| |
C © updated 10092007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama :
Dr (HC) Hj. Megawati Soekarnoputri
Nama Lengkap :
Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri
Lahir :
Yogyakarta, 23 Januari 1947
Agama :
Islam
Suami :
Taufik Kiemas
Anak:
3 orang, (2 putra, 1 putri)
Karir :
:: Presiden Ke-5 RI (2001 - 2004)
:: Wakil Presiden RI (1999- 2001)
:: Anggota DPR/MPR RI (1999)
:: Anggota DPR/MPR RI (1987-1992)
Organisasi :
:: Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, April 2000-2005 dan 2005-2009
Alamat Rumah:
:: Jalan Teuku Umar 27-A, Jakarta Pusat
:: Jl. Kebagusan IV No 45 RT 010 RW 04, Kel. Kebagusan Kec. Pasar
Minggu, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Megawati Soekarnoputri Saya Bersedia Dicalonkan
Jakarta, 10 Sept 2007: "Dengan mengucap bismillahi-rahmanirrahim,
saya… saya, Megawati Soekarnoputri, bersedia dicalonkan sebagai presiden
dari PDIP," kata Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan Megawati Soekarnoputri dengan suara haru di tengah sambutan
sukacita dan histeris 16.400 kader peserta Rakornas PDIP di Hall A PRJ,
Kemayoran, Jakarta 10 September 2007.
Pernyataan yang diucapkan dalam pidato tanpa teks saat menutup Rapat
Koordinasi Nasional (Rakornas) PDI-P di Jakarta, Senin (10/9/07) sekitar
pukul 20.05, itu langsung disambut gegap gempita peserta Rakornas yang
datang dari seluruh Indonesia.
Pernyataan Megawati Soekarnoputri bersedia dicalonkan sebagai
presiden pada Pemilihan Presiden 2009 menjadikan dirinya sebagai orang
pertama yang secara resmi menyatakan akan maju dalam Pemilihan Presiden
2009.
Setelah sejenak berhenti dan terharu atas sambutan hangat dari para
kader PDIP tersebut, Megawati melanjutkan: "Terima kasih. Sampaikan hal
ini…." Kata-kata Mega terputus, saking riuhnya sorak-sorai kegembiraan
para peserta Rakornas tersebut. Mega pun tidak kuasa melanjutkan
kata-katanya. Pelupuk matanya basah, dia menangis terharu melihat
respons luar biasa yang muncul dari para kadernya.
Di tengah suasana haru itu, tiba-tiba pembawa acara memberikan
aba-aba: "Kita nyanyikan lagu Maju Tak Gentar." Para kader PDIP pun
serentak menyanyikan lagu ciptaan Cornel Simanjuntak itu dengan penuh
penghayatan, bersemangat dan haru. Banyak di antara mereka yang
meneteskan air mata.
Setelah untaian lirik lagu itu berakhir, Megawati kembali mempertegas
kesediaannya itu. Tapi, suasana haru-biru yang menyelimuti ruangan besar
itu, membuatnya tidak mampu menuntaskan kata-katanya. "Sekali lagi,
sebagai ketua umum partai, saya Megawati Soekarnoputri…," ujarnya masih
terputus. Mega pun terharu dan tampak tidak kuasa menahan tetesan air
mata. Suasana haru dan gembira dengan tepuk tangan dan teriakan "Mega
presiden", dan pekik "Merdeka" membahana.
Saat Mega sedang berusaha menenangkan dirinya itu, Taufik Kiemas bangkit
dari kursinya dan berjalan pelan ke arah podium. Dia menghampiri
Megawati dan mengecup kening sang istri yang semakin haru.
Para kader PDIP pun kembali menyanyikan lagu Maju Tak Gentar hingga dua
kali. "Terima kasih. Saya yakin bahwa keseluruhan dari 16.400 orang ini
akan memberitahukan keputusan saya sebagai Ketua Umum atau dari pribadi
diri saya untuk disampaikan kepada seluruh warga PDIP dan masyarakat
Indonesia di mana pun mereka berada," seru Megawati. "Apakah kalian siap?
Apakah kalian akan bekerja keras?" tanya Mega. "Siap, kami siap," teriak
ribuan kader partai membahana.
Megawati kemudian berpesan agar sepulang ke daerah masing-masing, para
peserta Rakornas segera mengadakan rapat-rapat untuk menyosialisasikan
keputusan Rakernas. "Seluruh jajaran struktural, eksekutif, dan
legislatif harus mulai bekerja. Apa yang menjadi bahan evaluasi jangan
sampai terjadi lagi," pesannya.
Sebab, kata Mega, seiring dengan pernyataan kesediaannya, para lawan
politiknya pasti segera mengalkulasi konsekuensi keputusan tersebut.
Karena itu, seru Mega, kita bertekad merapatkan barisan. "Kita pasti
bisa jika kita bersama rakyat. Kita pasti menang. Merdeka. Merdeka.
Merdeka," teriak Mega sekaligus menutup Rakornas PDIP.
Kesediaan Megawati untuk kembali dicalonkan sebagai presiden
sebenarnya sudah mulai terbaca saat membuka Rakernas II PDI-P pada 8
September 2007. Kala Megawati mengatakan: "Jawaban saya, insya Allah
akan seperti yang ada di dalam sanubari Anda semua."
Namun, pernyataan kesediaan Megawati itu tetap mengejutkan dan
mengharukan pengurus inti dan kader PDI-P. Sebab, Ketua Badan Pemenang
Pemilu PDI-P Tjahjo Kumolo, Megawati sama sekali tidak memberi tahu DPP
jika dia akan menyampaikan kesediaan malam ini.
"Rumah" Indonesia
Salah satu Rekomendasi Rapat Kerja Nasional (Rakornas) II PDI-P yang
juga dibacakan dalam Rakornas PDI-P di PRJ Kemayoran, Jakarta, Senin
(10/9/07) adalah kuatnya komitmen PDI-P berketetapan menjadikan dirinya
sebagai rumah besar kaum nasionalis. Atas dasar itu, PDI-P mengajak
semua elemen untuk menyusun rencana pembangunan Indonesia.
Butir ke-9 rekomendasi itu menyebutkan, "PDI-P berketetapan untuk
menjadikan dirinya sebagai rumah besar kaum nasionalis, di mana
perbedaan dan keanekaragaman budaya, bahasa, suku, dan agama adalah
taman sarinya Indonesia. PDI-P tetap bertekad mengambil peran sebagai
pemersatu dan penjaga kebhinnekaan Indonesia".
PDI-P juga mengajak para cendekiawan, teknokrat, dan para pakar untuk
bahu-membahu menyusun rencana pembangunan semesta Indonesia yang dapat
dijadikan pedoman bagi seluruh bangsa dalam menatap masa depan
Indonesia.
Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDI-P Taufik Kiemas dalam pidato
sambutannya mengajak semua kader untuk hidup berdampingan dengan partai
lain. "Kita teman dalam bertanding, sahabat dalam bertanding," ucapnya.
Pada acara penutupan Rakornas tersebut, PDI-P mengundang beberapa tokoh
yang sebagian didaulat memberi sambutan untuk menyampaikan pandangannya.
Tokoh partai yang hadir dan memberikan sambutan, Ketua Dewan Penasihat
Partai Golkar Surya Paloh dan Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai
Persatuan Indonesia (PPP) Bachtiar Chamsyah.
Tokoh pimpinan lembaga negara yang hadir, antara lain, Ketua Mahkamah
Konstitusi Jimly Asshiddiqie, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat
Hidayat Nur Wahid, dan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah.
Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso juga hadir. Gubernur DKI Jakarta
Sutiyoso yang mengenakan dasi merah duduk di deretan kursi terdepan
bersama Gubernur Kalteng Teras Narang dan Gubernur Sumut Rudolf Pardede.
Surya Paloh, dalam sambutannya yang tanpa teks dengan spontan memuji PDI-P.
"Kalau ada yang bertanya kader mana yang paling militan dan partai mana
yang paling kokoh dan bersungguh- sungguh memperjuangkan negara kesatuan,
tidak usah bertanya, jawabannya pasti PDI Perjuangan," ucap Surya Paloh
yang disambut gemuruh tepuk tangan hadirin.
Sementara Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai Persatuan Indonesia
(PPP) Bachtiar Chamsyah pun berbagi pengalaman untuk membangun
kepartaian di Indonesia. Dia berpesan, belajar dari pengalamannya yang
pernah kalah dalam muktamar, dia mengimbau seluruh kader PDI-P agar
apabila dalam musyawarah kalah, tidak usah membuat partai baru.
Pada bagian akhir acara, Sekjen PDIP Pramono Anung meminta segenap
kader PDIP berturut-turut menyanyikan lagu Bagimu Negeri dan Sorak-Sorak
Bergembira. Kemudian keseluruhan acara Rakornas lantas diakhiri dengan
pembacaan doa yang dipimpin Ketua Umum PP Baitul Muslimin Indonesia
Hamka Haq. ►ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|