| |
C © updated 20072006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/bs |
|
| |
BIODATA:
Nama:
Drs H Lily Hambali Hasan, MSi
Jabatan:
Bupati Purwakarta Periode 2003 – 2008
Lahir:
Padeglang, 5 Mei 1950
Agama:
Islam
Pendidikan Terakhir:
Sarjana Strata-2(S2) Magister Ilmu Pemerintahan STIAMI Jakarta
Istri:
Hj. Elin Halimah
Anak:
1. dr. Laely Yuniasari
2. Ir, Deni Wahyudin
3. Dony Mulyadi
Riwayat Pendidikan Umum:
1. SR Negeri Medong Kec. Banjar Kab. Pandeglang (1962)
2. SMEP Negeri Pandeglang (1965)
3. SMEA Negeri Serang (1968)
4. Strata-1 (S1) Universitas Islam Nusantara Bandung (1976)
5. Strata-2 (S2) Magister Ilmu Pemerintahan STIAMI Jakarga (2004)
Riwayat Pekerjaan:
1. Kepala Sub Bagian Penyusunan Program Pemda Tk.I Jawa Barat
(1974-1979)
2. Kepala Bagian Pembangunan Setwilda Tk.II Cianjur (1980-1984)
3. Kepala Dinas Pendapatan Daerah Tk.II Cianjur (1984-1994)
4. Asisten Administrasi Pembangunan Setwilda Tk.II Cianjur (1994-1996)
5. Kepala Bidang Ekonomi Bappeda Pro. Jabar (1996-1999)
6. Sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta (1999-2003)
7. Bupati Purwakarta Periode 2003 – 2008
Riwayat Diklat Struktural:
1. SPADYA Angkatan XV (Bandung 1990)
2. SESPANAS Angkatan IV (Jakarta 1994)
Riwayat Diklat Fungsional/Teknis:
1. Project Manajemen System (PMS) kerjasama Depdagri – USAID (Jakarta
1985)
2. Management Motivation Training (MMT), BAPPEDA Jawa Barat (Bandung
1986)
3. Latihan Keuangan Daerah (LKD), Angkatan VIII (LPEM-UI 1986)
4. Studi Bidang Keuangan Daerah Angkatan I (Jakarta 1993)
5. Kepemimpinan Aparatur Pemerintahan (1996)
6. Apresiasi Akuisi Arsip Nasional Orde Baru dan Kabinet Reformasi
Pembangunan (Jakarta 1999)
7. Penataran Penyusunan Rencana Induk Pembangunan dan Pengembangan
Perumahan dan Pemukiman di Daerah (Jakarta 1999)
8. Diklat Reinventing Government (REGO) Dalam Presffektif Reformasi dan
Pengembangan Action Plan REGO (Jakarta 1999)
9. Diklat Kepemimpinan Kepala Daerah (Jakarta 2003)
Riwayat Penataran:
1. P4 Type A (Bandung 1979)
2. P4 Tingkat Nasional Angkatan LXXVI BP7 Pusat (1998)
3. Budaya Kerja Aparatur LAN RI (1994)
4. P4 Pola Terpadu Angkatan XII BP7 Tingkat I (1995)
Seminar/Lokakarya:
1. Seminar Implementasi UU No. 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah
dan UU No. 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan
Daerah Program Pasca Sarjana Universitas Satyagama (Jakarta 1999)
2. Lokakarya Jaring Pengaman Sosial (JPS) (Bandung 1999)
3. Lokakarya Pembangunan Jasa Usaha Sektor Air Bersih (Bandung 1999)
4. Lokakarya Prefektif Pemerintah Indonesia Baru (Jakarta 1999)
5. Lokakarya Kepegawaian Negara (Jakarta 1999)
6. Tim Review Revisi Undang-Undang Pajak Daerah (2005)
Keanggotaan Organisasi:
1. Ketua DPD KNPI Cianjur (1980-1984)
2. Wakil Ketua DPD Golkar Cianjur (1988-1993)
3. Ketua III DHC Angkata 45 Cianjur (1997)
4. Ketua Harian KONI Cianjur (1995-1998)
5. Ka. Kwarcab Pramuka Ciajur (1991-1998)
6. Ketua Ikatan Alumni Menwa Jabar (1997-1999)
7. Ketua Kwarcab Pramuka Purwakarta (2000)
8. Ketua Umum KONI Purwakarta (2001)
9. Ketua DHC Angkatan 45 Purwakarta (2003-2008)
10. Ketua Umum KONI Purwakarta (2003-sekarang)
Penugasan ke Luar Negeri:
1. Thailand dan Filipina dalam rangka Muhibah Pemuda Indonesia (1982)
2. Canada dalam rangka Misi Dagang dan Investasi dari Propinsi Jawa
Barat (1996)
3. Australia Selatan dalam rangka Kerjasama Perdangangan dan Investasi
Propinsi Jawa Barat (1997)
4. Singapura dalam rangka Pameran Dagang Produk-produk Unggulan Jawa
Barat (1997)
5. Timur Tengah dan UEA dalam rangka Mengikuti Pameran Internasional dan
Pertemuan Misi Dagang Investasi (1998)
6. Jepang dalam rangka Misi Investasi dari Kabupaten Purwakarta (2005)
Tanda Jasa/Penghargaan/ Kehormatan:
1. Piagam Pancawarsa V Kwarnas Pramuka Th. 1993 dari Kwarnas Pramuka
2. Piagam/Medali DHN Angkatan 45 Th. 1993 dari DHN Angkatan 45
3. Piagam/Medali Dharma Bhakti Pramuka Th. 1995 dari Kwarnas Pramuka
4. Piagam/Medali Angkatan 45 Th. 1996 dari DHD 45 Jawa Barat
5. The Best Award Gold Priority SDM Tingkat Nasional Th. 2001
6. KPPOD Award Peringkat Terbaik Kategori Umum Daya Tarik Investasi
Kabupaten Purwakarta di Indonesia Th. 2003
7. KPPOD Award Peringkat Terbaik Kategori Umum Daya Tarik Investasi
Kabupaten Purwakarta di Indonesia Th. 2004
8. Penghargaan dari Departemen Kehutanan sebagai Bupati Peduli Kehutanan
dalam rangka Lomba Penghijauan dan Konvervasi Alam Tahun 2004
9. Lencana Melati dari Kwarnas Pramuka Th. 2005 sebagai Pembina Pramuka
Terbaik
10. Satya Lencana Wirakarya Th. 2005 sebagai Bupati Berprestasi di
Bidang Pembangunan dari Presiden RI
11. Penghargaan Widyakrama dari Pemerintah Pusat karena berhasil
menjalankan program wajib belajar pendidikan dasar (Wajar Dikdas) 9
tahun
12. Piagam Penghargaan Adipura sebagai daerah yang teduh dan bersih dari
Presiden RI. Penghargaan tersebut diberikan oleh Wakil Presiden Yusuf
Kalla di Jakarta
13 Wings Kehormatan Terbang Layang dari Pangkalan Lanud Suryafharma
Kalijati Subang, 28 Juni 2006
14. Penghargaan Bhakti Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dari Menneg
Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah di Pekalongan, Juli 2006.
Alamat Kantor:
Jl. Gandanegara No. 25 Purwakarta 41112, Telp. 0264-200435, Fax.
0264-200064
Alamat Rumah:
Jl. Gandanegara No. 27 Purwakarta 41112, Telp. 0264-203414
E-Mail:
bupati@purwakarta.go.id
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
TOKOH UTAMA:
01
02
03
04
05
06
07
08 =
WAWANCARA = TOKOH
PILIHAN: 01
02 = DEPTHNEWS:
01
02
= PERSPEKTIF:
01
02 = PARIWISATA =
POTENSI =
LEGISLATIF =
KAPUR SIRIH
=
SURAT =
Drs. H. Lily Hambali Hasan Msi (01)
Negarawan Berorientasi Social Welfare Bupati
Purwakarta Drs H Tubagus Liliy Hambali Hasan, MSi, seorang pamong
negarawan berjiwa enterpreneur yang berorientasi prestasi dan social
welfare (welfare state). Organisator berlatar birokrat profesional
berjiwa kebangsaan dan relijius (Islam) ini selalu menempatkan diri
sebagai pemimpin (bupati) yang melayani segenap lapisan masyarakat tanpa
membedakan latar belakang. Sebagai bupati, mantan Sekda Purwakarta
kelahiran Padeglang, 5 Mei 1950, itu menerapkan strategi enterpreneurial
mendobrak pemeo negatif birokrasi yang berbelit dan mempersulit menjadi
mempermudah.
Seorang menteri belum tentu layak disebut negarawan. Lalu, mengapa H
Lily Hambali Hasan, yang hanya menjabat Bupati Purwakarta, disebut
negarawan? Karena visi, sikap dan tindak
kepemimpinannya memang seorang negarawan. Dia seorang bupati yang lebih
menonjolkan visi, tujuan dan kepentingan bangsanya tanpa membedakan
golongan, ras, suku, daerah asal dan agama daripada kepentingan pribadi,
golongan dan partai (pendukungnya) sendiri.
Meskipun meraih kursi Bupati/Kepala Daerah Kabupaten Purwakarta dengan
dukungan politik PDIP, dia selalu menempatkan dirinya sebagai pemimpin
masyarakat dengan berbagai latar belakang. Tatkala dia maju sebagai
calon bupati, tahun 2003, sistem pemilihan masih dilaksanakan oleh
fraksi-fraksi Parpol di DPRD. Sebagai bupati, Lily Hambali mampu
melepaskan diri dari kepentingan politik praktis partai tertentu yang
mendukungnya menjadi bupati. Dia melayani segenap lapisan masyarakat
tanpa melihat latar belakang partai politik, golongan, ras, suku dan
agama.
Dia melayani dan merangkul segenap lapisan masyarakat untuk secara
bersama-sama membangun Purwakarta dengan prinsip transparansi,
akuntabilitas, partisipasif serta berkelanjutan demi terwujudnya
pemerintahan berprestasi tingkat nasional. Jika ada masyarakat
menyampaikan aspirasi yang berbeda, dia mendekati dan mengajaknya
berdialog. Tak jarang dia menghampiri kelompok masyarakat yang unjuk
rasa (demonstrasi), mendengar aspirasi mereka, berdialog dan memberi
penjelasan.
Lulusan Sarjana Strata 2 (S2) Magister Ilmu Pemerintahan dari STIAMI
Jakarta, yang mantan Ketua DPD KNPI Cianjur (1980 – 1984) dan Wakil
Ketua DPD Golkar Cianjur (1988 – 1993), itu mengajak masyarakatnya agar
tidak bertindak anarkis. Lihat saja, kondisi masyarakat Kabupaten
Purwakarta, yang sedemikian dekat dengan hiruk-pikuk politik kepentingan
yang terjadi di berbagai daerah hinterland dan sekitarnya, terutama
Jakarta-Bekasi dan Bandung, relatif hidup lebih tenang dan bersahabat.
Selaku Kepala Daerah, Lily yang juga Ketua DHC Angkatan 45 Purwakarta
(2003-2008), itu merasa punya kewajiban mengayomi semua lapisan
masyarakat dan partai politik yang ada di daerahnya yang berpenduduk
lebih dari 750.000 jiwa. Semaksimal mungkin dia selalu berupaya untuk
mewujudkan aspirasi dan kepentingan seluruh warga masyarakat tanpa
membedakan latar belakang daerah kelahiran, agama, kelompok dan
golongan. Lily sejak muda senang berorganisasi, terutama di kepramukaan
(Penerima Piagam/Medali Dharma Bhakti Pramuka tahun 1995 dari Kwarnas
Pramuka). Karena itu dia ingin selalu dekat dengan masyarakatnya untuk
membangun kebersamaan dalam melaksanakan berbagai bidang pembangunan.
Di bawah kepemimpinan suami dari Hj Elin Halimah dan ayah dari tiga
orang anak (dr Laely Yuniasari, Ir Deni Wahyudin dan Dony Mulyadi), itu
dalam era otonomi daerah (Otda), Kabupaten Purwakarta mampu
mengimplementasikan Otda itu secara lebih tepat. Dia berupaya
mengakselerasi pembangunan Kabupaten Purwakarta dengan semangat
kemandirian dan otonom dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Saat beberapa daerah kapubaten dan kota terjebak menerjemahkan Otda
secara sempit, sehingga melahirkan raja-raja kecil, berbagai Perda
retribusi untuk meningkatkan PAD, dan Perda yang menonjolkan kepentingan
golongan, bahkan juga mengundang berbagai tindakan anarkis, dia
menampilkan sosok Otda Purwakarta yang elegan.
Saat daerah lain terjebak dalam istilah dan pendekatan putera asli
daerah dalam memilih pemimpin daerah, terutama untuk jabatan bupati dan
walikota, bahkan dia telah membuktikan kepada masyarakatnya bahwa
siapapun warga negara Indonesia, tanpa menonjolkan daerah asal dan
kelahirannya, bisa dan sanggup menjadi pemimpin di daerah mana pun. Yang
terpenting bukan soal putera daerah atau tidak, tetapi kemampuan dan
kesungguhannya bekerja keras, kreatif dan inovatif, jujur, ikhlas,
trasparan dan bertanggung jawab untuk menyejahterakan rakyat. Siapa pun
dia, yang penting, programnya harus berorientasi kepada peningkatan
kesejahteraan rakyat Purwakarta. (Selengkapnya baca: Bangga jadi
Putera Republik, halaman 14).
Hal ini telah dibuktikan Bupati Purwakarta H Lily Hambali, (bergelar
Tubagus tapi tak pernah mencantumkannya), putera bangsa kelahiran
Padeglang, 5 Mei 1950 itu. Kendati dia bukan putera asli daerah
Purwakarta, tetapi dia telah berbakti secara bersungguh-sungguh demi
kemajuan Purwakarta. Bahkan mungkin melebihi bakti dan kecintaan putera
asli daerah setempat. Sehingga, sebagian masyarakat Purwakarta yang
sebelumnya mempermasalahkan putera asli daerah dan bukan putera asli
daerah, kini tak lagi mempermasalahkannya.
Bukankah ini (kepemimpinan Lily Hambali dan sikap masyarakat
Purwakarta) suatu bukti yang patut diteladani dalam hal proses
pembelajaran politik dalam era Otda saat ini? Bahkan, tidak berlebihan
bila disebut dalam hal kepemimpinan daerah dan kesadaran politik
masyarakat daerah (kabupaten), Purwakarta telah menampilkan sosok yang
ideal, tentu dalam berbagai dinamikanya. Patut diteladani!
Kabupaten Purwakarta, bukan hanya dalam bidang kepemimpinan bupatinya
(kenegarawanan) dan kesadaran politik masyarakat, menampilkan sosok Otda
yang ideal (elegan) dan patut dijadikan contoh.
Dalam hal penerapan Peraturan Daerah (Perda) dan upaya peningkatan
pendapatan asli daerah (PAD), Purwakarta layak dijadikan contoh.
Misalnya, dia lebih mengutamakan memberi kemudahan bagi investor
daripada menerbitkan Perda retribusi untuk meningkatkan pendapatan asli
daerah (PAD). Apalagi bila Perda itu secara langsung memberatkan
masyarakat tanpa lebih dahulu ada upaya meningkatkan pendapatan
masyarakat. (Lebih lanjut baca: Wawancara: Percepat Izin Investasi,
halaman 22).
Dia lebih memilih menarik minat investor masuk ke Purwakarta,
menggerakkan sektor riil, yang antara lain akan berdampak pada pembukaan
lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Dalam hal ini,
dia mendobrak pemeo negatif birokrasi: Jika bisa dipersulit kenapa
dipermudah! Menjadi: Jika bisa dipermudah kenapa dipersulit! Seperti,
pengurusan izin yang sebelumnya sering dikeluhkan pengusaha (investor)
terlalu berbelit dan lama, dia permudah dan percepat. Selesai dalam 10
hari. Sehingga, tak heran bila dia menerima penghargaan KPPOD Award
Peringkat Terbaik Kategori Umum Daya Tarik Investasi di Indonesia, dua
tahun berturut-turut, tahun 2003-2004.
Dalam mendorong investasi PMA atau PMDN, di bawah pimpinan alumni SPADYA
Angkatan XV (Bandung 1990) dan SESPANAS Angkatan IV (Jakarta 1994), itu
Pemkab Purwakarta mengacu kebijakan penanaman modal pusat dan provinsi
dengan melakukan upaya: pinciptaan iklim yang sehat, kerjasama dan
promosi, pengendalian penanaman modal, peningkatan kelembagaan dan
profesionalitas aparatur, sosialisasi investasi, meningkatkan home
industri, meningkatkan infrastruktur, pelatihan SDM, kerjasama dengan
dunia usaha dengan memupuk harmonisasi serta penyebarluasan usaha,
pasar, peluang dan tenaga kerja.
H Lily Hambali Hasan juga merasa prihatin dengan fenomena dewasa ini, di
mana banyak muncul peraturan yang tidak lagi mencerminkan semangat
menghargai kemajemukan. Dia pemimpin yang konsern terhadap Pancasila
sebagai platform bersama karena menyadari benar bahwa Indonesia sangat
majemuk, yaitu terdiri dari 17.000 pulau dan sekitar 400 suku serta
sekitar 240 juta jiwa penduduk menganut berbagai agama.
Hal lain dan lebih menarik serta patut diteladani daerah lain adalah
komitmen Bupati Purwakarta H Lily Hambali Hasan bersama DPRD Purwakarta
memprioritaskan peningkatan pendidikan. Komitmen ini diwujudkan dengan
menetapkan anggaran pendidikan sebesar 38 persen dari APBD. Saat
pemimpin nasional belum mewujudkan anggaran pendidikan sebesar 20 persen
sebagaimana diamanatkan konstitusi, Kabupaten Purwakarta sudah
menerapkan hampir 200 persen dari amanat konstitusi itu. (Lebih
lanjut baca: Anggaran Pendidikan 38 Persen, halaman 26).
Hanya seorang negarawan yang mampu melakukan hal itu. Seorang negarawan
memikirkan jauh (panjang) ke depan, the next generation. Sedangkan
pemimpin yang bukan negarawan cenderung hanya memikirkan jangka pendek,
mencari popularitas sesaat, hanya bicara the next position. Sebab, semua
orang tahu, meningkatkan pendidikan (sumber daya manusia) adalah upaya
berjangka panjang. Hasilnya akan diperoleh secara maksimal pada waktu 20
tahun kemudian. Tidak seperti memakan cabai, begitu digigit langsung
terasa pedasnya. Maka, hanya pemimpin berjiwa negarawan yang berani
memprioritaskan pendidikan dengan anggaran 38 persen.
Dalam hal pendidikan, Purwakarta telah membebaskan uang sekolah mulai
dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Lanjutan Atas. Saat negara
(Diknas) dan daerah lain masih ‘mewacanakan’ wajib belajar sembilan
tahun, Purwakarta telah mewujudkannya dengan membebaskan uang sekolah
bagi peserta didik di daerahnya. Bagi Lily, kebijakan wajib belajar
adalah ompong jika tidak dibarengi pembebasan uang sekolah.
Dia bertekad meningkatkan kualitas pendidikan dengan target pengentasan
buta aksara dan wajar Dikdas 9 tahun dengan memiliki kehidupan serta
lingkungan yang sehat didukung budi pekerti (moral) yang berdasarkan
norma agama dan estetika. Maka wajarlah juga bila H Lily Hambali Hasan
telah menerima penghargaan Widyakrama dari Pemerintah Pusat karena
berhasil menjalankan program wajib belajar pendidikan dasar (Wajar
Dikdas) 9 tahun. Sebelumnya, Lily telah menerima penghargaan The Best
Award Gold Priority SDM Tingkat Nasional pada tahun 2001.
Komitmennya terhadap peningkatan sumber daya manusia diformulasi menjadi
basic cores pembangunan Purwakarta, yang terdiri agama, pendidikan dan
kesehatan. Ketiga basic cores itu digambarkan dalam bentuk segi tiga
sama sisi, yang menjadi landasan kuat bagi core bussiness Purwakarta
yang terdiri dari agribisnis, industri, pariwisata serta perdagangan dan
jasa.
Sesuai karakteristik georafis dan kultur Kabupaten Purwakarta, Bupati
Lily yang telah menerima Satya Lencana Wirakarya Tahun 2005 sebagai
Bupati Berprestasi di Bidang Pembangunan dari Presiden RI, itu
mengharapkan kegiatan ekonomi sesuai Core Business perlu dilakukan
manifestasi maupun recovery, yakni: Pertama: Agrobisnis yang digeluti
penduduk secara turun-temurun diperlukan perbaikan, seperti dukungan
lembaga terkait, penguatan keterkaitan dengan subsystem serta
pengembangan komoditas unggulan.
Kedua: Industri sebagai hulu penggerak ekonomi makro perlu ditata
berorientasi pemantapan bahan baku lokal, pengembangan industri saling
keterkaitan dan saling menguntungkan, pengembangan industri memiliki
daya saing domestik, regional maupun internasional serta
menumbuhkembangkan industri kecil seperti simping, gula aren cikeris,
kue kering, tape singkong, keramik Plered menjadi produk khas daerah.
Ketiga: Pariwisata dirancang memiliki ciri dan khas daya tarik
tersendiri seperti agrowisata Wanayasa, ekowisata keramik Plered serta
wisata alam Jatiluhur. (Lebih lengkap baca: Purwakarta Menuju Pusat
Wisata, halaman 36).
Keempat: perdagangan dan jasa sesuai geografis diapit tiga kota besar
Jakarta, Bandung dan Cirebon dirancang menjadi pusat kegiatan wilayah
(PKW) yang dipopulerkan dengan sebutan Purwakarta Segi Tiga Emas
Jakarta-Bandung-Cirebon. (Lebih lanjut baca halaman 31).
Pembangunan ekonomi yang meliputi pertanian/agrobisnis, industri,
pariwisata, dan perdagangan dan jasa itu dimaksud menumbuhkan masyarakat
sebagai pelaku ekonomi, jasa maupun industri. Core pembangunan
Purwakarta mendorong optimalisasi segenap unsur pelaku pembangunan
seperti pemerintah, dunia usaha dan organisasi masyarakat saling
berinteraksi satu sama lainnya.
Bupati yang sejak remaja telah terlatih mandiri, berjiwa
enterpreneurship (Baca artikel: Mandiri Sejak Remaja, halaman 18), itu
mencanangkan pengem-bangan ekonomi Purwakarta dilakukan dengan strategi
enterpreneurial bersifat pragma-tis, berorientasi prestasi, peka
terhadap peluang, fokus pada kebutuhan, ekspekstasi masyara-kat dan
unsur terkait, responsif pada perubahan dalam lingkung-an makro tanpa
terhadang prosedur atau aturan yang sering menghambat laju pembangunan.
Pengalokasian sumber daya kabupaten diarahkan sesuai program dengan jiwa
enterpreneurial segenap SDM, serta memiliki karakteristik marketable,
profitable dengan tujuan Social Walfare serta terciptanya pembangunan
berkemampuan daya saing tinggi.
Basic cores dan core bussiness itu merupakan penjabaran
visi Kabupaten Purwakarta, yaitu, terwujudnya masyarakat Purwakarta yang
aman, damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera,
ber-landaskan iman dan taqwa menu-ju wibawa karta raharja. Visi itu
dijabarkan lagi dalam tujuh misi yaitu dalam bidang hukum dan keamanan,
politik, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, pembangunan daerah dan
lingkungan hidup serta agama.
Sebagai peraih predikat kabupaten yang memiliki daya tarik investasi
terbaik 2003-2004 dan Purwakarta pernah sebagai kota peraih Adipura,
Lily Hambali merubah orientasi pembangunan Purwakarta dari “pembangunan
daerah” menjadi “daerah membangun.” Dia juga telah menetapkan skala
prioritas penataan kota Purwakarta dan memfokuskan beberapa program yang
berkaitan langsung dengan perkembangan investasi:
Pertama, program masuknya investasi disederhanakan prosedurnya,
melalui tim koordinasi pengendalian daerah melakukan kajian
berkesinam-bungan, tim perizinan serta penataan organisasi perangkat
daerah yang dikoordinir Sekda mengacu basic pelayanan prima.
Kedua, meningkatkan peran masyarakat dalam perumusan pembangunan,
menjalin koordinasi eksekutif, legislatif dan yudikatif, membangun opini
publik dan menjaga hubungan pemerintah dengan dunia usaha. Ketiga,
melakukan kajian poten-si ekonomi secara berkesinam-bungan, pengembangan
pusat ekonomi, mereview Perda yang berberkaitan pajak dan retribusi
dirancang mendorong berkembangnya usaha kecil, menengah dan besar.
Keempat, meningkatkan fungsi Tripartit guna mencipta-kan harmonisasi
pekerja-dunia usaha serta pemerintah. Kelima, perbaikan dan
pemeli-haraan infrastruktur serta pengupayaan empat inter-change
dari jalan tol sebagai acces rood ke kawasan ekonomi, manufaktrur
dan sebagainya.
Semua visi, misi, basic cores dan core bussiness serta skala prioritas
itu bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Bukankah semua itu,
cukup menggambarkan bahwa dia adalah seorang pamong negarawan berjiwa
enterpreneur yang berorientasi prestasi dan social welfare (welfare
state)? ►mti/ch robin simanullang
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|