| |
C © updated 20102004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
|
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Martiono Hadianto
Lahir:
1944
Pendidikan:
Sarjana Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB)
Karir:
= Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia (1988-1989)
= Direktur Jenderal Bea dan Cukai
= Direktur Utama Pertamina (1998-2000)
= Presiden Komisaris PT Pertamina (2005)
|
|
| |
|
|
|
|
Martiono Hadianto
Preskom Pertamina
Martiono Hadianto (59), menggantikan Laksamana Sukardi menjabat Presiden
Komisaris PT Pertamina. Hasil keputusan rapat umum pemegang saham juga
mengganti tiga dari lima anggota dewan komisaris Pertamina, efektif 1
Februari 2005.
Mereka yang diganti itu adalah Laksamana Sukardi (komisaris utama) yang
mengundurkan diri pada November 2004, mantan Kepala BPPN Syafruddin A.
Temenggung (komisaris), dan mantan Dirjen Anggaran Depkeu Anshari Ritonga
(komisaris).
Dua komisaris lain tetap dipertahankan, yakni Roes Ariawijaya (deputi
men BUMN Bidang Industri Strategis, Pertambangan, dan Telekomunikasi) dan
Iin Arifin Takhyan (Dirjen Migas Departemen ESDM).
Berdasarkan keterangan pers Kantor Kementerian Negara Badan Usaha Milik
Negara (BUMN), Selasa (1/2), penggantian anggota dewan komisaris tersebut
adalah Muhammad Abduh menjadi komisaris menggantikan Syarifuddin A
Temenggung, Umar Said menggantikan Anshari Ritonga, sedangkan Roes
Aryawijaya dan Iin Takhyan tetap dipertahankan sebagai anggota.
Menurut Menteri Negara BUMN Sugiharto restrukturisasi komisaris Pertamina
dilakukan karena mantan Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi mengundurkan
diri. Pergantian komisaris Pertamina, direalisasikan karena setiap rapat
komisaris tak efektif akibat ketidakhadiran Laksamana. "Pak Laksamana
sudah mengajukan pengunduran diri sehingga perlu diganti," katanya.
Martiono Hadianto adalah lulusan sarjana Teknik Kimia Institut Teknologi
Bandung (ITB), pernah menjabat Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia
(1988-1989), Direktur Jenderal Bea dan Cukai, serta Direktur Utama
Pertamina (1998-2000).
Sementara jajaran direksi Pertamina untuk sementara belum diganti karena
masih menunggu hasil evaluasi kinerja 2004. "Apakah mereka menjalankan
restrukturisasi perusahaan dengan benar atau tidak. Jika tidak, akan saya
ganti," cetus mantan direktur keuangan PT Medco Energi Internasional Tbk
itu. "Saya akan lihat apakah program restrukturisasi ke depan juga
memerlukan profil direksi yang lebih baik dari sekarang atau tidak,"
lanjutnya.
Selama ini direksi dan komisaris PT Pertamina termasuk posisi "basah" di
kalangan BUMN. Berdasar keputusan Komite Remunerasi PT Pertamina, gaji
(take-home pay) komisaris utama Rp 75 juta dan komisaris Rp 60 juta per
bulan. Sedangkan gaji dirut ditetapkan Rp 150 juta dan direktur Rp 140
juta per bulan.
Saat ini Dirut Pertamina adalah Widya Purnama. Wakil Dirut dijabat Mustiko
Saleh. Lima direktur lainnya adalah Hari Kustoro (direktur Hulu), Arie
Soemarno (direktur pemasaran dan niaga), Soeroso Atmomartoyo (direktur
pengolahan), Alfred Roimone (direktur keuangan), dan Suprijanto (direktur
pengembangan dan SDM).
Dalam kesempatan itu, Sugiharto juga mengungkapkan bahwa tahun ini,
kegiatan usaha Pertamina akan diubah menjadi kegiatan usaha hulu
(upstream), hilir (downstream), dan distribusi. "Pemisahan itu dilakukan
untuk meningkatkan efisiensi dan profitabilitas Pertamina," ujarnya.
Dia menambahkan, pihaknya juga berencana memisahkan anak perusahaan
Pertamina yang tidak memiliki hubungan dengan core business Pertamina.
Misalnya, PT Pertamedika (rumah sakit), PT Patra Jasa (perhotelan dan
properti), PT Pelita Air Service (penerbangan), PT Pertamina Saving and
Investment (financing), dan PT Tugu Pratama Indonesia (asuransi). "Soal
proses divestasinya, saya serahkan ke manajemen Pertamina," terangnya.
Sugiharto menegaskan bahwa evaluasi kinerja tidak hanya berlaku bagi
Pertamina, tetapi juga seluruh BUMN. Konsekuensinya, para direksi BUMN itu
akan segera diganti.
"Kita akan evaluasi seluruh BUMN, apakah mereka menerapkan prinsip
pengelolaan perusahaan yang berbeda dari konsep kementerian BUMN atau
tidak," paparnya. "Dalam waktu dekat, saya juga akan mengganti beberapa
direksi BUMN," sambungnya.
Soal rencana pergantian direksi BUMN itu, Sugiharto menyatakan termasuk
direksi PT Garuda Indonesia dan PT Merpati Nusantara Airlines. Pergantian
tersebut bukan tanpa alasan.
"Saya lihat, kinerja Garuda dan Merpati memburuk. Cashflow-nya negatif dan
kerugian meningkat. Jadi, perlu dilakukan restrukturisasi terhadap
manajemennya," urainya. Selain itu, masa jabatan direksi Garuda saat ini
sebenarnya telah berakhir pada 15 Juni 2003.
Dia menilai, direksi dua BUMN penerbangan tersebut kurang cakap, tidak
sesuai dengan kriteria yang ditetapkan kantor kementerian BUMN. Para
direksi dua BUMN itu juga dinilai tidak berhasil memberikan nilai tambah
bagi perusahaannya. "Kita sepakat, masyarakat menginginkan pemimpin BUMN
yang lebih kompeten," ungkapnya.
Sugiharto mengakui, dalam tiga bulan terakhir, pihaknya sedang mempelajari
kinerja semua BUMN. Lalu, apa saja kesimpulannya? "Memang ada beberapa
BUMN yang mendesak untuk dilakukan penyegaran, seperti di Pertamina,"
katanya.
Tapi, dia menyatakan, pergantian direksi diprioritaskan pada posisi yang
lowong atau habis masa jabatannya. "Itu yang akan kita dahulukan. BUMN
juga perlu gerakan cepat untuk segera melakukan restrukturisasi, seperti
BUMN penerbangan," ungkapnya. Untuk direksi BUMN lain, termasuk BUMN
perbankan, dia mengaku sedang meninjau kinerja mereka. ►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|