| |
C © updated
10122003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
rpr kompas |
|
| |
Nama:
Maria Margaretha Hartiningsih
Ayah:
Hartono (alm)
Ibu:
Roepiyatie (alm)
Pekerjaan:
Wartawan Senior Kompas
Sumber:
= Kompas, Sabtu 6 Desember 2003
|
|
| |
|
|
|
|
Maria Margaretha Hartiningsih
Wartawan Pejuang HAM
*Peraih Yap Thiam Hien Human Rights Award 2003
Untuk pertama kalinya seorang wartawan mendapat penghargaan Yap Thiam
Hien Human Rights Award 2003. Wartawan senior harian Kompas, Maria
Hartiningsih dinilai sebagai jurnalis yang sangat konsisten dalam
penulisannya memperjuangkan hak asasi manusia, yang penuh dengan kepekaan
dan komitmen membela mereka yang lemah dan terpinggirkan.
Perempuan yang akrab dipanggil Maria oleh teman-temannya atau Mbak Ning
oleh orang-orang terdekatnya, selalu serius dalam menggeluti bidang yang
ia harus tangani. Namun pada setiap bidang yang ditanganinya itu, ia tidak
pernah melepaskan unsur manusianya, terutama mereka yang harus menjadi
korban.
Maria misalnya, pernah bertugas lama meliput bidang pembangunan perumahan.
Ia bukan hanya dekat dengan para menteri seperti Siswono Yudho Husodo
ataupun Akbar Tandjung, tetapi juga dengan kalangan pengusahanya mulai
dari Ciputra, Enggartiasto Lukita, hingga Edwin Kawilarang. Namun
kedekatan itu tidak pernah mengurangi kekritisannya. Ia sangat keras
mengkritik pemerintah yang tidak menunjukkan keberpihakan kepada
masyarakat kecil yang membutuhkan naungan yang pantas ataupun para pegawai
negeri sipil yang praktis dilupakan untuk bisa memperoleh rumah yang harga
yang terjangkau.
Bukan hanya sekadar mengkritik, Maria selalu memberikan masukan-masukan
berdasarkan pengetahuan yang ia miliki.
"Bagi saya, Maria merupakan sosok wartawan yang selalu memberi inspirasi.
Sebab, ia memang bukan tipe wartawan yang hanya tahu kulit dari persoalan
yang ia sedang geluti, tetapi juga dengan kedalaman. Ia tipe orang yang
bekerja sekadar dengan tenaga, waktu, dan pikiran, tetapi juga dengan
perasaan," ujar Siswono menilai sosok Maria, yang sejak menjadi Menteri
Perumahan Rakyat pada tahun 1988 selalu menjadi lawan dalam berpikir.
Ketika ditugaskan untuk meliput sektor pariwisata, Maria dengan sengaja
memilih untuk tidak hanya melihat sisi glamour dari dunia pariwisata itu.
Ia juga mengingatkan sisi negatif dari pariwisata, yang juga menimbulkan
maraknya perdagangan anak dan perempuan untuk dijadikan pekerja seks.
Maria sangat tidak suka hanya melihat pariwisata dari sisi perolehan
devisa semata. Dengan data yang kuat dan penggumpulan fakta di lapangan,
ia mampu menunjukkan bahwa miliran dollar devisa yang ada di atas kertas,
seringkali tidak dinikmati oleh negara berkembang dan bahkan negara
berkembang justru dirugikan.
Cara penyampaian yang apa adanya, seringkali membuat merah telinga dan
marah para pelaku dunia pariwisata. Namun Maria tidak pernah mundur pada
sikapnya dan terus menyuarakan keberpihakannya kepada mereka yang hanya
menjadi korban.
Begitu banyak bidang yang pernah diliputkan selama kiprahnya sejak tahun
1985 menjadi wartawan. Mulai dari urusan perumahan rakyat, pariwisata,
lingkungan, hingga isu gender. Namun inti dari semua bidang liputannya itu
adalah kemiskinan dan hak dari semua orang untuk mendapatkan kehidupan
yang lebih baik.
Ketika sudah sampai kepada persoalan itu, maka bagi Maria tidak ada kata
menyerah. Tahun 1997, bersama rekan wartawan Sjamin Pardede, ia melihat
dari dekat kehidupan anak-anak di Deli Serdang, yang bekerja di
jermal-jermal di tengah laut untuk menangkap ikan teri. Maria ingin
mengingatkan betapa ikan teri Medan, yang begitu enak dinikmati itu
ternyata berasal dari usaha keras anak di bawah umur, yang bukan hanya
harus meninggalkan keluarganya, tetapi juga mempertaruhkan nyawa di tengah
hantaman ombak dan kehidupan yang sangat keras.
Sekaligus Maria ingin mengingatkan akan hak anak untuk bermain dan
mendapatkan pendidikan yang memadai. Atau kalau pun tidak ada pilihan bagi
anak-anak itu, janganlah tenaga yang mereka keluarkan tidak dihargai
sebagaimana mestinya.
DI tengah ketegaran dan sikapnya yang selalu kukuh, putri pasangan
almarhum Hartono dan almarhumah Roepiyatie itu tetap seorang perempuan. Ia
bisa menitikkan air matanya, ketika dihadapkan pada keadaan yang
mengharukan, apalagi ketika melihat kemiskinan dan ketidakadilan.
"Maria merupakan tipe orang yang bisa bergembira ketika ada momen yang
menyenangkan, tetapi terharu ketika ada sesuatu yang menyentuhkan. Saya
pernah melihat dia menitikkan air matanya saat ia melihat sekumpulan
anak-anak yang hanya bisa berlarian di kawasan yang kumuh, dengan perut
yang buncit dan kaki yang telanjang," ujar Siswono mengenang Maria.
Siswono tidak merasa heran apabila Maria kemudian mendapatkan Penghargaan
Yap Thiam Hien, sebuah penghargaan atas pengabdian di bidang hak asasi
manusia. "Maria pantas mendapat perhargaan itu karena ia menjalankan
tugasnya sebagai wartawan dengan penuh dedikasi," ujar Siswono.
Dewan Juri Yap Thiam Hien Award 2003 yang diketuai oleh Prof Soetandyo
Wigjosoebroto dengan anggota Prof Dr Azyumardi Azra, Dr Harkristuti
Harkrisnowo, dan Asmara Nababan SH , menjelaskan, penghargaan itu
diberikan karena Maria secara konsisten melalui tulisan-tulisannya
memperjuangkan ide-ide kemanusiaan dan hak asasi manusia. Maria dinilai
juga secara sungguh-sungguh mendorong jurnalisme damai.
Menurut dewan juri, Maria adalah wartawan yang mampu mendayagunakan peran
dan pribadinya dalam tugas mendiseminasi ide kemanusiaan dan hak manusia
yang asasi.
Maria adalah seorang jurnalis yang ikut pula mendorong peace journalism
yang belum banyak diikuti oleh jurnalis lainnya. Ia terbilang konsisten
dalam penulisannya, bukan hanya yang berkenaan dengan hal-hal yang ada
sangkut pautnya dengan soal dunia dan jendernya sendiri, tetapi juga
hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan dunia manusia yang selalu menjadi
korban kekerasan dan kerasnya hidup di dunia ini.
Maria terbilang sosok seorang profesional yang cukup konsisten dalam
perjuangannya sebagai wartawan dan lewat tulisannya bahwa hak perempuan
adalah hak asasi manusia. Tak hanya menulis soal kekerasan terhadap
perempuan, Maria juga memiliki kepedulian terhadap perilaku remaja, HIV/
AIDS, perdagangan anak dan perempuan, kekerasan pemilu, hingga ihwal
demokrasi dan civil society.
"Maria adalah seorang jurnalis yang tidak pernah lelah mengingatkan kita
akan masih banyaknya kekerasan dalam kehidupan kita ini. Ia pun dapat
mengajak kita untuk melihat isu yang berkaitan dengan kehidupan manusia
korban. Di tengah kehidupan jurnalisme yang lebih banyak dan lebih suka
menyebarluaskan tulisan mengenai kekerasan dengan bahasa yang sering jauh
dari kalimat santun, jurnalisme yang dianut Maria secara konsisten ini
sesungguhnya belum banyak," kata Soetandyo.
Penghargaan Yap Thiam Hien diberikan pertama kali tahun 1992 dan diterima
Haji Muhidin, Johny Simanjuntak, dan HJC Princen. Penerima lainnya adalah
Marsinah (1993), Trimoelja D Soerjadi (1994), petani Jenggawah dan Ade
Rostina Sitompoel (1995), Romo Sandyawan Sumardi (1996), Kontras dan
Farida Hariyani (1998), Sarah Lerry Mboeik dan Mama Yosefa Alomang (1999),
Urban Poor Consortium (2000), Suraiya Kamaruzzaman dan Ester Jusuf Purba
(2001), dan terakhir Wiji Thukul (2002). Tahun 1997 tidak ada pemberian
penghargaan.
Penetapan Maria sebagai penerima Penghargaan Yap Thiam Hien disambut
positif kalangan wartawan. Maria merupakan wartawan pertama yang menerima
penghargaan sejak penghargaan itu diberikan tahun 1992.
Pemimpin Redaksi Sinar Harapan Aristides Katoppo secara khusus menelepon
khusus Kompas untuk menyampaikan selamat. "Dia pantas untuk mendapatkan
itu. Kalau pun saya menjadi salah satu jurinya, I would vote for her,"
ujar Katoppo. *
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|