| BERITA |
|
|
 |
Sikap Parpol Megawati Soekarnoputri di Sisi Oposisi
Rapat Kerja Nasional I Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pada
7-9 Januari 2007 di Sanur, Bali, dalam salah satu rekomendasinya kembali
meminta kesediaan Megawati Soekarnoputri untuk menjadi calon presiden
pada Pemilu 2009.
Permintaan itu bukan hal yang terlalu mengejutkan karena Megawati saat
ini merupakan orang nomor satu di tubuh partai banteng itu. Saat ini
Megawati menjadi Ketua Umum PDI-P dan satu-satunya kader yang pernah
memiliki pengalaman menjadi presiden.
PDI-P sendiri menempatkan diri sebagai partai oposisi sehingga sudah
bisa dipastikan tidak akan mendukung pencalonan kembali Susilo Bambang
Yudhoyono atau Jusuf Kalla yang dulu pernah menjadi pembantu Megawati di
kabinet dan saat ini menjadi presiden dan wakil presiden.
Pada sisi lain, peserta rakernas menilai belum ada tokoh baru yang
sekaliber Megawati. Padahal, pemilu tinggal tiga tahun lagi. Akhirnya,
daripada menunggu lama, rakernas pun langsung meminta Megawati kembali
maju tahun 2009. Padahal, agenda itu tak direncanakan. Semula hanya
ingin menetapkan kriteria calon presiden.
Yang menarik dari rekomendasi itu justru terletak pada alasannya. Dalam
rekomendasi itu, Megawati diminta maju lagi pada Pemilu 2009 guna
mengawal komitmen pada Pancasila 1 Juni 1945, UUD 1945, Kebhinnekaan,
dan Keutuhan NKRI.
Megawati sendiri belum mengiyakan atau menolak permintaan itu secara
eksplisit. Namun dalam perbincangan dengan Kompas, Selasa (9/1), putri
dari Proklamator itu memang menghendaki figur pemimpin bangsa seperti
itu.
Mengapa PDI-P berperan sebagai oposisi?
Keputusan itu merupakan mandat seluruh warga PDI Perjuangan yang
disampaikan dalam Kongres 2005. Sebagai ketua umum, saya harus
menjalankan mandat itu. Sekarang kita pun tumbuh di alam reformasi dan
menuju demokratisasi.
Pemerintahan sekarang ini kabinetnya terdiri dari banyak partai politik.
DPR yang seharusnya mengontrol pemerintahan pun tidak menjalankan
fungsinya. Lihat saja, PDI-P di DPR dikeroyok. Padahal, yang
diperjuangkan adalah persoalan substansial dan esensial, yaitu kebijakan
menaikkan harga BBM dan kebijakan impor beras.
Kita juga menamakan diri sebagai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Menjalankan peran oposisi merupakan bagian dari perjuangan untuk
menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.
Sejak Orde Baru, DPR menjadi stempel pemerintah. Kemudian, kita
menghendaki untuk masuk alam reformasi. Sekarang bagaimana mungkin bisa
berdemokrasi kalau DPR tidak bisa menjadi penyeimbang. Anggota DPR dari
partai-partai yang tergabung dalam kabinet untuk menggunakan hak
interpelasi impor beras saja sudah ditutup. Padahal, hak interpelasi
hanya untuk mempertanyakan kebijakan.
Apakah peran PDI-P sebagai partai oposisi itu sudah optimal?
Dari sisi internal, peran fraksi maupun anggota PDI-P yang duduk di
komisi-komisi sudah cukup baik. Persoalannya justru terjadi di para
politisi kita. Mereka mulai mengabaikan semangat musyawarah mufakat yang
ada dalam UUD 1945. Main voting terus. Hal-hal yang sangat esensial
mestinya tidak bisa divoting. Masalah beras itu masalah perut, masalah
pokok yang tidak sederhana. Dengan voting urusannya menjadi sederhana,
yaitu kalah, menang, impor beras atau tidak.
Bagaimana dengan rekomendasi rakernas yang meminta Anda sebagai calon
presiden di Pemilu 2009?
Rekomendasi itu ditujukan kepada DPP PDI-P. Oleh karena itu akan kita
evaluasi terus-menerus dan pikirkan. Tadi juga saya katakan dalam
rakernas, kalau kita semua serentak, kalau kita mau, kita bisa. Ini
merupakan modal dari rekomendasi itu. Kita tidak berada di awang- awang
saja, tapi harus membumi. Sekarang ini pemilu langsung, yang harus
diberi pendidikan politik adalah rakyat agar bisa memilih calon pemimpin
yang baik.
Apakah sudah mulai mengincar calon wakil presiden juga?
Saya kan tadi tidak mengatakan yes or no. Ini kan masih rekomendasi dan
bersifat masukan. Saya hanya menjawab mari kita pikirkan bersama. Kita
lihat dalam dua tahun ini apa saja yang kita bisa kerjakan dan apakah
rakyat memberikan dukungan positif kepada PDI-P.
Apa kriteria pemimpin yang dibutuhkan bangsa ini?
Kriteria sebetulnya gampang, yang susah itu melaksanakannya. Kalau kita
melihat Pembukaan UUD 1945, sebenarnya di situlah ada mandat untuk
pemimpin Republik Indonesia.
Untuk menjalankan amanat Pembukaan UUD 1945 tidak gampang. Contohnya,
mewujudkan negara yang berdaulat. Tekanan itu luar biasa. Mau mengatakan
memutuskan utang saja, harus diskusi panjang lebar. Lalu, ke mana
kedaulatan kita?
Selain memiliki sikap kepemimpinan, pemimpin mendatang harus mengenal
baik kondisi khas Indonesia. Kita ini negara kepulauan terbesar di dunia.
Para pemimpin ini banyak yang merasa hidup di negara daratan. Masalah di
daratan itu sebesar apa pun lebih mudah ditangani daripada terjadi di
negara kepulauan. Penanganan bencana pun lebih sulit. Untuk mengungsikan
ratusan penduduk di pulau kecil harus melalui lautan atau udara.
Saya selalu memikirkan kenapa pendiri republik ini bisa berhasil karena
mereka itu mengenal Indonesia. Mereka tahu budaya dan adat istiadatnya.
Orang yang mau jadi pemimpin harus ditanya sudah ke Merauke belum, sudah
ke Sabang belum? Saat saya berkunjung ke Pulau Dobo, Kabupaten Maluku
Tenggara, rakyat dengan ramah datang. Saya tanya pemimpin yang pernah
datang, mereka katakan yang pertama Bapak Bung Karno yang kedua putrinya.
Jadi yang lain ke mana?
Karisma Megawati memang tidak bisa dilepaskan dari PDI-P. Namun,
Megawati sendiri membantah anggapan bahwa model kepemimpinan karismatik
itu bisa menimbulkan bahaya tidak munculnya figur-figur baru di
partainya.
Dia mencontohkan, sepeninggal Bung Karno muncul tokoh baru dan bangsa
ini pun terus berjalan. Megawati mengaku telah membuat suatu sistem yang
memungkinkan PDI-P pun bisa berjalan tanpa bergantung pada figur.
"Oleh karena itu, saya selalu optimis," ucapnya. (Sutta Dharmasaputra, Kompas,
10 Januari 2007) ►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|