| |
C © updated
16022004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Mohammad Husni Thamrin
Lahir:
Sawah Besar, Betawi, 16 Februari 1894
Wafat:
Jakarta, 11 Januari 1941
Ayah:
Thamrin Mohamad Thabrie (Wedana Batavia tahun 1908)
Ibu:
-
Pendidikan:
Sekolah Belanda
Karir:
= Pegawai magang di Residen Batavia
= Pegawai klerk di perusahaan pelayaran KPM
= Dewan Kota (Gemeenteraad, 1919-1941)
= Dewan Rakyat (Volksraad, 1927-1941).
Alamat:
Jalan Sawah Besar No 32 Jakarta
Sumber:
Kompas, 14 Februari 2004
|
|
| |
|
|
|
|
MH Thamrin
Politikus yang Santun
Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin, telah banyak berjasa bagi
kepentingan bangsa dan negara. Termasuk jasa-jasanya ikut merintis
ikatan persatuan dan kesatuan di antara anak bangsa agar tidak terpecah
belah. Jejak langkah putra terbaik bangsa ini perlu dijadikan suri
teladan bagi generasi penerus masa kini.
Oleh Asvi Warman Adam
Mohammad Husni Thamrin dilahirkan di Sawah Besar, Betawi, 16 Februari
1894. Ia berasal dari keluarga berada. Kakeknya, Ort, orang Inggris,
pemilik hotel di bilangan Petojo, yang menikah dengan perempuan Betawi,
Noeraini. Ayahnya, Thamrin Mohamad Thabrie, pernah menjadi Wedana
Batavia tahun 1908, jabatan tertinggi nomor dua yang terbuka bagi warga
pribumi setelah bupati.
Ia masuk sekolah Belanda, fasih berbahasa ini, mampu berdebat dengan
baik. Memulai karier sebagai pegawai magang di Residen Batavia dan
pegawai klerk di perusahaan pelayaran KPM, MH Thamrin duduk di Dewan
Kota (Gemeenteraad, 1919-1941) lalu di Dewan Rakyat (Volksraad,
1927-1941).
Pengarang Pramudya Ananta Toer memiliki berbagai dokumen tentang MH
Thamrin karena istrinya adalah keponakan dari tokoh Betawi itu.
Dua modus perjuangan
Perjuangan melawan Belanda dilakukan kaum pergerakan dengan dua modus,
yaitu bersedia bekerja sama dengan pihak kolonial atau tidak. Bila
dwitunggal Soekarno-Hatta disebut perpaduan Jawa-luar Jawa serta
gabungan orator ulung dengan administrator andal, pasangan
Thamrin-Soekarno dilihat sejarawan Bob Hering sebagai paduan modus
perjuangan secara kooperatif dengan nonkooperatif.
Selama ini kata "kooperatif" memiliki konotasi kurang positif. Orang
lebih menghargai tokoh yang berjuang secara non-koo. Namun, kedua jalur
itu saling melengkapi perjuangan bangsa dalam mencapai kemerdekaan.
Bahkan dari tahun 1933 sampai 1942 saat pergerakan
Soekarno-Hatta-Sjahrir terkesan mandek, justru Thamrin tetap bergerak
dengan bersemangat di Volksraad.
Thamrin sering disebut satu napas dengan Bung Karno. Ia hadir saat
Soekarno diadili, kala dijebloskan ke penjara, saat Bung Karno dibuang
ke Ende. Belanda menghukum Thamrin dengan tahanan rumah justru setelah
Soekarno berkunjung ke rumahnya. Dengan demikian, Thamrin menjadi tali
penghubung (trait d’union) kelompok pergerakan yang kooperatif dan
nonkooperatif, juga antara kelompok pergerakan dengan Volksraad.
Bila Bung Karno berpidato soal makro, seperti falsafah dan ideologi
negara, Thamrin menukik kepada persoalan mikro, seperti kampung yang
becek tanpa penerangan dan masalah banjir. Ia memprotes mengapa
perumahan elite Menteng yang diprioritaskan pembangunannya, sedangkan
kampung kumuh diabaikan. Ia mempersoalkan harga kedelai, gula, beras,
karet rakyat, kapuk, kopra, dan semua komoditas yang dihasilkan rakyat.
Ia berbicara tentang pajak dan sewa tanah.
Bersama anggota lain di Volksraad, Thamrin mempertanyakan anggaran
pertanian yang hanya 57 juta gulden, sedangkan angkatan darat, laut, dan
polisi 174 juta gulden.
Ia sering kalah dalam pemungutan suara, tetapi tetap mengajukan mosi
bila ada aturan Pemerintah Hindia Belanda yang merugikan perjuangan kaum
pergerakan. Thamrin memang kooperatif, tapi tidak berdasar loyalitas
Belanda. Ia tahu persis bagaimana beroposisi secara santun. Kaum Betawi
yang didirikan tidak begitu berkembang. Walau tanpa organisasi politik,
ia mampu meniti karier politik di Dewan Rakyat.
Thamrin bukanlah kooperatif tanpa reserve. Ia memiliki prinsip, sebagai
tercermin dalam pernyataannya "Nasionalis kooperatif dan nonkooperatif
memiliki satu tujuan bersama yang sama-sama yakin pada Indonesia Merdeka!
Jika kami kaum kooperator merasa bahwa pendekatan kami tidak efektif,
maka kami akan menjadi yang pertama mengambil arah kebijakan politik
yang diperlukan." (Handelingen Volkraad, 1931-1932)
Menurut surat kabar Bintang Timur (15/07/1933), Thamrin adalah kampiun
kaum nasionalis di Volksraad yang tak diragukan, yang berani
mengingatkan pemerintah dalam banyak isu penting. Koran Adil 17 Juli
1933 mengungkapkan, Thamrin selalu menyampaikan pidato dengan argumen
yang tepat, yang membuat darah tukang lobi anti-Indonesia Merdeka,
seperti Fruin dan Zentgraaff jadi mendidih.
Thamrin menggunakan kesempatan secara brilian untuk menarik perhatian
sungguh-sungguh terhadap apa yang "sebenarnya hidup dalam kalbu
pergerakan seluruhnya". Thamrin berbicara tentang kebenaran dan
melakukan pekerjaan sepenuh hati dalam situasi begitu sulit bagi
pergerakan. Dalam berdebat yang penting argumen kuat, Thamrin sendiri
tidak pernah menggunakan kata-kata tajam dan keras.
Ada sebuah pernyataan MH Thamrin yang disampaikan 70 tahun silam, namun
masih terasa kebenarannya sampai sekarang meski pemerintah telah
gonta-ganti: "Satu hal yang dapat dipastikan bahwa rasa keadilan yang
dibangun dewasa ini sangatlah sulit dicari. Kepercayaan terhadap
keputusan pengadilan termasuk salah satu sandaran utama negara yang
sangat penting, tetapi dengan banyaknya keraguan terhadap kenetralan
institusi pengadilan, maka pemerintah akan kehilangan salah satu pilar
terkuat untuk memelihara kedaulatan hukum." (Handelingen Volksraad,
1930-1931).
Tak kibarkan bendera Belanda
Meski pada mulanya dipandang sebagai tokoh kooperatif, pada akhirnya
hayatnya justru Thamrin dianggap berbahaya oleh Pemerintah Hindia
Belanda. Thamrin tidak mengibarkan bendera Belanda di rumahnya pada
ulang tahun Ratu Wilhelmina, 31 Agustus 1940.
Dalam suatu kesempatan, ia juga mempelesetkan JINTAN, obat kumur murah
buatan Jepang, menjadi "Jenderal Japan Ini Nanti Toeloeng Anak Negeri".
Selain itu, tokoh Jepang Kobajashi dipanjangkan menjadi "Koloni Orang
Belanda akan Japan Ambil Seantero Indonesia". Ia dikenai tahanan rumah
karena dianggap tidak setia kepada Belanda dan main mata dengan pihak
Jepang.
Di rumahnya di jalan Sawah Besar No 32, Thamrin muntah-muntah dan demam
mungkin karena gangguan ginjal, kecapaian dan malaria. Istrinya meminta
polisi agar mengizinkan kunjungan dokternya. Akhirnya sang dokter datang,
tetapi sudah terlambat, tanggal 10 Januari 1941, suhu badan Thamrin
sangat tinggi dan ia hampir tidak bisa bicara. Dokter memberi suntikan
untuk menurunkan panasnya, namun penyakitnya tidak tertolong lagi, esok
subuh ia meninggal.
Pada hari pemakamannya, dari rumahnya di Sawah Besar sampai ke kuburan
Karet, lebih dari 20.000 orang mengantarkan jenazah tokoh Betawi itu ke
tempat peristirahatannya yang terakhir. Tahun 1960, Presiden Soekarno
mengangkatnya sebagai pahlawan nasional.
Kini yang lahir di tengah masyarakat Betawi adalah kelompok massa
seperti FBR (Forum Betawi Rempug) yang kemarin ikut mendukung Akbar
Tandjung dan pernah menghajar kelompok masyarakat miskin kota di halaman
kantor Komnas HAM. Kapan muncul lagi politikus santun seperti MH Thamrin?
►Asvi Warman Adam Sejarawan LIPI Muhammad Husni
Thamrin lahir pada 16 Februari 1894 di Sawah Besar, Jakarta Selatan.
Setelah menamatkan pelajarannya di Koning Williem II, sejenis SMA ia
kemudian bekerja di kantor kepatihan.
Karena prestasinya baik, maka ia dipindahkan ke Kantor Karesidenan dan
terakhir ke perusahan pelayaran Koninglijke Paketvaart (KPM) Pada tahun
1927 ia diangkat sebagai anggota Volksraad. Ia membentuk Fraksi
Nasionalis untuk memperkuat golongan nasional dalam dewan tersebut.
Setelah dr. Sutomo meninggal dunia pada tahun 1938, maka Thamrin
menggantikannya sebagai wakil Ketua Partai Indonesia Raya (Parindra).
Perjuangannya di Volksraad tetap dilanjutkan dengan sebuah mosi, agar
istilah Nederlands Indie, Nederlands Indische dan Inlander diganti
dengan istilah Indonesia, Indonesische dan Indonesiea.
Sejak tanggal 6 januari 1941 Husni thamrin dikenakan tahanan rumah,
karena dituduh bekerja sama dengan Jepang. Walaupun dalam keadaan sakit,
Thamrin tidak boleh dikunjungi teman-temannya. Akhirnya ia meninggal
dunia pada 11 Januari 1941 dan dimakamkan di pekuburan Karet, Jakarta.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|