|
|
|
| MAJALAH TI - 30 |
|
|
 |
TOKOH UTAMA:
01
02
03
04
05
06
07
08 =
WAWANCARA = TOKOH
PILIHAN: 01
02 = DEPTHNEWS:
01
02
= PERSPEKTIF:
01
02 = PARIWISATA =
POTENSI =
LEGISLATIF =
KAPUR SIRIH =
SURAT =
DEPTHNEWS:
Drs. H. Lily Hambali Hasan Msi
Purwakarta 175 Tahun Tanggal 20 Juli ini Kabupaten
Purwakarta merayakan hari jadinya yang ke 175. Semula Purwakarta
memperingati hari jadi setiap tanggal 23 Agustus. Tetapi berdasarkan
hasil penelitian, sejarah kelahiran kota Purwakarta, tanggal 20 Juli
1831.
Beberapa sumber informasi yang terpenting tentang sejarah Purwakarta,
khususnya yang menyangkut hari jadi Purwakarta pada awalnya memang
sangat sulit diketemukan. Namun dalam sumber referensi terpenting yang
kemudian diketemukan, yaitu dalam buku karya seorang sejarawan dan
arsiparis bernama Dr. Frederick de Haan (1912) yang mengacu pada buku
karya G.H. Nagel (1828) dan buku karya G. de Seriere (1849) serta
Resolutien (Resolusi) van den Gouverneur Generaal ad interim van
Nederlandsch Indie in Rade, Batavia den 14den Maart 1835 No. 5, juga
Besluiten (Besluit, Surat Keputusan) van den Assistent Resident van
Krawang G. de Seriere, Sindangkasih, 20 Juli 1831 No. 2, maka ditetapkan
tanggal 20 Juli sebagai hari jadi Purwakarta.
Surat Keputusan van den Assistent Resident van Krawang G. de Seriere,
Sindangkasih, 20 Juli 1831 No. 2 tersebut, antara lain menyatakan:
Melihat Surat Assistent Resident Krawang (No. 40) hari ini, dengan
adanya keinginan dari kepala pribumi di wilayah ini yang mengusulkan
perubahan nama ibukota sekarang ini menjadi Purwakarta. Memahami dan
menyetujui, menetapkan bahwa ibukota afdeeling Krawang (akan) diberi
nama Purwakarta. Ringkasan dari keputusan ini (akan) diberikan kepada
Assistent Resident Krawang sebagai informasi yang (akan) dimuat dalam
Koran Java, agar jadi pemberitaan.
Bukti-bukti fisik otentik berupa Besluiten van den Assistent Resident 20
Juli 1831 No. 2 yang ditulis di Sindangkasih itu sudah diperlihatkan
terlebih dahulu kepada banyak tokoh (pejabat negara, pejabat
pemerintah-an, tokoh birokrasi, tokoh politik, tokoh praktisi, tokoh
akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan
dan lain-lain). Juga sudah ekpose di media-media massa.
Itulah yang jadi dasar peringatan hari jadi Purwakarta yang dituangkan
di dalam Peraturan Daerah Kabupaten Purwakarta (Nomor: 2/Tahun 2006),
tentang Hari Jadi Purwakarta. Perda ini dimaksudkan sebagai salah satu
bentuk penghargaan terhadap nilai-nilai luhur sejarah Purwakarta yang
sangat panjang, karena nama Purwakarta sendiri baru ditemukan pada awal
dekade ketiga Abad ke-19.
Tanggal 20 Juli 1831 ditentukan sebagai Hari Jadi Purwakarta karena pada
tanggal tersebut Sindangkasih selaku Ibukota Kabupaten Karawang berubah
namanya menjadi Purwakarta berdasarkan besluit (Surat Keputusan)
Pemerintah Kolonial Hindia Belanda Nomor 2, tanggal 20 Juli 1831.
Penetapan Hari Jadi Purwakarta dalam bentuk Perda berangkat dari
pemikiran bahwa ini akan menjadi landasan yuridis formal, terutama di
dalam pelaksanaan peringatan hari-hari besar di Purwakarta. Peringatan
Hari Jadi menjadi salah satu momentum penting dalam upaya menggalang dan
menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan masyarakat terhadap Purwakarta.
Lebih dari itu, momen ini diharapkan lebih meningkatkan persatuan dan
kebersamaan berperan di dalam pembangunan.
Daerah seluas 971,72 kilometer per segi (97.172 hektar) ini memiliki
kedudukan yang sangat strategis, karena berada pada jalur perlintasan
antara Jakarta-Bandung-Cirebon. Batas-batas administratif: bagian barat
dan sebagian wilayah utara berbatasan dengan Kabupaten Karawang, bagian
utara dan sebagian wilayah timur berbatasan dengan Kabupaten Subang,
bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung, dan bagian barat
daya berbatasan dengan Kabupaten Cianjur.
Posisi ini membuat Purwakarta potensial bagi pengembangan sektor
industri, perdagangan, jasa dan pemukiman, selain sektor-sektor lainnya.
Penunjang utamanya jalan tol Jakarta-Cikampek yang berujung di
Purwakarta, dan jalan tol Cikampek-Purwakarta-Cipularang yang menembus
ke Bandung. Letaknya yang tidak terlalu jauh dari Ibukota Negara,
Jakarta, juga membuat para calon investor untuk menempatkan pabrik
mereka di Purwakarta. Karena itu Pemkab mengalokasikan kawasan industri
dan zona industri masing-masing seluas 2.000 ha dan 3.000 ha. Purwakarta
juga menjadi domisili Waduk Serbaguna Jatiluhur yang menjadi sentral
pemasokan listrik, air baku, air irigasi dan rekreasi.
Purwakarta memiliki latar belakang sejarah yang panjang. Keberadaan
Purwakarta tidak terlepas dari sejarah perjuangan melawan pasukan
pendudukan Belanda, VOC. Awal abad ke-17 M, penguasa Kesultanan Mataram,
Sultan Agung, mengirim pasukan ke Jawa Barat. Salah satu tujuannya
menundukkan Sultan Banten. Namun bentrok dengan pasukan VOC, akhirnya
terpaksa mengundurkan diri. Ekspedisi kedua pasukan Mataram, dipimpin
oleh Dipati Ukur mengalami nasib sama.
Untuk menghambat perluasan wilayah kekuasaan kompeni, Sultan Agung
mengirim Penembahan Galuh (Ciamis), R.A.A. Wirasuta yang bergelar
Adipati Panatayuda atau Adipati Kertabumi III, untuk menduduki Rangkas
Sumedang (wilayah sebelah timur Citarum). Kertabumi III juga mendapat
tugas untuk mendirikan benteng pertahanan di Tanjungpura, Adiarsa,
Parakansapi dan Kuta Tandingan. Setelah mendirikan benteng-benteng
tersebut Kertabumi III kembali dan wafat di Galuh. Nama Rangkas Sumedang
kemudian berubah menjadi Karawang (bahasa Sunda Karawaan), karena
kondisi daerahnya berawa-rawa.
Tahun 1657, Sultan Agung mengangkat Adipati Kertabumi IV (putera
Kertabumi III) untuk menjadi Bupati Karawang yang berkedudukan di
Udug-udug. Kertabumi IV kemudian lebih dikenal dengan Panembahan
Singaperbangsa atau Eyang Manggung. Pada masa pemerintahan R. Anom
Wirasuta (putera Panembahan Singaperbangsa) bergelar R.A.A. Panatayuda
I, tahun 1679-1721, Ibukota Karawang dipindahkan dari Udug-udug ke
Karawang. Daerah kekuasaannya meliputi wilayah antara Cihoe (Cibarusah)
dan Cipunagara. Namun pemerintahan Kabupaten Karawang berakhir tahun
1816, karena Belanda (termasuk semua wilayah jajahannya) berada di bawah
penguasaan Inggris.
Antara tahun 1819-1826, Belanda melepaskan diri dari Inggris, dan di
wilayah jajahannya di Hindia Belanda (Indonesia), kewenangan para bupati
diserahkan kepada Gubernur Jendral Van der Capellen. Dengan demikian,
sekitar tahun 1820, Kabupaten Karawang dihidupkan kembali, meliputi
wilayah sebelah timur Kali Citarum/Cibeet dan sebelah barat Kali
Cipunagara, kecuali Onder Distrik Gandasoli (sekarang Kecamatan Plered)
yang masuk Kabupaten Bandung. Bupati pertamanya R.A.A. Surianata
kelahiran Bogor, memindahkan Ibukotanya ke Wanayasa.
Kemudian, di masa pemerintahan Bupati R.A. Suriawinata, tahun 1830,
Ibukota dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih, kemudian diberi nama
Purwakarta. Artinya, Purwa: permulaan, Karta: ramai atau hidup. Nama itu
sebenarnya sudah ada sebelumnya, namun ditetapkan resmi sebagai Ibukota
Kabupaten, tanggal 20 Juli 1830.
Pasca Merdeka
Purwakarta berfungsi sebagai Ibukota Kabupaten Karawang sampai tahun
1949. Berdasarkan Surat Keputusan Wali Negeri Pasundan Nomor 12, tanggal
29 Januari 1949, Kabuapten Karawang dipecah dua: Karawang bagian timur
menjadi Kabupaten Purwakarta, Ibukotanya di Subang, dan Karawang bagian
barat menjadi Kabupaten Karawang. Daerahnya administratifnya meliputi
eks Kewedanaan Subang, Sagalaherang, Pamanukan, Ciasem dan Purwakarta.
Tahun 1968, daerah ini dibagi dua menjadi Kabupaten Purwakarta dan
Kabupaten Subang. Wilayah adminis-tratifnya; eks wilayah Kewedanaan
Purwakarta, ditambah masing-masing dua desa dari Kabupaten Karawang dan
Cianjur. Sejak tahun 1968, Kabupaten Purwakarta hanya memiliki empat
kecamatan; Purwakarta, Plered, Wanayasa dan Campaka meliputi 70 desa.
Setelah dilakukan penataan ulang, Kabupaten Purwakarta mencakup: 11
kecamatan, 9 kelurahan, 183 desa dan 8 kamantren. Dengan dimulainya
pelaksanaan Otonomi Daerah, 1 Januari 2001, terjadi restrukturisasi
pemerintahan kabupaten yang mencakup; 17 kecamatan, 9 kelurahan, 183
desa, 18 dinas, 3 badan dan 3 kantor.
Penduduk: Menurut hasil Sensus Penduduk tahun 2000, penduduk Purwakarta
tumbuh rata-rata 2,28% selama kurun waktu sepuluh tahun (1990-2000).
Tahun 2004, jumlah penduduk 767.071 jiwa—383.750 laki-laki dan 383.321
perempuan. Di sejumlah kecamatan, misalnya Jatiluhur, Plered, Darangdan,
Pasawahan, Pondoksalam, Purwakarta dan Bungursari, jumlah penduduk
perempuan lebih banyak dari pria.
Tingkat kepadatan penduduk dalam periode yang sama sebanyak 789 orang
per kilometer per segi, meningkat dari 2,07% tahun 2003. Kepadatan
tertinggi terdapat di Kecamatan Purwakarta; 5.653 orang per kilometer
per segi. Jumlah rumah tangga sebanyak 203.799, sebanyak 215 rumah
tangga berkewarganegara-an asing. Jumlah WNA tercatat 548 orang, yang
terbanyak WNA India 443 orang, tersebar di Kecamatan Jatiluhur,
Purwakarta, Babakancikao dan Babakancikao.
Ketenagakerjaan: Di antara 19.182 pencari kerja, menurut data Dinas
Tenaga Kerja Kabupaten Purwakarta, 52,91% perempuan. Lebih dari setengah
berpendidikan SLA dan sederajat. Sedangkan pencari kerja laki-laki,
74,39% berpendidikan SLA dan sederajat. Tahun 2004, penempatan lowongan
kerja 54,06% diisi oleh pekerja perempuan.
Pendidikan: Tahun 2004, Purwakarta memiliki 579 sekolah: dari tingkat SD
sampai SLTA, baik negeri maupun swasta. Jumlah murid 144.133 orang.
Rasio murid terhadap guru pada tingkat SD: 28:1, meningkat dari rasio
tahun 2003: 22:1. Kemudian rasio murid dan guru pada tingkat SLTP: 23:1,
SMU: 20:1, dan SMK: 15:1. Jumlah sekolah meningkat tetapi belum disertai
peningkatan jumlah guru.
Purwakarta juga memiliki sekolah lanjutan atas tertua dan terbesar
kelima di Jawa Barat, yaitu SMAN I yang dipimpin oleh Kepala Sekolah
Dra. H. lis Sri Sugiharti. SMA tersebut memiliki predikat sekolah
internasional. Sekolah tersebut memiliki komitmen sebagai fasilitator,
dinamisator dan motivator di dalam pencetakan SDM yang andal. Mereka
siap memasuki jenjang akademis atau pasar kerja. Para anak didik
dipersiapkan untuk meraih kemampuan tingkat nasional dan internasional.
Pada tingkat internasional, SMAN I mengirim wakil-wakil ke Olympiade
Fisika dan Matematika. Ada juga yang terpilih untuk program pertukaran
pelajar selama setahun di Belgia.
Kesehatan: Fasilitas kesehatan yang tersedia tidak mengalami perubahan
dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan memang terjadi pada
jumlah rumah sakit, rumah bersalin, Puskesmas pembantu dan apotik.
Tetapi tenaga medis, dokter umum dan dokter gigi mengalami penurunan;
dari 86 orang tahun 2003 menjadi 58 orang tahun 2004. Tahun 2003 masih
dokter spesialis tetapi tidak ada sejak 2004. Tenaga paramedis (perawat
dan bidan) tidak mengalami perubahan. Tetapi ahli gizi, ahli sanitasi,
apoteker dan asisten apoteker, berkurang dari 176 orang tahun 2003,
menjadi hanya 22 orang tahun 2004. Pemanfaatan fasilitas kesehatan
tergambar pada banyaknya yang berobat, baik rawat inap maupun rawat
jalan, di RSUD Bayu Asih.
Keluarga Berencana: Partisipasi masyarakat dalam program keluarga
berencana (KB) cukup menggembirakan. Target tahun 2004 dicapai 103,87%.
Suntik merupakan cara yang sangat diminati pasangan KB. Suntik 51,18%,
pil 31,68%, IUD atau spiral, 7,75%, susuk atau implant 5,21%, MOP 2,14%,
MOW 1,88%, sisanya menggunakan cara-cara KB lainnya.
Agama: Menurut Kantor Depag, tahun 2004 persentase pemeluk agama Islam
sebanyak 99,18%, agama Kristen Katolik 0,20%, Protestan 0,50%, Hindu
0,11 % dan Budha 0,01%. Jumlah sarana peribadatan meningkat dibandingkan
dengan tahun lalu terutama untuk masjid dan surau/langgar. Sedangkan
jumlah pondok pesatren dan santri meningkat, tetapi jumlah kiai menurun
drastis. ►mti/bh-sh
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|