| |
C © updated
02092007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Mardiyanto M
Lahir:
Solo, 21 November 1946
Agama:
Islam
Jabatan:
- Menteri Dalam Negeri 2007-2009
- Gubernur Jawa Tengah 1998-2008
Pendidikan:
Akabri 1967-1970
Karir:
- Panglima Kodam IV/Diponegoro (1997-1998)
- Anggota MPR Utusan Daerah
- Gubernur Jateng (1998-2008)
- Menteri Dalam Negeri 2007-2009
Alamat:
Jl Medan Merdeka Utara No. 7, Jakarta Pusat 10110
Alamat Kantor Gubuernur Jateng:
Jl. Pahlawan 9 Semarang
Telp. 8311150, 8311166, 8311174 Ps. 201
Alamat Rumah:
Wisma Perdamaian
Jl. Imam Bonjol 209 Semarang
Telp. (024) 3511653, 3511778
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Mardiyanto
Putra Pengawas Merapi
Indopos, Minggu, 02 Sept 2007: Pengangkatan Mardiyanto sebagai menteri
dalam negeri (Mendagri) menggantikan M. Ma’ruf yang sakit memang bisa
diprediksi sebelumnya. Namun, penunjukan gubernur Jawa Tengah (Jateng)
itu tetap "mengejutkan" bagi sebagian masyarakat.
Itu bisa jadi karena selama hampir 10 tahun terakhir, Mardiyanto lebih
dikenal sebagai orang daerah. Apalagi selama menjadi orang nomor satu di
Jateng, dia sempat "didekati" KPK.
Sudah barang tentu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak
seperti memilih kucing dalam karung saat menunjuk putra pengawas Gunung
Merapi itu. Sebab, pria kelahiran Surakarta, 21 November 1946 tersebut
pernah menjadi bawahan SBY.
Isu pengangkatan Mardiyanto menjadi Mendagri santer terdengar sejak
lama. Persisnya berbarengan dengan pergantian kabinet beberapa bulan
lalu. Isu itu muncul setelah SBY mengangkat Diah Anggraheni sebagai
Sekjen Depdagri. Diah adalah mantan anak buah Mardiyanto, yaitu sebagai
kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jateng.
Pengangkatan Diah itu sering diartikan sebagai langkah persiapan SBY
untuk menduetkan dua orang yang telah lama bekerja sama tersebut.
Apalagi selama ini Mardiyanto juga dikenal dekat dengan SBY.
Pada 1998, selepas menjabat Pangdam IV/Diponegoro, Mardiyanto dipercaya
menjadi Assospol Kassospol ABRI. Saat itu, yang menjadi Kassospol ABRI
adalah SBY. Tak lama setelah itu, Mardiyanto terpilih menjadi gubernur
Jateng lewat pemilihan di DPRD Jateng. Dia mengakhiri karir militer
dengan pangkat terakhir mayjen TNI.
Meski dilahirkan di Surakarta, masa muda Mardiyanto banyak dihabiskan di
Jogjakarta. Sejak SD hingga SMA, dia tinggal bersama ayahnya yang
bertugas sebagai pengawas Gunung Merapi di Jogjakarta. Selepas SMA, dia
mendaftar ke Akademi Militer Nasional dan diterima di Akabri Darat.
Mardiyanto lulus pada 1970.
Di awal tugasnya (1971), Mardiyanto berkenalan dengan seorang asisten
apoteker bernama Effi Murbayati (kelahiran 1950), yang kemudian
berlanjut ke pelaminan pada 18 Agustus 1974. Dari pernikahan itu,
Mardiyanto dikaruniai dua putra, yakni Indra Gunawan (1975) dan Bayu
Widiatmoko (1978).
Karir militer Mardiyanto cukup mulus. Pada 1985-1987, dia dipercaya
menjadi komandan Batalyon Infanteri 725 Ujungpandang. Selanjutnya, dia
menjadi Dandim 1412 Ujungpandang (1987-1988) dan Dandim 1408/BS
Ujungpandang (1988-1989).
Karirnya terus melejit. Pada 1994, dia dipercaya menjadi Danrem 121/ABW
Pontianak. Pada 1995-1997, Mardiyanto ditugasi menjadi wakil gubernur
Akademi Militer di Magelang sebelum diangkat menjadi Panglima Kodam IV/Diponegoro.
Sebagai gubernur Jateng, Mardiyanto berhasil menjalankan tugas
(1998-2003) dengan baik. Karena itu, dia kembali dipercaya memimpin
Jateng untuk periode 2003-2008 yang berpasangan dengan Ali Mufiz. Dia
mengalahkan dua kandidat lain, yakni Mardijo (ketua DPRD Jateng saat itu)
dan Mayjen TNI (pur) Slamet Kirbiantoro.
Rupanya, keberhasilannya memimpin Jateng itu membuka jalan ke posisi
yang lebih tinggi. Pada 28 Agustus 2007, Presiden SBY memilih Mardiyanto
menjadi Mendagri. Sehari setelah pengumuman tersebut, SBY secara resmi
melantiknya menjadi Mendagri.
Beberapa jam sebelum ditetapkan menjadi Mendagri oleh presiden Selasa
(28/8) lalu, Mardiyanto masih mengikuti rapat paripurna dengan agenda
penandatanganan Kerangka Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas dan Plafon
Anggaran (PPA) APBD Jateng 2008.
Saat itu, dia menyatakan tidak pernah berangan-angan, apalagi minta
jabatan menjadi Mendagri. Tapi, Mardiyanto siap melaksanakan tugas apa
pun yang dipercayakan kepadanya. "Dengan dasar untuk kepentingan bangsa
dan negara," tegasnya.
Tugas Nendagri saat ini, lanjut Mardiyanto, sangatlah berat. Masih
banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu singkat. Misalnya,
revisi UU 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah terkait dengan putusan
Makamah Konstitusi soal calon independen dalam pilkada.
Selain itu, komunikasi antara pemerintah pusat dan daerah masih perlu
ditingkatkan. "Saya mohon doa restu mudah-mudahan bisa mengemban tugas
dengan baik," katanya.
Seusai dilantik menjadi Mendagri oleh presiden Rabu (29/8) lalu,
Mardiyanto berjanji segera menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah (PR)
di Depdagri. Menurut dia, ada dua hal cukup berat yang harus
diselesaikan. Yakni, bidang politik dan pemerintahan.
Di bidang politik, dia tidak akan terjebak dalam program 100 hari. Sebab,
100 hari akan habis pada Desember 2007 mendatang.
Sekjen Depdagri Dyah Anggraeni mengakui bahwa banyak PR yang harus
diselesaikan Mardiyanto hingga akhir tahun ini. "Jangka pendek harus
selesai paket RUU Politik. Tanggal 5 September beliau (Mardiyanto, Red)
harus pansus di DPR. Sebab, itu harus selesai akhir tahun ini," tutur
mantan kepala Disnakertrans Provinsi Jateng itu.
Mengenai tuduhan terlibat korupsi saat menjabat gubernur Jateng,
Mardiyanto menjelaskan bahwa yang dituduhkan adalah proses administrasi
yang sedang berjalan. Selain itu, APBD 2003 yang dikaitkan dengan
penyalahgunaan dana Rp 36,5 miliar secara prosedural telah disahkan dan
dibetulkan BPK dan BPKP.
"Demo-demo itu memang kontrol sosial, tapi lebih baik lagi bila disertai
data dan fakta," tegasnya.
Mardiyanto mengakui, pada 1 Februari 2007, dia memang datang ke Kantor
Komisi Pemberantasan Pemilu (KPK). Sekitar 12 jam, dia berada di tempat
tersebut. Mardiyanto mengaku hanya dimintai klarifikasi, bukan diperiksa
sebagai tersangka.
Oleh penyidik KPK, dia diminta memberikan dua macam klarifikasi. Yang
pertama, soal proses penyusunan anggaran dan yang kedua menyangkut
penggunaan dana. Kepada penyidik KPK, Mardiyanto menjelaskan bahwa
proses penyusunan anggaran itu cukup panjang. Mulai usul masyarakat di
kabupaten/kota, proses di persidangan DPRD, hingga keluar dalam bentuk
APBD.
Klarifikasi kedua terkait dengan penggunaan dana pada pos gubernur yang
dipergunakan untuk kepentingan publik. Sebab, kata dia, saat itu tidak
semua program dapat diungkap dalam daftar alokasi sasaran setiap tahun
berjalan.
"Misalnya, untuk membeli alat pemadam kebakaran. Tapi, itu atas usul
kabupaten terkait dan pertimbangan gubernur," tutur Mardiyanto. Yang
jelas, dia mengaku telah menjelaskan semuanya kepada penyidik KPK.
Hal lain yang juga mendapat perhatian publik Jateng saat Mardiyanto
menjadi gubernur adalah agenda kunjungan ke Taiwan bersama sejumlah
pengusaha Jateng pada 15-18 Mei 2006. Banyak pihak, termasuk DPRD Jateng,
menilai bahwa kunjungan gubernur ke Taiwan itu merupakan sikap yang
tidak konsisten.
Sebab, pada 14 Maret 2006, gubernur mengeluarkan surat No 094/4766 yang
menyatakan bahwa pejabat pemerintah pusat maupun daerah tidak diizinkan
melakukan kunjungan resmi atau perjalanan dinas ke Taiwan. Hal itu
terkait dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang menganut kebijakan
satu China. Artinya, pemerintah hanya mempunyai hubungan diplomatik
dengan Tiongkok, bukan Taiwan. Apalagi saat itu hubungan Indonesia
dengan Tiongkok agak terganggu karena Presiden Taiwan Chen Shui Bian
singgah di Batam, empat hari sebelum rombongan gubernur berangkat ke
Taiwan.
Meski demikian, secara umum Mardiyanto dinilai berhasil dalam memimpin
Jateng. Tak ada gejolak yang berarti di Jateng saat berada di bawah
kepemimpinannya. Hal itu diakui Wakil Ketua DPRD Jateng Hisyam Alie.
Menurut dia, Mardiyanto merupakan sosok gubernur dengan jiwa
kepemimpinan tinggi serta merakyat. Kepribadiannya yang kalem membuat
dia disenangi banyak pihak.
Hisyam menilai, keputusan Presiden SBY memilih Mardiyanto sebagai
Mendagri sudah melalui pengkajian matang dengan mempertimbangkan
integritas dan kapabilitas Mardiyanto. "Saya yakin Pak Mardiyanto dapat
menjalankan amanah bangsa dengan sebaik-baiknya. Meski dia dituntut
untuk segera tancap gas, menjalankan tugas-tugas berat yang sudah
menantinya," jelas Hisyam.
Kedekatan Mardiyanto dengan rakyat sudah menjadi rahasia umum di Jateng.
Tak jarang, Mardiyanto melakukan kunjungan mendadak untuk merasakan
detak kehidupan rakyat. Bahkan, dia tak segan-segan menginap di rumah
masyarakat biasa.
Gebrakan lain, sejak 1998, secara rutin dia juga menyapa dan menyerap
aspirasi masyarakat lewat program Hallo Gubernur yang secara rutin
disiarkan RRI. Berkat kegiatan itu, dia masuk Museum Rekor Indonesia (Muri)
sebagai gubernur yang paling banyak menyapa masyarakat lewat siaran
radio sebanyak 87 kali.
Muri juga memberikan sertifikat kepada Mardiyanto sebagai gubernur
pertama yang mampu menyampaikan pokok pikiran, kebijakan, dan aspirasi
yang dikemas dalam sebuah album rekaman musik. Kedua sertifikat Muri itu
diserahkan pada 15 Agustus lalu bertepatan dengan HUT ke-57 Provinsi
Jateng.
Menyanyi memang menjadi salah satu hobi Mardiyanto, terutama lagu-lagu
campursari. Tak jarang, dia menyumbangkan suara emasnya dalam berbagai
acara. Dia juga telah mengeluarkan lima album rekaman.
Empat album berisi lagu-lagu campursari. Satu album terakhir yang
diluncurkan 15 Agustus lalu berisi lagu-lagu perjuangan gubahan Ismail
Marzuki. Dalam album kelimanya itu, sang istri, Effi Murbayati, juga
turut menyumbangkan suara lewat lagu Sersan Mayorku. (Pratono) ► ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|