| |
C © updated 20052002 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama :
Dr (HC) Hj. Megawati Soekarnoputri
Nama Lengkap :
Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri
Lahir :
Yogyakarta, 23 Januari 1947
Agama :
Islam
Suami :
Taufik Kiemas
Anak:
3 orang, (2 putra, 1 putri)
Karir :
:: Presiden Ke-5 RI (2001 - 2004)
:: Wakil Presiden RI (1999- 2001)
:: Anggota DPR/MPR RI (1999)
:: Anggota DPR/MPR RI (1987-1992)
Pendidikan :
:: SD s/d SMA Perguruan Cikini
:: Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran (1965-1967)
:: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972).
Organisasi :
:: Aktivis GMNI, 1965-1972
:: Ketua Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Cabang Jakarta Pusat
:: Ketua Umum DPP PDI, 1993-1998, Hasil Munas 1993, 22 Desember 1993-1998
:: Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, 1998-April 2000, Hasil Kongres 1998,
Sanur, Bali, 8-10 Oktober 1998
:: Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, April 2000-2005, Hasil Kongres PDI-P,
Semarang, Jawa Tengah, April 2000
:: Peserta Konvensi Wanita Islam International di Pakistan, 1994
Penghargaan
::
“Priyadarshni Award” dari lembaga Priyadarshni Academy, Mumbay, India, 19
September 1998
::
Doctor Honoris Causa dari Universitas Waseda, Tokyo, Jepang, 29 September
2001
Alamat Kantor:
Jalan Medan Merdeka Selatan No 6 Jakarta 10110
Alamat Rumah:
:: Resmi: Jalan Teuku Umar 27-A, Jakarta Pusat
:: Pribadi: Jl. Kebagusan IV No 45 RT 010 RW 04, Kel. Kebagusan Kec. Pasar
Minggu, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI: 01
02
03
04 05 ==
Megawati Soekarnoputeri (02)
Pemimpin Berkepribadian Kuat
Majalah Forbes Edisi 4 September 2004 menempatkannya perempuan kedelapan terkuat dunia.
Dia pemimpin berkelas dunia. Seorang pendiam berkepribadian emas. Presiden
RI ke-5 ini teguh memegang prinsip, konsisten dan visioner. Dia seorang
pejuang sekaligus simbol dan inspirasi reformasi. Perjuangannya menegakkan
demokrasi (ketika demokrasi terpasung) telah memicu keberanian tokoh-tokoh
lainnya ikut dalam gerbong reformasi, yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh
dan pahlawan reformasi. Jika jujur, harus diakui bahwa tanpa putri pertama
Bung Karno, ini reformasi di negeri ini belum tentu terjadi.
Pengakuan dunia bahwa Megawati Soekarnoputri seorang pemimpin berkelas
dunia, tercermin dari posisinya sebagai salah seorang perempuan terkuat
dunia. Sebagaimana dipublikasikan Majalah Forbes edisi 6 September 2004,
Calon Presiden yang didukung Koalisi Kebangsaan (PDI-P, Partai Golkar, PPP
dan PDS) pada Pemilu Presiden putaran kedua 20 September 2004, ini berada
di posisi kedelapan dari 100 wanita terkuat dunia.
Dia sejajar dengan perempuan pemimpin berkelas dunia lainnya, seperti
Sonia Gandhi (India) urutan ketiga, Presiden Filipina Gloria Arroyo (9),
Perdana Menteri Banglades Begum Khaleda Zia (14), Presiden Sri Lanka
Chandrika Kumaratunga (44), pemimpin oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi (45)
dan Mantan Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher (21).
Pengakuan ini menggambarkan realitas perjuangan dan kepemimpinan Megawati
sangat kuat di mata dunia. Dia pemimpin berkelas dunia. Pengakuan dunia
ini, jika mau jujur, sepatutnya mencelikkan mata, akal budi, hati dan
nurani setiap orang (baik kawan maupun lawan politik) di dalam negeri,
untuk melihat dan mengakui gerak perjuangan dan kepemimpinan Presiden
Republik Indonesia kelima ini. Terutama sejak ia berani terjun ke dunia
politik saat hak-hak politik di negeri ini terkekang.
Tanpa bermaksud berorientasi menyalahkan masa-masa lalu bangsa ini,
Megawati yang pendiam (tak banyak bicara) itu adalah tokoh perempuan
pemberani meretas jalan demokrasi dan reformasi saat tokoh-tokoh lainnya (laki
atau perempuan) seperti tak punya nyali berhadapan dengan Pak Harto,
penguasa Orde Baru selama 32 tahun.
Realitas empirik membuktikan, Megawati yang memiliki kharisma sebagai
putri pertama Proklamator Bung Karno, adalah tokoh pemberani yang paling
berpengaruh melawan tindakan tidak demokratis dari pemerintah yang
cenderung otoriter ketika itu. Saat tokoh-tokoh nasional (termasuk yang
kemudian menjadi tokoh dan pahlawan reformasi) masih membungkuk-bungkuk di
hadapan Pak Harto, Megawati dengan caranya sendiri, tanpa banyak bicara,
secara konsisten telah berani melawan tanpa kekerasan. Dia menempuh jalan
demokrasi dan hukum.
Saat tokoh yang lain masih membeo atau diam pasif tak berani, Megawati
yang dikekang tampil berani menghadapi berbagai tantangan dan risiko
memasuki gelanggang politik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya.
Dia all out dengan keyakinan untuk menegakkan demokrasi dan reformasi di
NKRI ini, tanpa kekerasan dan tanpa balas dendam. (Sikap tanpa balas
dendamnya telah pula kemudian disalahartikan banyak politisi dan pengamat
sebagai kelemahan untuk merongrong kepemimpinannya).
Cobalah kita sejenak menoleh ke belakang. Siapa-siapa tokoh yang berani
melawan Pak Harto sebelum Megawati memukul genderang perlawanan terbuka
pada Kongres Luar Biasa PDI di Surabaya tahun 1993? Hanya sedikit tokoh
yang berani bertindak dan bersuara melawan kehendak pemerintah ketika itu.
Barulah setelah Megawati mengadakan perlawanan terbuka terhadap kekuasaan
yang represif, nyali tokoh-tokoh lainnya mulai bangkit. Sebagian pada
mulanya ikut menambangi, mensupport dan membela perjuangan (perlawanan)
Megawati. Dia telah menjadi simbol dan inspirasi perlawanan terhadap
kekuasaan yang cenderung otoriter ketika itu. Bukan hanya politisi yang
mulai terinspirasi dan terpicu keberaniannya ketika itu, tetapi juga para
pengamat yang sebelumnya bungkam atau malah memuja-muji, juga para
pengacara dan mahasiswa.
Mereka yang satu garis perjuangan atau tidak dengan Megawati, terinspirasi
untuk bangkit bersama. Mereka berkumpul dan berani berorasi menumpahkan
segala kemarahan terhadap penguasa yang represif di Kantor DPP PDI Jalan
Diponegoro, Jakarta. Keberanian yang dibayar mahal, karena kantor itu
diserang aparat dan orang-orang tertentu atas kehendak penguasa. Peristiwa
tahun 1996 itu, kemudian dikenal dengan sebutan Kudatuli (Kasus 27 Juli).
Peristiwa itu, tak menyurutkan perlawanan Megawati. Dia sangat sadar bahwa
dibutuhkan seorang pemimpin sebagai simbol perlawanan untuk menegakkan
demokrasi, keadilan dan kesejahteraan rakyat di negeri ini. Jika dia surut,
gerbong perlawanan yang sudah makin membesar di belakangnya itu pun akan
berhenti. Jika gerbong perlawanan itu berhenti, maka reformasi pun tidak
akan terjadi. Maka dia pun terus berjuang dengan caranya yang tidak banyak
bicara, tapi terus melangkah maju ke medan tempur sesengit apa pun dan
menghadapi risiko apa pun itu. Dia kuat bahkan sungguh kuat. Dia perempuan
keibuan berjiwa emas dan berhati baja.
Kongres Surabaya
Sebagai suatu gambaran betapa teguh dan kuatnya Megawati dalam menghadapi
tekanan penguasa ketika itu, tercermin dari cuplikan perjuangannya pada
Kongres Luar Biasa PDI di Surabaya, Desember 1993. Ketika itu, pemerintah
menghendaki Budi Hardjono menjadi Ketua Umum DPP PDI menggantikan ’si anak
yang mulai nakal’ Surjadi. Tapi, Megawati yang telah membunyikan genderang
menyatakan kesediaan memimpin PDI membuat niat pemerintah mendudukkan
boneka di tampuk pimpinan PDI menghadapi perlawanan. Si putri pendiam
Megawati mendapat dukungan penuh dari hampir semua cabang dalam
pemandangan umum. Resminya, juridis formalnya, hanya tinggal menunggu
sidang pemilihan ketua umum.
Melihat dukungan mutlak kepada Megawati itu, pemerintah melalui Menteri
Dalam Negeri yang berperan sebagai pembina politik dalam negeri bersama
Kasospol ABRI dan segenap jajaran Kakan Sospol daerah tingkat I dan II
seluruh Indonesia yang juga ’mengawal’ para peserta kongres ke Surabaya,
melakukan manuver mengulur-ulur waktu sidang pemilihan ketua umum sampai
masa izin kongres berakhir pukul 24.
Suasana di arena kongres ketika itu, sangat tertekan. Aparat keamanan
dengan berbagai perlengkapannya sudah lalu lalang dan berjaga-jaga,
layaknya siaga mengepung musuh negara. Malam pukul 20.00 saat peserta
kongres makin tertekan dan sebagian besar sudah meninggalkan arena kongres,
Megawati tetap bertahan di tempat siap mengikuti setiap detik perkembangan.
Ketika itu tersiar isu akan terjadi kerusuhan akibat ricuhnya kongres.
Tak lama, seorang aparat dengan naik panser menemui Megawati. Dengan
bersikap siap dan sigap sebagai seorang prajurit, aparat berpakaian tempur
itu menyampaikan pesan atasan kepada Megawati agar keluar dari arena
kongres dengan naik panser demi keamanan. Sejenak Megawati menatap aparat
itu, lalu dengan suara tegas mempersilahkan keluar sebentar. Aparat itu
menurut berdisiplin.
`Setelah itu, Megawati menitikkan air mata. Dia menangisi nasib bangsanya.
Dia tahu bahwa hal itu hanya taktik busuk penguasa yang tanpa sungkan
mengebiri demokrasi. Lalu, setelah menghapus air mata, dia meminta si
aparat suruhan itu masuk kembali. Dengan berwibawa, tak terkesan baru
menitikkan air mata, dia menyatakan sikapnya dengan tegas bahwa apa pun
yang terjadi tak akan meninggalkan arena kongres sampai akhir. “Laporkan
kepada atasanmu,” katanya tegas layaknya panglima tertinggi.
Kenapa dia menolak ’perlindungan’ aparat itu? Sebab dia pemberani tanpa
kekerasan. Dia siap menanggung segala risiko tanpa melawannya dengan
kekerasan. Dia menyadari jika meninggalkan arena kongres maka sekali lagi
lonceng kematian demokrasi akan berdentang. Bisa saja penguasa akan
melakukan sesuatu untuk menyulut kemarahan massa untuk menciptakan
kerusuhan yang akan dijadikan sebagai alasan pembunuhan terhadap demokrasi.
Selain itu, dia sadar, jika menuruti ’perlindungan’ yang ditawarkan aparat,
dia akan diteriakkan meninggalkan kongres yang akan dijadikan alasan
gagalnya kongres.
Sekitar pukul 22.00, dua jam sebelum masa izin kongres berakhir, Megawati
bangkit melakukan sesuatu yang tak terduga oleh siapa pun, baik petinggi
partai yang loyal kepadanya, maupun yang berlawanan dengannya terutama
pemerintah. Dia melakukan konfrensi pers. Saat itu, dia mengeluarkan
pernyataan politik yang menegaskan bahwa secara de facto dia telah
terpilih menjadi Ketua Umum PDI periode 1993-1998. Kemudian secara de jure
akan ditetapkan dalam suatu Munas atau sejenisnya di Jakarta dalam waktu
dekat. Kepada semua peserta kongres dan para simpatisan dihimbau untuk
pulang ke tempat masing-masing dalam suasana damai, tertib dan tenteram.
Pemerintah dan para lawan politiknya terperangah, tak menduga pernyataan
politik yang demikian penting dan brilian itu. Tidak ada lagi alasan
merekayasa sesuatu untuk dijadikan kambing hitam kerusuhan akibat ricuh
dan molornya jadwal kongres itu.
Itulah genderang perlawanan terbuka dari Megawati. Genderang itu tidak
hanya disambut oleh kader dan simpatisan PDI Mega, tetapi disambut
berbagai lapisan, lintas agama, lintas golongan dan lintas partai (termasuk
kader Golkar yang progresif dan ingin menegakkan demokrasi secara
sungguh-sungguh).
Kemudian, Munas PDI di Jakarta tahun 1994 pun terselenggara dan
mengukuhkan Megawati sebagai Ketua Umum PDI 1993-1998. Pemerintah yang
dipimpin seorang jenderal dan ketika itu menggunakan Golkar sebagai alat
politik (perpanjangan tangan militer di arena politik) dan terkenal
demikian ‘apik’ membentengi kekuasaannya dengan berbagai cara, tampak
merasa kecolongan.
Tampak tak menduga si putri pendiam itu akan membunyikan genderang
perlawanan. Sehingga kepemimpinan Megawati terus ditekan dan dirongrong.
Sampai akhirnya pemerintah berhasil memfasilitasi penyelenggaraan Kongres
Luar Biasa PDI di Medan Juni 1996 yang menobatkan kembali Surjadi sebagai
Ketua Umum PDI. Namun PDI pimpinan Megawati tak mengakui penyelenggaraan
Kongres Luar Biasa di Medan itu. Sehingga timbul kepengurusan ganda PDI di
pusat sampai ke daerah.
DPP PDI Mega berkantor di Jalan Diponegoro 57, Menteng, Jakarta Pusat,
kantor resmi DPP PDI. Sementara DPP PDI Surjadi atas dukungan pemerintah
berupaya merebut kantor tersebut. Maka berduyun-duyunlah orang dari
berbagai aliran dan golongan berorasi di kantor itu. Tidak hanya kader dan
sipatisan PDI Mega tetapi dari berbagai golongan yang sebelumnya merasa
tertekan dan kemudian terpicu keberaniannya melakukan perlawanan terbuka
kepada penguasa yang represif.
Lalu, terjadilah Kasus 27 Juli 1996 yang kemudian dikenal dengan sebutan
Kudatuli. Perebutan kantor DPP PDI yang memakan banyak korban dan dikira
penguasa akan memadamkan keberanian perlawanan Megawati, ternyata malah
menyalakan keberanian sebagian besar rakyat, tokoh dan mahasiswa untuk
mengadakan perlawanan bersama.
Bangkitlah mahasiswa berdemonstrasi. Hampir seluruh kampus di Indonesia
melakukan demonstrasi. Sampai Pemilu 1997, mahasiswa terus demo di dalam
kampus. Karena ketika itu, mahasiswa dilarang demonstrasi di luar kampus.
Setelah Pemilu 1997, makin banyak pula tokoh yang berani tampil
menyuarakan reformasi. Sebagian mereka kemudian digelari sebagai pahlawan
reformasi yang bersama mahasiswa memaksa Presiden Soeharto meletakkan
jabatan.
Apalagi setelah Presiden Soeharto lengser bertaburanlah tokoh-tokoh
reformis, termasuk dari kalangan militer yang menjadi tulang punggung
kekuasaan Orde Baru yang militeristik. Bahkan sebagian jenderal yang
memegang jabatan penting ketika itu, kemudian menyebut diri sebagai
pemimpin menuju perubahan. Mereka menyebut diri reformis tulen dan bahkan
dengan lantangnya menyebut Megawati dan tokoh reformis sipil lainnya
sebagai reformis abu-abu dan reformis palsu.
Mereka mengklaim bahwa pemerintahan sipil di bawah pemerintahan Habibie,
Abdurrahman Wahid dan Megawati sangat lemah maka dibutuhkan pemimpin dari
jajaran militer. Mereka tampak sudah terlatih melakukan rekayasa, ucapan
dan tindakan populis untuk mempengaruhi opini publik demi berkuasanya
kembali orang-orang militer di negeri ini.
Beratnya beban ‘sampah’ (krisis multidimensional) warisan penguasa
militeristik masa lalu, telah membuat gerak pemerintahan sipil tak mudah
bergerak cepat. Hal ini pula diteriakkan para tokoh rekayasa populis untuk
mempengaruhi opini publik bahwa seolah pemerintahan sipil tidak mungkin
membawa bangsa ini melakukan perubahan menuju kehidupan yang lebih aman,
adil dan sejahtera.
Namun, berhasilnya pasangan Mega-Hasyim masuk putaran kedua Pemilihan
Presiden 20 September 2004 nanti, telah melahirkan kesadaran bahwa masih
sangat banyak orang yang tidak mau terkecoh oleh agitasi, tutur kata yang
kedengarannya manis-manis, rekayasa populis, untuk mengembalikan dominasi
militer di negeri ini. Rupanya mereka pun secara jernih melihat bahwa
pemerintahan sipil adalah pilihan terbaik untuk mencegah bangsa ini
kembali ke masa lalu, sekaligus membawa bangsa ini menuju zona demokrasi,
damai dan sejahtera.
Pemimpin Berkarakter
Jika makin didalami, Megawati adalah seorang pemimpin berkepribadian kuat.
Tak mudah dipengaruhi oleh siapa pun jika tidak sesuai dengan nurani dan
visinya tentang cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Baginya visi dan misi para pemimpin bangsa ini tak bisa lain dari visi dan
misi yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Perubahan visi dan misi yang
berbeda dengan Pembukaan UUD 1945 justru harus dicegah.
Dengan prinsip itu, Megawati tak mau didikte oleh kekuatan mana pun, baik
dari dalam negeri apalagi dari luar negeri. Dia dengan lantang menolak
tindakan balas dendam Amerika Serikat menyerang Afganistan dan Irak,
kendati dia setuju untuk melawan terorisme global.
Dia bertekad ingin membangun hubungan bilateral maupun multilateral dengan
bangsa-bangsa di dunia dalam kesetaraan. Hubungan internasional, baginya,
adalah mutlak tetapi harus dalam kerangka kepentingan nasional
masing-masing dalam kesetaraan. Maka tak heran bila kepemimpinannya yang
berkarakter kuat tak disukai negara-negara maju, termasuk Amerika Serikat
di bawah kepemimpinan Bush, yang secara kasat mata tampak membutuhkan
pemimpin boneka di negara lain, seperti di Afganistan dan Irak. Sehingga
tak heran bila negara maju itu mengorbitkan bahkan mungkin saja mendanai
calon pemimpin alternatif yang kemungkinan lebih mudah dikendalikan.
Di dalam negeri, keutuhan NKRI, bagi Megawati merupakan prinsip yang harus
dipertahankan para pemimpin bangsa. Dia tidak ingin ada air mata dan satu
nyawa pun di negeri ini yang hilang. Sebagaimana terjadi di Aceh, dia
ingin tak ada air mata di negeri serambi Mekkah itu. Maka dia pun
mengawali penyelesaian Aceh dengan jalan diplomasi damai. Namun, ketika
jalan damai itu menemui jalan buntu, dia pun memberlakukan darurat militer.
Keputusan yang sesungguhnya sangat berat baginya, tetapi harus ditempuh
demi keutuhan NKRI. Itu suatu keputusan seorang perempuan yang kuat.
Kepemimpinnya yang berkarakter kuat dan visioner, terlihat juga dari
‘ketegaannya’ menolak grasi para terpidana mati kasus narkoba. Dia mengaku
sebagai seorang ibu, hatinya menangis ketika mengambil keputusan menolak
grasi itu. Tapi demi masa depan anak-anak bangsa, dia harus mengambil
keputusan yang secara nurani kemanusiaan sesungguhnya tak dikehendakinya.
Selain itu, kepemimpinnya yang berkarakter kuat, terlihat juga dari
beberapa keputusannya yang sangat tidak populis. Keputusan mengenai
kenaikan harga BBM, misalnya, yang mengikuti standar harga dunia. Beberapa
tokoh dan pengamat yang mengandalkan kebijakan populis menentang kebijakan
itu yang kemudian ditambangi demonstrasi beberapa kelompok mahasiswa.
Megawati tampak sangat menyadari ketidakpopuleran keputusan soal kenaikan
BBM, yang berdampak langsung pada kenaikan harga barang dan jasa lainnya,
itu. Tetapi dia kuat dan bersikukuh mengambil keputusan itu untuk
membangun kemandirian bangsa ini secara komparatif dan kompetitif dengan
bangsa-bangsa di dunia. Baginya, ssudah saatnya subsidi diakhiri dengan
mengandalkan pinjaman (utang) luar negeri. Keputusan yang nyaris tak
pernah diambil pemerintah sebelumnya, sehingga bangsa ini sulit melepaskan
diri dari ketergantungan pada utang luar negeri.
Dia juga seorang yang jujur dan tulus. Antara lain terlihat ketika
kampanye Pemilu Legislatif berlangsung, PT Telkom mengumumkan kenaikan
tarif. Suatu tindakan naif dari kacamata politik, apalagi dari kacamata
pihak yang menabukan kata kenaikan tarif dan menggantinya dengan kata
penyesuaian. Tapi dia membiarkan jadual kenaikan itu bergulir apa adanya
tanpa harus dipolitisir, misalnya menundanya sampai Pemilu selesai. Jika
dipandang dari sudut pemimpin yang piawai merekayasa, tentu ini tindakan
yang salah.
Dia juga seorang pemimpin yang berdedikasi dan memiliki loyalitas tinggi
kepada komitmen yang telah disepakati. Lihat saja Kabinet Gotong-Royong
yang pelangi dan dibentuk atas komitmen bersama lintas partai. Kendati
telah nyata-nyata ada di antara menterinya telah menunjukkan sikap
mendukung Capres lain, bahkan mungkin ada yang telah mengkhianati
kepercayaannya, dia tetap memegang komitmen mempertahankan kabinet
pelanginya. Padahal sebagai presiden yang menggenggam hak prerogatif untuk
itu, bisa saja dia dengan mudah mengganti menteri-menteri tersebut. Hanya
pemimpin berkepribadian kuat yang mampu bersikap seperti itu terhadap
orang (menteri) yang bisa saja merongrong kepemimpinannya.
Bukan itu saja! Salah satu keputusannya yang kontroversial dan mengejutkan
banyak pihak adalah restunya kepada Sutiyoso untuk terpilih kembali
menjabat Gubernur DKI Jakarta. Pada proses pencalonan, Megawati ditekan
oleh berbagai pihak agar jangan merestui Sutiyoso yang menjabat Pangdam
Jaya saat terjadinya Kasus 27 Juli 1996. Demonstrasi kader dan simpatisan
PDI-P marak. Tapi ketika pemilihan berlangsung, demonstrasi simpatisan PDI-P
itu berhenti. Mengejutkan para lawan politiknya. Sayang keputusan merestui
Sutiyoso ini harus dibayar mahal, sebab Sutiyoso tak tampak berpihak
kepada wong cilik. Namun dari kasus ini, sebagai seorang pemimpin,
Megawati telah menampakkan sosoknya yang kuat dengan kepribadiannya
sendiri.
Dengan intensitas kontroversi yang hampir sama, adalah desakan publik agar
dia mengganti Jaksa Agung. Namun, dia seperti tidak terpengaruh dengan
masih mempertahankannya. Jika ingin mengambil tindakan populis saja,
seorang pemimpin sudah akan mengganti Jaksa Agung itu. Namun, tampaknya
Megawati melihat bahwa saat ini Jaksa Agung itu bukan satu-satunya titik
lemah penegakan hukum di negeri ini. Menurutnya, banyak kasus korupsi yang
telah dilimpahkan kejaksaan ke pengadilan, ternyata di pengadilan divonis
bebas.
Bukti lain kepemimpinnya yang berkarakter kuat adalah kerelaannya menerima
keputusan politik SU-MPR 2001 yang memenangkan KH Abdurrahman Wahid
sebagai presiden dan keikhlasannya menerima jabatan Wakil Presiden,
kendati PDIP sebagai pemenang Pemilu. Hanya saja duet ’bersaudara’ ini tak
bertahan lama akibat keteledoran Gus Dur yang tampak terlalu meremehkannya.
Bukan saja Gus Dur yang pernah terkesan meremehkan kemampuan kepemimpinan
Megawati. Beberapa politisi dan pengamat juga seringkali menganggapnya
lemah dan tak punya visi. Padahal jika dicermati secara jujur, dia seorang
pemimpin yang kuat, yang berani mengatakan ya atau tidak pada waktunya.
Visioner, konsisten dan tidak mencla-mencle.
Hanya saja, sifat pendiamnya, yang selain merupakan kekuatan juga menjadi
kelemahan. Karena terkesan kurang berkomunikasi dengan rakyat. Sehingga
lawan-lawan politiknya memanfaatkan sifat pendiam itu sebagai pertanda
kelemahan dan ketidakmampuan.
Maka, jika Megawati belakangan ini meningkatkan komunikasi kepada publik
adalah suatu bukti pula bahwa dia seorang pemimpin berjiwa besar. Jiwa
besarnya, kesabarannya, yang selalu diam tatkala dicaci-maki, makin
bercahaya saat dia menyadari kelemahan diamnya, selain merupakan
kekuatannya.
Kesetaraan Jender
Megawati adalah sebuah bukti sejarah di mana perempuan mampu memimpin
sebuah negeri. Dia memang bukan satu-satunya perempuan Indonesia yang
tampil sebagai pemimpin. Pada abad ke-14 Tribuana Tungga Dewi adalah
peletak dasar zaman keemasan Majapahit. Sultanah Saifatuddin Syah di Aceh
pada abad ke-16-17, merupakan sultan perempuan pertama di negeri beragama
Islam itu yang mampu memegang tampuk pemerintahan hingga 35 tahun.
Kini, Megawati diakui dunia sebagai pemimpin perempuan yang kuat dalam
ukuran berskala dunia. Bangsa Indonesia, tidak hanya perempuan, patut
berbangga. Megawati menunjukkan bahwa perempuan pun berhak dan mampu
memimpin suatu negara. Meski isu jender kadang terangkat ke permukaan
seiring pencalonannya sebagai presiden, dia menjawab dengan berupaya
membuktikan kepemimpinannya mengangkat harkat dan martabat rakyat
Indonesia, termasuk kaum perempuan.
Seperti pernah dikemukakannya di dalam seminar nasional “Kepemimpinan
Wanita Pada Millenium III” di Universitas Gadjah Mada tahun 1999: “Gerakan
penyadaran dan pencerahan akan hak-hak kaum wanita tidak hanya melulu
ditujukan kepada masyarakat kaum wanita saja, tetapi lebih jauh lagi
justru upaya untuk melakukan pencerahan lebih diintensifkan dan diperlebar
ke dalam wilayah kehidupan kaum laki-laki.
Menurut, Megawati, kaum perempuan harus dengan penuh arif dan bijak
membantu kaum laki-laki agar mereka dapat bebas dan terbatas dari pola
pikir lama yang hanya menempatkan kaum lelaki pada suatu tingkat peradaban
yang memprihatinkan. “Dalam melakukan hal ini tidak perlu dijalankan
dengan cara-cara yang berdampak melecehkan dan merendahkan martabat kaum
laki-laki,” katanya.
Megawati menawarkan suatu strategi yang meletakkan dan memosisikan wanita
sebagai ibu bangsa, sebagai ibu masyarakat dan sebagai ibu sejati. Dengan
pijakan strategi ini, menurutnya, maka tidak ada alasan bagi kaum wanita
untuk melakukan tuntutan-tuntutan yang hanya akan menimbulkan reaksi
penolakan dari kaum laki-laki yang masih cenderung berpikir dan berpaling
ke belakang.
Megawati juga menganjurkan agar perempuan lebih percaya diri, karena
perempuan yang percaya diri tidak pernah gentar untuk bersaing dan
menyaingi kaum laki-laki dalam konteks persaingan yang sehat. Sedangkan
pria yang percaya diri tidak akan pernah merasa khawatir bila bersaing dan
tersaingi oleh seorang wanita.
Keberhasilan Megawati, menurut Rika Saraswati, staf Fakultas Hukum dan
anggota Pusat Studi Wanita Unika Soegijapranata Semarang, tidak
semata-mata berada di pundaknya, tetapi dipengaruhi juga oleh kinerja
orang-orang di sekitarnya, kaum perempuan dan kaum laki-laki.
Pilpres Putaran Kedua
Sebelum Pilpres (Pemilu Presiden) putaran pertama, 5 Juli 2004, tidak
sedikit pengamat politik yang meragukan pasangan Capres-Cawapres Megawati
Soekarnoputri dan KH Hasyim Muzadi (Mega-Hasyim) lolos ke putaran kedua.
Tapi prakiraan para pengamat itu terbantah. Mega-Hasyim meraih 26,65
persen suara, berada di urutan kedua. Urutan pertama diraih pasangan
Susilo BY-Jusuf Kalla (keduanya dibesarkan dalam Kabinet Gotong-Royong)
dengan 33,5 persen suara.
Posisi Susilo BY dan Jusuf Kalla, yang di atas angin sebagai urutan
teratas telah membuat Susilo BY terkesan meremehkan mesin politik
partai-partai besar. Berbeda dengan Mega-Hasyim yang dianggap berbagai
pihak sebagai underdog membuka pintu komunikasi politik lebar-lebar dengan
partai-partai politik, sehingga melahirkan Koalisi Kebangsaan.
Perihal koalisi ini, Megawati mendasarinya pada prinsip bahwa pemerintahan
yang akan datang telah diamanatkan oleh perubahan yang dilakukan dalam
konstitusi UUD 1945 melalui amandemen yakni, suatu pemerintahan yang
mekanisme antara eksekutif, legislatif dan yudikatif diharapkan mempunyai
suatu kemapanan, suatu keseimbangan, sehingga dengan demikian suatu
pemerintahan yang solid bisa berjalan dengan baik.
Megawati mengungkap bahwa dirinya seringkali berdiskusi dengan Wakil
Presiden Hamzah Haz yang juga Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan
(PPP). “Pak Hamzah, aneh juga kalau ada orang yang bilang bahwa partai (sistem
partai politik) tidak diperlukan, karena yang diperlukan itu dukungan
rakyat,” kata Megawati tanpa menyebut nama siapa yang dimaksud.
“Bapak bisa endak bayangkan kalau saya dipilih oleh rakyat saja, lalu
rakyat suatu saat merasa dukungannya itu tidak diperlukan, lalu mereka
lepaskan dukungannya, kan saya tinggal sendirian. Tetapi, kalau saya
didukung oleh aspirasi rakyat yang dikumpulkan melalui partai-partai
politik, maka, tentunya yang akan menjadi suatu tanggungjawab dan
kewajiban dari partai politik itu adalah bagaimana mereka akan memberikan
dukungannya dan bagaimana mereka akan menyurutkan dukungannya. Rasanya di
seluruh dunia ini, entah saya salah baca apa tidak, tetapi rasanya sistem
pemerintahan itu tetap melalui partai politik,” ungkap Megawati tentang
percakapannya dengan Hamzah Haz.
Dalam hal ini, Megawati memberi pencerahan politik kepada publik. Banyak
pihak menangkap makna pernyataan itu. Antara lain, bahwa orang yang ingin
meraih dukungan rakyat tanpa melalui mekanisme sistem partai politik suatu
saat akan menjalankan kekuasaannya sendirian tanpa mekanisme yang
demokratis, sebab tidak mungkin mengumpulkan rakyat setiap saat mengambil
keputusan.
Tapi kalau seseorang didukung rakyat melalui mekanisme dan sistem
kepartaian, dia akan menjalankan kekuasaan dalam sistem yang demokratis
melalui partai politik, sehingga dia tidak menjalankan kekuasaan sendirian
alias diktator dan otoriter.
Kebersediaannya membagi kekuasaan, menunjukkan dirinya tidak berpotensi
menjadi seorang diktator yang otoriter. Dia seorang pemimpin yang kuat
dengan kepercayaan membagi kewenangan kepada orang lain baik sebagai mitra
maupun sebagai pembantu (menteri). Kendati dia telah pernah dikhianati
oleh dua-tiga orang menteri (pembantunya), dia tampak tetap pada pendirian
untuk mempercayai orang lain.
Koalisi Kebangsaan dalam kaitan pembagian kekuasaan adalah wujud dari
kemampuan mempercayai orang lain. Ini menunjukkan kepribadian yang kuat
dan tidak selalu mencurigai orang lainnya. Berbeda dengan orang yang
berkepribadian labil dan tak segan mengkhianati kepercayaan orang lain,
dia akan cenderung sangat sulit mempercayai orang lain dan cenderung
menggenggam kekuasaan di tangannya sendiri.
Bermodalkan Koalisi Kebangsaan yang akan mengggalang dukungan rakyat
sampai ke akar rumput, pasangan Mega-Hasyim ini diperkirakan akan
memenangkan Pemilu Presiden putaran kedua, 20 September 2004. Kemenangan
Mega-Hasyim sekaligus akan membuktikan bahwa mesin politik partai
benar-benar telah menjadi sistem penyaluran aspirasi rakyat secara efektif
dan demokratis.
Derap perubahan
Perihal masalah pembaruan Indonesia, Megawati sangat yakin bahwa semua
menyadari bahwa betapa luasnya lingkup pembaruan yang dicita-citakan itu.
“Secara substansi, kita mengelola perubahan yang menyangkut segi
kelembagaan dan prosedur dalam keseluruhan tatanan. Sekarang kita ibarat
telah berada di tengah derap perubahan ke arah pembaruan itu. Kita gembira,
karena betapa pun kecilnya, kita telah memulai langkah yang besar,” papar
Megawati.
Bagai bola salju, lanjutnya, aura pembaruan atau reformasi tersebut terus
menggelinding dan meluas. Memang harus diakui, acapkali kita sendiri
tertegun dengan banyaknya akibat sampingan yang timbul dan tidak jarang
menimbulkan masalah baru yang bahkan tidak kalah rumit dampaknya.
“Berbagai kesulitan yang saat-saat ini kita hadapi bahkan lebih banyak
berkaitan dengan masalah baru itu,” ujar Megawati.
Semula, papar Megawati, dikatakan bahwa semua itu sekadar eforia yang
harus dipahami dan disikapi dengan sabar. Tetapi, ketika waktu terus
berlalu, semua kian merasakan berlangsungnya banyak hal yang dianggap
kurang menguntungkan. “Di tengah berbagai persoalan dalam gerak perubahan
itu sendiri, kita juga harus mengelola ekses-ekses yang mengikutinya. Di
antaranya dan yang selama ini sering kita rasakan adalah makin kurang
imbangannya sikap dan perilaku kita bila dibandingkan dengan tujuan,
langkah perubahan, dan pembaruan yang dihasilkan,” ujarnya.
“Kita sering kecewa bahwa langkah perubahan tidak kita laksanakan dalam
bentuk dan dengan cara sebagaimana kita harapkan. Begitu pula ketika dalam
rangka pembaruan kita mendambakan kehidupan ke arah yang lebih demokratis
dan mandiri, yang hadir adalah faham tentang kebebasan yang seolah tanpa
batas, dan menyulut pertikaian yang nyaris memorakporandakan kehidupan
kebangsaan dan kenegaraan kita. Kita juga menghadapi kegetiran baru karena
tampilnya keadaan yang kadangkala dirasa lebih mundur dibandingkan kondisi
umum yang pernah kita miliki di masa sebelum era ini,” kata Megawati.
Megawati menyadari masih belum cukup waktu untuk melakukan perbaikan dan
perubahan berarti di bidang politik dan hukum. Warisan persoalan yang
mengakar dari masa lampau akhirnya malah tampak menjerat langkah sendiri.
Ketenangan penampilannya sebagai pemimpin tidak selalu menjamin ketenangan
di dada masyarakat.
Dia menyadari bahwa banyak pihak yang tidak puas terhadap kinerjanya, yang
menurut sebagian orang lambat. “Waktu permulaan, ah... Presiden Megawati
itu orangnya lambat, tidak mau cepat memutuskan. Tidak mau ngomong. Ya,
biar saja. Yang penting, ke depannya lebih berguna, daripada buru-buru,
cepat-cepat,” katanya dalam suatu acara. Megawati pun optimis, bila
rakyat mempercayainya memimpin bangsa ini lima tahun ke depan, akan
melanjutkan pemulihan ekonomi yang sudah tercapai dengan tingkat
pertumbuhan yang lebih tinggi. ►ti/crs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|