturan luar negeri terhadap komoditi-komoditi yang mereka impor. Di
luar negeri, kita harus meneliti setiap pasar negara masing-masing.
Disamping peluang pasarnya, kita juga harus mengetahui siapa
pesaing-pesaing kita dalam segmen pasar jamu itu, bagaimana
lifestilyle masyarakat negara yang bersangkutan.
Misalnya, apa obat tradisional yang ada di negara itu. Satu persatu
masalah itu harus kita teliti, dan itu juga harus dilakukan pemerintah,
dalam hal ini Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN). Kalau misalnya
seorang pengusaha jamu hendak memasarkan jamu di Meksiko, maka kita
harus dapat memperoleh informasi dari BPEN tentang bagaimana peluangnya,
pasarnya, dan peraturan impornya.
Kalau pengusaha jamu sendiri yang berinisiatif meneliti pasar setiap
negara, bagaimana?
Biayanya akan menjadi sangat mahal. Anda dapat membayangkan berapa
biaya yang akan dikeluarkan kalau Jamu Jago melakukan penelitian
sendiri, Air Mancur melakukan penerlitian sendiri juga, demikian juga
dengan Mustika Ratu.
Disamping itu masing-masing perusahaan jamu, juga mungkin tidak punya
dana sebesar itu untuk meneliti peluang pasar di luar negeri. Oleh
karena itu, jalan terbaik menurut saya adalah kerjasama antara
pemerintah dengan swasta. Tetapi pemerintah harus secara konkrit
menyediakan dana.
Kalau perusahaan jamu yang melakukan penelitian, sebenarnya bukan
tidak mungkin, tetapi hal itu akan lebih lama dan membuat perusahaan
jamu Indonesia tidak berkembang. Saat ini saja, berdasarkan hasil
penelitian suatu lembaga pengembangan ekspor internasional, menyebutkan
bahwa perbandingan volume ekspor obat-obatan tradisional antara Cina
dengan Indonesia sangat jauh berbeda. Cina telah mengekspor obat-obatan
tradisional hingga miliaran dolar AS, sedangkan Indonesia hanya dapat
mengekspor beberapa juta dolar AS saja.
Bila dibandingkan, bagaimana perkembangan jamu Indonesia dengan
negara lain yang juga memiliki kekhasan obat-obat tradisional seperti
Cina dan India?
Cina dan India merupakan negara yang memiliki potensi besar dalam
menghasilkan obat-obat tradisional. Di India terkenal dengan
Ayoverda-nya, dan Cina terkenal dengan Shinsei-nya. Produk kedua negara
ini tidak hanya eksis di dalam negerinya sendiri, tetapi juga telah
menembus pasar luar negeri dengan volume yang cukup besar.
Mengapa obat-obat tradisional dari India dan Cina itu bisa berkembang
lebih cepat dari jamu Indonesia?
Di India, ada pendidikan khusus untuk pengobatan alternatif yang
sudah mendapat pengakuan dari pemerintah. Lulusan pendidikan ini disebut
dengan ‘hakin’. Setelah menyelesaikan pendidikannya, para ‘hakin’ dapat
berpraktek sebagai practisioner seperti dokter. Saya pernah
mendatangi seorang ‘hakin’ untuk mendapat pengobatan, dan mendapat
resep.
Lalu, resep itu saya bawa ke toko obat tradisional dan mendapat
obat-obatan, yang diantaranya terdapat juga kunyit. Dengan adanya
praktek-praktek dan toko-toko obat tradisional, maka jelas akan menyerap
tenaga kerja yang memadai. Di Indonesia, fenomena positif obat
tradisional seperti di India dan Cina tidak akan terjadi bila pelaku
usaha pengobatan tradisional selalu dilarang untuk melakukan sesuatu.
Mengapa Depkes tidak melakukan seperti apa yang dilakukan negara lain
mengembangkan obat-obat tradisional?
Saya juga tidak tahu. Mungkin mereka belum memahami perkembangan obat
tradisional di dunia, atau mungkin belum ada dana yang dialokasikan
APBN.
Kalau pemerintah tetap saja konservatif, seperti selama ini, Ibu
punya prediksi masa depan obat-obatan tradisional Indonesia?
Menurut saya, eksistensi jamu tradisional Indonesia tidak hanya
terancam, tetapi juga pangsa pasarnya yang sangat besar akan dibanjiri
produk jamu dan obat-obatan tradisional dari negara-negara lain. ►ht
=> Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|