| |
C © updated 12102002 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama :
H. Matori Abdul Djalil
Lahir :
Salatiga, Jawa Tengah, 11 Juli 1942 Meninggal:
Jakarta, 12 Mei 2007
Pendidikan :
- Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga
Jabatan Terakhir:
- Ketua Umum PKB (1998 - 2004)
- Menteri Pertahanan Kabinet Gotong-Royong (2001-2004)
Alamat Rumah Keluarga:
Jalan Elang Emas Prima, Blok C-7 No. 12
Tanjung Mas, Tanjung Barat, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Wawancara
Matori Abdul Djalil
Terorisme, Musuh Islam dan Demokrasi
Sesungguhnya terorisme bukan saja musuh bagi demokrasi, tapi juga musuh
bagi Islam. Islam tidak membenarkan terorisme. Sebagai seorang muslim dan
Menteri Pertahanan, Matori Abdul Jalil menegaskan bahwa antiterorisme
tidak sama dengan anti-Islam. Terorisme adalah musuh Islam dan musuh
demokrasi.
Dalam wawancara khusus dengan Tokoh Indonesia, Menhan Matori Abdul Jalil
yang juga menjabat Ketua Umum DPP PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)
Batutulis mengatakan dengan demokrasi, para pekabar atau juru daqwah
mendapat kebebasan yang luar biasa. Kalau ingin berdakwah di Amerika, kita
harus mengalahkan Amerika terlebih dahulu, kapan kalahnya? Tetapi karena
Amerika adalah negara demokrasi sekarang di sana banyak masjid. Berikut
petikan wawancara Tokoh Indonesia dengan Menhan Matori Abdul Jalil di
Kantor Menhan, Jalan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis 3/10/02. Ia didampingi
Marsma TNI Kamto Soetirto, SE, SIP, Karohumas Dephan beserta stafnya.
Bagaimana visi Anda tentang bangsa dan negara ini (Negara Kesaturan RI)?
Saya menangkap mengapa pendiri bangsa kita memilih Pancasila sebagai dasar
negara, bukan agama atau ideologi yang lain? Itu semata-mata oleh karena
sebuah kesadaran yang kuat betapa beragamnya bangsa kita ini. Tetapi kalau
kita mengertikan bangsa sebagai sebuah ukuran etnis, saya pikir kita tidak
mungkin bersama dengan saudara-saudara kita dari Irian Jaya, yang memiliki
perbedaan, ya dari warna kulitnya dan pandangan budaya yang berbeda dari
yang lain.
Juga kalau kita melihat bangsa ini dari ukuran sebuah agama, tidak mungkin
misalnya masyarakat Bali yang mayoritas beragama hindu dapat bersatu
dengan orang-orang yang ada di pulau Jawa. Terlebih jika kita lihat satu
pulau, contohnya di pulau Jawa sendiri, betapa beragamnya dari segi etnik
dan agama. Dengan kenyataan ini, semakin meyakinkan saya bahwa Negara
Indonesia berdasarkan Pancasila. Jikalau bangsa kita ingin eksis kita
harus melihat bentuk ini adalah bentuk negara kita yang sudah final.
Dan dengan kesadaran akan keberadaan kita di tengah kehidupan dunia, kita
masih hidup di pemikiran tradisional, namun jika pemikiran tradisional itu
tidak mengdepankan hal-hal yang bersifat rasional dan ilmu pengetahuan,
pemikiran tradisional itu akan menjadi suatu handicap atau penghambat
sebuah bangsa untuk maju dan sederajat dengan bangsa lain.
Tujuan bangsa ini yaitu membawa kepada sebuah bangsa yang sederajat dengan
bangsa lain dan mencerdaskan bangsanya menuju cita-cita ke arah sebuah
masyarakat yang “toto tentrem” dan “kerto raharjo” yaitu dengan cara
setiap orang harus bersikap sebagai pejuang dan pejuang di dalam bidangnya.
Apakah ia di partai, pers, pegawai negeri, aktivis sosial. Hal-hal inilah
yang senantiasa menjadi pemikiran saya, ketika saya masuk berpolitik dari
bawah hingga sekarang.
Sebagai Menhan, bagaimana Anda melihat bangsa ini dari sisi pertahanan dan
keamanan?
Dalam memandang bangsa ini dari sisi pertahanan dan keamanan, terlebih
saya melihat dari kaca mata saya sebagai orang jawa. Bukan menjadi
primodial. Namun karena saya dibesarkan di jawa, sehingga berbagai
pengetahuan saya peroleh dari masyarakat adalah menjadi acuan pola
berpikir saya. Jika kita melihat pergelaran wayang kulit, pertama kali ki
dalang menyanjung sebuah negara dengan istilah panjang, punjung, pasir,
wukir gemah ripah loh jinawi.
Saya melihat bangsa Indonesia seperti itu, panjang dan punjung itu artinya
panjang, luas lebar. Pasir itu berarti pantai ini menunjuk kepada pantai
sebagai tempat perdagangan. Kemudian perbukitan ini berarti pertanian,
lalu kemah ripah ini berarti taman. Sumber alam kita begitu kaya dan subur
sekali (lohjinawi) ini adalah sebuah fakta dan ini adalah anugerah bagi
bangsa ini. Namun sesugguhnya ada 2 hal yang menjadi tugas besar bangsa
ini yaitu terciptanya “toto tentrem” dan “kerto raharjo”.
Toto tentrem itu adalah yang hubungan dengan keamanan (security) sedangkan
kerto raharjo itu adalah kesejahteraan (prosperity). Sehingga kuncinya itu
dua, pertama bagimana kita menjadikan kondisi yang keamanan yang bagus,
sehingga akhirnya kesejahteraan tercapai. Tidak pernah dikatakan kerto
raharjo dan toto tentrem. Tapi, toto tentrem terlebih dahulu, seperti kita
mengatakan juga bahwa sandang pangan bukan pangan sandang. Ini berarti
bahwa yang pertama adalah sandang sebagai manusia yang berbudaya.
Contohnya, bayi ketika baru lahir. Pertama kali diselimuti dengan kain
baru kemudian diberi ASI. Ini tanda manusia itu beradab dan berbudaya.
Lebih dulu tidak makan dibandingkan kita telanjang. Karena jika kita tidak
telanjang kita dapat mencari makan. Seperti itu juga kalau kita bicara di
dalam dunia ekonomi, bahwa antara stabilitas dengan pertumbuhan ekonomi
memiliki hubungan yang bersifat absolute. Tidak mungkin ada investor yang
berniat datang jika tidak ada keamanan yang pasti. Bagi saya ketika ditempatkan
di dalam departemen ini merupakan sebuah amanah yang tidak ringan,
bagaimana terciptanya keamanan yang berlanjut dengan tumbuhnya
kesejahteraan.
Tentang demokrasi, security dan reformasi?
Kita, bangsa Indonesia, sedang mengemban tugas tugas besar yaitu Reformasi.
Suatu proses yang kita sengaja demi terciptanya suatu sistem nasional yang
demokratik, sebagaimana diharapkan oleh pendiri republik ketika membuat
UUD 45. Namun kita perlu menyadari bahwa kematangan berdemokrasi Bangsa
Indonesia itu belum cukup. Padahal jika kita ingin membangun suatu sistem
bukan hanya sturkturnya saja yang dibangun, namun juga kulturnya harus
dibangun. Lalu apakah sebenarnya demokrasi hanya merupakan kebebasan saja,
sejarah dalam Revolusi Prancis mencatat bahwa domokrasi mencakup tiga hal:
kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan.
Sehingga jika kita ingin membangun kultur demokrasi tiga nilai tersebut
harus dibangun secara bersama. Tiga nilai memiliki pengertian: ketika saya
merasa bebas, pada saat itu juga saya harus begitu yakin kalau orang-orang
di sekitar saya juga merasakan hal yang sama. Namun jika yang bebas hanya
saya saja, itu bukan demokrasi namanya.
Ketika kebebasan dirasakan bersama, maka yang muncul adalah kompetisi.
Kompetisi yang sehat harus memiliki “rule of the game”. Seperti dalam
pertandinagn sepak bola. Kedua tim diberikan kebebasan untuk mengolkan
bola sebanyak mungkin. Tetapi tetap dalam aturan permainan. Nah dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara, itu disebut sebagai “rule of law”.
Sehingga persaingan atau kompetisi itu didasari oleh hukum. Jika hukum
sudah ada maka harus ada law inforcement (penegakan hukum). Ketika ada
yang patut terkena “kartu kuning” diberikan “kartu kuning” dan jika patut
terkena “kartu merah” harus diberi “kartu merah” juga.
Jadi siapa pemenangnya, setiap pihak menjadi puas ‘kan? Seperti di saat
akhir pertandingan sepak bola mereka saling tukar-menukar kostum,
bersalaman dan berpelukan. Munculnya persaudaraan. Persaudaraan itu ada
karena adanya “fairplay”. Sehingga jika kita berdemokrasi dan reformasi
itu adalah untuk bersatu.
Bagaimana Anda melihat isu terorisme dalam kaitannya dengan Islam dan
demokrasi?
Jika kita melihat kasus terorisme dan radikalisme, apakah itu mendukung
demokrasi atau yang menjadi musuh demokrasi? Mereka (teroris) adalah musuh
kita. Seperti istilah pada masa lalu katakan “pokoke” (pokoknya-red) itu
bukanlah semangat demokrasi. Setiap orang boleh saja melakukan perjuangan
untuk ini atau itu dalam aturan yang berlaku, namun jika semuanya
dilakukan dengan teror dan usaha tekanan, ya itu telah keluar dari aturan.
Saya sebagai orang yang beragama Islam dan mungkin yang dikenal juga
sebagai salah satu pemimpin ummat (boleh kan?), saya memandang bahwa Islam
sendiri tidak suka terhadap terorisme dan tidak membenarkan terorisme.
Seperti ketika Nabi Muhammad SAW sendiri berdaqwah tidak pernah ada
paksaan. Bahkan pamannya sendiri yang waktu itu hampir meninggal, ia tidak
membuat paksaan. Dan saya yakin seluruh agama juga seperti itu. Sehingga
sesungguhnya terorisme bukan saja musuh bagi demokrasi, tapi juga musuh
bagi Islam.
Dengan demokrasi, para pekabar atau juru daqwah mendapat kebebasan yang
luar biasa. Kalau ingin berdakwah di Amerika, kita harus mengalahkan
Amerika terlebih dahulu, kapan kalahnya!. Tetapi karena Amerika adalah
negara Demokrasi sekarang di sana banyak masjid. Contohnya, anak saya yang
sekarang sedang berkuliah di San Fransisco dapat sholat Jum’at dengan baik.
Sebaliknya juga dengan agama yang lain, jika ingin beribadah di tengah
masyarakat Islam, ya itu adalah hak mereka juga. Sekarang tinggal
bagaimana setiap agama itu meningkatkan iman umatnya masing-masing dalam
agamanya.
Saya sebagai Menteri Pertahanan melihat isu teroris, menegaskan bahwa
terorisme adalah sesuatu yang tidak dapat diterima. Dan antiterorisme
bukan sama dengan anti-Islam.
Prinsip
(Tokoh Indonesia menulis profil Mator Abdul Jalil sebagai seorang politisi
yang ‘penurut’ tapi kadang kala meledak-ledak. Dia tergolong politisi yang
licin. Pada saat tertentu, dia terkesan sangat penurut kepada ‘Sang Guru’
yang disimbolkan sujud dan cium tangan setiap kali ketemu. Tapi dalam hal
yang dianggapnya sangat prinsipil dia pun mampu melepaskan diri dari
bayang-bayang ‘Sang Guru”).
Komentar Anda?
Saya percaya bahwa kita hidup dan memperjuangkan sesuatu itu tidak dapat
dilakukan sendiri. “Makin banyak teman makin baik”. Oleh karena itu saya
berusaha untuk membangun jaringan dengan siapa pun. Baik dengan tidak
seagama atau satu daerah. Namun dengan siapa saja yang memiliki satu
idealisme yang sama, mari bersama-sama! Dengan itu dapat terlihat apakah
orang itu mengabdi kepada idelisme atau kepada kepentingan pribadinya
ketika sedang mengambil keputusan yang menyangkut bangsa.
Jadi jika ketika saat prinsip kita berbeda, kita memang tidak boleh lagi
bersama-sama. Namun secara pribadi hubungan tidak putus, sama sekali tidak.
Tapi jika dalam satu hal berbeda, apalagi menyangkut bangsa dan negara,
kita harus punya sikap.
Saya selalu berusaha apa yang saya lakukan itu konsisten dengan apa yang
saya katakan atau ucapkan. Ketika memperjuangkan dermokrasi dengan
konstitusi, saya harus turut di dalamnya. Karena di dalam Islam dikatakan
bahwa “dosa besar dihadapan Allah adalah orang yang bisa bicara, tetapi
tidak bisa melaksanakan yang diucapkan. Saya selalu ingat bagaimana saya
harus menjadi orang yang memiliki malu teradap diri sendiri, manakala saya
itu tidak konsisten dengan apa yang saya katakan. Seberat apapun dalam
mengambil keputusan, tapi saya percaya kalau saya lakukan itu dengan
ihklas, meskipun semua orang memusuhi, tapi insyaallah jika benar-benar
ikhlas dan pas, itu Tuhan pasti menolong.
Karena Al-quran mengatakan
“kalau memang kamu membela Allah, membela kebenaran sesuai dengan
kehendak-Nya, maka yang akan meneguhkan dirimu adalah Tuhan sendiri.
Sebagai orang yang beriman saya yakin dengan mencari di dalam sabda-sabda
Allah yang bisa memperkuat mentalitas saya ketika sedang menghadapi krisis
dan selalu berani menyatakan prinsip kepada siapa saja.
Setidaknya ada dua event dimana Anda menunjukkan sikap. Pertama,
menjelang Sidang Umum MPR 1999, saat Anda mendukung Megawati Sukarnoputri
jadi presiden. Kedua, saat Anda menghadiri Sidang Istimewa MPR 2001
berseberangan dengan Gus Dur?
Ketika saat sidang umum istimewa, prinsip saya harus menegakan konstitusi
bagaimana pun keadaanya. Sebab kelemahan saya dalam politik, saya tidak
dapat berkompromi terhadap hal-hal yang bertentangan dengan apa yang saya
yakini prinsipil dan konstitusional. Dan segala sesuatu itu datang dari
Tuhan Jadi saya tak perlu takut dan kemudian menjual prinsip. Kesadaran
ini ada terlebih-lebih ketika saya hendak dibunuh, ternyata tidak mati.
Dari hal itu saya jadi yakin kematian itu bukan manusia yang mengira-ira.
Boleh saja orang mau membunuh saya, tapi kalau Tuhan tidak menakdirkan
saya mati pada hari itu, ya saya tidak mungkin mati. Bukan karena saya
sakti tapi karena Allah.
Setiap kita lahir dalam keadaan telanjang, tidak berdaya, tetapi Tuhan
menanamkan kasih kepada kita masing-masing, sehingga ibu kita merawat kita
dan membesarkan kita. Kasih yang ada dalam ibu ini adalah datang dari
Tuhan.
Saya jadi ingat ketika saya masih di desa ketika bersekolah SD dulu saya
harus berjalan jauh untuk sampai ke sekolah melewati pematang sawah dan
tidak memakai alas kaki sendal atau sepatu. Dan saat ini anak saya bisa
bersekolah, saya bisa makan dan bisa naik mobil sendiri, masih kurang
yakin apa kalau memang semuanya Tuhan itu yang kasih. Jadi dalam hidup ini
tidak perlu takut, bukan berarti kita tidak perlu berikhtiar. Beriktiarlah,
namun tidak pelu sampai menjual prinsip.
Sikap saya terhadap mendukung Ibu Mega menjadi presiden berlandasakan
komitmen kita bersama untuk membangun demokrasi dan melaksanakan reformsi.
Tetapi kalau sebuah partai yang menang pemilu malah menjadi pihak oposisi,
itu ‘kan jadi lucu sekali. Semua hal kita kembalikan kepada niat kita.
Kita melaksanakan rerformasi untuk mendapatkan posisi atau ingin membangun
sistem nasional yang demokratis.
Lalu ketika akhirnya PKB secara resmi mencalonkan Abdurrahman Wahid
(Gus Dur) menjadi presiden, bagaimana posisi Anda saat itu?
Sikap saya tetap sama dan jelas bahwa ketua partai pemenang pemilu harus
menjadi presiden. Walaupun belakangan banyak orang yang menghujat saya,
tapi saya yakin yang saya lakukan ini benar. Kalau mereka menghujat saya,
saya lebih memilih diam saja. Karena ajaran orang-orang tua mengatakan
kalau kita melakukan yang baik suatu ketika juga nanti akan muncul dan ini
juga berdasarkan pengalaman hidup saya. Keadaan kita saat ini juga oleh
karena kondisi para elit politik kita yang belum dewasa. Saat ini yang ada
hanya perkelahian “politik” saling menjelekkan dan kemudian menjadi
sama-sama jelek.
Kembali ke masalah pertahanan nasional?
Isu pertahanan nasional masih belum selesai seperti di Aceh, Ambon, Irian
Jaya dan yang lain. Dan ini juga menyulikan bagi sektor ekonomi, para
investor jadi sukar untuk memberikan modalnya di Indonesia. Jika bangsa
ini pecah, pecahnya tidak seperti bangsa Korea terbagi dua, tetapi pecah
seperti kaca mobil, terpecah-pecah.
Pada saat ini bangsa kita masih dihormati oleh negara-negara tetangga kita.
Karena walaupun kita miskin, bodoh tetapi kita masih bangsa yang besar.
Coba bayangkan para pekerja TKI yang ada di Malaysia sekitar 500 ribu,
jumlah itu melebihi jumlah penduduk Brunei yang hanya 350 ribu.
Pertambahan penduduk kita, tiap tahunnya kira-kira 1% itu membuat tiap
tahunnya penduduk bertambah sekitar 2 juta, sedangkan penduduk Singapura
sendiri hanya 3 juta. Sehingga mereka masih tetap takut dengan kita.
Tetapi misalnya kita pecah menjadi sepuluh, sudah kecil, miskin, bodoh
lagi. Hal-hal seperti ini yang sesungguhnya harus kita diskusikan bersama.
Hal-hal yang besar menyangkut bangsa ini. Bukan berdebat tantang hal yang
berputar-putar di situ saja sedangkan keadaan rakyat tetap kelaparan dan
bangsa ini terancam disintegrasi.
Sebagai Menhan, untuk mengatasi masalah tersebut langkah-langkah yang
Anda atau pemerintah lakukan?
Reformasi harus tetap jalan terus dengan menjaga integrasi bangsa ini
secara fisik atau ideologi. Kemudian pemulihan perekonomian. Tugas
pertahan saat ini sangat berbeda dengan keadaan pada masa orba. Pada waktu
itu walaupun pendanaan bagi segi pertahanan kurang, namun keadaan di dalam
negeri itu kondusif selama 32 tahun.
Hal ini terjadi karena sikap represif
aparat terhadap setiap gejolak dalam masyarakat sehingga dengan demikian
penanggulangan yang semestinya mahal dapat menjadi lebih murah. Tetapi
keadaan sekarang berbeda, di mana kita saat ini sedang menegakkan
kebebasan demokrasi. Kita tidak bisa membatasi orang untuk membuat satsiun
TV baru, radio baru, majalah baru dan web site baru. Sehingga dengan
demikian konsekuensinya pendanaan pertahanan negara juga harus bertambah,
sebab harga sebuah demokrasi itu mahal apalagi hal keamanan. Kemudian
didukung juga dengan SDM aparat yang baik, sarana dan prasarana yang
memadai serta kesejahteraan aparat hukum yang di baik.
Kemudian dalam pelaksaan operasional menegakan keamanan harus berdasarkan
hukum, sehingga berbagai perundang-undangan yang diperlukan harus ada (contohnya
rancangan tentang undang-undang anti-terorisme). Sehingga penekanan kita
ke dalam adalah menciptakan aparat keamanan dan pertahan yang handal serta
profesional dalam anggaran yang cukup untuk kepentingan dalam negeri.
Saat ini antara jumlah aparat keamanan dan pertahanan dengan situasi dan
kondisi bangsa kita saat ini adalah tidak sepadan. Dari kurang lebih 220
juta penduduk, jumlah aparat kemanan dan pertahanan hanya sekitar 300 ribu.
Kemudian sarana dan prasarana yang sangat minim. Alhamdulillah saat ini
pemerintah mulai memperhatikan hal itu.
Itu merupakan langkah-langkah kita kerjakan ke dalam. Sedangkan langkah
keluar, kita menggalang kerjasama dengan negara demokrasi lainnya. Jadi
jika ada upaya untuk melakukan konfrontasi dengan Malaysia atau Amerika,
itu bagi saya merupakan tindakan kontra-produktif. Kita harus juga
realistis bahwa keadaan kita saat ini berbeda dengan kondisi pada waktu
merebut kemerdekaan, sehingga penanganan yang kita ambil juga harus
berbeda. Seperti saya dan anak saya sudah berbeda, pada waktu masih muda
kalau saya mempuyai celana yang sudah rusak saya jahit kembali, tapi
anak-anak sekarang beli celana baru yang robek di lutut. Kenapa kita harus
baik terhadap tetangga atau masyarakat internasional, karena jika tidak,
kita akan banyak mengalami kesulitan sendiri.
Bentrokan TNI dan Polri, bagaimana korelasinya dengan pemisahan kedua
institusi pertahanan dan keamanan ini?
Mengenai bentrokan antara TNI dan Polri di Binjai, saya menghimbau jangan
kita beranggapan bahwa TNI dan Polri itu semua jelek nilainya. Hanya
karena masalah yang sebenarnya kurangnya perhatian kesejahteraan aparat
dan kondisi psikologi di antara lembaga ini. Yang satu mengalami power
syndrome dan yang satu lagi merasa berkuasa berlebihan. ► e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Masuk ke Profil Matori Abdul Djalil
|
|