| |
C © updated 22122008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/marjuka |
|
| |
BIODATA
Nama:
dr Mangantar Marpaung, MS., MM Kes
Lahir:
Porsea, 14 Maret 1952
Agama:
Kristen Protestan
Isteri:
Timoria Hutabarat, SKM., MM (Pegawai Departemen Kesehatan RI)
Anak:
1. Adria Benget Parulian Marpaung, (Pegawai Departemen Keuangan
RI/Bea Cukai)
2. Yoga Mula Hasonangan Marpaung, SE (Karyawan Bank Niaga)
3. Johanes Christian Pansamotan Marpaung (Mahasiswa semester V. FK UKI)
Ayah:
….. Marpaung
Ibu:
…. Boru Hutabarat
Pendidikan:
1. Lulus Sekolah Dasar: tahun 1965 (Rantau Parapat)
2. Lulus Sekolah Menengah Pertama: tahun 1968 (Rantau Parapat)
3. Lulus Sekolah Menengah Atas: tahun 1971 (Rantau Parapat)
4. Lulus Dokter Umum: tahun 1986
5. Lulus Magister Ilmu Kedokteran Dasar Pascasarjana UI: tahun 1993
6. Lulus Magister Manajemen Rumah Sakit (MMKes) Sekolah Tinggi Manajemen
“IMNI” Jakarta: tahun 2007
Karir:
1. Asisten Dosen Bagian Patologi Anatomi FK UKI Jakarta, sejak
tahun 1977
2. Dosen Bagian Patologi Anatomi FK UKI Jakarta, sampai tahun 1999
3. Pelaksana Harian UGD RS FK UKI, sejak tahun 1986
4. Kepala Bidang Pelayanan Medik RS FK UKI, 1995 -1999
5. Dokter Jaga (RMO) di RS Siloam Lippo Karawaci sejak Feb 1999
6. Manager rawat jalan RS Siloam Lippo Karawaci, 2001 – 2004
7. Deputy Head of Division AMA (Wakil Direktur Medik) RS Siloam Lippo
Karawaci 2004 – sekarang
8. Dosen Bagian Patologi FK UPH sejak tahun 2003 – sampai sekarang
9. Dosen Pasca Sarjana Magister Manajemen Sekolah Tinggi Manajemen IMNI,
2007 – sekarang
Organisasi:
1. Pernah menjabat Ketua I Senat Mahasiswa FK UKI Jakarta
2. Pernah menjabat Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa FK UKI Jakarta
3. Pernah menjabat Sekjen Dewan Mahasiswa UKI Jakarta
4. Pernah menjabat Ketua Bidang Kesejahteraan Mahasiswa di BKK FK UKI
Jakarta
5. Wakil Ketua IPK (Ikatan Pemuda Karya) Dewan Pimpinan Daerah (DPD)
Provinsi Banten, 2006 -2010
6. Ketua Ikatan Keluarga Kristen Labuhan Batu di Jakarta, sejak Oktober
2006 – sampai sekarang
7. Ketua Komisi Pembiayaan Kesehatan Dewan Kesehatan Kabupaten Tangerang
2005 – 2009
8. Ketua Departemen Pemuda DPP PDS, 2007 – 2010
Alamat:
Jl. Transformator V Blok A 36 No. 98, Perumahan Antilope Maju (Komplek
PLN) Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat
|
|
| |
|
|
|
|
| MANGANTAR HOME |
|
|
 |
dr. Mangantar Marpaung, MS, MMKes
Pengabdian Tanpa Batas
Setelah mengabdi sebagai dosen dan dokter selama hampir 30 tahun, dr.
Mangantar Marpaung, MS, MMKes, lulusan Magister Ilmu Kedokteran Dasar,
Pascasarjana UI, yang sejak 2004 menjabat Deputy Head of Division AMA (Wakil
Direktur Medik) RS Siloam Lippo Karawaci, ini berobsesi memperluas
pengabdian untuk ikut aktif dalam proses pengambilan keputusan di negeri
ini, terutama dalam bidang kesehatan dan pendidikan, baik sebagai
anggota legislatif maupun eksekutif. Baginya, pengabdian itu tanpa batas
profesi, agama atau kelompok.
Dosen Bagian Patologi Anatomi FK UKI (Fakultas Kedokteran Universitas
Kristen Indonesia, sejak 1979) dan Dosen Bagian Patologi FK UPH (Fakultas
Kedokteran Universitas Pelita Harapan, sejak 2003), ini pun memilih
lewat jalur partai politik (Partai Damai Sejahtera - PDS) untuk menjadi
anggota DPR. Oleh partai peserta Pemilu 2009 bernomor urut 25, ini
Mangantar dicalonkan pada nomor urut 2 dari Daerah Pemilihan (Dapil) 3
Provinsi Banten.
Ia memilih lewat PDS, lantaran partai ini punya misi menciptakan
kedamaian dan kesejahteraan untuk umat manusia, tanpa batas dan sekat
agama atau kelompok. Baginya, agama adalah urusan pribadi dengan Tuhan.
“Saya masuk di komuniti ini, karena kita masing-masing mau membicarakan
kebenaran, damai dan sejahtera bagi semua orang,” ujar penganut agama
Kristen Protestan ini.
Jika terpilih menjadi anggota DPR, Ketua Komisi Pembiayaan Kesehatan
Dewan Kesehatan Kabupaten Tangerang (2005 – 2009) dan Ketua Departemen
Pemuda DPP PDS (2007 – 2010) ini berobsesi dapat berperan aktif dalam
komisi yang membidangi kesehatan, kalau mungkin menjadi ketua komisi.
Dan jika diberi kesempatan mengabdi di eksekutif, ia merasa akan bisa
berperan optimal sebagai Menteri Kesehatan. Atau mungkin mengabdi
menjadi Bupati Labuhan Batu.
Dalam pengabdian sebagai dosen dan dokter selama ini, ia sangat gelisah
melihat kondisi orang miskin di negeri ini. Sebagai seorang dokter yang
sering kali diperhadapkan pada suatu masalah dilematis sebagai akibat
kemiskinan yang membelenggu jutaan rakyat negeri ini, ia berharap jangan
ada lagi orang miskin mati konyol. Paling tidak harus diketahui penyebab
penyakitnya. “Sehingga kita bisa mencegah supaya jangan ada lagi korban
yang berjatuhan,” katanya dalam percakapan dengan Wartawan Tokoh
Indonesia, 6 September 2008 di RS Siloam Karawaci Tangerang, Banten.
Tokoh yang gemar berorganisasi ini melihat, pasti ada sesuatu yang tidak
benar dari masih adanya anggapan kena santet, kena sambet, kena setanlah
dan segala macam. Itu tidak betul. Sudah 63 tahun merdeka, masih ada
yang begitu. Sehingga, ia berpendapat masalah kesehatan ini tidak boleh
disepelekan. “Jangan ada rakyat yang mati konyol. Artinya, paling tidak
diketahuilah diagnosanya. Oh, matinya karena sakit ini atau itu. Untuk
ini, keluarga tolong, kalau ada gejala begini, harus begini, dan
seterusnya,” kata suami dari Timoria Hutabarat, SKM, MM (Pegawai
Departemen Kesehatan RI), ini.
Ia mengungkapkan, apa yang dikemukakannya ketika berbicara dalam diskusi
dengan Ikatan Ahli Ilmu Kesehatan Masyarakat, bagaimana cara menyehatkan
suatu bangsa. Ia berpendapat selain adanya tindakan kuratif (pengobatan)
perlu lebih ditingkatkan tindakan preventif dan promotif. Menurutnya,
sebetulnya masalah kesehatan untuk pengobatan dan kesehatan lain
sebagainya hanya 10 persen. Tapi konsentrasi kebijakan dan keuangan
justru dikonsentrasikan ke masalah pengobatan ini. Seharusnya, kebijakan
dan keuangan lebih dikonsentrasikan pada tindakan preventif dan promotif.
Bagaimana mencegah supaya rakyat sehat, tidak sakit. Masyarakat dididik
supaya hidup sehat.
Ia berharap, sebagaimana dana untuk pendidikan yang sudah diatur dalam
UUD yang diamandemen, begitu pula pembiayaan kesehatan baik kuratif
maupun preventif dan promotif ditetapkan dalam UUD. Masalah pendidikan
dan kesehatan ini, menurutnya, harus menjadi prioritas. Supaya bangsa
ini memiliki anak-anak yang sehat dan memiliki IQ yang tinggi untuk bisa
bersaing dalam era globalisasi ini.
“Makanya perlu adanya preventif dan promotif tadi,” kata mantan Sekjen
Dewan Mahasiswa UKI Jakarta itu. Sehingga, ia berobsesi seandainya
terpilih menjadi anggota DPR maupun menjadi eksekutif dalam bidang
kesehatan atau menjadi bupati (pengambil keputusan dalam wilayah yang
lebih kecil), akan memperjuangkan hal ini.
Ia memberi contoh kasus di daerah Legok, Tangerang, yang sudah sering
dikunjungi bersama wakil ketua DPRD dan Sekda Tangerang, masih banyak
rakyat yang betul-betul miskin, tidak layak hidup seperti manusia.
Tinggal di rumah berlantai tanah, anak empat-lima orang. “Kita tanya,
apa yang diperlukan di sini? Dijawab, air pak,” ungkap Mangantar tentang
dialognya dengan rakyat miskin tersebut. Lalu Dewan Kesehatan dan Pemda
Tangerang membangun fasilitas air bersih di dua lokasi. Dilengkapi juga
dengan kakus. “Sayang, perilaku belum berubah. Kita bikin kakus
bagus-bagus malah beraknya masih tetap di halaman,” keluh Wakil Ketua
IPK (Ikatan Pemuda Karya) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Provinsi Banten,
2006 -2010, itu.
Pengalamannya sebagai dokter dan dewan kesehatan kabupaten, menunjukkan
banyak sisi kesehatan yang masih jelek. “Itu baru hanya satu kabupaten
yang kita lihat. Baru di sini saja. Masih sangat dekat dengan ibu kota
negara. Bagaimana kalau yang di tempat lain. Apalagi di NTT, di Tapanuli,
atau di pelosok-pelosok sana?” jelas Mangantar.
Jadi memang masih banyak yang harus diperjuangkan. Maka dalam ini, ia
melihat sensitivitas anggota DPR sangat diperlukan untuk bisa memasukkan
segala sesuatu itu ke dalam undang-undang. Tapi, saat ini ia melihat hal
ini yang menjadi permasalahan. Banyak UU yang kurang aspiratif bahkan
menjadi masalah dalam masyarakat. “Kalau UU itu menjadi masalah di
masyarakat, berarti anggota Dewan yang tidak mempunyai kemampuan, tidak
bisa membuat UU yang baik,” kata mantan ketua bidang kesejahteraan
mahasiswa di BKK FK UKI Jakarta itu.
dr. Mangantar Marpaung, MS, MM Kes juga mengungkapkan keprihatinannya
melihat anggota DPR dikejar-kejar KPK. Menurutnya, mestinya anggota DPR
tidak perlu dikejar-kejar KPK. “Anggota dewan itu terhormat. Sampai hati
dikejar-kejar begitu. Mestinya kalau sudah menjadi anggota DPR, merubah
semua sifatnya. Yang lama ditinggalkan, karena dia wakil rakyat.
Mengerikan sekali kalau wakil rakyat tidak santun, malah arogan,”
katanya.
Ia berpendapat setelah seseorang terpilih menjadi anggota DPR (wakil
rakyat), mestinya tidak perlu lagi dilihat dari partai mana, tapi justru
melihat kompetensi. “Tanggalkan atribut. Lihat nasib bangsa ini. Ini
yang betul-betul saya harapkan. Bila perlu, saya jadi ketua DPR. Supaya
diluaskan,” katanya. Menurutnya, anggota DPR itu jangan jadi kepunyaan
partai. Melainkan kepunyaan rakyat (wakil rakyat) yang dijembatani oleh
partai.
Melihat berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini, mantan Kepala Bidang
Pelayanan Medik RS FK UKI (1995 -1999), itu terdorong untuk ikut dalam
proses pengambilan keputusan di negeri ini, baik sebagai anggota
legislatif maupun eksekutif. Ia pun memilih lewat jalur partai (PDS)
untuk menjadi anggota DPR. Jika terpilih menjadi anggota DPR ia
berobsesi dapat berperan aktif dalam komisi yang membidangi kesehatan,
kalau mungkin menjadi ketua komisi. Jika mungkin jadi Ketua DPR.
Dan jika diberi kesempatan mengabdi di eksekutif, ia merasa akan bisa
berperan optimal sebagai Menteri Kesehatan. Atau mungkin berperan
sebagai pengambil keputusan di sebuah daerah kabupaten, menjadi Bupati.
Jika diberi kesempatan menjadi bupati, ia memilih menjadi Bupati
Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara, tampatnya dibesarkan.
Pejuang Sejak Kecil
Lahir di Porsea, 14 Maret 1952 dari keluarga miskin, enam bersaudara.
Ayahnya seorang purnawirawan ABRI dan sudah meninggal 30 tahun lalu.
Ibunya seorang ibu rumah tangga yang juga sambil berjualan, baru dua
tahun lalu meninggal. Sesuai tugas ayahandanya, keluarga sederhana ini
sering pindah dari satu kota ke kota lain. Dari Porsea, ke Pangkalan
Brandan ke Ambon ke Aceh dan terakhir menetap di Rantau Prapat. Di kota
ini ayahnya menjabat Danramil.
Mangantar sendiri menekuni pendidikan dari tingkat SD sampai SMA di
Rantau Prapat. Kemudian setelah tamat SMA, dengan segala keterbatasan
ekonomi orang tuanya, ia masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas
Kristen Indonesia (UKI) Jakarta. Kuliah dengan kondisi ekonomi pas-pasan.
Sebagaimana lazimnya orang Batak, yang punya tekad sedaya mampu untuk
menyekolahkan anak setinggi-tingginya, begitu jualah kedua orangtua
Mangantar. Orang tuanya memang selalu berpesan tidak akan meninggalkan
harta benda, melainkan memberikan (meninggalkan) ilmu pengetahuan yang
nilainya lebih dari harta benda. Harta benda itu mudah habis. Terbukti,
semua mereka, enam bersaudara, mengecap pendidikan perguruan tinggi.
Satu orang, si bungsu, mengikuti jejak sang Ayah masuk militer.
Walaupun setelah kedua orang tuanya meninggal, ternyata ada juga harta
yang ditinggalkan. Hal itu membuat Mangantar kaget, haru dan makin kagum.
Bagi dia dan kelima saudaranya, hal itu luar biasa sekali. Memang harta
benda yang ditinggalkan orang tuanya tidak banyak. Sebagai anak sulung,
Mangantar memimpin adik-adiknya membagi harta itu setelah Sang Ibu
meninggal dua tahun lalu. Harta itu dibagi rata laki dan perempuan.
Saat baru datang melanjutkan pendidikan ke Jakarta, Mangantar merasa
beruntung bisa tinggal selama dua tahun di rumah saudara. Kemudian, ia
punya kesempatan menyewa rumah kos. Setelah itu, tiga adiknya menyusul
ke Jakarta, semuanya sekolah. Mereka pun menjalani kehidupan yang cukup
keras di ibukota. Sebuah perjuangan hidup jatuh bangun, karena memang
persiapan materi dari orang tua tidak cukup dan orang tua tidak punya
cadangan (tabungan) yang cukup.
Komunikasi saat itu juga belum selancar saat ini. Kalau butuh sesuatu
harus berkirim surat dulu, tidak punya alat komunikasi langsung. Tidak
seperti hari ini, kalau minta sesuatu bisa segera telepon dan transfer
hanya dalam hitungan menit sudah bisa. “Kalau ini, kita kirim surat,
membutuhkan waktu sangat lama, kita tidak bisa telepon,” kenang
Mangantar.
Selain sulitnya komunikasi, dana persediaan orang tua pun tidak selalu
ada. Maka setelah surat satu minggu belum tentu sampai, satu minggu lagi
juga orang tua belum tentu bisa segera kirim. Apalagi setelah Sang Ayah
meninggal, tinggal Sang Ibu seorang diri yang harus membiayai sekolah
anak-anaknya. Masih syukur Sang Ibu masih bisa terus berjualan. Jika ada
surat minta dikirimi uang, Sang Ibu tidak selalu bisa segera kirim,
masih harus tunggu dulu uang terkumpul dari sana-sini, hasil jualan.
Bisa kadang-kadang lebih dari dua minggu.
Dalam kondisi ini, Mangantar merasakan kemurahan hati dari saudara di
Jakarta sangat mendukung. Biasanya dia bisa pakai uang saudaranya dulu
untuk membayar keperluan mendesak, membeli buku dan membayar uang kuliah.
Setelah kiriman datang, uang keluarga (saudara) itu bisa dikembalikan.
Mangantar sangat merasakan bahwa hanya perjuangan besar membuat ia dan
saudara-saudaranya bisa lolos menjalani kehidupan yang begitu keras di
Jakarta, bahkan bisa menyelesaikan pendidikan minimal S1. Terkadang, ia
merasa tidak sadar bisa melewati perjalanan hidup itu dengan baik.
Sebagai orang beriman, ia juga menyukuri hal itu sebagai anugerah dari
Tuhan.
Dia membayangkan saat pertama kali datang dari kampung ke Jakarta,
melihat kemewahan dan situasi Jakarta, suatu tantangan yang harus
dihadapi dengan ulet. Tantangan itu kadang-kadang membuat banyak juga
perantau dari Tapanuli sana yang tadinya berangkat dengan semangat dan
dukungan uang cukup, tapi sesampai di Jakarta menjadi terlantar
kemana-mana, bahkan akhirnya ada yang mengambil jalan pintas untuk
mempertahankan hidup. Mereka akhirnya gagal meraih cita-cita.
Tapi banyak juga yang berhasil berjuang di Jakarta. Mangantar melihat
ada dua tipe perjuangan perantau dari Sumatera yang berhasil di Jakarta.
Pertama, sebaik datang ke Jakarta berprinsip mencari pekerjaan lebih
dulu. Lalu melanjutkan sekolah sambil bekerja. Mereka akhirnya ada yang
sampai meraih S1, S2 bahkan S3.
Tipe perjuangan perantau kedua, berprinsip sekolah lebih dulu walau
dengan kondisi keuangan yang pas-pasan. Mereka ini benar-benar mendalami
ilmu lebih dulu, setelah itu baru bekerja. Mangantar sendiri memilih
prinsip kedua ini. Menurutnya, kalau ia mengutamakan sekolah lebih dulu
dengan menyelesaikan segala tuntutan akademis yang ada, hasilnya akan
optimal. Walaupun dalam kerangka aplikasi ilmu kadang-kadang bisa
dipakai atau tidak. Tapi, modal akademisnya mendasar. Berbeda dengan
tipe pertama yang sudah duluan mempunyai uang, kadang-kadang kuliah itu
lebih hanya untuk formalitas atau memenuhi persyaratan untuk menduduki
sebuah jabatan. Mereka ini lebih berpikir pragmatis.
Tipe lain adalah perantuan yang setelah melihat kondisi ketimpangan
ekonomi di Jakarta, banyak orang kaya banget beda jauh dari kehidupan di
kampung, lalu mengambil jalan pintas. Mereka tidak mau sabar.
“Teman-teman saya sendiri banyak yang seperti itu. Akhirnya mereka
mengambil jalan yang macam-macam. Akhirnya penyesalan yang mereka
rasakan setelah masuk terali besi dan sebagainya,” ungkap Mengantar.
Di samping itu, lingkungan pergaulan juga sangat memengaruhi. Kalau
hidup di Jakarta dengan lingkungan pergaulan yang moral dan agama tak
kuat, sangat mudah akan jatuh. Misalnya, kena narkoba dan sebagainya.
“Banyak teman-teman saya yang seperti itu, yang tadinya pintar bahkan
tempat kami bertanya sewaktu SMA, akhirnya tidak jadi apa-apa,
katakanlah jadi sampah,” urai Mangantar.
Menurut Mangantar, hidup di Jakarta atau di daerah mana pun, tidak cukup
dengan semangat saja. Tapi harus dibarengi dengan yang lain-lain
terutama moral, agama dan pendidikan.
Dalam hal ini, pengasuhan orang tua dalam keluarga sangat menentukan.
Dia mengenang bagaimana orangtua mendidiknya. Ayahnya yang tentara,
selain menerapkan disiplin tinggi dengan keras, juga menekankan
pentingnya ketekunan dalam pendidikan. Sang Ayah sering kali dengan
sabar menungguinya belajar di rumah sambil membersihkan alat-alat
kelengkapan militernya.
Suatu ketika, saat Mangantar sudah kuliah tingkat dua, ia pernah
bertanya mengapa Sang Ayah dulu sampai menungguinya belajar seperti itu.
Sang Ayah menjawab: “Saya tidak mau kalian seperti saya lagi.” Jawaban
Sang Ayah ini selalu terngiang-ngiang dan menjadi pemikiran dan penguat
semangat bagi Mangantar. “Oh, ternyata dia nggak mau, saya seperti yang
dialaminya,” kenang Mangantar.
Sang Ayah juga berpesan agar jangan pernah berpikir hanya untuk diri
sendiri. Tapi harus berpikir bagaimana berguna untuk orang lain. Pesan
moral dan prinsip hidup ini ia genggam erat dan terapkan sampai sekarang.
Bahkan, ia pun menyampaikan pesan itu kepada banyak orang. Menurutnya,
adalah hal yang sangat membahagiakan kalau kita bermanfaat untuk orang
lain. Jangan terlalu memikirkan diri sendiri.
“Jadi inilah yang saya lihat dari ortu saya itu, sederhana sekali
filosofi yang dijalaninya dan saya sangat agree dengan itu.
Mudah-mudahan saya bisa menjalankan filosofinya itu, sekian persen saja.
Mungkin saya bisa bermanfaat untuk orang Tangerang,” kata Mangantar.
Ia banyak bercermin dari perjalanan hidup orang tuanya. Sang Ayah yang
terakhir berpangkat pembantu letnan dua dan sempat menjadi Komandan
Rayon Militer di salah satu kota dan ternyata tidak terlalu mengumpulkan
sesuatu. Apa yang sepatutnya ia punya, itulah yang ia ambil. Sehingga
kalaupun mereka enam bersaudara bisa sekolah sampai perguruan tinggi
adalah karena Sang Ibu memang turut membantu keuangan keluarga berdagang
dan sebagainya.
Semangat juang yang ditanamkan orang tuanya itu menginspirasi Mangantar
untuk bisa menyelesaikan pendidikan dengan baik agar bisa berbakti untuk
keluarga dan untuk orang lain. Sayang, Sang Ayah tidak sempat menikmati
jerih-payah mendidik anak-anaknya, karena sudah meninggal sebelum
Mangantar menyelesaikan pendidikan dokternya.
Syukur, ia dan saudara-saudaranya masih sempat memberikan sesuatu atau
berusaha membahagiakan Sang Ibu. Bahkan Sang Ibu masih sempat
jalan-jalan ke luar negeri bersama adik bungsunya yang sempat menjadi
Sekpri Duta Besar Thailand untuk Indonesia. Mangantar sendiri masih
sempat merawat Sang Ibu di Siloam Hospital, LIPPO Karawaci, dimana
Mangantar menjabat sebagai Wakil Direktur Medik. Walaupun Sang Ibu
sendiri tidak pernah mengharapkan balas jasa dari anak-anaknya. Karena
jerih-payah orang tua tidak pernah meminta balasan.
Karir
Kegigihannya belajar mendapat perhatian almamaternya. Sejak tahun 1977,
ia dipercaya sebagai Asisten Dosen Bagian Patologi Anatomi FK UKI
Jakarta. Sebagai asisten dosen, ia sudah mendapat penghasilan. Hal ini
cukup membantu, apalagi karena adik-adiknya masih ada lima orang yang
harus sekolah. Kemudian, beberapa saat setelah menyelesaikan pendidikan
Doktorandus Med, ia menikah dengan sang kekasih Timoria Hutabarat, SKM,
seorang pegawai negeri di Departemen Kesehatan RI.
Dia menikah sebelum meraih gelar dokter. Karena memang saat itu, di
perguruan tinggi swasta sangat sulit dan lama untuk meraih gelar dokter.
Bayangkan, ia masuk tahun 1971-1972, tapi baru bisa tamat S1 (dokter)
tahun 1986. Beruntung ia sudah mengajar sebagai asisten dosen di
kampusnya. Kemudian dengan biaya dari UKI, ia melanjutkan Program
Magister Ilmu Kedokteran Dasar Pascasarjana UI dan meraih Master of
Science (S2) tahun 1993.
Sebagai seorang dokter umum dan dosen, dia tidak langsung serta merta
mempunyai sesuatu. Sokongan isterinya sangat banyak membantu perjalanan
hidup dan jenjang karirnya. Dia pun mengabdikan diri sebagai Pelaksana
Harian UGD RS FK UKI, sejak tahun 1986, dan Kepala Bidang Pelayanan
Medik RS FK UKI, sejak 1995 serta Dosen Bagian Patologi Anatomi FK UKI
Jakarta, sampai tahun 1999.
Kemudian ia pindah ke RS Siloam tahun 1999. Di RS Siloam, ia memulai
karirnya lagi sebagai dokter jaga pada umur 40 tahun waktu itu. Ia pun
bekerja dengan gigih dan sungguh-sungguh di RS ini. Kemudian oleh
pimpinan, ia diarahkan untuk menekuni manajerial. Suatu hal yang
sebenarnya tidak asing baginya. Kebetulan sejak mahasiswa ia juga sangat
senang berorganisasi. Bahkan ia pernah menjabat Sekjen Dewan Mahasiswa
di UKI, sebelum Dewan Mahasiswa dibekukan.
Tahun kedua di RS Siloam, ia sudah diangkat menjadi Manager Rawat Jalan
(2001 – 2004). Kemudian dipercaya menjabat Deputy Head of Division AMA (Wakil
Direktur Medik) RS Siloam Lippo Karawaci 2004 sampai sekarang (2008).
Walaupun sebenarnya sebagai karyawan pada umur 55 tahun (14 Maret 2007
lalu) ia sudah pensiun. Tapi jabatannya sebagai Wakil Direktur Medik
masih terus diperpanjang. Bahkan RS Siloam memberinya kesempatan untuk
meraih Magister Manajemen Rumah Sakit (MMKes) dari Sekolah Tinggi
Manajemen “IMNI” Jakarta pada 2007 lalu.
Itulah selintas jejak rekam karier Mangantar yang sangat penuh dinamika
dan tantangan. Pengalamannya yang cukup panjang membuatnya berpikir, ada
baiknya seseorang itu menyelesaikan sekolah dengan baik dulu, baru
bekerja dan berkeluarga. Tapi dalam perjalanan hidupnya ada sejarah lain
yang terjadi. Ia pun selalu menasehatkan mahasiswa, sebaiknya harus
konsentrasi dulu sekolah. Sampai usia 25 tahun itu adalah waktu belajar.
Nah setelah itu baru berkarya.
Tapi kadang-kadang ia melihat, pengalaman pun sangat dibutuhkan. Sebab
setelah terjun di pekerjaan ternyata apa-apa yang ada di buku belum
tentu bisa diaplikasikan, diterapkan. Jadi harus bisa dilihat hal-hal
positif hubungan antara manusia. “Jadi seseorang yang berhasil menurut
saya, bukan hanya didukung oleh kemampuan (kecerdasan) intelektualnya
tapi juga bagaimana kecerdasan emosionalnya. Ini menjadi sesuatu yang
bisa dimanfaatkan dan bisa sukses,” tutur Mangantar. ►crs-ms-az
- TokohIndonesia.com
|
|