A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Badan-Lembaga
 ► Pemda
 ► BUMN
  P O L I T I S I
 ► Politisi
 ► MPR-RI
 ► DPR-RI
 ► DPD
 ► DPRD
 ► Partai-Pemilu
 ► Ormas
  B E R A N D A
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 08092007  
   
  ► e-ti/  
  Nama :
Dr (HC) Hj. Megawati Soekarnoputri
Nama Lengkap :
Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri
Lahir :
Yogyakarta, 23 Januari 1947
Agama :
Islam
Suami :
Taufik Kiemas
Anak:
3 orang, (2 putra, 1 putri)

Karir :
:: Presiden Ke-5 RI (2001 - 2004)
:: Wakil Presiden RI (1999- 2001)
:: Anggota DPR/MPR RI (1999)
:: Anggota DPR/MPR RI (1987-1992)
Organisasi :
:: Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, April 2000-2005 dan 2005-2009

Alamat Rumah:
:: Jalan Teuku Umar 27-A, Jakarta Pusat
:: Jl. Kebagusan IV No 45 RT 010 RW 04, Kel. Kebagusan Kec. Pasar Minggu, Jakarta Selatan
 
 
     
 
BERITA

 

Megawati Soekarnoputri

Prihatin Kesejahteraan Rakyat Merosot

 

Jakarta, Minggu, 08 Sept 2007: Mantan Presiden dan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, menyatakan keprihatinan terhadap kesejahteraan rakyat yang semakin merosot. "Padahal, APBN terus meningkat sekitar 80 persen sejak 2005 hingga sekarang. Tapi, pada saat yang sama, kemiskinan dan pengangguran tetap saja meningkat dibandingkan 2005," ujarnya.


Megawati mengemukakan hal itu dalam pidato politik saat membuka Rakernas II PDIP di Hall B Gedung Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, sejak Sabtu 8/9/2007, dihadiri 1.532 peserta yang terdiri dari jajaran pimpinan pusat, daerah, dan cabang PDI-P seluruh Indonesia. Rakernas kemudian dilanjutkan Rakornas PDIP yang berlangsung 8 sampai 10 September 2007. Rakornas dihadiri kader PDIP tingkat pusat sampai tingkat kecamatan seluruh Indonesia.

 

Sebagai Ketua Umum PDIP yang mengambil posisi oposisi, Megawati menyorot sejumlah kelemahan pemerintahan Presiden SBY. Diai menyebut pemerintahan SBY going nowhere. "Going nowhere itu artinya selama lima tahun, kita tidak pergi ke mana-mana," ujarnya.

Melihat kecenderungan tiga tahun perjalanan pemerintahan, Megawati mengaku pesimistis ada perbaikan yang cukup signifikan. "Janji untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran sekitar 50 persen pada 2009, rasa-rasanya hanya akan menjadi angan-angan," katanya.

"Janji setinggi langit, pencapaian hanya sampai di kaki bukit," kata Mega mengingatkan janji-janji SBY-JK.

 

Martabat Bangsa

Rakernas mengangkat tema "Teguhkan Kedaulatan dan Martabat Bangsa" dan subtema "Bergotong Royong untuk Kesejahteraan Rakyat".


Megawati juga menyerukan kepada seluruh kadernya untuk meneguhkan kedaulatan dan martabat bangsa. "Rasanya, bangsa ini makin kurang percaya diri dalam menghadapi globalisasi. Kebanggaan sebagai bangsa, martabat sebagai bangsa, bahkan kedaulatan kita semakin merosot," ucap Megawati dalam pidatonya yang disambut tepuk tangan riuh dari para kadernya dalam ruangan yang didekorasi penuh warna merah putih. Terbentang pula kain merah putih menutupi seluruh dinding Hall B. Bahkan, karpet yang digunakan juga berwarna merah.

Menurut Megawati, memang benar bahwa perekonomian semakin sulit dari hari ke hari. Kekuatan pertahanan keamanan juga belum sekuat yang diharapkan. Soliditas elite pun belum kuat menghadapi berbagai masalah strategis.

"Akan tetapi, ada yang harus tetap dijaga dan digelorakan, yaitu kebanggaan dan martabat kita sebagai bangsa, kedaulatan kita sebagai bangsa, yang diperoleh melalui sejarah perjuangan panjang dan penuh pengorbanan," ujar Megawati seraya menunjuk foto raksasa proklamator Soekarno yang di pajang di ruangan itu.

Kedaulatan dan martabat bangsa ini harus terus digelorakan. Menurut Megawati, tanpa kepercayaan diri sebagai bangsa, tidak mungkin bangsa ini keluar dari krisis berkepanjangan.

Delegitimasi Parpol
Megawati juga menyebut telah terjadi delegitimasi partai politik yang terlihat sangat sistematis. Gejala tersebut, menurutnya, mulai terasa sekitar 2002 dan terus berkembang secara intensif hingga sekarang. Seakan-akan, parpol hanya mempunyai segi buruk.

Sehungan denga hal itu, Mega mengingatkan bahwa bangsa Indonesia pernah mengalami kecenderungan negatif itu sepanjang tahun ’50-an dan paro pertama ’60-an. Kita semua menyaksikan apa akibatnya.

Dia mengakui, partai politik memang belum dewasa dan masih perlu diperbaiki. Sebab, perkembangan parpol masih pada tahap awal sejak reformasi. "Jadi, bukan berarti sistem kepartaian tidak punya masa depan atau perlu dihancurkan," ujarnya.

Menurut Megawati, tidak ada demokrasi yang tumbuh sehat dan kuat tanpa sistem kepartaian yang benar-benar matang. "Fungsi partai politik, antara lain, harus menjadi wadah pengorganisasian rakyat yang berdaulat dan pendidikan politik. Untuk itu, partai politik bukan sekadar kendaraan untuk pemilihan presiden atau pilkada," katanya.
 

Capres 2009
Rakernas dan Rakornas ini juga dimaksudkan para kader PDIP untuk memastikan kesediaan Megawati menjadi Calon Presiden pada Pilpres 2009. Hal ini sesuai hasil Rapat Kerja Nasional I Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pada 7-9 Januari 2007 di Sanur, Bali, dalam salah satu rekomendasinya kembali meminta kesediaan Megawati Soekarnoputri untuk menjadi calon presiden pada Pemilu 2009.

 

Dalam Rakernas dan Rakornas ini para kader PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) berharap Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengambil sikap secepatnya. Mereka menginginkan Mega memberikan kepastian untuk maju dalam Pemilihan Presiden 2009, seperti rekomendasi partai.
 

Perihal kepastian Megawati bersedia atau tidak, menurut Ketua Deperpu PDIP Taufiq Kiemas mengatakan Megawati masih menunggu kepastian sikap dari Pimpinan Anak Cabang PDIP yang juga dihadirkan dalam rakernas kali ini. "Kita harus tentukan kriteria yang pas supaya menang 2009. Supaya nggak mabuk (kemenangan) lagi. Keledai saja tidak tersandung di batu yang sama sampai dua kali," tandasnya.

Taufik menegaskan harus dicek dulu kesiapan kader partai. "Masa oposisi capek-capek, ketuanya nggak berani nyalon. Makanya, dicek dulu sama rakyatnya," katanya.

Tjahjo Kumolo, ketua DPP PDIP, mengatakan baik PDIP secara institusi, termasuk Megawati, berusaha membuat perhitungan secara matang. "Selain soliditas partai, potensi perolehan suara PDIP pada 2009, jaringan partai, dan produk revisi paket RUU Bidang Politik, Megawati juga memperhatikan posisi TNI/Polri pada Pemilu 2009 mendatang," kata Tjahjo.

Hal ini berkaitan dengan netralitas TNI/Polri, apakah akan memiliki hak suara atau tidak. "TNI/Polri itu faktor X. Mereka punya struktur lengkap mulai level pusat sampai ke bawah seperti partai politik. Kalau mau jujur, kemenangan SBY juga melibatkan peran mereka," katanya. ►ti/tsl
 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)