A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Pidato
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Bank Indonesia
 ► Presiden
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Badan-Lembaga
 ► Bank Indonesia
  B E R A N D A
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 18012006  
   
  ► e-ti/bi  
  Nama:
Miranda S Goeltom
Lahir:
Jakarta 19 Juni 1949
Agama:
Kristen
Jabatan:
Deputi Senior Gubernur BI 2004-2008
Pendidikan:
Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia
Master in Political Economy di Boston University , USA
Ph D dalam Ilmu Ekonomi juga di Boston University, USA.
Karier:
-
Dosen FE Universitas Indonesia
- Anggota kelompok kerja Dewan Moneter
- Anggota Tim Teknis Pengkajian Proyek Pemerintah, BUMN dan Swasta
- Deputi Asisten Menko Ekku Wasbang, Republik Indonesia.
- Deputi Gubernur BI 1999-2003
- Deputi Senior Gubernur BI 2004-2008

Kegiatan Lain:

Alamat Kantor:
Jl. MH. Thamrin 2 Jakarta 10110 Indonesia
Telp : (62-21) 381-7187 Faks : (62-21) 350-1867

E-mail:
  
 
 
     
 
BERITA

 

Miranda S Goeltom

BI Akan Membeli SUN Rp 50 Triliun

 

Jakarta, Kompas 18/1/2006: Bank Indonesia akan membeli lebih banyak Surat Utang Negara hingga mencapai Rp 50 triliun untuk digunakan sebagai instrumen moneter guna menstabilkan nilai tukar rupiah. Saat ini Bank Indonesia sudah mengumpulkan Surat Utang Negara senilai lebih dari Rp 10,5 triliun.

Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia (BI) Miranda Goeltom mengemukakan hal itu dalam suatu seminar di Jakarta, Selasa (17/1/2006).

”Saat ini sudah terkumpul lebih dari Rp 10,5 triliun, tetapi itu tidak cukup. Kita harus punya sekitar Rp 50 triliun untuk bisa jadi alat moneter. Kita sedang bicarakan bagaimana caranya agar bisa membeli obligasi pemerintah dengan tidak melanggar undang-undang, tetapi bisa menambah stok,” kata Miranda.

Ia mengatakan, pembelian Surat Utang Negara (SUN) dari pasar sekunder dengan nilai sebesar tersebut harus dilakukan secara berhati-hati karena dapat menekan pasar sehingga harga obligasi pemerintah bisa naik.

Miranda tidak menyebutkan kapan tepatnya pembelian SUN tersebut akan dilakukan.

Sebagai instrumen moneter, tambahan stok SUN bisa dipakai BI untuk mengatur likuiditas dan menstabilkan nilai tukar rupiah.

Adapun soal nilai tukar rupiah, Miranda optimistis akan terus menguat pada akhir tahun dibandingkan dengan posisi awal tahun ini. Ada beberapa faktor yang dinilainya dapat menunjang penguatan rupiah, antara lain, masuknya investasi asing langsung, perbedaan tingkat suku bunga dengan suku bunga AS yang kompetitif untuk rupiah, serta implementasi proyek-proyek infrastruktur pemerintah.

”Faktor lain yang menyebabkan penguatan rupiah, termasuk berkurangnya permintaan mata uang asing untuk pembayaran impor minyak,” ujar Miranda.

Ambil untung

Para pengamat berpandangan penguatan rupiah masih rentan melemah lagi karena dana yang masuk jangka pendek. Ekonom dari Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetyantono, pada kesempatan yang sama, mengatakan, BI sebaiknya menjaga nilai tukar rupiah pada level sekitar Rp 9.400 sampai Rp 9.500 per dollar AS agar tidak mengganggu perkembangan sektor riil dan nilai ekspor.

Di pasar spot antarbank Jakarta kemarin, rupiah berada pada posisi Rp 9.470 per dollar AS, sedikit melemah dibandingkan dengan Senin pada posisi Rp 9.465 per dollar AS.

Ketua Forex Club Pardi Kendy mengatakan, melemahnya nilai tukar rupiah pada beberapa hari belakangan ini hanyalah tindakan ambil untung. Namun, dia menambahkan, belum yakin jika rupiah akan menguat terus hingga akhir tahun karena aliran dana yang masuk dalam investasi portofolio dapat berubah arah. ”Hal yang lebih signifikan lagi jika mereka masuk mendirikan pabrik, itu akan mencerminkan fundamental yang jangka panjang. Kalau yang ada ini saya belum begitu yakin,” kata Pardi.

Secara terpisah Direktur International Center for Applied Finance and Economics (Inter-CAFE) Iman Sugema mengingatkan, rupiah mempunyai perilaku menguat pada awal tahun, seperti juga terjadi di tahun lalu. Namun, selanjutnya melemah terus hingga akhir tahun.

Oleh karena itu, kata Iman, penguatan rupiah dalam pekan- pekan terakhir ini masih patut diwaspadai karena belum didukung perbaikan fundamental sektor riil. ”Selisih bersih ekspor terhadap impor kita justru dalam kecenderungan turun terus. Sementara dana yang masuk masih dana jangka pendek,” katanya. (joe/anv) ►ti/tsl

 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 

 

 

         

Welcome

This site is currently under construction. Please check back at a later time.