A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Badan-Lembaga
 ► Mabes TNI
 ► Mabes Polri
 ► Pemda
      ► Jawa Barat
 ► BUMN
 ► Purnabakti
 ► Asosiasi
  B E R A N D A
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 20072006  
   
  ► e-ti/bs  
  BIODATA:
Nama:
Drs H Lily Hambali Hasan, MSi
Jabatan:
Bupati Purwakarta Periode 2003 – 2008
Lahir:
Padeglang, 5 Mei 1950
Agama:
Islam
Pendidikan Terakhir:
Sarjana Strata-2(S2) Magister Ilmu Pemerintahan STIAMI Jakarta


Alamat Kantor:
Jl. Gandanegara No. 25 Purwakarta 41112, Telp. 0264-200435, Fax. 0264-200064

Alamat Rumah:
Jl. Gandanegara No. 27 Purwakarta 41112, Telp. 0264-203414

E-Mail:
bupati@purwakarta.go.id

 
 
     
 
MAJALAH TI - 30

 

TOKOH UTAMA:  01  02  03  04  05  06  07  08  =

WAWANCARA = TOKOH PILIHAN:  01  02  = DEPTHNEWS: 01  02  = PERSPEKTIF:  01  02 = PARIWISATA  = POTENSI = LEGISLATIF = KAPUR SIRIH = SURAT

PERSPEKTIF: (02)

Purwakarta Segitiga Emas Jakarta-Bandung-Cirebon

 

Bupati Drs. H. Lily Hambali Hasan Msi ingin mengembangkan segitiga emas Purwakarta-Jakarta, Purwakarta-Bandung, dan Purwakarta-Cirebon untuk memajukan investasi dan perdagangan di daerahnya. Ini dilihat dari letak Purwakarta yang menjadi titik singgung dari ketiga kota yang punya potensi besar di bidang investasi dan perdagangan.

Lily tidak ingin daerahnya hanya menjadi sebuah persinggahan atau diliwati begitu saja. Karena itu dia
membangun Purwakarta sehingga punya daya tarik khusus bagi berbagai kegiatan ekonomi. Pemkab menetapkan pilar bisnis: agribisnis, industri, perdagangan dan jasa serta pariwisata.


Di dalam membangun segala aspek kehidupan, khususnya ekonomi, perdagangan dan pariwisata, Bupati Lily berusaha menempatkan pemerintah kabupaten sebagai pelayan dan fasilitator. Dia memberikan peran yang besar kepada pihak swasta dan masyarakat di dalam mengeksplorasi potensi daerah Purwakarta. Sebab pembangunan di masa datang dihadapkan pada era globalisasi, khususnya globalisasi ekonomi, sebuah tantangan sekaligus peluang yang harus disikapi agar tidak menimbulkan kendala bagi daerah. Hal ini mengharuskan kesiapan bagi daerah di dalam menyusun strategi yang tepat dan mantap; menyangkut sistem perencanaan pembangunan daerah yang terintegrasi dan transparan yang didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, sumber daya alam dan anggaran atau dana yang memadai.


Pembangunan tersebut mengacu pada tujuh kebijakan strategis; (1) Bidang peningkatan kesadaran hukum dan politik masyarakat. (2) Bidang pemberdayaan ekonomi rakyat dan ketahanan pangan. (3) Bidang peningkatan pembangunan prasarana umum. (4) Bidang peningkatan fungsi lingkungan hidup. (5) Bidang peningkatan pendidikan, agama dan kesejahteraan sosial. (6) Bidang padat karya dan penciptaan lapangan kerja produktif. (7) Bidang peningkatan pelayanan umum dan kinerja birokrasi.


Sejalan dengan strategi tersebut, kebijakan pokok tetap penting diperhatikan, mencakup: (1) Peningkatan produksi dan penataan distribusi komoditas pertanian dalam upaya pemulihan dampak krisis dan peningkatan daya saing. (2) Peningkatan cakupan pelayanan kesehatan, terutama peningkatan gizi ibu dan anak, khususnya, pada keluarga pra-sejahtera. (3) Penciptaan lapangan kerja dan usaha. (4) Pemberdayaan pendidikan dasar, terutama dalam revitalisasi sarana dan prasarana beelajar-mengajar. (5) Pengembangan investasi di bidang agro industri, industri kecil dan pariwisata untuk meningkatkan kesempatan kerja dan berusaha. (6) Penataan kelembagaan daerah dan peningkatan profesionalisme aparatur pemerintah.


Tujuan Program Pembangunan Daerah di bidang ekonomi, tercapainya pengembangan ekonomi kerakyatan dengan memberdayakan pengusaha kecil, menengah dan koperasi. Maksudnya supaya lebih efisien, produktif dan berdaya saing. Caranya, mengoptimalkan sumber daya daerah; titik beratnya pada pada pengembangan agribisnis dan industri, mekanisme pasar yang adil dan bersaing secara sehat serta memfasilitasi berkembangnya PMA dan PMDN. Sektor terakhir ini diharapkan menyerap tenaga kerja dan ikut meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Melalui misi ini bisa diharapkan tercapainya peningkatan taraf hidup dan perbaikan kesejahteraan masyarakat.

Program Ekonomi
Misi pengembangan ekonomi kerakyatan diwujudkan lewat; (1) Meningkatkan upaya penyediaan modal untuk menjamin terpenuhinya kegiatan usaha, baik untuk lembaga keuangan, lembaga sosial masyarakat, usaha kecil, menengah ataupun koperasi. Program-programnya: (a) Pengembangan Usaha dan Lembaga Perdagangan. (b) Perluasan dan Perkuatan Lembaga Pendukung Usaha Pengusaha Kecil Menengah dan Koperasi (PKMK). (c) Program Pengembangan Penanaman Modal. (d) Program Penyertaan Modal Pemerintah
e. Program Pengembangan Koperasi. (e) Program Pengembangan Usaha Kecil.


(2) Meningkatnya pengusahaan, pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam dunia usaha, khususnya usaha kecil, menengah dan koperasi, untuk meningkatkan daya saing produk-produk yang berbasis sumber daya lokal. Program-programnya: (a) Pengembangan Kewirausahaan dan Kewirakoperasian. (b) Diseminasi Informasi Teknologi. (c) Peningkatan Kemampuan Teknologi Industri. (d) Pembinaan Kelembagaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Terapan. (e) Pembinaan Prasarana dan Sarana Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. (f) Teknik Produksi. (g) Penguasaan Teknologi. (h) Pengkajian dan Penelitian Ilmu Pengetahuan Terapan. (i) Pengembangan Sistem Informasi.


(3) Penggalakan upaya pengentasan kemiskinan masyarakat melalui berbagai kegiatan secara terpadu. Program-programnya: (a) Pengembangan Budaya Usaha Masyarakat Miskin. (b) Pengembangan Keswadayaan Masyarakat Miskin. (c) Peningkatan Kesejahteraan Sosial. (d) Partisipasi Masyarakat.


(4) Mengusahakan terbangunnya pusat perdagangan (trade centre) dan penambahan sarana perdagangan baru (pasar-pasar baru). Program-programnya: (a) Pengembangan Perdagangan dan Sistem Distribusi. (b) Program Peningkatan Laju Pertumbuhan pada Sektor Perdagangan. (c) Membangun terminal/sub terminal pada daerah-daerah tertentu. (d) Pengembangan Fasilitas Lalu Lintas Jalan. (e) Pengembangan Sistem Transportasi. (f) Mengembangkan pertanian ke arah agribisnis dengan memperkuat sub sistem hulu tengah (pertanian dalam arti luas) dan hilir.


(5) Menggalakkan peran sub sektor pariwisata dengan mengembangkan potensi obyek wisata unggulan. Program-programnya: (a) Pemasaran Pariwisata. (b) Pengembangan dan Pengelolaan Objek Wisata. (c) Pengembangan Pariwisata Daerah.


(6) Mendorong investasi sektor swasta pada sub sektor industri, perdagangan dan jasa berdasarkan peruntukan lahan yang diatur di dalam rencana tata ruang. Program-programnya: (a) Peningkatan Pelayanan Berusaha. (b) Penataan Ruang.

Pemanfaatan ruang
(1) Hutan Produksi 16.920 ha. (2) Tanaman Perkebunan tahunan 20.347 ha. (3) Pemukiman 11.202 ha. (4) Kawasan Industri 2.000 ha. (5) Zona Industri 3.187 ha. (6) Peternakan 155,48 0 ha. (7) Kawasan Pariwisata 9.250 ha. (8) Hutan Lindung 2.881 ha. (9) Perikanan/waduk 9.764, ha. (10) Tanaman Pangan Lahan Basah 20.733 ha. (11) Tanaman Pangan Lahan Kering 728,79 ha. Jumlah 97.172 hektar lebih.


Tata air: Kondisi iklim di Kabupaten Purwakarta termasuk pada zona iklim tropis, dengan curah hujan rata-rata 3.093 mm per tahun tahun. Daerah ini terbagi dalam dua wilayah zona hujan: Zona dengan suhu berkisar 22-28 derajad dan zona dengan suhu berkisar 17-26 derajad. Zona mata air yang berpengaruh terhadap keseimbangan air permukaan wilayah regional terdapat di Gunung Burangrang, Sanggabuana, Pegunungan Parang, Pasir Kutangandak, di Kecamatan Wanayasa dan Pasir Madang di Kecamatan Campaka.


Zona air tanah merupakan zona air tanah sedang sampai dangkal, terdapat di wilayah Sungai Cikao Kec. Purwakarta, Plered dan Campaka. Zona air tanah dalam terdapat di wilayah Kecamatan Darangdan dan Wanayasa. Zona air permukaan berupa air sungai dan air genangan. Sungai-sungai terbesar Citarum. Sungai-sungai kecil meliputi Sungai Cikao, Sungai Ciherang dan Sungai Cilamaya. Di daerah ini ada dua waduk; Waduk “Ir. H. Juanda” Jatiluhur dan sebagian Waduk Cirata.


Bahan tambang: Kondisi geologi Purwakarta terdiri dari batuan sedimen klasik; batu pasir, batu gamping, batu lempung, batuan vulkanik (turf, breksi vulkanik, batuan beku terobosan, batu lempung napalan, konglemerat dan napal). Batuan beku terobosan terdiri dari andesit, diorit, vetrofir, basal dan gabro. Batuan tersebut umumnya bertebaran di sebelah Barat Daya wilayah Kabupaten Purwakarta. Jenis batuan napal, batu pasir kuarsa merupakan batuan tertua, tersebar di tepi Waduk Ir. H. Juanda, dan batu lempung yang berumur lebih muda (miosen) tersebar di wilayah Barat Laut bagian timur Purwakarta.

 

Sedangkan endapan gunung api tua yang berasal dari Gunung Burangrang dan Gunung Sunda: tuf, lava andesit basalitis, breksi vulkanik dan lahar. Bahan galian di daerah ini, antara lain: batu kali, batu pasir, batu andesit, batu gamping, lempung, pasir, pasir kuarsa, sirtu, tras, posfat, barit dan gips.
Penggunaan lahan: Penggunaan lahan untuk perkampungan dan perkotaan, sawah, kebun campuran, perkebunan, tegalan, hutan, padang rumput, alang-alang dan situ dan waduk. Lahan perkampungan dan perkotaan bersifat linier sepanjang ruas-ruas jalan negara, propinsi dan kabupaten.

 

Pemukiman terkonsentrasi pada pusat-pusat pertumbuhan, seperti kota Purwakarta, Jatiluhur dan Plered. Sedangkan lahan sawah tersebar hampir di semua kecamatan, begitu pula lahan kebun campuran. Lahan perkebunan banyak terdapat kecamatan-kecamatan Darangdan, Bojong Campaka dan Jatiluhur. Lahan hutan sebagian besar terletak di Kecamatan Campaka, Wanayasa, Pasawahan, Jatiluhur dan Manis.Sedangkan lahan untuk kawasan industri terletak di Kecamatan Jatiluhur, Purwakarta, Babakancikao dan Campaka.


Tanaman pangan: (1) Padi dan palawija: produksi padi di daerah ini tahun 2004 mencapai 204.706 ton gabah kering panen (GKP), meningkat 26,68% dari tahun 2003. Kenaikan itu karena bertambahnya areal panen dan peningkatan produktivitas. Padi ladang dan padi sawah meningkat baik luasnya maupun produktivitasnya. Juga kerusakan panen akibat serangan hama meluas sebesar 4,47%. Hama padi termasuk serangga penggerek batang, ganjur, tryps, blas dan tungro. Sedangkan palawija, tahun 2004 produksinya meningkat, kecuali jagung, kacang tanah dan ubi jalar.


(2) Sayuran dan Buah-buahan: Peningkatan produksi tertinggi terjadi pada tanaman kubis, dari 110 kuintal tahun 2003 menjadi 165 kuintal tahun 2004. Kenaikan terendah pada tanaman cabe besar; dari 14.961 kuintal menjadi 15.363 kuintal. Sedangkan produksi tanaman buah-buahan sebagian besar mengalami peningkatan. Kenaikan terbesar terjadi pada tanaman jambu air, 2.567 kuintal menjadi 5.465 kuintal.

 

Sedangkan penurunan produksi yang terbesar terjadi pada tanaman manggis, dari 46.034 kuintal menjadi 17.0299 kuintal.
Perkebunan: Pembangunan di bidang perkebunan terutama ditujukan untuk meningkatkan mutu dan produksinya. Komoditi tanaman perkebunan rakyat yang potensial (produksinya tinggi); teh, bambu, kelapa, melinjo dan murbei. Menurut data Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Perkebunan, luas areal tanaman teh 4.250 hektar, bambu 2.955 hektar, kelapa 1.211 hektar, melinjo 314,80 hektar dan murbei 33 hektar. Produksi tertinggi, teh 3.211 ton, bambu 28.257 batang, kelapa 538,20 ton, melinjo 184,45 ton dan murbei 471 ton. Sebagian besar luas areal tanaman perkebunan tidak mengalami perubahan, kecuali tanaman teh, bambu, kopi, kunir, cengkeh dan kelapa.

 

Tanaman teh dan kopi luas areal tidak berubah tetapi produksinya meningkat, kopi dan kunir, luas areal meningkat tetapi produksinya tetap. Cengkeh luas areal menurun tetapi produksinya meningkat. Sedangkan kelapa luas areal meningkat tetapi produksinya menurun.


Kehutanan: Produksi kehutanan dalam dua tahun ini masih tetap; kayu pertukangan dan kayu bakar. Sedangkan produk non kayu dalam tahun 2004 tidak berproduksi seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Kayu jati untuk pertukangan merupakan paling dominan, terutama di wilayah KPH Cipeundeuy. Produksi kayu scara total mengalami penurunan, dari 11.042 meter kubik tahun 2003 menjadi 10.183 meter kubik tahun 2004.


Peternakan: Dua tujuan utama pengembangan peternakan; memperbaiki gizi masyarakat dan menambah penghasilan petani. Jenis ternak; ternak besar (sapi potong, sapi perah, kerbau dan kuda), ternak kecil (domba dan kambing), dan unggas: ayam buras, ayam ras pedaging, ayam ras petelur dan itik. Dari kelompok ternak besar hampir semua populasinya meningkat, kecuali populasi kuda. Pada ternak kecil, kenaikan terjadi pada domba dan kambing. Sedangkan pada kelompok unggas semua populasinya mengalami kenaikan.


Perikanan: Menurut Dinas Peternakan dan Perikanan, secara umum produksi ikan, tahun 2004 meningkat menjadi 21.494 ton dari 17.322 ton tahun 2003. Kenaikan tertinggi terjadi pada produksi ikan dari jaring apung, yaitu sebesar 25,59 persen, penurunan tertinggi terjadi pada produksi ikan dari sawah, yaitu sebesar 38,42 persen.


Penggalian: Perusahaan penggalian yang terdaftar di Kantor Pertambangan dan Energi Kabupaten Purwakarta sampai tahun 2004, jumlahnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengann tahun 2003, dari 20 unit menjadi 18 unit. Tahun 2004 terdapat tiga kegiatan penggalian, yaitu penggalian atras oleh dua perusahaan, penggalian pasir oleh empat perusahaan dan penggalian batu gunung oleh 12 unit perusahaan.


Industri pengolahan: Perusahaan industri pengolahan: besar dan sedang, menurut survei BPS, tahun 2004 bertambah menjadi 163 perusahaan, menyerap tenaga kerja 39.929 orang. Jumlahnya perusahaan meningkat, tetapi tenaga karjanya menurut dibandingkan tahun 2003. Industri besar dan sedang tersebar di 9 kecamatan. Tetapi mereka terkonsentrasi di sentra-sentra industri, seperti Kecamatan Plered dan Tegalwaru dan kawasan industri Kota Bukit Indah di Kecamatan Bungursari. Industri kecil, formal dan informal, unit usaha dan nilai produksinya meningkat.

Perdagangan
Letak daerah kabupaten Purwakarta yang strategis memberikan andil bagi kegiatan perdagangan. Sektor ini merupakan salah satu andalan perekonomian daerah.Hal ini tercermin dari PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) yang ditopang 25% lebih oleh sektor perdagangan. Menurut Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Penanaman Modal, dari 547 unit perusahaan yang mendaftarkan usahanya pada tahun 2004, sebanyak 342 unit berbentuk perusahaan perorangan. Jumlah tersebut merupakan gabungan dari perusahaan baru dan perusahaan lama yang memperpanjang izin kegiatan karena habis masa berlakunya. Dibandingkan dengan tahun 2003, secara keseluruhan perusahaan yang melakukan pendaftaran mengalami peningkatan secara drastis yaitu mencapai 174,87 persen. Peningkatan yang cukup besar terjadi pada perusahaan perorangan dan CV.


Kegiatan ekspor non migas yang merupakan salah satu andalan dalam mendatangkan devisa negara. Tahun ini mengalami peningkatan dari 158.527.559,99 dolar AS tahun 2003 menjadi 187.542.446 dolar. Nilai ekspor tertinggi tahun 2004 didapat dari Benang Tenun dengan volume ekspor sebanyak 79.921.389,27 Kg, senilai 104.053.096 dolar AS. Urutan kedua diperoleh dari serat rayon dengan nilai 45.305.901 dolar AS. Diharapkan ekspor ini dapat dilaksanakan bukan saja oleh perusahaan-perusahaan besar, tetapi juga oleh industri kecil dan kerajinan rumah tangga.

Sarana dan prasarana
Listrik: Sesuai dengan bertambahnya jumlah rumah tangga dan kegiatan perekonomian, pelanggan dan pemakaian listrik juga mengalami peningkatan. Tahun 2003, pelanggan listrik PLN tercatat 122.824, tahun 2004 meningkat menjadi 127.583 pelanggan. Demikian juga dengan kapasitas terpasang mengalami peningkatan dari 278.013 KVA menjadi 294.563 KVA. Pelanggan listrik yang terbanyak pada tahun 2004, kategori rumah tangga sebanyak 121.528 pelanggan. Sedangkan pemakaian listrik terbanyak, industri 70.583,20 MWH.


Aair bersih: Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, keadaan tahun 2004 menunjukkan peningkatan, baik jumlah pelanggan maupun banyaknya air minum yang disalurkan. Tahun 2003, jumlah pelanggan 16.002 unit meningkat menjadi 16.919 tahun 2004. Sedangkan jumlah air bersih yang disalurkan meningkat dari 6.330.185 m3 menjadi 6.740.998 m3, demikian juga dengan nilai produksi meningkat dari sekitar Rp 8.455.000.000. menjadi Rp 9.509.000.000.


Pariwisata dan hotel: Diperoleh data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Purwakarta, seperti halnya tahun lalu Sektor Pariwisata belum berkembang secara optimal. Jumlah hotel dan akomodasi lainnya yang menunjang sektor ini, tahun 2004, turun dari 17 buah menjadi 16 buah. Penurunan tersebut karena adanya penggabungan dua buah hotel menjadi satu pengelolaan. Hotel-hotel tersebut tersebar di Kecamatan Bungursari, Purwakarta, Jatiluhur, Pasawahan dan Darangdan. Begitu juga untuk usaha restoran jumlahnya menjadi 13 buah. Sedangkan rumah makan mengalami penurunan dari 107 buah menjadi 51 buah.


Jumlah kamar juga menurun dari 543 unit tahun 2003 menjadi 484 unit tahun 2004. Tempat tidur juga menurun dari 882 menjadi 829 unit. Banyaknya tamu yang menginap 287.433 orang. Angka ini menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dari tamu yang menginap tersebut hampir sebagian besar atau sekitar 88,58 persen adalah tamu domestik, sedangkan tamu asing hanya 11,42 persen.


Pos dan telekomunikasi: Volume arus lalu lintas surat pos di Kab. Purwakarta tahun 2004, dalam negeri, jumlah yang mengirim: surat biasa:890.337, surat kilat:364.265, kilat khusus:60.108, tercatat biasa: 9.631, sedang jumlah surat yang diterima: surat biasa 630.100, surat kilat 49.191, kilat khusus 117.798, tercatat biasa 8.178. Untuk luar negeri, surat yang dikirim: surat biasa pos udara 187.618, surat biasa bukan udara 61.113, dan surat yang diterima: surat biasa pos udara 61.323, surat biasa bukan udara 61.832.


Komunikasi jarak jauh secara langsung dapat dilakukan melalui percakapan telepon. Saat ini di Kab. Purwakarta terdapat 21.137 satuan sambungan komunikasi terdiri dari 19.702 pelanggan dan 1.435 sambungan telepon untuk umum. Dibandingkan dengan tahun 2000, pelanggan telepon meningkat sebesar 15,16%, sementara itu seiring dengan maraknya penggunaan telepon seluler, jumlah telepon umum koin dan telepon umum kartu menurun.
Keuangan dan perbankan: Fasilitas pelayanan keuangan dan perbankan di wilayah Kab. Purwakarta, dilayani oleh beberapa bank pemerintah seperti BRI, BNI dan BTN serta bank swasta seperti BCA dan Danamon, juga terdapat koperasi, money changer, pegadaian dan asuransi.

Perhubungan
Untuk memperlancar distribusi barang dan jasa dari satu daerah ke daerah lainnya di Kabupaten Purwakarta serta mempermudah mobilitas penduduk, harus didukung oleh sarana dan prasarana jalan yang cukup memadai. Panjang jalan di daerah ini tahun 2004, seluruhnya 770.009 Km; terdiri dari 5,24 persen jalan negara, 8.26 persen jalan propinsi dan 86.50 persen jalan kabupaten. Dibandingkan dengan tahun lalu, terjadi penambahan jalan sepanjang 5,110 Km.


Sebanyak 77,62 persen jalan sudah diaspal, sisanya 18,17 persen jalan kerikil, dan 4,21 persen jalan tanah. Jalan aspal selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Namun demikian pada akhir tahun 2004 jalan yang rusak dan rusak berat mencapai 31,12 persen dan 8,00 persen. Sedangkan jalan yang kondisinya sedang 28.94 persen, dan jalan dengan kondisi baik mencapai 31,84 persen.


Kendaraan Bermotor: Data dari Kantor Samsat Cabang Purwakarta menunjukkan bahwa kendaraan bermotor yang terdaftar tahun 2004 sebanyak 55.378 buah. Angka ini lebih tinggi dari tahun sebelumnya, atau mengalami peningkatan sekitar 25,12 persen. Kendaraan bermotor yang terdaftar sebagian besar jenis sepeda motor (83,91 persen). Sedangkan yang paling sedikit jumlahnya kendaraan jeep (0,49 persen). Dan sisanya jenis kendaraan sedan, minibus, bus dan truck dan pick up. Selain pelayanan angkutan darat melalui angkutan mobil, di Kab. Purwakarta tersedia juga angkutan kereta api. Jalur yang terlayani meliputi jurusan Jakarta-Bandung, Jakarta-Surabaya, Jakarta-Cirebon dan Jakarta Purwakarta.


Terminal merupakan pusat kebangkitan dan pergerakan barang, jasa dan penumpang yang masuk maupun keluar dari suatu wilayah. Jumlah terminal di Kab. Purwakarta sampai tahun 2004 terdiri dari terminal kelas C sebanyak 1 buah, sub-terminal dan pangkalan 6 buah. Ada sebuah terminal peti kemas. Kondisi terminal, dilihat dari fungsi, lokasi dan sarananya berpotensi untuk dikembangkan sebagai terminal induk. Hal ini berkaitan dengan berfungsinya jalan tol Cipularang yang membuka interchange di wilayah Prwakarta. Sedangkan kondisi perparkiran berpotensi untuk dikembangkan sebagai lahan parkir, tempat peristirahatan kendaraan barang (truk pasir dan kontainer), atau dikembangkan sebagai terminal cargo.

Investasi
Untuk merangsang pertumbuhan investasi dan perekonomian, Pemkab melakukan deregulasi peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan serta meningkatkan pelayanan, khususnya dalam proses perijinan dan pungutan daerah.
Program peningkatan pelayanan umum mencakup kegiatan: (1) Mengalihkan fungsi-fungsi pelayanan umum tertentu dari instansi pemerintah kepada badan swasta dan lembaga swadaya masyarakat atau melalui pengembangan unit swadana. (2) Menyusun standar pelayanan masyarakat yang cepat, tepat, murah, memuaskan, transparan dan non diskriminatif dengan menerapkan prinsip-prinsip akuntabilitas dan pertimbangan efisiensi. (3) Mengembangkan konsep indeks tingkat kepuasan masyarakat sebagi tolak ukur terhadap optimalisasi pelayanan umum oleh aparatur pemerintah kepada masyarakat.


Pemkab juga mendorong berkembangnya industri yang mengolah hasil pertanian, termasuk kegiatan perdagangan. Program-programnya: (a) Penataan Struktur Industri. (b) Pengembangan Perdagangan dan Sistem Distribusi. (c) Peningkatan Peran Serta Swasta, Koperasi dan Masyarakat. (d) Pengembangan Kewirausahaan dan Kewirakoperasian.


Bidang industri: Kabupaten Purwakarta mengalokasikan lahan Kawasan Industri seluas 2000 ha; terdiri dari Kawasan Industri di Kecamatan Campaka (sekarang Kecamatan Bungursari) seluas 1000 ha dan di Kecamatan Purwakarta (sekarang Kecamatan Babakan Cikao) seluas 1000 ha. PT Besland Pertiwi telah memanfaatkan Kawasan Industri Campaka sejumlah 60% dari luas lahan dengan membuat kavling industri. Kawasan tersebut menjadi Kawasan Industri Kota Bukit Indah (KBI) Purwakarta. Sedangkan Kawasan Purwakarta belum dimanfaatkan oleh investor sebagai Kawasan Industri.


Zona industri seluas 3.000 hektar merupakan lokasi kegiatan industri di luar kawasan industri yang dialokasikan untuk menampung kegiatan industri besar dan industri menengah. Zona industri ini dialokasikan di wilayah Kecamatan Campaka, sekarang termasuk Kecamatan Cibatu dan Bungursari, Kecamatan Purwakarta, juga Kecamatan Babakan Cikao dan Jatiluhur. Zona ini baru dimanfaatkan oleh investor industri sekitar 25%, sisanya masih cukup luas, 75%. Lahan yang belum dimanfaatkan, terutama di wilayah Campaka, Bungursari, Cibatu, dan Purwakarta, termasuk Kecamatan Babakan Cikao.


Sedangkan untuk industri kecil-kerajinan dan menengah telah disediakan lahan di Kecamatan Plered dan Tegalwaru, seluas 1000 ha. Pemanfaatan lahan ini diprioritaskan untuk pengembangan industri kecil-kerajinan dan menengah, seperti keramik hias, genteng, bata dan roster. Kawasan tersebut sudah dimnfaatkan 65%, masih tersisa 35%.


Industri unggulan di Purwakarta: garmen masih terbuka di kawasan dan zona industri untuk para investor industri besar, menengah dan kecil. Komoditi benang (non celup), kain (non celup), komponen elektronika, otomotif, makanan, minuman non CO2 dan bumbu, masih terbuka di kawasan dan zona industri bagi investro industri besar dan menengah. Komoditi kertas koran dan kertas budaya, masih terbuka di kawasan industri bagi investor industri besar dengan syarat mempunyai sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang baik dan memenuhi persyaratan-persyaratan serta peraturan-peraturan yang ditentukan oleh Badan Pengelolaan Dampak Lingkungan (Bapedal). Komoditi kerajinan kayu peralatan dapur, kerajinan kayu meubeler, genteng, beton, dan paving block, masih terbuka di kawasan dan zona industri bagi investor industri menengah dan kecil.


Komoditi keramik hias, genteng keramik, roster keramik, wayang golek, batako, kue simping, kue basah/kering, tape singkong dan gula Cikeris, masih terbuka di zona industri bagi investor industri menengah dan kecil. Pengolahan dan pengawetan ikan, daging dan susu, masih terbuka di kawasan dan zona industri bagi investor industri besar. Komoditi yang dihasilkan oleh industri agro-otomotif dan agro-kimia, masih terbuka di kawasan dan zona industri bagi investor industri besar. Komoditi lainnya yang dihasilkan oleh industri yang mengolah hasil pertanian, masih terbuka di kawasan dan zona industri bagi investor industri besar, menengah dan kecil.
Bidang pertanian: Peluang investasi bidang pertanian di kabupaten Purwakarta cukup terbuka, apalagi pilar bisnis yang menjadi dasar kebijakan, salah satunya pertanian yang mengarah ke agro-industri dan agri-bisnis.


Tanaman pangan menciptakan pertanian maju, tangguh, berkebudayaan industri, berorientasi agribisnis, berbasis pedesaan dan berwawasan lingkungan. Di Kabupaten Purwakarta terdapat wilayah yang merupakan sentra produksi pertanian. Misalnya Kecamatan Wanayasa yang menjadi sentra produksi pertanian dengan komoditas seperti ketela rambat, kacang tanah, kedelai, lombok, manggis pisang, bawang putih, kubis, labu siam, melon. Potensi alamnya mempunyai peluang usaha cukup banyak, misalnya pisang, pala, dan teh. Hasil alam ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber mata pencaharian dengan mengolahnya menjadi produk yang punya nilai tambah.


Bidang pariwisata: Peluang investasi untuk mengembangkan obyek-obyek wisata yang ada masih terbuka luas, misalnya untuk kawasan Wisata Jatiluhur. Ke depan Jatiluhur akan menjadi Kawasan Wisata yang eksklusif, penuh dengan sarana pariwisata yang memadai. Sudah ada cetak biru program pengembangan wisata Jatiluhur. Untuk investor swasta diberikan kesempatan dalam pengembangan sarana wisata di Jatiluhur, antara lain fasilitas: Lapangan golf, marina, pondok remaja dan rumah atlit, arena pemancingan dan permainan, pengolahan ikan, hotel dan restauran terapung, pusat kerajinan, Desa Wisata, Rekreasi air dan kolam renang, Water park resort, Grass track.


Begitu juga untuk kawasan wisata Danau Cirata, Lahan Cirata tersebar luas di 3 Kabupa-ten, yaitu Purwakarta, Cianjur dan Bandung. Baik berupa perairan maupun darat yang sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai usaha di luar ketenagalistrikan didukung pemandangan alam yang menarik bagi suatu kawasan wisata alam. Lahan darat yang bisa dikembangkan meliputi lahan surutan lebih kurang 270 ha dan lahan darat 330 ha. Juga waduk Cirata masih terbuka untuk pengembangan potensi pariwisata dan argobisnis. ►mti/bs-sh-mlp


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)