|
|
 |

Nama :
:: Mochtar Lubis
Lahir :
:: Padang, 7 Maret 1922
Agama :
:: Islam
Meninggal:
Jakarta, 2 Juli 2004
Isteri:
:: Halimah, 77 tahun, tutup usia pada 27 Agustus 2001
Karir :
:: Sastrawan
:: Wartawan KBN Antara
:: Pemred Harian Indonesia Raya
:: Pendiri majalah sastra Horison
:: Direktur Yayasan Obor Indonesia
Pendidikan :
:: HIS di Sungai Penuh
Organisasi :
:: Press Foundation of Asia
Penghargaan :
:: Magsaysay Award untuk jurnalistik dan kesusastraan
Novel :
:: Harimau, Harimau!, Senja di Jakarta, Jalan Tak Ada Ujung, Berkelana Dalam
Rimba.
Alamat :
:: Jakarta
|
|
Mochtar Lubis (1922-2004)
Pahlawan di Pentas Jurnalistik
Pemred mantan Harian Indonesia Raya ini meninggal dunia di RS Medistra,
Jakarta pukul 19.15 WIB Jumat 2 Juli 2004. Selain
sebagai wartawan, penerima
Magsaysay Award untuk jurnalistik dan kesusastraan, ini juga dikenal sebagai sastrawan. Pandai pula
melukis dan membuat patung dari keramik. Mulanya dia menulis cerpen dengan
menampilkan tokoh karikatural si Djamal, kemudian menulis novel. Di antara novelnya: Harimau, Harimau!, Senja di Jakarta,
Jalan Tak Ada Ujung, Berkelana Dalam Rimba.
Disemayamkan di rumah duka, kemudian siang usai salat Zuhur, almarhum
dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Sabtu 3 Juli 2004. Dia
meninggalkan tiga anak, yakni Indrawan Lubis, 58, Arman Lubis, 52, dan
Yana Zamin Lubis, 50 serta 8 cucu. Istrinya, Halimah, sudah lebih dulu
tutup usia pada 27 Agustus 2001. Sejak kehilangan orang yang sangat
dicintainya, kesehatan Mochtar tterus merosot. Ia hanya bisa berbaring di
tempat tidur dan sering bertanya, "Di mana Ibu?"
Menurut puteranya, Arman, ayahnya memang sudah lama menderita sakit.
Beberapa penyakit yang dideritanya antara lain, penyakit kanker prostat
dan alzheimer. Bahkan, tiga tahun terakhir ini sudah tidak bisa
berkomunikasi lagi dengan anak-cucunya."
Sepekan sebelum meninggal, dia sesak napas, kerongkongannya penuh lendir,
lalu dibawa ke rumah sakit Medistra 23 Juni 2004 dan masuk ruang unit
perawatan intensif. Sudah hampir dua tahun dia menderita penyakit
alzheimer. Beberapa bulan terakhir nyaris tak lagi mengenal orang yang
terdekat dengannya.
Ia pernah dipenjara karena
karya-karya jurnalistiknya.
Wartawan senior ini lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922. Setelah
tamat sekolah dasar berbahasa Belanda HIS di Sungai Penuh, dia melanjutkan
pelajaran di sekolah ekonomi partikelir di Kayutanam. Pendidikan formalnya
tidak sampai pada taraf AMS atau HBS.
Namun, putera Pandapotan Lubis, pegawai Pangreh Praja atau binnenlands
bestuur (BB) pemerintah kolonial Hindia Belanda yang ketika pensiun
pertengahan 1930-an menjabat sebagai Demang atau Kepala Daerah Kerinci,
ini sempat menjadi guru sekolah di Pulau Nias, sebelum datang ke Jakarta.
Ia memang seorang otodidak tulen.
Pada zaman Jepang, ia bekerja sebagai anggota tim yang memonitor siaran
radio Sekutu di luar negeri. Berita yang didengar lalu dituliskan dalam
laporan untuk disampaikan kepada Gunseikanbu, kantor pemerintah bala
tentara Dai Nippon. Demi sekuriti dan agar berita radio itu tidak tersebar
ke dalam masyarakat, tim monitor tinggal terpisah dalam kompleks perumahan
di Jalan Timor, di belakang hotel milik Jepang, di Jalan Thamrin sekarang.
Dalam tim itu terdapat Dr. Janssen mantan pegawai Algemene Secretarie di
Bogor yang paham bahasa Jepang, J.H. Ritman mantan Pemred Harian
Bataviaasche Nieuwsblad, Thambu mantan wartawan Ceylon yang melarikan diri
dari Singapura setelah kota itu jatuh ke tangan Jepang dan Mochtar Lubis.
Pada masa itulah, akhir 1944, Lubis menikah dengan gadis Sunda, Halimah,
yang bekerja di Sekretariat Redaksi Harian Asia Raja. (Halimah meninggal
pada usia 77 tahun, 27 Agustus 2001).
Setelah proklamasi kemerdekaan dan kantor berita Antara yang didirikan
tahun 1937 oleh Adam Malik dkk muncul kembali. Mochtar Lubis bergabung
dengan Antara. Karena paham bahasa Inggris secara aktif, ia menjadi
penghubung dengan para koresponden asing yang mulai berdatangan ke Jawa
untuk meliput kisah Revolusi Indonesia. Sosoknya yang tinggi 1.85 meter
merupakan pemandangan familier di tengah war correspondents yang bule-bule.
Menjelang penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia
Serikat (RIS) 27 Desember 1949, ia bersama Hasjim Mahdan mendapat ide
untuk memulai surat kabar baru. Maka lahirlah harian Indonesia Raya.
Mochtar Lubis sebagai pemrednya. Ketika pertengahan 1950 pecah Perang
Korea, Lubis pergi meliput pertempuran di Korea Selatan. Lalu ia pun
terkenal sebagai koresponden perang. Pada parohan pertama dasawarsa 1950,
ketika di zaman liberal, demokrasi parlementer, sangat dominan adanya
personal journalism. Maka, Moctar Lubis adalah identik dengan Indonesia
Raya, begitu pula sebaliknya. Surat kabar dikenal oleh yang memimpinnya:
B.M. Diah di Merdeka, S Tasrif di Abadi, Rosihan Anwar di Pedoman.
Sebelum dikenai tahanan rumah pada 1957 dan tahanan penjara selama
sembilan tahun sampai 1966, menurut penuturan H. Rosihan Anwar, Mochtar
Lubis membikin masyarakat gempar dengan beberapa cerita/berita, yang
disebut "affair".
Pertama, affair pelecehan seksual yang dialami Nyonya Yanti Sulaiman, ahli
purbakala, pegawai Bagian Kebudayaan Kementerian P & K. Bosnya di bagian
itu bernama Sudarsono tidak saja berusaha merayu, melainkan juga
mengeluarkan kata-kata seks serba "serem". Tidak saja Indonesia Raya,
melainkan juga Pedoman berhari-hari menyiarkan cerita asyik tentang sang
Don Juan Sudarsono.
Kedua, affair Hartini ketika terungkap hubungan Presiden Soekarno dengan
seorang wanita di Salatiga yang mengakibatkan Nyonya Fatmawati berang dan
kemudian meninggalkan istana.
Ketiga, affair Roeslan Abdulgani. Pada 13 Agustus 1956, CPM menangkap
mantan Menteri Penerangan dalam kabinet Burhanuddin Harahap, Syamsudin
Sutan Makmur, dan Direktur Percetakan Negara, Pieter de Queljoe, karena
urusan korupsi yang melibatkan Lie Hok Thay yang lebih dulu ditahan. Hok
Thay mengaku memberikan uang satu setengah juta rupiah kepada Roeslan
Abdulgani yang berasal dari ongkos mencetak kartu suara pemilu. Akibatnya,
Roeslan yang telah menjadi Menteri Luar Negeri dalam kabinet Ali
Sastroamidjojo hendak ditahan oleh CPM dua jam sebelum keberangkatannya
tanggal 14 Agustus ke London untuk menghadiri konferensi internasional
mengenai Terusan Suez. Presiden Mesir Nasser baru saja menasionalisasikan
Suez. Berkat intervensi PM Ali dan Kepala Staf Nasution, penangkapan
dibatalkan, dan Roeslan bisa berangkat ke luar negeri.
Dapat dimengerti apabila Presiden Soekarno yang tengah mewujudkan konsep
politiknya --kelak menjelma sebagai demokrasi terpimpin Orde Lama--
marah-marah terhadap Lubis dan Indonesia Raya. Kolonel A.H. Nasution
menjadi sekutu terpercaya Soekarno. Di musim gugur 1956, International
Press Institute menyelenggarakan pertemuan para editor Indonesia dan
editor Belanda di Zurich, Swiss, untuk mendiskusikan hubungan kedua negara.
Sehari sebelum keberangkatan para editor, Mochtar dan Rosihan Anwar
diinterogasi oleh CPM selama delapan jam di markasnya mengenai "sesuatu
pemberitaan". Mereka diminta untuk stand by terus, namun tidak mereka
indahkan.
Keesokan harinya, Mochtar dan Rosihan Anwar serta Diah, Tasrif,
Wonohito, Adam Malik naik pesawat KLM dari Kemayoran. Lebih dari sebulan
mereka berada di luar negeri menunggu situasi aman di Tanah Air. Kemudian
mereka kembali dan di bandara diberitahu, mereka tidak akan ditangkap oleh
Jaksa Agung. Rosihan Anwar memang tidak diapa-apakan, tetapi Mochtar tidak
lama kemudian dikenai tahanan rumah. Ia mencoba memimpin Indonesia Raya
dari rumah, tapi makin hari makin sulit situasinya. Pada 1961, ia
dipindahkan ke penjara Madiun dan di sana ditahan bersama mantan PM
Sjahrir, Mohammad Roem, Anak Agung Gde Agung, Sultan Hamid, Soebadio
Sastrosatomo dan lain-lain. Keadaan di Tanah Air kacau. Peristiwa
PRRI-Permesta menggoyahkan stabilitas. Kebebasan pers sirna. Indonesia
Raya, Pedoman, Abadi dilarang terbit oleh Soekarno-Nasution.
Selain sebagai wartawan, Mochtar Lubis juga dikenal sebagai sastrawan. Ia
pandai pula melukis dan membuat patung dari keramik. Mulanya dia menulis
cerpen dengan menampilkan tokoh karikatural si Djamal. Kemudian dia
bergerak di bidang penulisan novel. Di antara novelnya dapat disebut:
Harimau, Harimau!, Senja di Jakarta, Jalan Tak Ada Ujung, Berkelana Dalam
Rimba. Dia memperoleh Magsaysay Award untuk jurnalistik dan kesusastraan.
Setelah tahun 1968 Indonesia Raya diizinkan terbit kembali, Lubis
melancarkan "perang salibnya" terhadap korupsi di Pertamina. Bos
perusahaan negara itu, Letnan Jenderal Ibnu Soetowo, disorot dengan tajam,
namun sia-sia belaka. Ibnu boleh mundur sebagai Direktur Utama Pertamina,
akan tetapi posisinya tetap kokoh dan harta yang dikumpulkannya tidak
dijamah. Mochtar lubis memang menjadi pahlawan di pentas jurnalistik,
itulah yang amat disukainya. Apakah soalnya menyangkut pencemaran
lingkungan hidup atau pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM), bisa
dijamin ia ada di sana sebagai pembela perjuangan untuk yang benar dan
adil. "Hero-complex"-nya menjadi motor pendorong dan motivasi penting
dalam tindak-tanduknya.
Ketika terjadi peristiwa Malari Januari 1974 dan para mahasiswa beraksi
mendemo PM Tanaka dari Jepang, kebakaran terjadi di Pasar Senen, disulut
oleh anak buah Ali Moertopo, Presiden Soeharto jadi gelagapan. Ia
instruksikan membredel sejumlah surat kabar, di antaranya Indonesia Raya,
Pedoman, dan Abadi. Lubis sendiri ditahan selama dua bulan.
Setelah bebas lagi bergerak, Mochtar banyak aktif di pelbagai organisasi
jurnalistik luar negeri seperti Press Foundation of Asia. Di dalam negeri,
dia mendirikan majalah sastra Horison dan menjadi Direktur Yayasan Obor
Indonesia yang berprestasi menerbitkan buku-buku bermutu, baik yang dari
luar negeri maupun domestik. Usaha penerbitan itu bisa tinggal landas
lantaran yayasan ini memperoleh dana dari luar, seperti Ivan Kats dari
Asia Foundation. Sesungguhnya, salah satu ciri khas Mochtar Lubis ialah PR
(public relations) yang kuat, keluwesan bergaul, antusiasme terhadap
sesuatu cause seperti ekologi, demokrasi, keadilan, dan hukum. Pintu yang
diketoknya menjadi terbuka dan soal pendanaan tak jadi masalah.
Pada saat acara HUT ke-80 Mochtar Lubis, 9 Maret 2002 lalu, seorang
pembicara dari LIPI, yaitu Dr. Mochtar Pabottinggi, menamakan Mochtar
sebagai "person of character", insan nan berwatak. Di negeri kita sekarang,
makin langka "person of character" itu. Bung Hatta di zaman Pendidikan
Nasional Indonesia awal 1930-an suka menyerukan agar tampillah
manusia-manusia yang punya karakter. Ibu Pertiwi tetap mengharapkan dan
memerlukan banyak "person of character".
Maka, tutur wartawan senior H.
Rosihan Anwar, dalam kolomnya di Majalah Gatra Nomor 17 Tahun ke VIII, 11
Maret 2002, yang menjadi sumber artikel ini: "Dalam cahaya, kita
menghormati wartawan Mochtar Lubis yang sudah sepuh. Sudah saatnya dia
dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputra oleh Presiden RI." ►tsl,
dari berbagai sumber
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|