A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Badan-Lembaga
 ► Pemda
 ► BUMN
  P O L I T I S I
 ► Politisi
 ► MPR-RI
 ► DPR-RI
 ► DPD
 ► DPRD
 ► Partai-Pemilu
 ► Ormas
  B E R A N D A
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  R updated 16012003  
   
  ► e-ti/  
  Nama :
Dr (HC) Hj. Megawati Soekarnoputri
Nama Lengkap :
Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri
Lahir :
Yogyakarta, 23 Januari 1947
Agama :
Islam
Suami :
Taufik Kiemas
Anak:
3 orang, (2 putra, 1 putri)

Karir :
:: Presiden Ke-5 RI (2001 - 2004)
:: Wakil Presiden RI (1999- 2001)
:: Anggota DPR/MPR RI (1999)
:: Anggota DPR/MPR RI (1987-1992)
Organisasi :
:: Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, April 2000-2005 dan 2005-2009

Alamat Rumah:
:: Jalan Teuku Umar 27-A, Jakarta Pusat
:: Jl. Kebagusan IV No 45 RT 010 RW 04, Kel. Kebagusan Kec. Pasar Minggu, Jakarta Selatan
 
 
     
 
BERITA

 

Garin Nugroho

Megawati Opera Sabun III


Dalam dua seri artikel Kompas, Megawati Opera Sabun I dan II ( Mei 2002 ), penulis mencoba memprediksi penokohan Megawati di tengah drama politik Indonesia. Lewat salah satu kajian Cultural Studies yang mulai populer, mencoba membandingkan drama politik dan citra tokoh politik seperti layaknya dramaturgi dan penokohan opera sabun.

Mengingat Opera Sabun bukan wilayah hampa, kepopulerannya merefleksikan psikologi komunal masyarakat terhadap impian model-model kepahlawanan, konflik, ketertindasan hingga harapan .

Pada artikel Megawati Opera Sabun I, yang babakan dramanya dipuncaki kekalahan Megawati oleh Abdurrahman Wahid di Parlemen, penulis mencatat, citra Megawati yang lemah dan tertindas serta mengedepankan tertib hukum alias damai adalah model tokoh dalam Opera Sabun, yang menjadikannya populer.
Pada artikel Megawati Opera Sabun II, yang babakan dramanya dimulai saat Megawati mengganti Wahid menjadi Presiden, maka penulis mencatat bias dari gaya politik Megawati, yakni sosok politikus yang tidak langsung memotong dan membongkar. Ia cenderung hati-hati, dan kompromi terhadap konflik.

Kecenderungan gaya politik itu didukung sejarah drama politik yang mengelilinginya sejak kecil, yang penuh liku dan trauma politik. Maka, seperti layaknya karakter traumatik pada tokoh-tokoh Opera Sabun, karakter cenderung penuh misteri, menjaga jarak, keras, tak peduli, penuh waspada, namun bisa berubah humanis, sering sentimetil yang emosional, mempunyai energi tersembunyi penuh daya tahan, hingga penuh pemakluman dan pengayoman, namun bisa sangat tegas di saat kritis.

Pada gilirannya, penulis memprediksi saat itu, pemerintahan Megawati cenderung penuh kompromi, terbaca lamban, keputusan genial tak muncul, dan konsep tak terkomunikasikan dengan baik. Di sisi lain, meski penuh persoalan besar tetapi kestabilan meski kecil terasa di masyarakat. Pada sisi lain, kompromi politik memperkokoh kekuasaan, namun menurunkan pencitraan dan idealisme.

Karena itu, bagaimana dengan babakan Drama tahun 2003-2004 yang penulis sebut babakan ketiga Opera Sabun Megawati?

DALAM hukum dramaturgi klasik ala Aristoteles, dari sebuah babak drama ke babak selanjutnya senantiasa memiliki fase transisi penting yang disebut periode perekat. Yakni, periode peralihan yang dipenuhi aneka peristiwa yang harus mampu menarik hati penonton untuk terikat dan mencoba menerka akhir puncak drama. Karena itu, periode 2003 adalah periode perekat yang menentukan wajah puncak drama 2004, yakni Pemilu. Maka menarik, memberi catatan kecenderungan yang terjadi dewasa ini.

Pertama, periode Megawati dipenuhi plot atau aneka peristiwa besar penuh drama, dari penangkapan Tommy Soeharto, pengadilan tokoh politik, berpuncak tragedi Bom Bali. Sayang, meski babak ini dipenuhi drama besar, namun tidak memiliki tokoh atau kepahlawanan dari peristiwa itu. Inilah cacat besar drama politik Indonesia. Artinya, penonton drama politik kehilangan kepemimpinan dan kepahlawanan yang mampu memecahkan masalah-masalah berbangsa. Akibatnya, lewat drama politik masyarakat tak mampu memahami nilai-nilai yang baik dan benar, nilai keteladanan, etika, dan kepahlawanan sebagai dasar berbangsa.

Kedua, tokoh-tokoh politik tak mampu mengembangkan karakter dengan citra stereotipnya. Sebut, Amien Rais dan sikap selalu oposisi serta figur pengguncang di tengah krisis peralihan.Padahal, yang diperlukan adalah pemandu bangsa. Hal ini berlaku pada sosok Wahid yang belum menemukan peran baru pascakepresidenan. Juga Akbar Tandjung yang belum mampu lepas dari dilema politiknya.

Ketiga, pada kondisi dan situasi semacam itu terbaca, meski Megawati tidak tumbuh sebagai sosok kepemimpinan yang kepopulerannya kian kuat, bahkan cenderung menurun, namun lawan-lawan politiknya mengalami pelemahan karakter. Artinya, pada wilayah akar rumput, masyarakat belum menemukan model kepemimpinan yang lain, termasuk akar rumput partai Megawati sendiri.

Celakanya, Partai-partai besar lainnya, meski kepemimpinannya mengalami pelemahan karakter, tidak juga memiliki alternatif kepemimpinan lain. Bisa diduga, strategi politik Megawati, Amien Rais, Hamzah Has, Akbar Tandjung, hingga Wahid, tidak menghadapi alternatif kepemimpinan, namun lebih pada dilema suara-suara dalam partai sendiri, yang tidak puas atau menginginkan perubahan-perubahan, bahkan pilihan antara jalan prosedural demokrasi atau penggulingan kekuasaan.

PUNCAK drama dalam contoh klasik selalu diibaratkan sebagai pergumulan tokoh-tokoh mencari harta karun. Periode perekat adalah saat peta harta karun telah didapat, dan tempat harta karun telah di depan mata. Padanan ini amat menarik guna mengkaji aneka kecenderungan pada periode perekat ini.

Pertama, seperti halnya kisah klasik sekelompok orang yang berburu harta karun. Awalnya masih saling mendukung, berdialog, dan mencegah kelompok lainnya meraih kesempatan yang sama. Namun, menjelang puncak drama akan timbul berbagai agenda masing-masing individu untuk saling menjajaki dan mengalahkan guna mengamankan jalan meraih harta karun. Maka, tahun 2003, aliansi kekuasaan pemerintah dan DPR maupun MPR, juga dalam kabinet, tumbuh dalam perseteruan baru. Tiap-tiap tokoh politik menjelang puncak drama akan kembali ke kepentingan partai, golongan, dan kekuasaan, untuk memulai strategi meraih kekuasaan. Inilah babakan drama menjajaki kekuatan kekuasaan, menyusun aliansi baru, atau menggulingkan.

Kedua, bisa diduga, berbagai bentuk konflik mendukung dan tidak mendukung Megawati, merupakan akibat kompromi dan pembagian kekuasaan yang dilakukan dan dijanjikan Megawati. Pada periode ini, perilaku militer akan tampak: apakah menjaga agar perburuan harta dalam mekanisme demokrasi, atau ikut berperan guna mendapat harta karun lewat dukungan pada kelompok yang menguntungkan bagi kehidupan dalam aneka bentuk kekuasaan di masa depan. Sementara, mahasiswa dan LSM diuji perannya membawa suara dan energi rakyat, atau hanya mewakili kepentingan yang terpecah-belah.

Periode perekat, dalam hukum drama, seperti karakter Dewa Janus, senantiasa berwajah dua. Di satu sisi, begitu dramatis membawa penonton ke puncak drama, seperti kemungkinan jatuhnya presiden. Di wajah lain, secara perlahan, namun penuh intensitas, secara kronologis membawa ke puncak drama Pemilu 2004 dalam adu strategi dan penjajakan kekuatan yang prosedural.

YANG harus mendapat catatan tersendiri, kesuksesan Opera Sabun tak pernah berdiri sendiri. Ia amat tergantung situasi dan kondisi psikologi keluarga-keluarga.

Kenyataan menunjukkan, periode perekat drama politik Indonesia kali ini, dramaturginya bertumbuh di tengah situasi dan kondisi masyarakat yang penuh tekanan krisis, dipuncaki naiknya berbagai bahan pokok, serta gejolak demontrasi.

Sebenarnya, drama besar senantiasa mengajarkan, periode perekat adalah mulainya ruang dan waktu strategi politik saling mengalahkan yang sering menghalalkan segala cara. Dari permainan uang, pembagian kekuasaan, hingga penggunaan sentimen agama maupun ideologi, atau kelemahan pribadi, dan strategi mengelola berbagai bentuk ketidakpuasan rakyat serta penggunaan massa. Bahkan, ciri menarik, kesuksesan dan kejatuhan tokoh utama justru sering terletak pada upaya politik dari tokoh terdekat dari tokoh utama, yakni lingkungan keluarga terdekat, seperti peran Taufik Kemas, dan lain-lain.

Harus mendapat catatan sendiri, Opera sabun yang baik juga mengajarkan tentang pertumbuhan babakan drama yang meski penuh drama besar tetapi diolah prosedur dramaturgi yang kuat, komunikatif, dan mematuhi kode etik. Ia memberi pengajaran tentang model kepahlawanan dan keteladanan, kemampuan memecahkan masalah, perkembangan babakan-babakan politik yang mengandung pendidikan politik.

Jika hal ini tidak terjadi, maka bisa terjadi masyarakat penonton Opera Sabun Politik Indonesia bertumbuh bosan dan apatis terhadap dunia politik. Dan mereka akan mudah menyalurkan ketidakpuasan dalam berbagai bentuk ekspresi yang mungkin penuh kekerasan, atau menggantungkan diri pada model-model kekuasaan yang memberi kepastian, seperti model militerisme atau berbagai bentuk feodalisme dalam payung SARA.
Selamat menonton dan menjadi bagian dari Megawati Opera Sabun III.

*Ensiklopedi Tokoh Indonesia
Garin Nugroho, Pengamat Media dan Budaya
Kompas, 16 Januari 2003

 

Artikel Lainnya:

Megawati Opera Sabun II