| |
C © updated 20072006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/bs |
|
| |
BIODATA:
Nama:
Drs H Lily Hambali Hasan, MSi
Jabatan:
Bupati Purwakarta Periode 2003 – 2008
Lahir:
Padeglang, 5 Mei 1950
Agama:
Islam
Pendidikan Terakhir:
Sarjana Strata-2(S2) Magister Ilmu Pemerintahan STIAMI Jakarta
Alamat Kantor:
Jl. Gandanegara No. 25 Purwakarta 41112, Telp. 0264-200435, Fax.
0264-200064
Alamat Rumah:
Jl. Gandanegara No. 27 Purwakarta 41112, Telp. 0264-203414
E-Mail:
bupati@purwakarta.go.id
|
|
| |
|
|
|
|
| MAJALAH TI - 30 |
|
|
 |
TOKOH UTAMA:
01
02
03
04
05
06
07
08 =
WAWANCARA = TOKOH
PILIHAN: 01
02 = DEPTHNEWS:
01
02
= PERSPEKTIF:
01
02 = PARIWISATA =
POTENSI =
LEGISLATIF =
KAPUR SIRIH =
SURAT =
KAPUR SIRIH:
Tokoh Negarawan Pada edisi lalu, kolom ini bertajuk
Bobot Kepemimpinan. Diawali dengan pertanyaan: Siapakah yang layak
disebut tokoh Indonesia dan apa kriterianya? Tokoh Indonesia itu ialah
semua pemimpin formal dan informal Indonesia tanpa pembatasan tingkatan,
melainkan lebih kepada bobot kepemimpinannya. Sebab seorang kolonel bisa
mengukir prestasi yang oleh seorang jenderal belum tentu bisa (pernah)
melakukannya.
Pertanyaan yang hampir sama muncul mengenai: Siapakah tokoh Indonesia
yang layak disebut negarawan? Jawaban kami juga sederhana: Mereka adalah
tokoh yang mendahulukan kepentingan bersama masyarakat, bangsa dan
negaranya daripada kepentingan golongan, partai, ras, suku dan kelompok
agamanya, tanpa pembatasan tingkatan jabatan. Selain itu, negarawan
lebih memilih bicara the next generation daripada bicara the next
position.
Reformasi, melahirkan pemimpin yang terpilih secara demokratis. Namun
akibat pemahaman sempit atau oleh faktor lain, tak jarang berimplikasi
negatif. Muncul juga para pemimpin yang secara kasar (kasat mata)
mementingkan sosok dan perjuangan kelompok daripada kepentingan bangsa
yang majemuk. Di antaranya, sampai-sampai melahirkan peraturan yang
menonjolkan kepentingan golongan, tanpa peduli kepada yang lain. Bahkan
sikap beberapa pemimpin itu juga bisa mendorong berbagai tindakan
anarkis.
Adalah sangat memprihatinkan, jika pemimpin, mulai dari yang tertinggi
sampai terendah, menonjolkan kepentingan golongannya (golongan
tertentu). Sangat memprihatinkan jika seorang presiden atau wakil
presiden dan menteri bukan negarawan. Saat ini, seorang menteri belum
tentu seorang negarawan. Jika seorang menteri menonjolkan visi dan
kepentingan partainya dengan menomorduakan visi, tujuan dan kepentingan
bangsa sesuai konstitusi, tentu dia bukan negarawan.
Seorang bupati atau gubernur lebih pantas disebut negarawan daripada
menteri (pemimpin di tingkat pusat) yang menonjolkan visi dan
kepentingan partai dan golongannya. Walaupun tidak semua bupati,
walikota atau gubernur yang pantas disebut negarawan. Namun, kami yakin
masih banyak pemimpin, termasuk bupati, yang negarawan.
Satu dari sekian banyak bupati/walikota yang kami anggap patut disebut
negarawan itu, kali ini kami sajikan dalam edisi ini. Dia adalah Drs H
Lily Hambali Hasan, Msi, Bupati Purwakarta, Jawa Barat. Dia pemimpin
kabupaten terkecil di Propinsi Jawa Barat. Namun, dia seorang pemimpin
yang berpikiran luas. Bupati yang bukan putera daerah asli (darah dan
kelahiran) tetapi memiliki visi dan kepemimpinan yang sungguh-sungguh
ingin menyejahterakan masyarakatnya tanpa membedakan asal-usul golongan,
ras, suku, agama dan partai.
Dia seorang pamong negarawan berjiwa enterpreneur yang berorientasi
prestasi dan social welfare. Seorang organisator berlatar birokrat
profesional berjiwa kebangsaan dan relijius (Islam) yang selalu
menempatkan diri sebagai pemimpin (bupati) yang melayani segenap lapisan
masyarakat tanpa membedakan latar belakang. Boleh saja ada orang yang
berbeda pandangan dengan kami. Tapi itulah kami (Tokoh Indonesia) yang
lebih memilih menonjolkan kebaikan orang lain.
Redaksi ►mti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|