| |
C © updated 12112004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Dra.
Maria Ulfah Anshor
Lahir:
Indramayu, 15 Oktober 1960
Suami:
Abdullah Ghalib
Anak:
Nida dan Syahid
Pendidikan:
Kuliah S2 Program Kajian Wanita, Pascasarjana Universitas Indonesia
Karier/Organisasi:
- 1989-1996 Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam)
NU
- 1990-1995 Litbang PP Fatayat NU
- 1995-2000, Ketua IV PP Fatayat NU membidangi ekonomi dan litbang
- 2000-2005 Ketua Umum PP Fatayat NU
Penghargaan:
Anugerah Saparinah Sadli 2004 atas penelitiannya berjudul Fiqih Aborsi
Alternatif untuk Penguatan Hak-hak Reproduksi Perempuan.
Sumber:
Ninuk M Pambudy, Kerja Panjang untuk Perempuan, Kompas 12 November 2004
|
|
| |
|
|
|
|
Maria Ulfah Anshor
Pejuang Kesetaraan Jender
Ketua Umum PP Fatayat NU, organisasi perempuan di bawah Nahdlatul Ulama (NU),
periode 2000-2005, dengan jumlah anggota empat juta, ini berjuang dalam
perspektif keadilan dan kesetaraan jender. Perjuangannya penuh tantangan,
yang membuatnya terkadang merasa frustrasi. Namun dia tetap kuat dan terus
berjuang.
Dia merasakan tantangan paling berat pada akhir tahun 1997 ketika berupaya
mencari sponsor untuk kegiatan memperkenalkan perspektif kesetaraan jender
tetapi memakai frame NU. Pada suatu lokakarya, dia ditanyai oleh seorang
kiai, apa maunya? Karena menurut kiai tersebut, teks keagamaan sudah
menghargai perempuan.
Lalu dia menjelaskan soal implementasinya. Di lokakarya itu
dia sampai disebut mengada-ada. Tetapi, ketika itu dia mendapat dukungan
dari Masdar F Mas’udi dan Gus Dur sehingga diskusi bisa terus berjalan.
Upayanya membuahkan hasil. Musyawarah nasional (munas) ulama NU, November
1997 di Lombok, akhirnya memutuskan membolehkan perempuan berperan di
ruang publik, yang diterjemahkan termasuk menjadi pemimpin negara.
Kemudian, peluang untuk menggunakan perspektif jender itu diwujudkan
menjadi visi dan misi Fatayat dalam kongresnya tahun 2000.
Namun, dia menjelaskan, hal itu bukan hasil kerjanya sendiri melainkan
hasil kerja bersama teman-temannya di Fatayat, di antaranya Aisyah Hamid
Baidlowi.
Setelah gagasan kesetaraan jender secara formal diterima, ternyata
implementasi di lapangan tidak mudah. Dalam Muktamar NU di Kediri (1999),
Fatayat ingin hasil penelitian mereka mengenai pemahaman nusyuz (penolakan
istri untuk melayani suami) yang bias jender di masyarakat berperan dalam
kekerasan dalam rumah tangga, masuk menjadi agenda bahsul masail (forum
yang membicarakan masalah aktual), hanya boleh dipresentasikan saja di
forum.
Pada munas di Pondok Gede, Jakarta Timur, 2002, Fatayat mencoba agar
aborsi masuk ke dalam bahsul masail, ternyata ada penolakan kuat dari
peserta. Begitu juga dalam Muktamar NU bulan Desember 2004, Fatayat ingin
mendesak agar pemimpin NU lebih punya perspektif jender dan lebih berpihak
pada permasalahan perempuan, juga menghadapi tantangan.
Akibat terlalu banyak menghadapi tantangan, Maria mengaku tidak jarang
merasa frustrasi. "Sudah berbicara berbusa-busa, kok belum terasa banyak
hasilnya," keluhnya.
Lahir di Indramayu pada tanggal 15 Oktober 1960, Maria dibesarkan di dalam
keluarga yang membedakan dengan tegas peran ibu dan ayah.
Isteri dari Abdullah Ghalib dan ibu dari dua anak, Nida dan Syahid, ini
setelah menikah, di rumah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga
sendiri karena tidak punya pekerja rumah tangga. Ketika anak pertama lahir
dan ibunya berkunjung, ibunya protes kepadanya karena suaminya mencuci
pakaian sendiri.
Tapi dia sangat berterima kasih kepada ayah-ibunya
yang mendidik dengan keras dalam hal pendidikan, namun membolehkannya
memilih jalan hidup sendiri. Hal mana, Maria bisa aktif dalam kegiatan
organisasi NU. Tahun 1989-1996 dia bergabung dengan Lembaga Kajian dan
Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU di bagian dokumentasi dan
informasi, lalu di kelompok asistensi teknis. ketika itu, dia lebih banyak
melayani perempuan, dalam pemberdayaan ekonomi.
Pada tahun 1990 dia juga bergabung di litbang Fatayat. Kemudian dalam
Kongres Fatayat tahun 1995, ia terpilih menjadi Ketua IV yang membidangi
ekonomi dan litbang. Lima tahun berikutnya, dalam Kongres Fatayat
tahun 2000, dia terpilih menjadi Ketua Umum Fatayat. Seharusnya
bulan Agustus lalu sudah kongres, tetapi karena ada pemilu kemudian
diundur. Rencananya, kongres diadakan Februari 2005," tutur Maria.
Keinginan memperdalam masalah perempuan dengan perspektif jender, telah
pula mendorongnya menyelesaikan S2 di Program Kajian Wanita Program
Pascasarjana Universitas Indonesia.
Atas dedikasi tinggi dan aktivitasnya di Fatayat dan dalam
penelitian, dia pun mendapat Anugerah Saparinah Sadli, yang diserahkan
langsung oleh tokoh perempuan Prof Dr Saparinah Sadli bulan Agustus
2004. Maria orang pertama kali menerima anugerah tersebut atas
penelitiannya berjudul Fiqih Aborsi Alternatif untuk Penguatan Hak-hak
Reproduksi Perempuan.
Maria melihat, ke depan persoalan yang dihadapi terasa semakin menantang,
antara lain karena munculnya usaha memformalkan syariat Islam di
daerah-daerah yang cenderung kembali ke pandangan tekstual dan lebih
menekankan kepatuhan fisik daripada melihat substansi di dalam teks
keagamaan.
Menghadapi kecenderungan itu, Maria, yang kini juga dipercaya menjadi staf
khusus (setingkat staf ahli) di Kantor Menko Kesra, melakukan sosialisasi
di antara anggotanya mengenai nilai-nilai Islam yang menghargai
keberagaman. Meskipun demikian, dia mengakui upaya itu baru bisa
menjangkau separuh anggotanya. Perihal perkawinan beda agama,
Maria Ulfah mengakui, di kalangan Islam selama ini ada perbedaan tafsir
soal boleh tidaknya pernikahan beda agama. Menurutnya, hal ini bagian yang
sifatnya khilafiyah, bagian yang pemaknaan, sehingga orang menafsirkannya
bermacam-macam. Karena ini bersifat khilafiyah, ini dikembalikan kepada
yang bersangkutan, dia mau memilih yang mana. "Kalau risiko-risikonya ada
menjadi konsekuensi dari pilihan," katanya sabaimana dikutip Rado
Nederland hasil Laporan Tim Liputan 68H, Jakarta, 14 Oktober 2004. ►mlp
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|