|
|
 |

Nama:
Prof. Dr. Mahar Mardjono
Lahir:
Semarang, 8 Januari 1923
Meninggal:
Jakarta, 19 September 2002
Isteri:
Sridjati Kangeaningsih Drajat
Anak:
ri Indroyono MA, Ir Ira Indrayanti MSc, dan Ir Adi Indrayanto MSc
Agama:
Islam
Pendidikan:
ELS (Europesche Lagere School) di Pare, Kediri (1930-1936)
HBS (Hogere Burger School) di Malang (1936-1941)
Geneeskundige Hogeshool/Ika Daigaku, Jakarta (1942-1945)
Fakultas Kedokteran UI (1952).
Sesialisasi Neurologi, Universitas California, San Francisco (1955)
Pendidikan Militer Peta
Pekerjaan:
Dosen dan guru besar FKUI 1955 -1993
Rektor Universitas Indonesia (1973-1982)
Ketua Tim Dokter Ahli Kepresidenan RI pada masa Presiden Soekarno dan
Presiden Soeharto (1966-1976)
Ketua Umum PB IDI 1982-1985
|
|
Prof. Dr.
Mahar Mardjono
Sang Teladan dan Simbol Moral
Prof Dr Mahar Mardjono (79), meninggal dunia di RSCM, Jakarta, Kamis
19/09/02 sekitar pukul 16.38 WIB. Mantan Rektor UI (1974-1982) dan mantan
Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) 1982-1985, yang sangat dikenal
dengan kejujuran, integritas, dan keteguhan itu tutup usia di Rumah Sakit
Cipto Mangunkusumo (RSCM) setelah lima hari dirawat karena menderita sakit
komplikasi jantung dan ginjal.
Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka Jl Senayan No.16 Blok S,
Jakarta Selatan dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan usai
shalat Jumat pukul 13.00 WIB
Almarhum yang lahir di Semarang 8 Januari 1923 itu meninggalkan seorang
isteri, tiga putra dan lima cucu. Hingga akhir hayat masih aktif sebagai
dosen di beberapa universitas, penaehat Majalah Ilmiah IDI dan berpraktek
sebagai dokter ahli neurologi dan syaraf di beberapa rumah sakit di DKI.
Ia meninggalkan Sridjati Kangeaningsih Drajat, sang istri yang
mendampinginya sejak 1956, dan tiga anak (Drs Ari Indroyono MA, Ir Ira
Indrayanti MSc, dan Ir Adi Indrayanto MSc), yang semuanya memilih jadi
dosen. Bagi keluarga dan para kerabat, ia adalah simbol moral dan "Bapak"
para pejuang. Suri teladannya diharapkan bisa terus mewarnai perjuangan
melawan ketidakadilan yang masih berlangsung di negeri ini.
Ia adalah Rektor Universitas Indonesia (1973-1982) yang menjadi saksi dua
peristiwa penting dalam sejarah pergerakan mahasiswa masa Orde Baru, yakni
Malari (Malapetaka 15 Januari, 1974) dan aksi mahasiswa memprotes NKK/BKK
(Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinasi Kemahasiswaan, 1978).
Saat menjadi ketua, PB IDI menghadapi masalah 45 dokter yang dituduh
menerima suap dari pabrik obat. Tga dokter mendapat peringatan keras dan
seorang dokter dicabut izin praktiknya. Namun, Mahar juga tak luput dari
ujian. Ketika menjadi dokter dari Presiden Soekarno, ia kemudian menyadari
bahwa obat-obat yang diresepkannya ternyata dihambat diberikan kepada
Soekarno.
Pendidikan almarhum dimulai dari ELS (Europesche Lagere School) di Pare,
Kediri (1930-1936), HBS (Hogere Burger School) di Malang (1936-1941)
Geneeskundige Hogeshool/Ika Daigaku, Jakarta (1942-1945) dan lulus
Fakultas Kedokteran UI (1952).
Kemudian melanjutkan spesialisasi Neurologi, Universitas California, San
Francisco (1955) dan sejak 1955 hingga 1993 sebagi dosen dan guru besar
FKUI serta pernah mengikuti Pendidikan Militer Peta, dan menjadi anggota
hingga Ketua Tim Dokter Ahli Kepresidenan RI pada masa Presiden Soekarno
dan Presiden Soeharto (1966-1976).
Ketegasan dan kegigihan Mahar, bisa diperoleh dari darah ayahnya, yang
juga seorang pejuang. Lima tahun sebelum Mahar Mardjono lahir, sekitar
tahun 1918, ayahnya Mardjono Martosoedirdjo dan ibunya Srijati dibuang
dari rumah sakit Semarang ke Manokwari di Nieuw Guinea.
Mahar Mardjono yang merupakan anak kedua dari empat bersaudara (dua
laki-laki dan dua wanita) itu masa kecilnya di Semarang hanya dijalani
dalam beberapa tahun saja. Selebihnya di Probolinggo, Jawa Timur. Selesai
menjabat Rektor UI (1974-1982), Mahar dipercaya menjadi Ketua Umum (IDI)
(1982-1985).
Selepas itu, ia ditunjuk sebagai Ketua Dewan Pertimbangan IDI, yang
tugasnya mengurursi masalah kode etik kedokteran. Pada 1982-1985, Mahar
Mardjono diminta oleh Dirjen Dikti Dep P dan K, menjadi Ketua Konsorium
Ilmu-ilmu kesehatan.
Selepas dari jabatan Rektor UI selama dua periode, Mahar masih sempat
aktif sebagai Direktur Pusat Kajian Otak Indonesia, anggota Tim Dokter
Kepresidenan, Ketua Komisi Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia,
dan anggota Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional.
Semangat dan rasa humornya yang besar membuat ia terus bertahan ketika
hari-harinya dihabiskan dengan keluar masuk rumah sakit karena serangan
stroke dan gagal ginjal. Menurut menantunya, Titie Indroyono, selama tiga
tahun terakhir Mahar harus cuci darah 2-3 kali seminggu. *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia),
|
|