|
MF Siregar
Pencinta Olahraga Sejati
Siregar adalah pecinta olahraga sejati. Dia mengabdi di olahraga tanpa
pamrih. Seluruh hidupnya sungguh-sungguh dihabiskan dalam dunia olah raga.
Di usia sudah senja, 76 tahun, masih saja ia berbakti sebagai orang kedua
atau Sekjen PB PBSI periode tahun 2004-2008. Pantas organisasi olahraga
terbesar dunia, Komite Olimpiade Internasional (IOC), menganugerahkan
penghargaan emas L’Ordre Olympique (1986) kepadanya.
Pria Batak namun tak sedikitpun fasih berbahasa Batak, mungkin karena
sudah lahir di Jakarta tepatnya di pinggiran Kali Malang daerah tapal
batas Jakarta-Bekasi pada 11 November 1928, Mangombar Ferdinand Siregar
atau lebih top dikenal sebagai MF Siregar, ini mempunyai segala dimensi
kelengkapan dalam hal olahraga.
Dia pernah menjadi atlet renang, atletik, dan sepakbola, akademia
sebagai mahasiswa hingga tingkat master pendidikan jasmani, berprofesi
guru, dosen dan pelatih olahraga, pembina sekaligus pimpinan berbagai
induk organisasi olahraga, bahkan menjadi birokrat olahraga sebagai
pejabat eselon. Dia juga pernah menjadi politisi anggota DPR-GR/MPRS
(1968-1971) mewakili masyarakat olahraga.
Sejak 4 Agustus 2004 dia dianugerahi gelar doktor kehormatan (honoris
causa) dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Sebagai intelektual
olahraga dia sejak tahun 1985 hingga 2003 telah menulis tak kurang 61
karya tulis berupa makalah hingga buku. Di usia sudah senja 76 tahun masih
saja ia dipercaya sebagai orang kedua atau Sekjen PB PBSI periode tahun
2004-2008. Di PB PBSI, induk organisasi bulutangkis pimpinan Gubernur DKI
Jakarta Sutiyoso, ini ia hingga berusia 80 tahun jika Tuhan mengizinkan
masih akan tetap mendedikasikan hidupnya untuk olahraga.
Karena kelengkapan dari semua segi itu MF Siregar pernah dikenal
sebagai pelatih berbobot dan bertangan dingin serta sangat dekat di hati
para atlit binaan. Dia mengerti sekaligus akomodatif terhadap keperluan
atlit. Pemenuhan akan kebutuhan atlit ini didasarkan atas segudang ilmu
dan pengalaman yang dimiliki, sehingga hal itu tentu saja sudah dia sasar
untuk menuju suatu titik pencapaian prestasi yang sudah didesain
sebelumnya. Dia akomodatif tidak semata untuk meraih popularitas melainkan
dalam konteks profesionalisme. Sebab terbukti atlit binaan yang loyal itu
berhasil menunjukkan prestasi mengagumkan.
Sebuah peristiwa mengharukan bisa menjadi bukti untuk ini. Yakni,
ketika atlit bulutangkis putri Indonesia Susi Susanti hendak menerima
kalungan medali emas di Olimpiade Barcelona Mei 1992, di Gedung Pavello de
la Mar Bella, Barcelona. Dengan mata berkaca-kaca Susi terharu menatap
bendera Merah-Putih yang dinaikkan tinggi-tinggi diiringi oleh alunan
musik Indonesia Raya, yang untuk pertama kalinya berkumandang dalam
sejarah keikutsertaan Indonesia di Olimpiade.
Merah-Putih sebelumnya sudah
pernah dikerek untuk pertamakali di Olimpiade Korea 1988, saat pemanah
Lilis Handayani dan kawan-kawan meraih medali perak panahan. Tapi kali ini
Susi meraih emas sehingga bendera Merah-Putih dikerek paling tinggi
diiringi pula kumandang lagu kebangsaan untuk pertamakalinya.
Usai itu Susi lalu berujar kepada pers, dan ini dicatat besar-besar
oleh media massa di tanah air, bahwa MF Siregar kembali datang ke mimpinya.
“Itu berarti dorongan bagi saya untuk memenangi pertandingan. Gelar ini
untuk Pak Siregar,” ujar pemain bulu tangkis kelahiran Tasikmalaya,
menunjukkan rasa hormat dan bangganya kepada MF Siregar.
Siregar memang
hanya bisa datang ke mimpi Susi memberi semangat sekaligus keharuan
setelah menang. Sebab Siregar saat itu tengah terkulai terbaring lemas
dirawat di San Francisco Heart Institute, San Fransicso, AS akibat
mengalami serangan jantung saat hadir dalam latihan atlet mendekati
tahap-tahap akhir latihan.
Nama MF Siregar menjadi wacana utama keberhasilan Susi. Sebab selain
sebagai Ketua Bidang Pembinaan Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis
Indonesia (PB PBSI), pria yang juga aktif di organisasi profesi sarjana
olahraga ini juga Ketua Pimpro Bulu Tangkis untuk Olimpiade Barcelona.
Keinginan Susi mendedikasikan medali kepada pembinanya bukan hanya karena
Siregar adalah orang yang paling bertanggung jawab atas pembinaan prestasi
atlet bulu tangkis Indonesia menjelang Olimpiade Barcelona 1992. Melainkan,
karena sepanjang persiapan bapak kelahiran 11 November 1928 ini memang
rajin mengikuti atlit latihan sehari-hari.
Kritikan lama bahwa Siregar kurang tegas terhadap atlet segera saja
menjadi sirna tatkala melihat bukti prestasi atlet binaannya itu.
Sebelumnya, sebagai pembina renang dia pun sudah pernah melahirkan banyak
perenang handal. Sebut saja nama seperti Kristiono Sumono, Lukman Niode,
dan Gerald P. Item yang bersama Nanik Juliati pernah mendominasi nomor
renang SEA Games 1977 dan sesudahnya.
Sebagai pembina renang Siregar mempunyai masa keemasan sekaligus
kedekatan dengan atlitnya dalam percaturan renang Asia Tenggara di tahun
1980-an. Bukti lain kedekatan itu adalah, ketika merayakan hari ulangtahun
ke-57, pada 11 November 1985 Siregar memperoleh kartu ucapan ulang tahun
dari para pelatih serta perenang emas Indonesia saat itu. Seperti Suryo,
Yeyen, Rainy, Carolina, Jimmy, Wolfry, dan Ratna. Yang menarik adalah
bunyi kartu yang berisi pujian sekaligus pengakuan aktual akan kedekatan
para atlit ke pelatihnya itu.
Kutipannya berikut ini:
Dearest Mr Siregar,
It’s really difficult to find a person as well as you. You are the best
coach we found. We’ll never forget your service along our life. We regard
you as our own father and our love to you will go on and on and.... Happy
Birthday, daddy. May God Bless you forever....
Promotor yang membuatnya sejak 4 Agustus 2004 berhak menyandingkan
gelar lama M.Sc dengan gelar baru doktor kehormatan (DR), dari Universitas
Negeri Jakarta (UNJ) Prof Dr H Harsuki, MA menyebutkan gaya kepemimpinan
Siregar yang demikian di olahraga masuk dalam tipologi kepemimpinan
demokratis. Tipe kepemimpinan yang membuat Siregar disukai sekaligus dekat
di hati banyak orang.
Siregar adalah juga pecinta olahraga sejati. Dia mengabdi di olahraga
tanpa pamrih. Penilaian demikian membuat organisasi olahraga terbesar
dunia Komite Olimpiade Internasional (IOC), pernah menempatkan namanya
sekelas dengan dua pembina olahraga terkemuka Indonesia lain, yakni
almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono XI yang mantan Ketua Umum KONI Pusat,
dan almarhum R Maladi yang pernah menjadi Menteri Olahraga pada masa
Soekarno.
Seperti kedua pendahulunya, pada tahun 1986 Siregar memperoleh
penghargaan emas L’Ordre Olympique dari IOC.
Sepanjang sejarah, IOC baru pernah memberikan penghargaan demikian
kepada ketiga orang Indonesia tersebut sebagai orang yang berjasa membina
olahraga di tanah air tanpa henti dan tanpa pamrih. Yang membuat ketiganya
berbeda, Siregar hingga kini masih hidup dan di usia senja terbukti masih
mau mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan olahraga.
Seluruh hidup MF Siregar sungguh-sungguh dihabiskan dalam dunia olah
raga. Siregar yang awalnya tinggal di tepi Kali Malang, semenjak kecil
bersama teman-temannya sudah rajin berenang di sungai selebar lima meter
itu tanpa disertai guru pelatih. Sebuah keisengan yang akhirnya banyak
mewarnai corak perjalanan hidupnya.
Sejak di bangku sekolah, misalnya, ia
sudah menjadi kapten tim sepakbola, serta aktif di cabang atletik dan
renang. Duduk di bangku SMP Negeri II Jakarta, pas di awal-awal
kemerdekaan ia adalah anak pribumi pertama yang berhasil mendobrak
dominasi orang asing di kolam renang Steambath, Manggarai, Jakarta. Ketika
itu ia ikut lomba renang gaya kupu-kupu walau tak sampai menjadi juara.
Awalnya bercita-cita menjadi ahli pertanian tetapi setamat SMA PARKI
Bandung tahun 1950 ia malah masuk ke Akademi Pendidikan Jasmani, Bandung,
dan selesai tahun 1954. Sebelas tahun kemudian M.F. Siregar merampungkan
studi masternya di Springfield College, AS dan memperoleh gelar Master of
Physical Education (atau setara M.Sc, tahun 1965).
Semasa memasuki akademi pendidikan jasmani Siregar sudah mulai aktif
melatih renang sejak 1950-an. Ia beberapa kali memimpin kontingen Jawa
Barat ke Pekan Olah Raga Nasional (PON), sampai kemudian dipercaya sebagai
Komandan Pusat Latihan Renang untuk Asian Games 1962 di Jakarta. Ia
tercatat lama mengabdi sebagai pelatih renang dan polo air (1952-1987). Ia
pernah pengajar SGPD (Sekolah Guru Pendidikan Djasmani) Bandung
(1958-1962), Kepala Kursus BW1 Pendidikan Djasmani Bandung (1958-1962),
Pengajar Fakultas Pendidikan Unpad (1962-1965), lalu pengajar Filosofi
Olahraga IKIP Jakarta.
Dia lama menjabat Ketua I PB Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI)
sampai tahun 1983, untuk selanjutnya dipercaya sebagai Ketua Umum PB PRSI
(1983-1987). Di induk olahraga Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI)
Pusat kiprah Siregar lebih lama lagi. Dia, misalnya, pernah menjabat Wakil
Sekjen KONI Pusat (1967-1971), kemudian menjadi Sekjen selama tiga periode
berturut-turut yang belum ada menyamainya (1971-1986).
Lalu, sebagai Staf
Ahli KONI Pusat (1995-1998) serta Anggota Dewan Kehormatan KONI Pusat
(1995-2003). Siregar juga pernah aktif di berbagai organisasi olahraga
internasional, sebagai anggota Dewan Federasi SEA Games, Presiden ASEAN
Swimming Federation, serta Wakil Presiden Asia, Pasific and Oceania Sports
Assembly yang bermarkas di Australia.
Sebagai birokrat sejati sejak pindah dari Bandung ke Jakarta tahun
1966, ia tercatat pernah menjabat Direktur Pembibitan dan Pembinaan
Prestasi Ditjora (1967), Direktur Keolahragaan pada Ditjen Pendidikan Luar
Sekolah, Pemuda dan Olahraga (PLSPO) Departemen P dan K (1975), kemudian
sebagai Deputi III Menteri Olahraga (1966), serta terakhir hingga pensiun
sebagai Asisten II Bidang Olahraga Menteri Pemuda dan Olahraga
(1983-1989).
Sudah biasa pelatih sekaligus pembina olahraga renang ini menikmati
dinginnya kolam renang di pagi hari. Sejak pukul lima pagi dia sudah
berada di pinggir kolam. Kebiasaan itu awalnya diprotes istrinya, Darliah
Nasution sebab setiap pagi pukul 04.30 ia sudah meninggalkan rumah. Kalau
pun siang harinya menyempatkan diri pulang, tak lama, ia akan segera pergi
ke kolam renang seolah hirau bahwa ia adalah ayah dari lima orang anak.
Siregar dikenal memiliki keahlian khusus sebagai pendidik olahraga.
Maklum, dia adalah master olahraga lulusan Springfield College
Massachusetts, AS pada tahun 1964. Bobot intelektualitas itu membuatnya
visioner di bidang olahraga. Sebuah visinya yang terbukti masih aktual dan
langgeng hingga sekarang adalah andilnya membidani terbentuknya Federasi
Olahraga SEA Games di tahun 1977. Hingga sekarang setiap dua tahun sekali
bangsa-bangsa Asia Tenggara menyelenggarakan pesta olahraga SEA Games.
Menurut Siregar, dibandingkan dengan perenang asing anak-anak Indonesia
kalah dalam fisik. Ini bisa diatasi dan dikejar pada nomor-nomor renang
yang sesuai dengan postur tubuh anak Indonesia. "Sambil didukung perbaikan
gizi, serta dilaksanakannya konsep renang tujuh jam sehari bagi anak
sekolah," ujarnya. Di samping itu, mantan atlit lari 1.500 dan 5.000 meter
pada PON I Solo ini menambahkan, harus sering dilakukan lomba renang.
Penerima Satya Lencana Kebudayaan Pemerintah RI (1967), ini
sehari-harinya tetap rajin jogging, skipping, bahkan bermain tenis. Lelaki
ini anti rokok, menggemari musik klasik dan pop, serta memiliki koleksi
kaset yang lumayan lengkap termasuk dari penyanyi Kenny Rogers, Ann
Murray, dan Anita K. dari Tennessee.
Ia juga memiliki dokumentasi lengkap
tentang perkembangan prestasi olahraga Indonesia dari masa ke masa,
melengkapi kehadiran fisiknya yang adalah saksi hidup terpenting olahraga
Indonesia semenjak negeri ini menikmati kemerdekaan. Karena ia
mendedikasikan seluruh hidupnya untuk olahraaga maka kelak ia pasti pula
akan menjadi “buku hidup abadi” olahraga Indonesia. ►haposan tampubolon, dari berbagai sumber
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |