| |
C © updated
29082007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Mardiyanto M
Lahir:
Solo, 21 November 1946
Agama:
Islam
Jabatan:
- Menteri Dalam Negeri 2007-2009
- Gubernur Jawa Tengah 1998-2008
Pendidikan:
Akabri 1967-1970
Karir:
- Panglima Kodam IV/Diponegoro (1997-1998)
- Anggota MPR Utusan Daerah
- Gubernur Jateng (1998-2008)
- Menteri Dalam Negeri 2007-2009
Alamat:
Jl Medan Merdeka Utara No. 7, Jakarta Pusat 10110
Alamat Kantor Gubuernur Jateng:
Jl. Pahlawan 9 Semarang
Telp. 8311150, 8311166, 8311174 Ps. 201
Alamat Rumah:
Wisma Perdamaian
Jl. Imam Bonjol 209 Semarang
Telp. (024) 3511653, 3511778
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Mardiyanto
Ikut Jejak Soepardjo Rustam
Suara Merdeka 29/08/2007: JABATAN Gubernur Jateng seakan menjadi ''kawah
candra dimuka'' bagi seorang pejabat tinggi. Siapa bisa menyangkal? H
Mardiyanto, gubernur Jateng dua periode, akhirnya dipilih Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono menggantikan M Ma'ruf sebagai Mendagri.
Sebelumnya, Gubernur Jateng H Soepardjo Rustam (periode 1974-1983)
dipercaya oleh Presiden Soeharto sebagai Mendagri pascalengser dari
tampuk pimpinan tertinggi di provinsi yang berbatasan dengan Jatim, DIY,
dan Jabar itu.
Soepardjo, lahir di Sokaraja, 12 Agustus 1926. Pendidikan Seskoad
Bandung. Saat menjadi gubernur Jawa Tengah, kiprahnya yang spektakuler
ialah menjadikan Jawa Tengah sebagai Benteng Pancasila dan Basis
Pembangunan.
Beberapa pendapa kabupaten/kantor Bupati dibangun demi peningkatan
pelayanan masyarakat. IAIN Walisongo yang semula di Jalan Ki
Mangunsarkoro diboyong ke Jalan Ngaliyan. Sementara, Mardiyanto yang
lulusan Akademi Militer Nasional tahun 1970 itu tepat dipilih Presiden
SBY mengemban amanah menggantikan M Ma'ruf.
Selama menjabat sebagai gubernur periode 1998-2008, pria kelahiran
Surakarta, 21 November 1946 ini mampu membawa Provinsi Jawa Tengah
menjadi kondusif, aman, dan pencapaian hasil pembangunan menggembirakan.
Lihat! Pembangunan masjid terbesar di Jateng, yakni Masjid Agung Jawa
Tengah (MAJT) yang menelan biaya ratusan miliar rupiah pun selesai
dengan ditandai peresmian oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 11
November 2006 lalu.
Sebentar lagi akan terealisasi tol Semarang-Solo, yang telah ditandai
dengan terbentuknya konsorsium antara PT Jasa Marga dan PT Sarana
Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) dengan nama PT Trans Marga Jateng.
Isyarat Pamitan
Sejak awal banyak yang menduga karier mantan Panglima Kodam IV/Diponegoro
(1997-1998) itu bakal cemerlang. Saat tasyakuran peringatan HUT Ke-62 RI
dan Hari Jadi Ke-57 Jateng di Gradhika Bakti Praja Jl Pahlawan, beberapa
waktu lalu secara tersirat dia berpamitan.
''Sebagai gubernur, saya sampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh
lapisan masyarakat Jateng atas dukungan dan peran aktif yang telah
disumbangkan untuk bangsa dan negara, khususnya untuk provinsi yang kita
cintai ini,'' katanya dalam acara yang dihadiri unsur Muspida Jateng itu.
Pihaknya juga meminta rumusan visi Provinsi Jawa Tengah yang dibentuk
pada masa kepemimpinannya dapat dijadikan sebagai semangat dan jiwa
dalam melaksanakan pembangunan di masa mendatang, termasuk gubernur
terpilih dalam Pilgub 2008.
Mardiyanto merupakan gubernur Jawa Tengah pada periode 1998-2003 dan
kemudian terpilih lagi untuk periode 2003-2008 berpasangan dengan H Ali
Mufiz MPA (pengurus PW NU Jateng) dan mengantongi 62 suara dari 99 suara
yang ada di DPRD Jateng. Dia mengalahkan dua kandidat lain yakni Mardijo
(Ketua DPD I PDI-P) dan Mayor Jenderal (Purn) Slamet Kirbiantoro.
Terpilihnya Mardiyanto sebagai Mendagri akan mengubah peta politik dalam
Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2008 kelak. Meski telah ''naik pangkat'' ke
Jakarta tentu ada memori tersendiri bagi putra terbaik Solo ini saat
berkunjung ke Jateng.
Njawani
Tenang dan kalem itulah Mardiyanto. Meski digembleng secara militer,
keseharian Mardiyanto tidak terkesan sangar. Bahkan nyaris tak tercermin
bahwa dia pernah digodok di "kawah candradimuka" Akademi Militer
Magelang.
Saat masih menjabat sebagai Wakil Gubernur Akademi Militer, nyaris tak
ada warga masyarakat Magelang mengira, seorang berpenampilan kalem yang
tengah berbelanja di toko di kota itu adalah Brigadir Jenderal
Mardiyanto.
Ketenangan dan kekaleman itu pula yang membuat kamtibmas di Jateng
kondusif, sejak dia menjabat sebagai orang nomor satu di wilayah ini.
Saat menjadi gubernur Jateng dia menerapkan model kepemimpinan njawani,
manjing ajur ajer, andhap asor (low profile), menempatkan diri sebagai
bapak seluruh rakyat, sehingga mampu berintegrasi dan dicintai oleh
segenap elemen masyarakat.
Untuk melancarkan komunikasi dengan rakyat, bapak dua anak ini secara
rutin berinteraksi dengan masyarakat melalui program "Hallo Gubernur" di
Radio Republik Indonesia (RRI).
Kini ia didapuk oleh SBY untuk mengisi pos Mendagri. Banyak yang
menyambut positif pemilihan tersebut. Sosoknya yang tidak meledak-ledak,
loyal kepada atasan, dan cerdas dinilai akan cocok dengan SBY.
Mardiyanto masuk Sekolah Rakyat tahun 1958 dan tahun 1965 lulus dari SMA
jurusan Pal. Pada tahun 1970 lulus dari Akabri (Akademi Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia) Magelang.
Berpangkat Letnan Dua sejak 1 Desember 1970, dan beberapa saat kemudian
berumah tangga dengan menyunting Effi Nurbayati. Sekarang, pasangan ini
dikaruniai dua anak.
Karier militer sosok yang menguasai bahasa Jawa, Sunda dan Inggris ini
terbilang mulus. Alumnus Lemhannas, pernah bertugas di Vietnam,
Singapura, dan Thailand.
Pernah mengemban beberapa tugas operasi. Di antaranya adalah Operasi
Wibawa di Timtim tahun 1975/1976, tahun 1978 hingga 1984 bertugas di
Timtim.
Riwayat kepangkatannya meyakinkan. Dari Letda tahun 1970, menjadi Lettu
1974. Dua tahun kemudian, 1 April 1976, menjadi Kapten. Pangkat Kapten
hingga 198, menjadi Mayor. Lima tahun kemudian (1986) menjadi Letkol.
Pangkat kolonel diperolehnya mulai 1 Oktober 1992 dan, 1 Maret 1995
sudah menjadi Perwira Tinggi dengan pangkat Brigjen. (Widodo Prasetyo,
Dicky Prianto, Maratun Nashihah/Pusdok SM-77) ► ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|