|
|
 |

Nama :
Marwah Daud Ibrahim
Lahir :
Soppeng, 8 Nopember 1956
Agama:
Islam
Suami:
Ibrahim Tadju
Anak:
Dian Furqani Ibrahim, Akmal Firdaus Ibrahim dan Bardan Raihan Ibrahim.
Ayah:
Muhammad Daud
Ibu:
Siti Rahman Indang
Pendidikan:
SMP Negeri Pacongkang 1970
SPG Negeri Soppeng dan SPG Negeri I Ujung Pandang 1973
Sarjana Fakultas Ilmu Sosial Politik Jurusan Komunikasi Universitas
Hasanudin (1981)
Master Komunikasi Internasional American University, Washington DC,
Amerika Serikat (1982)
Doktor Komunikasi Internasional American University, Washington DC,
Amerika Serikat (1989)
Pekerjaan:
BPPT
Anggota DPR/MPR RI
Organisasi:
Ketua DPP Partai Golkar
Sekretaris Umum ICMI
|
|
Marwah Daud Ibrahim
Penantang Akbar Paling Lantang
Ia memang penentang Akbar Tandjung yang cukup lantang. Sosoknya di DPR
memang tidak lepas dari kelompok dia berkumpul, Iramasuka. Sebuah kelompok
yang menglaim perwakilan dari Indonesia bagian Timur. Otomatis ia berada
satu blok dengan BJ Habibie, mantan presiden yang pernah merasa dikhianati
Akbar.
Perempuan ini mengawali hidupnya di pedalaman Soppeng, sebuah kecamatan di
wilayah Sulawesi Selatan, sekitar 200 kilometer Utara kota Makasar. Begitu
terpencilnya, maka ia terbiasa belajar dengan nyala lampu teplok. Bahkan
mengangkat batu dan pasir sebelum berangkat sekolah, dan ikut ke sawah
untuk bercocok tanam.
Anak kedua dari enam bersudara hasil perkawinan Muhammad Daud (almarhum),
dengan Siti Rahman Indang ini dikenal rajin membaca. Maklum, ayahnya guru
SD. Lahir dalam naungan rasi Scorpio, tepatnya 8 Nopember 1956.
Kecerdasannya dikenal sejak SD. Ia tak sampai kelas enam, karena begitu
menginjak kelas lima ia ikut ujian akhir, dan lulus sebagai juara. Marwah
muda kemudian melanjutkan ke SMP Negeri Pacongkang, dan lulus 1970.
Selanjutnya ia menginjakkan kakinya ke SPG Negeri Soppeng, Namun di kelas
dua dia pindah ke SPG Negeri I Ujung Pandang, lulus tahun 1973.
Era inilah ia mulai menapakkan kakinya ke jenjang yang lebih jauh, entah
disadari atau tidak. Di tahun 1974 untuk pertamakalinya dia berkunjung ke
Jakarta dan masuk Istana Negara atas undangan Kepala Negara. Ia terpilih
sebagai pelajar teladan se Sulawesi Selatan.
Ia banting setir, tidak lagi tergiur mengikuti ayahnya yang menjadi guru.
Ia melanjutkan ke Fakultas Ilmu Sosial Politik Jurusan Komunikasi
Universitas Hasanudin yang dirampungkannya tahun 1981. Seperti déjà vu, ia
kembali terpilih sebagai mahasiswa teladan se Sulawesi dan mengantarnya ke
forum nasional di Jakarta, bertemu kepala negara bersama para teladan se
Indonesia. Saat itu juga dia sudah mulai terkenal sebagai seorang
aktivisis di kampusnya.
Prestasinya belum berhenti. Ia terbang ke Amerika untuk meraih master di
American University, Washington DC, Amerika Serikat, jurusan Komunikasi
Internasional, tahun 1982. Tentu saja dengan bea siswa. Namun, sebelumnya
ia menikah dulu dengan Ibrahim Tadju, rekan sesama aktivis semasa kuliah
di Ujung Pandang. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai tiga anak, yakni
Dian Furqani Ibrahim, Akmal Firdaus Ibrahim dan Bardan Raihan Ibrahim. Di
Amerika ia pun mengisi waktunya dengan bekerja sebagai asisten peneliti
Unesco, dan Bank Dunia.
Tampaknya ia memang berjodoh dengan Amerika, begitu menggondol master, ia
bekerja di BPPT. Habibie, ketua BPPT saat itu, memberinya beasiswa ke
Amerika lagi. Di universitas yang sama, ia mengambil Komunikasi
Internasional bidang satelit. Ia akhrirnya menyandang gelar doktor di
tahun 1989 sebagai lulusan terbaik yang di Amerika Serikat dikenal dengan
sebutan Distinction.
Ia kembali tentu saja dengan kemantapan. Doktor di tangan dan Habibie di
depan. Tak urung ia terlibat dalam beberapa organisasi seperti ICMI (Ikatan
Cendekiawan Muslim Indonesia). Saat ini ia menjabat sebagai Sekretaris
Umum ICMI. Selain itu, tentu saja ia aktif di Golkar, partai yang
membawanya ke gedung parlemen yang sejuk. Polah tingkahnya di dunia
politik mulai dilirik ketika Sidang Umum MPR 1998. Waktu itu ia
digunjingkan akan meraih kursi di Kabinet Pembangunan IV. Kecakapannya
tidak diragukan, ia telah melewati tiga kali masa jabatan DPR. Namun ia
gagal.
Kedekatannya dengan Habibie bisa dimaklumi. Catatan hidupnya telah
menggariskannya untuk seiring dengan mantan Presiden yang sekarang
bermukim di Jerman ini.
Sedangkan Akbar Tandjung, Ketua Umum Partai Golkar, tidaklah memiliki
catatan yang bagus di mata Habibie. Ia dituding sebagai biang kerok
kegagalan Habibie meraih kursi presiden. Saat itu, Akbar bergerilya dan
justru menggandeng Poros Tengah. Maka, bisa ditebak sikap Marwah terhadap
Akbar.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Anggoro Gunawan-Tempo News Room
|
|