| |
C © updated 2110004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/ip |
|
| |
Nama:
Dr. Meutia Farida Hatta Swasono
Lahir:
Yogyakarta, 21 Maret 1947
Jabatan:
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI, Kabinet Indonesia Bersatu
Agama:
Islam
Suami:
Prof. Dr Sri Edi Swasono
Pendidikan:
S-3, Antropologi Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia,
1991
Pengalaman kerja:
Deputi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI bidang Pelestarian
dan Pengembangan Kebudayaan, 23 Desember 2003-sekarang
Ketua Jurusan D-3 Pariwisata Fisip UI, Jakarta, hingga sekarang
Ketua Umum Yayasan Hatta, 2002-2005
Ketua Umum Forum Konsultasi Pembinaan Kesejahteraan Sosial Masyarakat
Terasing, Departemen Sosial RI, 1995-sekarang
Peneliti tetap pada Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Lembaga
Penelitian UI, 1990-sekarang
Pengajar di jurusan Antropologi Fisip UI, 1984-sekarang
Alamat Kantor:
Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan
Jalan Medan Merdeka Barat No. 15
Jakarta Pusat 10110
Telp. (021) 380.5539, 384.2638
|
|
| |
|
|
|
|
Dr Meutia Hatta
Risaukan Pelecehan Perempuan
Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta menegaskan pelecehan
terhadap perempuan harus diberantas. Dia melihat, pelecehan terhadap
perempuan terjadi di seluruh lapisan, dari bawah sampai atas. Pelecehan
terjadi di kalangan dewan terhormat, juga publikasi media massa yang
cenderung melecehkan citra perempuan.
Menurut Meutia, seusai serah terima jabatan dengan Menteri
Pemberdayaan Kabinet Gotong Royong Sri Redjeki Sumaryoto, Kamis
(21/10/2004) di Jakarta, tayangan televisi dan publikasi media massa
terhadap kejahatan yang menimpa perempuan sifatnya tidak mendidik.
Melainkan lebih pada konsumsi seperti cerita pendek (cerpen).
Pemberitaan media massa tidak komprehensif. Hanya dipublikasi satu sampai
dua kali sehingga pelaku kejahatan tidak merasa jera. Di dalam
mempublikasi suatu berita, hendaknya media massa mempertimbangkan aspek
pendidikan, akhlak dan moral serta empati agar bangsa Indonesia menghargai
dirinya sendiri, khususnya kaum perempuan.
Disebutkan, kasus perdagangan perempuan dan anak yang terjadi berkaitan
dengan pola pikir dan budaya. Betapa perempuan dilecehkan, tidak hanya di
kelas bawah tetapi juga di kelas atas. Menurutnya, pola ini harus kita
berantas.
Dia mengemukakan, dalam membangun negara Indonesia, pendiri negara ini
ingin Indonesia menjadi bangsa yang tangguh. Undang-undang Dasar juga
mengatakan mencerdaskan kehidupan bangsa. Saya harap kerja sama dengan
pihak lain. Kementerian memang hanya kebijakan tetapi implementasi pada
departemen. Bagaimana kita mempunyai kerja sama dengan sektor lain, tidak
bekerja sendiri-sendiri.
Selain mengidentifikasi potensi hambatan budaya yang ada, menurut
doktor Antropologi Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia, 199, ini
perlu mengangkat citra perempuan sesuai tradisi kebudayaan. Hal ini
dipandang perlu untuk menentukan akan seperti apa bangsa ini kelak. Dalam
hal ini peran perempuan sangat besar. Perempuan adalah orang yang tekun
dan berpotensi.
Oleh karena peran perempuan yang besar dalam menentukan arah bangsa ini,
menurutnya, perlu ditingkatkan kepedulian sosial antarsesama misalnya saja,
masyarakat tidak membeda-bedakan rasa kepedulian untuk janda yang punya
anak di daerah konflik. Para janda itu hendaknya tidak dilecehkan karena
harus membesarkan anaknya, yang akan menjadi generasi penerus bangsa.
Pada kesempatan itu, Meutia yang sempat menjabat sebagai Deputi Bidang
Pelestarian Kebudayaan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Kabinet
Gotong Royong lalu, mengatakan dalam 100 hari pertama masyarakat menuntut
terjadi perubahan yang secara langsung kelihatan. Tetapi tidak semua
instansi bisa merubah keadaan seperti membalik telapak tangan. Perubahan,
ujarnya, sebetulnya dimulai dari pola pikir yang berorientasi ke masa
depan. Yang menjadi masalah bagaimana masyarakat dapat melihat perubahan
itu dalam 100 hari pertama kinerja Kabinet Indonesia Bersatu.
Disebutkan, sudah ada beberapa program sesuai visi dan misi Kementerian
Pemberdayaan Perempuan. Dari program-program itu akan dilihat yang mana
yang bisa dilakukan dalam waktu dekat. Hal itu tidak dapat dilakukan
sendiri oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Perlu membuka jaringan
kerjasama dengan sektor lain.
Tokoh Pertama
Dia tokoh pertama yang diajak berdialog oleh presiden terpilih Susilo
Bambang Yudhoyono dalam rangka fit and proper test calon menteri. Putri
tokoh proklamator RI ini semula diperkirakan akan menempati pos menteri
pariwisata dan budaya, sesuai keahliannya sebagai pakar antropologi budaya.
Nama dosen pascasarjana UI ini sudah disebut-sebut sebagai kandidat
menteri terutama sejak SBY berziarah ke makam Bung Hatta. Istri Sri Edi
Swasono itu datang ke kediaman SBY di Puri Cikeas sekitar pukul 13.30 WIB,
Jumat 15 Oktober 2004, dengan menumpang mobil Ford hitam bernopol B 1974
BH. Doktor antropologi itu disambut staf pribadi SBY yang dikomandani
Ervan Edison.
Dia berdialog dengan SBY sekitar satu jam. Saat meninggalkan kediaman SBY
pukul 14.40, Meuthia yang dicegat wartawan menjelaskan, dialognya dengan
SBY itu membahas beberapa hal. Di antaranya masalah kebudayaan dan
pariwisata. Namun, dirinya belum memperoleh kepastian mengenai pos
kementerian yang mungkin akan dipercayakan kepadanya. Dia pun
menyatakan siap ditempatkan di mana saja.
Meuthia Hatta, tampaknya sudah mempersiapkan secara khusus ujian yang
dilakukannya hari ini. Saat memasuki rumah SBY, dia tampak mengapit sebuah
map cokelat besar yang diduga merupakan materi yang akan
dipresentasikannya kepada SBY.
Kepada wartawan, Meuthia tidak bisa menyembunyikan ekspresi bangganya
karena dipanggil untuk mengikuti ujian menteri SBY. "Karena sudah
dipanggil ke sini, tentu saya sudah diperhitungkan," terangnya dengan
penuh optimistis.
Saat Menunggu
Indo Pos (22/10/2004): Meutia Farida Hatta Swasono telah membuka rumahnya
bagi wartawan sejak lepas magrib. Pada saat itu, dia tampak santai dibalut
setelan blus putih dipadu scarf merah yang melilit manis di lehernya
dengan bawahan celana cokelat. Kaca mata baca bertengger serasi, menambah
manis wajahnya. Meuthia menyambut hangat kehadiran wartawan. Bahkan, koran
ini sempat dipersilakan menulis dan mengirim berita ke kantor melalui
komputer dan fasilitas internet di ruang kerja dan perpustakaan
keluarganya.
Menjelang pembacaan nama-nama menteri yang dijadwalkan pukul 20.00,
perempuan kelahiran Jogjakarta, 21 Maret 1947 itu sudah duduk berjejer
menghadap pesawat TV ukuran 21 inci di ruang tengah rumahnya, di Kompleks
Dosen UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur. Dia didampingi suaminya, Sri-Edi
Swasono, putra semata wayang Tansri Yusuf Zulfikar, 21, dan kedua adiknya,
Gemala Hatta dan Halida Hatta Yusuf. Tampak pula sejumlah keluarga dan
kerabat lainnya. Kehangatan terasa kental di tengah ketegangan.
Biasanya, Meutia dan kedua adiknya tersebut sangat sulit bertemu, meski
sama-sama tinggal di Jakarta. Kesibukan, lokasi rumah yang saling
berjauhan, dan kemacetan ibu kota menjadi alasan utama. Kakak beradik itu
terakhir bertemu ketika acara Bung Hatta Award pada 28 September lalu.
Di tengah ketegangan menjelang waktu pembacaan, Sri-Edi sempat menyeletuk
sambil melirik istrinya yang duduk di sampingnya, "Mestinya kita jangan di
sini dulu. Nanti kalau nggak jadi gimana tuh?"
Meuthia hanya tersenyum kecut sambil terus menekuni pesawat TV. Meutia
tampak begitu kegerahan disorot lensa kamera televisi. Dia lantas meminta
diambilkan kipas kepada adik bungsunya, Halida. Deputi Menbudpar itu
kemudian asyik mengibas-ngibaskan kipas. Di samping TV, sebuah meja
panjang tertata dengan berbagai suguhan kue-kue basah dan takjil yang
disediakan untuk para tamu dan wartawan yang datang meliput.
Di atas meja kecil di samping jejeran kursi yang diduduki keluarganya,
tampak dua buket karangan bunga ucapan selamat. Padahal, malam itu,
Meuthia belum dipastikan menjadi menteri. Ucapan pertama datang dari
teman-temannya alumni pendidikan Santa Ursula angkatan 1966. Buket kedua
dari para mahasiswanya, alumni Jurusan Antropologi UI angkatan 1976.
Raut kecewa tersirat jelas di wajah keluarga itu saat Juru Bicara
Kepresidenan Andi Mallarangeng mengumumkan bahwa pembacaan anggota kabinet
diundur hingga pukul 23.00. Sri-Edi dengan nada bercanda langsung
berkomentar. "Wah, ini ada pertentangan alot, pasti," katanya. Meuthia
menepuk paha suaminya manja. Ketika dimintai komentar oleh wartawan
tentang ada apa di balik pengunduran pengumuman kabinet, Meuthia hanya
menjawab pendek, "Mungkin belum solid."
Barisan kursi yang sudah terisi penuh di depan TV kembali kosong melompong.
Hingga malam menjelang pengumuman, ada tiga kemungkinan pos bagi Meuthia,
doktor bidang antropologi UI, itu untuk masuk kabinet SBY-Kalla. Yakni,
Mensos, Menbudpar, atau menteri pemberdayaan perempuan (Men PP). "Tapi,
Pak SBY, waktu pertemuan di Cikeas, tidak pernah menyinggung soal Mensos.
Beliau lebih banyak mengajak bicara soal kebudayaan, pariwisata, dan
pemberdayaan perempuan," tuturnya.
Apakah setelah pertemuan di Cikeas, Meuthia pernah berkomunikasi lagi
dengan SBY melalui telepon? "Wah, saya tidak pernah dengar suara Pak SBY
di telepon. Sekali saja saya diminta datang ke Cikeas hanya oleh Pak Sudi
Silalahi," ungkapnya. Sambil menunggu pukul 23.00, Meuthia lebih banyak
berbicara dengan para tamu, kedua adiknya, dan melayani wawancara dengan
berbagai stasiun radio yang menghubunginya melalui telepon. Sesekali, dia
mendatangi kumpulan wartawan yang nongkrong di luar rumahnya.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Namun, pengumuman yang ditunggu
tidak kunjung ada. Koran ini sempat memperlihatkan informasi proyeksi
terbaru kabinet SBY-Kalla kepada Meuthia yang diterima melalui SMS pada
pukul 23.36. Di sana tertulis bahwa posisi Mensos sudah diisi Bachtiar
Chamsyah. "Wah, jadi tinggal dua kemungkinan posisi gua," komentarnya.
Pukul 23.50, di layar televisi, tampak SBY berjalan mendekati podium untuk
mengumumkan kabinet. Semua kursi dengan cepat terisi. Meuthia tergelak
melihat polah para wartawan yang sibuk menyiapkan perangkat rekam.
Kemudian, dia tak berkedip memelototi pesawat televisi. Saat SBY
mengumumkan bahwa nama kabinetnya adalah Kabinet Indonesia Bersatu,
Meuthia dan suaminya tampak mengangguk-angguk. Tidak ada komentar yang
keluar dari mulutnya setiap kali SBY menyebutkan nama menterinya.
Nama Mensos dan Menbudpar sudah disebut SBY. Namun, nama Meuthia belum
juga nongol. Keluarga besar itu semakin tegang. Artinya, tinggal satu
posisi yang mungkin disabetnya, yakni Men PP. Tiba saatnya SBY menyebutkan
pengisi Men PP: "Meuthia Farida Hatta Swasono."
Tepuk tangan seketika meledak di ruang tengah rumah keluarga Swasono. Hela
napas lega menyeruak. Adiknya, Gemala, langsung mencium kedua pipi
kakaknya. Semua pesawat telepon yang ada di ruangan langsung berbunyi.
Ucapan selamat datang bertubi-tubi. Kedua adiknya sibuk menerima. Demikian
juga para pembantu, anaknya, dan keponakan yang juga berada di sana. Meski
namanya sudah dipastikan masuk kabinet, Meuthia masih tampak tenang.
Suaminya dan putranya pun belum memberikan reaksi. "Dengar dulu dong
nama-nama menteri lainnya," kata Meuthia kalem. Tapi, dia tidak bisa
menyembunyikan senyum sumringah.
Setelah SBY selesai mengumumkan nama-nama para menterinya, pesawat TV
langsung dimatikan. Semua yang hadir memberikan selamat. Sri-Edi merangkul
istri dan putranya. Baju mereka basah oleh keringat. Entah karena tegang
menunggu kepastian atau terlalu panas disorot lensa kamera televisi. "Terima
kasih kepada semuanya," berkali-kali Meuthia dan suaminya mengucapkan
kalimat itu.
"Terima kasih kepada rekan-rekan media yang sejak sore sabar menunggui
saya. Saya akan menjadi menteri yang bertanggung jawab dan menjaga amanah
demi membangun rakyat Indonesia," tegasnya.
Tansria, putranya, pun ikut berkomentar. "Sebagai anak seorang menteri,
saya ikut mengemban tanggung jawab. Apakah itu menjadi jembatan atau malah
menjadi jurang. Karena itu, saya akan membantu Ibu, minimal menjaga nama
baiknya," ujar Transia.
Sri-Edi dengan tegas menolak ketika wartawan menanyakan kemungkinan
Meuthia tinggal di kompleks menteri di kawasan Widya Chandra. "Rumah ini
juga gede kok. Ngapain pindah. Meuthia juga ingin tetap tinggal di sini,"
bebernya.
►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|